PART 11

Prookk.. Prookk.. Prookk..

Suara tepukan tangan Daffa membuat ketiganya terkejut dan langsung menoleh. Mata Amanda langsung membulat saat menyadari siapa yang saat ini melangkah menghampirinya.

"Daf-Daffa," Lirih Amanda ketakutan karena rahasianya baru saja diketahui oleh kekasihnya. Sedangkan kedua siswa laki-laki yang lainnya hanya menunduk. Tidak mungkin mereka melarikan diri karena sudah tertangkap basah.

"Luar biasa." Ujar Daffa. "Kekasih ku ternyata menyimpan rahasia besar yang baru saja aku ketahui." Daffa menyunggingkan senyum sinis. "Berikan kepada ku." Daffa menadahkan tangannya ke arah Amanda.

"Ap-apa?" Bukan pura-pura tidak tahu, tapi Amanda memang benar-benar tidak mengerti apa yang Daffa maksud.

"Pon-sel-mu!" Ucap Daffa tegas.

"Un-untuk apa?" Sekarang Amanda mulai mengerti kemana arah pembicaraan Daffa.

"Aku hanya ingin tau, video apa yang kamu sembunyikan."

"Ti-tidak ada!" Amanda langsung menyembunyikan ponselnya di belakang tubuhnya.

"Kau tidak ingin jujur dengan ku baby."

Amanda melongo mendengar panggilan baby yang disematkan oleh Daffa. Karena selama seminggu ini dirinya berpacaran dengan Daffa tidak sekalipun kekasihnya itu memanggilnya dengan panggilan sayang apalagi baby.

"Bu-bukan begitu, tapi memang tidak ada apapun di ponsel ku."

"Baiklah, kalau kamu memang lebih memilih hubungan kita berakhir."

"Tidak!" Sahut Amanda cepat. "Tap-tapi janji ya, apapun yang kamu lihat di dalam ponsel ku, hubungan kita tidak akan pernah berubah."

"Ya!" Sahut Daffa cepat dengan memberikan senyum termanisnya agar Amanda percaya dengan bualannya. Daffa juga bukan orang bodoh yang tidak mengerti mana yang baik dan mana yang buruk.

Perlahan Amanda mengulurkan ponselnya kepada Daffa. Dan Daffa pun langsung meraihnya kemudian membuka ponsel tersebut yang ternyata terkunci. Daffa menyodorkan kembali ponsel itu kepada sang pemiliknya agar Amanda membuka passwordnya. Dengan ragu dan tangan sedikit bergetar, Amanda pun mengetikkan beberapa nomor sebagai password ponselnya. Akhirnya ponsel itu terbuka.

Jari jemari Daffa langsung menari di atas ponsel mencari folder galeri yang biasanya dijadikan tempat penyimpanan video. Ada banyak video yang tersimpan di dalam ponsel Amanda. Namun ada dua video yang baru saja diambil beberapa hari yang lalu, terlihat dari tanggalnya.

Klik!

Daffa langsung memutar salah satu dari kedua video itu. Dan betapa terkejutnya saat ia melihat Bentari, mantan kekasihnya itu ada di dalam video tersebut. Bentari yang dalam keadaan tidak sadar dibaringkan di atas lantai yang sudah diberi alas kardus bekas oleh salah satu cowok yang ada di depannya saat ini. Daffa mengepalkan tangan kirinya erat. Cowok itu perlahan mulai melepas kancing baju seragam Bentari satu persatu hingga terbuka sempurna. Namun setelah itu video berakhir.

Lanjut dengan video kedua. Dimana terlihat Pak Ivan yang sedang berjongkok di depan Bentari yang nampak ketakutan. Dan di dalam video itu terdengar jelas suara percakapan antara Pak Ivan dan Bentari yang ternyata Pak Ivan mencoba menjelaskan kepada Bentari bahwa dia tidak berbuat apapun. Dan ada pula suara-suara selain dari kedua orang yang ada di dalam video. Jelas saja, itu adalah suara Pak Damar selaku kepala sekolah dan juga beberapa guru yang saat itu sedang berada di lokasi kejadian.

Sekarang Daffa mengerti, video kemarin yang sempat viral itu ternyata adalah dua video yang barusan dilihatnya. Dua vidio itu digabung menjadi satu dan di blur pada video pertama agar pelaku tersamarkan.

