Gendra semakin membabi buta menghajar Bara. Bara tak melawan ia hanya diam saja. Aleta yang kini binggung akan bagaimana memisahkan mereka.
"KAK GENDRA STOP!!"
Gendra yang mendengar teriakan aleta pun langsung berhenti menghajar Bara. Gendra lalu menoleh ke arah Aleta dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa? khawatir sama dia hmm?"
Gendra berjalan mendekat kearah Gendra. Bara yang kini sudah babak belur hanya diam ditempat tak mampu berdiri.
"Kak udah ya stop... kasian kak Bara..hiks..hikss.."
"Kasian ya?Iya?" Gendra mendekat dan mencengkeram rahang Aleta kuat.
"K-ka sa-sakit lepas..hiks..hikss.."
"KAMU KASIAN KAN SAMA DIA? KARNA APA? KARNA KAMU SUKA SAMA DIA IYA?!"
"Kak sadar dia sahabat kamu sendiri..hikss..aku ngga mungkin suka sama kak bara. Aku udah jadi isti kamu kakk..hiks..."
"BOHONG? MANA MUNGKIN KAMU KALO NGGA SUKA SAMA DIA! TADI AJA KAMU MESRA MESRAAN SAMA DIA SAAT AKU NGGA ADA DIRUMAH!!"
"GENDRA STOP!! LO JANGAN NYAKITIN ISTRI LO!SADAR GEN DIA ISTRI LO DIA LAGI HAMIL ANAK LO!!"
Gendra terkekeh pelan. Gendra mendekatkan Aleta pada Bara dan mendorong Aleta ke dekat Bara.
Bruk...
"Aawss..." Aleta memegangi perutnya. Gendra mendorong Aleta keras ke lantai.
"BISA AJA KAN YANG DIKANDUNG ALETA ADALAH ANAK LO?! LO KAN DEKET BANGET SAMA ALETA!!"
"GEN SADAR!! APA YANG LO KATAKAN ITU BISA BUAT ALETA SAKIT HATI TAU NGGA? JANGAN GILA LO!"
"LO YANG GILA ,SAHABAT MACAM APA YANG BISA BISANYA NGAMBIL ISTRI SAHABATNYA SENDIRI?"
"GEN STOPP!!"
"APA BENER KAN DIA HAMIL ANAK LO?"
"Kak ngga.. ini anak kak Gendra..hiks...hiks..Aleta ngga ada hubungan apapun sama kak Bara. Aleta nggangep kak Bara Kaka Aleta sendiri...hikss...hikss...."
"DASAR ******...."PLAKK... Gendra menapar keras pipi kanan Aleta.
Bara yang melihat itu terkejut. Aleta juga sudut bibirnya berdarah bersaaman dengan itu perut Aleta juga terasa nyeri.
"Aaawsss..."
"Al Lo ngga papa?"
"Sa-sakit kak...hiks...hiks...perut Aleta sakit..hiks..hiks.."
"Al kita kerumah sakit ya?"
Gendra yang melihat itu langsung menarik lengan Aleta. Dan memakasa Aleta berdiri.
"Sini!"
"Aaagghhh...kak Gendra sa-sakit...hiks...hikss..."
"Gen Lo gila? Istri Lo lagi kesakitan ,lebih baik Lo bawa dia kerumah sakit. Gimana kalo babynya kenapa Napa?"
"Lo khawatir sama istri gue? Apa jangan jangan bener ya anak yang ada dalam kandungannya itu anak Lo?"
"GENDRA!! ISTRI LO LAGI KESAKITAN. BAHAS ITU NANTI!!"
Gendra tak perduli melihat Aleta yang kesakitan. Ia malah membawa Aleta pergi ke kamarnya.
"Usir dia!"
"Baik Tuan!"
Gendra menyuruh bodyguardnya untuk mengusir Bara keluar dari rumahnya.
"GEN BAWA ALETA KERUMAH SAKIT!!"
Bara dipaksa bodyguard Gendra untuk keluar rumah. Sedangkan Aleta diseret masuk kekamarnya dengan Gendra yang mencengkram erat pergelangan tangan Aleta.
"Kak...sakit...hiks..hiks..."
Sampai dikamar Gendra mendorong kasar Aleta di atas ranjang kasar.
"Kak sakit...perut Aleta sakit banget...tolongin babynya...hiks...hiks..."
"GUE MASIH NGGA PERCAYA KALO DIDALAM PERUT LO ANAK GUE!!"
"KAK ALETA NGGA ADA HUBUNGAN APA APA SAMA KAK BARA!" Aleta berbicara kasar pada Gendra,Aleta sudah marah saat dituduh jika anak yang dikandungnya adalah anak orang lain.
"GUE MAU BUNUH ANAK LO!"
