Tepat pukul dua belas siang kelas berakhir. Bentari dan Vida segera membereskan buku-buku mereka yang berserakan di atas meja kemudian memasukkannya ke dalam tas.
Vida terlihat celingak-celinguk memperhatikan keadaan kelas yang ternyata sudah sepi. Tidak ada orang lain di dalam kelas itu selain mereka berdua. Semua orang sudah meninggalkan kelas setelah dosen pengajar keluar dari kelas.
"Tar, eem," Panggil Vida yang nampak ragu.
Bentari menoleh. "Apa?" Melihat keraguan yang nampak jelas di raut wajah Vida membuat Bentari semakin penasaran. "Mau ngomong apa?"
"Eem, tapi jangan marah ya?" Ucap Vida cengengesan.
"Apa sih Vid? Ngomong aja nggak usah ragu begitu."
"Daffa mantan tunangan loe ya?" Tanya Vida takut-takut.
"Hah! Tunangan?" Bentari benar-benar terkejut dengan pertanyaan sahabatnya itu. Bisa-bisanya Vida berpikir bahwa Daffa adalah mantan tunangannya. Apa karena tadi Vida melihat Daffa memohon-mohon untuk kembali kepadanya?
"Hehe... Kan cuma tanya. Maaf ya kalau gue kepo." Vida kembali cengengesan.
"Bukan begitu." Bentari ikut tertawa. "Atas dasar apa kamu bisa berpikir seperti itu?" Bentari ingin tahu alasan Vida bisa beranggapan bahwa dirinya dan Daffa adalah mantan tunangan.
"Eem, itu." Vida mengedikkan dagunya ke arah tangan Bentari.
Bentari yang tidak mengerti dengan maksud Vida pun kembali bertanya. "Apa?"
"Itu yang ada di jari kamu." Tunjuk Vida lagi dengan dagunya.
Akhirnya Bentari pun mengerti. Ternyata cincin yang melekat di jari manisnya membuat Vida salah paham. Cincin pernikahannya dengan Pak Ivan. Sebenarnya Bentari ingin melepas cincinnya itu saat berada di kampus. Namun sayangnya setelah dirinya meminta izin kepada suaminya, suaminya itu tidak mengizinkannya. Padahal Bentari sudah berjanji hanya akan melepasnya saat kuliah saja dan dirinya akan kembali memakainya saat berada di rumah.
Pak Ivan memang tidak melarang jika Bentari masih ingin menyembunyikan pernikahan mereka dari publik. Namun Pak Ivan tidak mengizinkan kalau istrinya itu melepas cincin pernikahan mereka.
"Ini....." Bentari mengelus-elus cincin yang ada di jari manisnya. "Ini hanya cincin biasa, bukan cincin pertunangan." Lanjutnya mencoba menutupi kebenarannya.
"Ah masa sih?" Sepertinya Vida tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bentari. "Itu seperti cincin pertunangan atau cincin pernikahan."
Degh!
Bentari terkejut. Kok Vida bisa tahu kalau itu cincin pertunangan? "Bu-bukan Vid. Ini cuma cincin biasa. Hadiah ulang tahun dari Mama karena aku memang lagi pengen pakai cincin waktu itu."
Terlihat Vida manggut-manggut. Sepertinya kali ini Vida mempercayai apa yang dikatakan oleh Bentari. "Soalnya gue sama mama juga pernah nganterin Abang buat beli cincin pertunangan. Dan modelnya banyak yang sama seperti yang kamu pakai."
"Eem, mungkin hanya kebetulan saja." Sahut Bentari. "Ya udah ayo pulang." Bentari meraih tasnya kemudian menyampirkannya ke atas pundak. Keduanya pun melangkah bersamaan keluar dari kelas menuju ke depan.
"Loe naik apa? Bawa mobil sendiri apa dijemput?"
"Eem, aku nggak bawa mobil. Tadi pagi dianterin sama kakak." Lidah Bentari terasa kelu saat akan mengatakan dirinya diantarkan oleh suaminya. Jadi Bentari memilih mengaku diantarkan oleh kakaknya.
