PART 20

Mobil milik Vida terlihat keluar dari gerbang kediaman Papa Adrian. Dan semua itu tidak lepas dari pengawasan seseorang yang sejak tadi bersembunyi di gang yang tidak terlalu jauh dari rumah Papa Adrian. Setelah mobil Vida keluar dari komplek perumahan, seseorang itu segera melesatkan motornya mengikuti dari belakang.

Kalian tentu tahu kan siapa orang itu? Wkwkwk ya, sesuai dengan dugaan kalian. Dia adalah Pak Ivan yang memang sejak awal sudah menaruh curiga kepada sang istri. Meskipun istrinya itu pergi bersama teman wanitanya, namun tidak menutup kemungkinan kan kalau mereka sudah janjian bersama Daffa di suatu tempat?

Dengan mengendarai motor matic nya, Pak Ivan melesat membuntuti sang istri dari jarak yang lumayan jauh. Dia tidak ingin sampai ketahuan oleh istrinya dan juga si pemilik mobil.

Niat awal yang sebenarnya ingin mengunjungi sang ibu harus tertunda karena Pak Ivan lebih memilih membuntuti sang istri. Mengingat istrinya itu yang tidak pernah jujur kepadanya, Pak Ivan jadi ragu kalau istrinya itu kali ini tidak berbohong lagi.

Tiga puluh menit berkendara akhirnya mobil milik Vida berbelok memasuki pelataran pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota itu. Namun sialnya Pak Ivan harus berpisah dengan mobil itu karena tempat parkir mereka yang berbeda.

Pak Ivan cepat-cepat memarkirkan motornya ke parkiran motor. Tak lupa atribut penyamaran seperti yang dipakainya kemarin saat membuntuti sang istri ia gunakan kembali. Beruntung topi dan maskernya itu masih tersimpan rapi di dalam jok motor. Namun kali ini Pak Ivan mengenakan jaket berwarna hitam sebagai pelengkapnya. Untung saja celananya tidak ikut hitam sekalian. Celana jeans warna abu-abu melekat di kaki panjangnya.

Pak Ivan langsung melangkah tergesa mencari keberadaan mobil Vida. Pak Ivan tidak ingin dirinya kehilangan jejak sang istri. Tidak mungkin kan dirinya memutari mall sebesar ini hanya untuk mencari istrinya di antara ribuan orang yang berada di dalam mall? Yang benar saja!

Pak Ivan langsung bersembunyi di balik pilar saat melihat istrinya itu sedang berjalan beriringan bersama Vida menuju ke arahnya. Beruntung istrinya saat itu sedang menunduk mengotak-atik ponselnya, jadi tidak sempat melihatnya.

Setelah sang istri melewatinya, Pak Ivan segera melangkah perlahan di belakang sang istri sambil pura-pura memainkan ponselnya agar orang yang ada di sekitarnya tidak curiga kalau dia sedang membuntuti seseorang.

Dapat dia lihat sang istri seperti sedang bertelepon dengan seseorang karena ponsel Bentari menempel di telinganya. Pak Ivan yakin kalau istrinya itu pasti sedang bertelepon dengan Daffa.

"Ish Tari, kenapa harus ngajak Daffa sih?" Keluh Vida menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. "Tau gitu tadi gue ngajak Kak Ivan aja sekalian biar nggak jadi obat nyamuk."

Bentari langsung memelototi sahabatnya itu. Enak saja, itu sama aja dengan bunuh diri. Batin Bentari. Bentari sengaja mengajak Vida untuk mengelabui suaminya. Eh Vida malah seenak jidatnya mau ngajak suaminya. Minta ditampol itu anak.

"Apa? Kenapa melotot begitu?" Vida balas melotot. "Kan kita bisa double date." Lanjut Vida. "Auwh!" Vida mengelus-elus tangannya yang dicubit oleh Bentari. "Apa sih, kenapa main cubit begitu? Sakit tau!" Vida semakin melotot seraya memanyunkan bibirnya.

"Kalau kamu mau deketin kakak ku, hadapin dulu aku."

"Idih, nggak pengertian banget sama temen." Rajuk Vida.

"Hay!" Sapa Daffa dari kejauhan berlari mendekati keduanya. "Sudah lama menunggu?"

"Baru saja tiba kok." Sahut Bentari.

"Terus gue disuruh jadi obat nyamuk gitu?" Cibir Vida yang membuat Bentari dan Daffa terkekeh.

Pak Ivan memilih bersembunyi di balik pilar besar setelah kedatangan Daffa. Matanya masih menatap awas ke arah ketiganya yang terlihat mengobrol.