"Ngga Kak...stop udah...Aleta capekk sama tingkah kak Gendra yang kaya gini! Kalo kak Gendra ngga mau ngakuin anak ini sebagai anak Kak Gendra ngga papa...hikss...hiks...... biarin Aleta pergi dan urus anak ini sendiri."
"GUE NGGA BAKAL LEPASIN LO GITU AJA!"
"kenapa Kaka ngga mau ngelepasin aku? Karna apa?"
"KARNA ORANG TUA LO PUNYA HUTANG SAMA GUE!DAN GUE BISA NGLAKUIN APA PUN YANG GUE MAU SAMA LO."
"kak...lepasin Aleta..hikss...hiksss..Aleta capek...hiks"
"Jangan nangis sayang....kita main sebentar ya..."
"engga kak...hiks...hikss..."
Gendra yang kini dipenuhi amarahnya dan sulit untuk mengembalikan emosinya ia kini akan menyakiti Aleta lagi.
Gendra mengambil pisau lipat dilacinya dan kini pisau itu diarahkan tepat didepan perut Aleta.
"Saya ingin bermain sebentar dengan babynya sayang..." ucap Gendra sambil mengelus perut Aleta.
"engga kak...hiks ..hiks...jangan..."
Aleta berusaha melindungi perutnya dengan kedua tangannya.
"Sstt....diam dan nikmati sayang....."
Gendra semakin mengarahkan pisaunya tapi dengan berani Aleta menggenggam pisau itu dengan tangan kanannya. menahan perih di telapak tangannya sudah tidak dirasakan Aleta lagi demi melindungi calon babynya.
"Aahhh rupanya kamu berani dengan saya ya? Baik saya tidak akan membunuhnya. Tapi saya akan bermain dengan yang lain."
"Kak...sadar ya... ini Aleta...hiks..hiks...cerita kalo ada masalah..."
Aleta melepaskan genggaman tangannya pada pisau itu. Ia merasa dirinya sudah lemas ditambah lagi perutnya yang masih sakit dan darah yang mengalir dari telapak tangannya.
"Kakk...Aleta sa-kitt...hiks...hiks... tolong Aleta..."
Bibir Aleta pucat matanya sayu dan Aleta sudah mulai lelah dengan semua ini.
Gendra yang melihat itupun hanya diam tak ada pergerakan sama sekali.
"Kak Gendra.. tolong percaya sama Aleta ya.."
"Aaarrgghh...." Aleta tiba tiba berteriak keras saat tiba tiba Gendra menggoreskan pisau lipatnya pada lengan Aleta.
"Hikkss...hiks..."
Gendra yang kini sudah benar benar dipuncak emosinya ia semakin gencar menyiksa Aleta dengan banyak menggoreskan pisau disetaip tubuh Aleta. Aleta yang kini benar benar lemah ia masih ingin melindungi perutnya dari Gendra.
"hikss...hikss...apa ini akhir hidup aku?" batin Aleta.
Gendra yang sudah berhenti menyiksa Aleta pun langsung pergi begitu saja meninggalkan Aleta yang penuh lupa dibagian lengan dan punggungnya. baju yang kini digunakannya sudah berganti warna menjadi merah.
"Yah,Ibu...to-long Aleta...hiks..hiks..."
Dari jendela kamar Aleta ,tiba tiba seseorang datang dan menghampiri Aleta.
"Al ,Lo ngga papa? Kita kerumah sakit sekarang."
"sa-kit kak...."
Ya itu Bara. Setelah diusir dari rumah tadi Bara masih disekitar rumah Bara. Ia takut jika Aleta kenapa Napa. Luka yang ditubuh bara pun juga sudah Bara obati.
Bara segera membawa Aleta kerumah sakit melewati pintu belakang rumah Gendra,Tanpa sepengetahuan orangpun.
"Al ,jangan tutup mata Lo tetep bertahan okey demi baby Lo."
"sa...kit ...kak...hiks...hiks...Aleta udah ngga kuatt.."
Bara yang kini sudah melajukan mobilnya ,ia segera kerumah sakit dengan kecepatan tinggi.
Sampai dirumah sakit Bara langsung membawa Aleta keruangan untuk ditangani dokter.Karna kondisi Aleta yang sudah tidak sadarkan diri membuat Bara semakin khawatir takut terjadi apa apa dengan Aleta.
"Gendra Brengsek!!" Bara memukul tembok rumah sakit.
Tubuh Bara pun juga dipenuhi darah Aleta.
Lama dokter memeriksa Aleta membuat Bara semakin cemas.
Beberapa saat kemudian Dokter pun keluar.
"Gimana dok kondisi Aleta? Baik baik aja kan?"
"Eemm jadii kondisi Aleta saat ini ......"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments