PART 15

Dengan lunglai Pak Ivan menyeret langkah kakinya masuk ke dalam rumah ibunya yang pintunya terbuka lebar. Terlihat Bu Eny sedang berada di balik meja mesin jahit.

"Assalamualaikum." Seru Pak Ivan.

"Waalaikum salam." Balas Bu Eny yang langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar suara anaknya.

Pak Ivan mendekati ibunya itu kemudian meraih tangannya dan langsung menciumnya. "Ibu sehat?"

Bu Eny terkekeh. "Kamu ini, setiap hari ke sini kok ya itu terus yang ditanyakan." Bu Eny bangkit dari duduknya. "Baru pulang?" Pertanyaan Bu Eny langsung dijawab anggukan oleh Pak Ivan. "Sudah makan?" Kali ini Pak Ivan menggeleng. Bu Eny langsung menggelandang anaknya menuju ke ruang makan agar anaknya itu tidak sampai melewatkan makan siangnya.

Pak Ivan hanya menurut saja saat dirinya didudukkan di kursi ruang makan kemudian diambilkan nasi beserta lauknya oleh sang ibu. Sudah seperti anak kecil saja. Kali ini giliran Pak Ivan yang terkekeh melihat semua itu. Ibunya itu memang terbaik.

"Dah, makan dulu." Bu Eny menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya ke arah anaknya. Bu Eny ikut mendudukkan diri di samping sang anak.

"Terimakasih Bu." Pak Ivan langsung menyantap makanannya. Masakan ibunya itu memang yang paling enak. Bukan berarti dirinya menganggap masakan bibi di rumah istrinya tidak enak. Hanya saja masakan ibunya itu jauh lebih nikmat karena dimasak dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Saat hanya tinggal sedikit nasi yang tersisa di piring, Pak Ivan terlihat melamun. Dan itu semua tidak lepas dari pandangan ibunya. Bu Eny mengerutkan dahinya melihat anaknya yang nampak lesu.

"Ada apa? Apa ada masalah? Atau masakan ibu nggak enak?"

"Bukan Bu. Enak kok. Masakan ibu jelas yang paling enak." Ujar Pak Ivan mengulas senyum.

"Bagaimana hubungan mu dengan istri mu?" Tanya Bu Eny yang menduga sikap anaknya itu ada hubungannya dengan sang istri.

"Baik Bu." Jawab Pak Ivan mencoba menutupi keadaan rumah tangganya yang sebenarnya.

"Ibu tau Van, bahkan tanpa kamu berbicara sekali pun." Bu Eny menatap ke arah anak laki-lakinya itu. Ya, perasaan seorang ibu pasti sangat peka. "Perluas sabar mu Nak. Pelan-pelan saja. Suatu saat istri mu pasti juga akan mengerti. Yang penting di luar sana istri mu nggak neko-neko."

Pak Ivan mengangguk seraya tersenyum guna menenangkan ibunya. "Ibu tenang saja, aku akan selalu bersabar."

"Sudah, habiskan makan mu."

Pak Ivan mengangguk kemudian segera menghabiskan nasi yang masih tersisa sedikit di piringnya.

*****

Pukul dua siang Pak Ivan sudah kembali lagi ke rumah istrinya. Pak Ivan langsung masuk ke dalam kamarnya dan mendapati istrinya itu sedang tertidur di dalam kamar. Pantas saja tadi teleponnya tidak diangkat.

"Huuuft!" Pak Ivan langsung menyeret langkah kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah keluar dari kamar mandi, Pak Ivan langsung ikut naik ke atas tempat tidur kemudian merebahkan tubuhnya. Merasakan ada pergerakan, Bentari perlahan membuka matanya dan mendapati suaminya itu sudah berada di sampingnya. Lebih tepatnya di samping guling, karena guling itu tidak pernah beranjak dari tempatnya. Berada di tengah-tengah sebagai pembatas antara dirinya dan suaminya.