"Dah sana kalian beli tiket dulu, gue mau ke toilet." Pamit Vida kemudian berlalu meninggalkan Bentari dan Daffa.

Bentari dan Daffa langsung bergandengan tangan melangkah menuju ke tempat penjualan tiket. Mereka akan membeli tiga tiket sekaligus untuk Vida. Setelah mendapatkan tiket, Bentari memilih duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang bioskop karena pintu bioskop masih tertutup rapat. Sedangkan Daffa terlihat mengantri untuk membeli minuman juga camilan ringan sebagai teman mereka menonton nanti.

*****

"Aduh!" Vida hampir saja terjengkang ke belakang kalau tidak ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Dirinya yang berjalan sambil menunduk sampai tidak melihat di depannya ada seseorang hingga ia menabraknya. "Te-terimakasih." Ucap Vida terbata saat menyadari siapa yang baru saja ditabraknya sekaligus yang menolongnya. "K-Kak Ivan kok bi-bisa disini?" Ucap Vida lagi masih dengan suara terbata-bata.

"Ehem!" Pak Ivan berdehem untuk menyadarkan Vida. Vida langsung gelagapan kemudian membetulkan posisi berdirinya sambil senyum-senyum sendiri karena barusan dipeluk oleh laki-laki pujaannya.

"Kakak belum menjawab pertanyaan ku. Kakak kok bisa ada di sini?"

"Eem, mau beli sesuatu." Bohong Pak Ivan. Tidak mungkin kan dirinya mengatakan yang sejujurnya bahwa dirinya saat ini sedang membuntuti sang istri? "Mana Tari? Bukannya tadi kalian pergi bersama?" Padahal Pak Ivan sudah tahu di mana istrinya itu. Ya, itu semua hanya untuk menyempurnakan aktingnya saja.

"Owh, Tari ada kak. Lagi beli tiket sama Daffa."

"Daffa siapa?" Tanya Pak Ivan pura-pura tidak mengenal Daffa.

"Hehe, tapi janji ya jangan bilang sama Tari kalau aku yang bocorin rahasianya."

Pak Ivan pun mengangguk. Tidak ada salahnya kan Vida mengatakan yang sejujurnya kepada kakak dari sahabatnya itu? Siapa tahu saja dengan kejujurannya kali ini bisa membuatnya dekat dengan Kak Ivan. Pikir Vida.

"Masa Kakak nggak tahu siapa Daffa? Bukannya Daffa pacarnya Tari sejak SMA ya?"

"Memangnya sekarang mereka masih pacaran?" Tanya Pak Ivan memastikan.

"Owh, jadi Kakak udah kenal sama Daffa?"

Kali ini Pak Ivan terlihat mengangguk.

"Masih, tapi kata Tari kemarin mereka sempat putus." Akhirnya Vida membeberkan rahasia yang selama ini disimpan oleh Bentari rapat-rapat.

Degh!

Pak Ivan terkejut bukan kepalang. Kali ini gemuruh di dalam dadanya seolah-olah ingin meledak. Tidak menyangka bahwa dirinya selama ini sudah dibohongi oleh istrinya sedalam itu. Pak Ivan pikir istrinya itu hanya berteman dengan Daffa dan tidak menjalin hubungan seperti yang dikatakan oleh Vida. Namun ternyata dirinya salah. Istrinya itu diam-diam menjalin hubungan dengan Daffa di belakangnya tanpa sepengetahuannya.

"Emang kalau sudah jodoh itu nggak akan kemana." Lanjut Vida. "Udah putus aja bisa balikan lagi."

Pak Ivan sudah tidak mendengarkan lagi apa yang dikatakan oleh Vida. Amarah di dalam hatinya seolah tidak terbendung lagi. Wajahnya nampak merah padam.

"Kak," Vida menyentuh tangan Pak Ivan hingga membuat sang empunya tersadar. "Eem, kalau kakak nggak ada acara, gimana kalau kita ikut nonton bersama mereka?" Ajak Vida.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Dengan senang hati Pak Ivan akan menerima tawaran dari Vida itu. Dirinya ingin tahu bagaimana reaksi istrinya saat melihat dirinya berkencan dengan wanita lain.

*****

*****

*****

Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

Terpopuler

Comments

Mara

Mara

Mantapz pak👍👍👍

2023-08-14

2

Zahra🌼

Zahra🌼

Nah cocok itu gass pak 🤭

2023-06-06

4

Zahra🌼

Zahra🌼

wkwkwk jangan berharap terlalu tinggi Vid nanti jatuhnya sakit 🤭

2023-06-06

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!