Setelah membersihkan diri, Pak Ivan memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sambil menunggu istrinya dia membuka ponselnya. Namun hingga dirinya tertidur, istrinya itu tak kunjung masuk ke dalam kamar.
Sedangkan yang ditunggu saat ini sedang berada di dalam kamar kedua orang tuanya. Ya, setelah prosesi ijab kabul tadi pagi Bentari langsung masuk ke dalam kamar orang tuanya. Bentari hanya keluar saat makan siang dan saat mertuanya berpamitan untuk pulang. Setelah itu Bentari kembali lagi masuk ke dalam kamar orang tuanya.
Lucu bukan? Sudah punya kamar sendiri, ditambah sekarang sudah mempunyai suami. Namun bukannya masuk ke dalam kamarnya, Bentari malah masuk ke dalam kamar orang tuanya.
Bentari masih menangis terisak-isak dalam pelukan Papanya. Mama Davira sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu. Memang semanja itu Bentari kepada Papanya.
"Sudah sana kembali ke kamar mu. Mama sama Papa mau istirahat siang." Usir mama Davira kepada anak gadisnya itu yang sekarang sudah berubah menjadi wanita karena sudah menikah meskipun sebenarnya masih gadis.
"Nggak mau!" Tolak Bentari. "Tari mau tidur di sini aja sama mama sama papa."
"Eh, mana bisa begitu!" Mama Davira melotot ke arah anaknya. "Kamu dah besar dan sekarang sudah punya suami."
"Pokoknya Tari mau di sini saja." Tari semakin mengeratkan pelukannya kepada papanya.
"Dahlah ma, biarkan Tari di sini dulu." Bujuk Papa Adrian kepada sang istri.
"Ish, Papa selalu aja begitu." Akhirnya mau tak mau mereka pun tidur bertiga siang itu dengan posisi Tari berada di tengah-tengah kedua orang tuanya.
Sore harinya, Pak Ivan membuka matanya dan mendapati tempat tidur di sebelahnya masih kosong. Apakah istrinya itu tidak ada masuk ke dalam kamar? Kemana istrinya itu?
Dibukanya ponsel dan waktu ternyata sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Pak Ivan segera beranjak dari atas tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju ke ruang tengah. Namun dirinya tidak menemukan siapapun di sana. Rumah sebesar itu terlihat sepi seperti tidak ada penghuni.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya berlari kecil menghampirinya. "Permisi Den, apa ada yang aden butuhkan?" Tanya wanita itu yang diyakini Pak Ivan sebagai pembantu rumah tangga di kediaman mertuanya.
"Panggil Ivan saja Bu." Sahut pak Ivan.
"Bibi panggil Mas aja ya? Kok nggak enak kesannya kalau cuma panggil nama."
"Iya terserah ibu saja."
"Eh, jangan panggil Bu. Panggil Bibi saja."
"I-iya Bi." Pak Ivan tidak terbiasa memanggil orang dengan sebutan bibi. Jadi lidahnya terasa kelu. Sebenarnya wanita di hadapannya itu sepantaran dengan ibunya. Dan lebih cocok dipanggil dengan sebutan Bu. Namun karena wanita itu minta dipanggil Bi, jadi Pak Ivan harus membiasakan diri mulai dari sekarang. Apapun panggilannya, yang penting dirinya tidak pernah membeda-bedakan kasta seseorang.
"Pada ke mana Bi kok sepi?" Pak Ivan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah.
"Tuan dan nyonya masih belum keluar dari kamar Mas. Mungkin belum bangun."
"Istri saya Bi? Eem, maksud ku Bentari." Pak Ivan meralat ucapannya karena takut ada yang kurang nyaman mendengar dirinya menyebut istri kepada Bentari. Meskipun memang Bentari adalah istrinya.
"Loh, bukannya di kamar Mas?"