"Bapak sudah pulang?" Tanya Bentari seraya mengucek matanya.

"Heem!" Sahut Pak Ivan. "Aku tadi jemput kamu di kampus dan ternyata kamu sudah pulang. Pulang jam berapa tadi? Kenapa nggak telepon aku minta dijemput? Aku telepon juga nggak diangkat."

Bentari langsung meraih ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Dan benar saja ada dua panggilan tak terjawab dari suaminya itu. Bentari kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas.

"Tadi kelas berakhir pukul dua belas dan aku langsung pulang naik taksi." Bentari memilih berbohong karena tidak ingin membuat suaminya marah saat dia mengatakan yang sesungguhnya bahwa dirinya pulang bersama Daffa, mantan kekasihnya. "Pas bapak telepon barusan aku lagi tidur." Lanjut Bentari. Beruntung tadi dirinya meminta diturunkan di depan gerbang rumahnya oleh Daffa. Jadi tidak ada yang tahu bahwa dirinya pulang diantar oleh Daffa.

Pak Ivan hanya menganggukkan kepalanya kemudian memiringkan tubuhnya membelakangi sang istri. Apa susahnya berkata jujur? Toh aku juga tidak akan marah kalau kalian hanya berteman. Hati Pak Ivan terasa sakit saat dibohongi oleh istrinya sendiri.

Melihat itu Bentari cuek saja. Bentari langsung beranjak dari atas tempat tidur karena dirinya tidak akan bisa tertidur lagi setelah terbangun. Bentari memilih keluar dari kamarnya karena tidak ingin mengganggu istirahat suaminya.

"Huuuft!" Pak Ivan yang memang belum tertidur, lagi-lagi menghela nafasnya. Mau sampai kapan hubungannya dengan sang istri seperti ini? Mau dibawa ke mana rumah tangganya itu, kalau sang istri saja hingga saat ini tidak mau membuka dirinya untuknya. Tak mau terlalu memikirkan akan hal itu yang nantinya hanya akan membuat kepalanya pusing, Pak Ivan memilih segera memejamkan matanya. Mengistirahatkan tubuh serta otaknya sejenak dari keruetan rumah tangganya.

Di luar kamar lebih tepatnya di ruang keluarga, Bentari sedang menonton TV bersama Mamanya.

"Tadi kamu pulang kuliah jam berapa?" Tanya Mama Davira kepada sang putri. Pasalnya dirinya tidak melihat kedatangan anaknya. Dan tadi dirinya melihat menantunya hanya sendirian tanpa anaknya. Padahal tadi pagi mereka berangkat bersama. Mama Davira pikir mereka juga akan pulang bersama. Mama Davira pun tahu keadaan rumah tangga anaknya itu. Mama Davira juga sudah sering menasehati anaknya agar berbakti kepada suaminya. Dan juga tak henti-hentinya Mama Davira meminta kepada sang menantu agar lebih bersabar dalam menghadapi anaknya.

"Kelas selesai jam dua belas Ma, dan aku langsung pulang."

"Naik apa? Nggak dijemput suami mu?"

"Naik taksi." Jawab Bentari singkat.

Mama Davira menghela nafasnya pelan. Memang di antara anak dan menantunya itu miskomunikasi. Harusnya anaknya itu kan bisa menghubungi suaminya untuk menjemputnya jika dirinya pulang jam dua belas. Pasti suami anaknya itu dengan senang hati akan menjemputnya meskipun jam kerja menantunya itu berakhir pukul setengah dua.

*****

*****

*****

Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

Terpopuler

Comments

Wiek Soen

Wiek Soen

sabar banget ya pk Ivan

2024-01-29

0

Zahra🌼

Zahra🌼

beruntung kedua orang tua bentari baik sama kamu Pak Ivan 🤗

2023-06-05

4

Zahra🌼

Zahra🌼

kira-kira Sampai kapan kamu bisa bertahan Pak Ivan 🤭

2023-06-05

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!