"Jadi loe juga punya kakak?" Mata Vida terlihat berbinar. "Cewek apa cowok?"
"Co-cowok!" Sahut Bentari terbata.
"Wah, kapan-kapan boleh dong dikenalin sama gue?" Vida terlihat bersemangat.
"I-iya nanti aku kenalin sama kakak ku." Tidak ada pilihan lain, akhirnya Bentari mengatakan itu. Tanpa sadar dirinya telah berjanji kepada sahabatnya. Dan suatu saat nanti pasti Vida akan menagih janjinya itu.
"Apa mau aku antar pulang?" Tawar Vida.
"Nggak usah Vid, terimakasih. Kita kan berbeda arah." Tolak Bentari.
"Nggak papa kali Tar."
"Nggak usah beneran. Aku mau naik taksi aja." Tolak Bentari sekali lagi. Akhirnya mereka pun berpisah. Bentari melangkah ke depan untuk mencari taksi sedangkan Vida melangkah menuju ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya.
Bentari berdiri di depan pintu gerbang kampus, lebih tepatnya di pinggir jalan. Mentari siang ini cukup terik hingga membuatnya berkeringat. Bahkan pandangannya pun terasa berkunang-kunang. Bentari mengeluarkan selembar tisu dari tasnya untuk mengusap keringatnya.
Tin.. Tin..
Vida membunyikan klakson saat melewati temannya itu. Tak lupa kaca samping ia turunkan. Bentari pun mengulas senyum dan Vida langsung melesatkan mobilnya meninggalkan kampus.
Tak berselang lama terdengar lagi bunyi klakson.
Tin.. Tin..
Bentari tahu betul mobil siapa yang berhenti tepat di depannya. Kaca samping mobil itu diturunkan dan terlihatlah wajah si pengemudi. Daffa berseru dari dalam mobil. "Ayo bareng, aku antar pulang."
"Tidak terimakasih." Tolak Bentari.
Daffa pun langsung keluar dari mobilnya kemudian menghampiri Bentari. Mana mungkin dirinya tega meninggalkan Bentari yang berdiri sendirian di tepi jalan dengan cuaca sepanas ini. Bisa-bisa nanti Bentari pingsan di tepi jalan.
"Ayolah Ri, aku akan mengantar mu sampai ke rumah." Bujuk Daffa.
"Terimakasih, aku mau naik taksi aja."
"Huuuft, apa salah jika aku ingin menebus kesalahan ku Ri?"
Bentari mengernyitkan alisnya karena tidak paham dengan ucapan Daffa. Bentari masih tetap diam tidak menyahutinya.
"Ayo aku antar pulang, sebagai permohonan maaf ku. Kalau memang kita tidak bisa bersama seperti dulu lagi, apa kita tidak bisa berteman?"
Sejenak Bentari berpikir mencerna setiap ucapan Daffa. Tidak buruk juga jika mereka berdua berteman. Akhirnya Bentari pun luluh. Bentari mengangguk membuat Daffa tersenyum senang. Daffa segera membukakan pintu mobil bagian depan untuk Bentari. Setelah memastikan Bentari masuk dan duduk dengan nyaman, Daffa segera masuk ke dalam mobilnya kemudian duduk di balik kemudi. Segera Daffa melesatkan mobilnya membelah jalanan kota yang siang itu nampak ramai.
Tanpa mereka sadari, di seberang jalan sana Pak Ivan yang baru saja datang untuk menjemput istrinya itu melihat interaksi keduanya. Ada gemuruh hebat di dalam dadanya. Namun dirinya hanya bisa memendamnya karena tidak mungkin juga dirinya marah kepada istrinya itu.
Setelah berhasil mengatur nafasnya yang sedikit memburu juga emosinya yang sesaat tadi sempat melonjak, Pak Ivan segera melesatkan motornya menuju ke rumah ibunya.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Zahra🌼
Hadeeeeuuhh 🤦🤦
2023-06-05
4
Zahra🌼
berawal dari teman akhirnya nanti kembali jadian 😩
2023-06-05
4
Zahra🌼
awas semapot 🤭
2023-06-05
4