Pak Ivan menggeleng membuat Si bibi keheranan. Terus ke mana perginya anak majikannya itu? Dirinya juga belum melihatnya sejak tadi siang setelah makan siang bersama.
"Maaf Mas bibi nggak tau soalnya belum lihat Non Tari."
"Owh ya sudah bi, aku mau ke depan dulu." Pak Ivan melangkahkan kakinya keluar dari rumah setelah mendapat anggukan dari bibi.
Mama Davira keluar dari kamar meninggalkan anak dan suaminya yang masih terlelap. Mama Davira melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
"Ivan belum ada keluar kamar Bi?" Tanya Mama Davira kepada asisten rumah tangganya.
"Sudah Nya. Tadi pamit ke depan." Sahut sang bibi.
"Owh ya sudah." Mama Davira kembali melangkah meninggalkan dapur. Namun saat tiba di ruang tengah dirinya tak sengaja berpapasan dengan sang menantu yang nampak jalan terburu-buru menuju ke kamar anaknya.
"Van!" Panggil mama Davira yang membuat menantunya itu langsung menoleh.
"Iya Tan. Eh, Ma." Karena belum terbiasa hingga membuat lidahnya terpeleset.
"Ada apa? Kenapa buru-buru begitu?"
"Eem, barusan tetangga telepon. Katanya ibu pingsan di rumah." Jelas Pak Ivan. Ya, barusan dirinya mendapatkan telepon dari salah satu tetangganya yang mengabarkan bahwa tetangganya itu menemukan ibunya pingsan di rumah.
"Loh kok bisa? Kenapa?"
"Belum tau Ma. Ini aku mau siap-siap mau kesana."
"Tunggu bentar, Mama bangunkan istri mu dulu."
Belum sempat Pak Ivan menyahut ucapan mertuanya agar tidak mengganggu tidur istrinya, namun Mama mertuanya itu dengan cepat melesat meninggalkannya masuk ke dalam kamarnya. Pak Ivan pun segera masuk ke dalam kamar istrinya yang sekarang menjadi kamarnya untuk berganti pakaian. Karena saat ini dirinya hanya mengenakan kaos rumahan serta celana pendek.
Mama Davira langsung membangunkan anaknya itu. Namun bukan hanya anaknya yang terbangun suaminya pun ikut terbangun.
"Ada apa Ma?" Tanya Pak Adrian kepada istrinya karena merasa kebingungan. Tidak biasanya istrinya itu membangunkan dirinya jika tidak ada keperluan atau hal penting. Sebenarnya bukan dirinya yang dibangunkan melainkan anaknya. Namun dirinya merasa ada sesuatu yang penting.
Mama Davira pun menceritakan apa yang tadi dikatakan oleh menantunya. Dan Mama Davira meminta kepada anaknya itu untuk menemani suaminya ke rumah ibu mertuanya.
Awalnya Bentari menolak. Namun setelah dibujuk oleh mamanya dengan embel-embel surga seorang Istri ada pada suaminya, akhirnya Bentari pun mau tak mau menuruti apa kata mamanya untuk ikut bersama suaminya ke rumah mertuanya.
"Pakai mobil saja biar cepet." Ujar mama Davira karena menantunya itu tidak membawa kendaraan saat datang ke rumah. Ya memang, Pak Ivan tadi pagi datang bersama rombongan dengan menggunakan mobil sewa.
Bentari segera mengambil kunci mobilnya kemudian menyerahkan kepada suaminya. Dan setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, mereka langsung melesat menuju ke rumah Bu Eny.
*****
*****
*****
Kabari ya kalau ada typo nama, takut namanya ketuker sama yang di sebelah 😂
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Darmawangsya Darmawangsya
munkin nama mama Devina sama Devira nanti yang ketuker.he he
2025-02-20
0
Mara
Mertuanya baik bangat🥰
2023-08-14
1
Zahra🌼
Jurus jitu ya ma 🤭😂
2023-05-30
4