Daffa mengalihkan pandangannya ke arah Amanda saat video berakhir. "Luar biasa!" Ujarnya. "Sempurna!" Lagi, entah itu pujian atau cibiran yang ditujukan Daffa kepada Amanda. "Kenapa kamu bisa setega itu menjebak dan memfitnah sahabat mu sendiri?!" Suara Daffa terdengar mengeram marah.

Amanda diam membeku. Lidahnya terasa kelu tidak mampu menjawab pertanyaan dari kekasihnya. "Daf-Daffa ak-aku bisa jelasin semua itu." Terbata-bata suara Amanda.

"Ayo kita jelasin di kantor!" Daffa langsung berlalu pergi setelah mengatakan itu.

"Ti-tidak Daffa! Kembalikan ponsel ku!" Teriak Amanda berlari mengejar Daffa. Sedangkan kedua siswa laki-laki tadi berjalan lesu mengikuti keduanya. Mereka sudah tertangkap basah jadi memilih pasrah. Mengelak pun percuma. Bukti sudah berada di tangan Daffa.

"Daffa kembalikan ponsel ku!" Teriak Amanda berlari mengejar Daffa yang melangkah menuju ke ruang guru. Teriakan Amanda itu jelas saja menjadi pusat perhatian beberapa siswa yang masih berada di sekolah. Termasuk Bentari yang saat itu sudah keluar dari kelas bersiap pulang.

Bentari menghentikan langkahnya dan memperhatikan keduanya. Sebenarnya Bentari sudah tidak peduli dengan keduanya. Mau mereka kejar-kejaran, atau bahkan berpelukan sekalipun Bentari tak peduli. Namun entah mengapa kali ini rasa ingin tahunya tinggi. Kira-kira apa yang terjadi di antara keduanya?

Daffa langsung masuk ke dalam ruang guru tanpa permisi membuat guru-guru yang ada di sana melotot ke arahnya. Ada juga yang langsung menegurnya atas sikapnya yang tidak sopan itu. Semua guru sepertinya belum ada yang meninggalkan sekolah. Ini adalah kesempatan emas bagi Daffa untuk menunjukkan kelakuan bejat Amanda yang tak lain adalah putri dari kepala sekolah itu sendiri.

"Daffa!" Teriak Amanda lagi saat memasuki ruang guru.

"Apa-apa ini?!" Pak Damar selaku kepala sekolah yang saat itu sedang berada di ruang guru bangkit dari duduknya menegur keduanya. "Jangan membuat keributan di sini!" Tegurnya lagi.

"Maaf pak." Ucap Daffa menyahut. "Saya kesini bukan ingin membuat keributan. Tapi ingin menunjukkan sesuatu yang sempat menimbulkan keributan kemarin!" Suara tegas Daffa membuat guru-guru yang ada di ruangan itu terlihat mengernyitkan dahinya karena tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh anak didiknya itu.

"Maksud kamu apa?" Tanya pak Damar.

"Daffa kembalikan!" Teriak Amanda lagi tidak perduli dirinya ada di mana saat ini.

Daffa mengacungkan tinggi-tinggi ponsel Amanda ke atas karena Amanda berusaha meraihnya. "Bapak dan ibu bisa lihat sendiri nanti di dalam ponsel ini. Ada dua video hasil dari rekaman anak bapak ini." Daffa menatap ke arah pak Damar.

Pak Damar langsung menghampiri Daffa untuk meminta ponsel anaknya itu. Daffa pun dengan senang hati langsung memberikan ponsel itu kepada pak Damar. Guru-guru yang lainnya langsung ikut mengerubungi kepala sekolah itu untuk melihat video apa yang sebenarnya berada di dalam ponsel Amanda.

"Tidak Daffa! Kamu jahat!" Amanda menangis seraya memukuli tubuh Daffa yang hanya diam saja.

*****

*****

*****

Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

Terpopuler

Comments

Wiek Soen

Wiek Soen

Amanda mau jadi ja***Ng ya

2024-01-29

0

Mara

Mara

Yeyyyyyyyy dasar lampir cilik... jahat teriak jahat😱

2023-08-14

1

Zahra🌼

Zahra🌼

Tamat riwayat mu Amanda 🤪

2023-06-02

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!