PART 3

Setelah menunggu selama tiga puluh menit, akhirnya kedua orang tua Bentari tiba di sekolah. Mereka berdua nampak khawatir. Takut jika terjadi sesuatu dengan anaknya. Pasalnya, Pak Damar selaku kepala sekolah anaknya itu tidak memberitahukan dengan jelas maksud dan tujuannya mereka dipanggil ke sekolah saat itu juga.

"Apa yang terjadi?" Tanya Papa Adrian saat memasuki ruang kepala sekolah bersama istrinya mama Davira.

Semua orang yang ada di ruangan itu langsung beranjak dari duduknya menyambut kedatangan orang tua dari muridnya.

"Papa!" Bentari berlari dan langsung menubruk tubuh papanya. "Hiks.. hiks.." Bentari menumpahkan tangisannya dalam pelukan papanya.

"Ada apa sayang? Apa yang terjadi?" Papa Adrian mengusap-usap punggung anak gadisnya yang bergetar, begitupun mama Davira. Mama Davira juga ikut mengusap bahu anaknya guna menenangkannya.

"Mari pak, silakan duduk dulu." Ujar Pak Damar mempersilahkan mereka semua untuk kembali duduk agar mereka bisa membicarakan masalah ini dengan baik-baik.

Papa Adrian pun menurut dan langsung membawa putrinya duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu diikuti oleh istrinya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Papa Adrian lagi setelah mereka semua duduk.

"Begini pak," Pak Damar langsung menjelaskan kepada kedua orang tua Bentari tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tak lupa dia juga mengatakan penjelasan yang diberikan oleh Bentari dan juga Pak Ivan selaku guru BP.

Namun sayangnya, karena emosi yang lebih dulu menguasai Papa Adrian, Papa Adrian pun bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Pak Ivan.

Pak Ivan yang melihat orang tua dari muridnya itu menghampirinya segera berdiri dari duduknya. Dia sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan diterimanya.

"Dasar guru br3n9$3k!!"

Bugh!

"Aaaahh!" Jerit para perempuan yang ada di sana.

Hantaman keras dari Papa Adrian langsung mendarat di wajah Pak Ivan hingga membuat sang empunya tersungkur ke lantai. Papa Adrian langsung meraih kerah kemeja Pak Ivan dan akan kembali melayangkan pukulannya jika saja Pak Damar tidak dengan cepat menahan tangan Papa Adrian.

"Tolong jangan membuat keributan di sekolahan pak. Kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik." Ujar pak Damar.

"Baik-baik kata bapak?!" Papa Adrian yang masih dikuasai emosi tidak terima dengan ucapan Pak Damar. "Bagaimana jika bapak ada di posisi saya dan anak bapak dil3c3hkan oleh gurunya sendiri?!"

Gluk!

Pak Damar menelan ludahnya susah payah. Benar apa yang diucapkan oleh orang tua dari muridnya itu. Ia pasti juga akan sangat marah jika anaknya diperlakukan seperti itu oleh gurunya sendiri.

Papa Adrian melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja Pak Ivan kemudian kembali duduk di samping putrinya yang menangis sesenggukan di pelukan sang istri.

"Pokoknya saya akan membawa masalah ini ke jalur hukum!" Ujar Papa Adrian yang membuat Pak Ivan nampak pias.

Pak Ivan langsung bangkit kemudian menghampiri Papa Adrian dan langsung bersujud di depannya. "Saya mohon pak, jangan bawa masalah ini ke jalur hukum. Saya berani bersumpah tidak melakukan apapun kepada anak bapak."

Namun sayangnya tidak ada satupun orang yang percaya dengan ucapan Pak Ivan. "Saya akan melakukan apapun yang bapak perintahkan asal jangan membawa masalah ini ke jalur hukum." Jelas saja Pak Ivan tidak ingin nama baiknya tercoreng akibat masalah ini. Ia rela merendahkan harga dirinya demi menjaga nama baiknya meskipun dirinya tidak bersalah dalam hal ini.

Sebenarnya guru-guru yang ada di sana juga menolak untuk percaya. Karena setahu mereka Pak Ivan yang menjadi rekan barunya itu terkenal dengan laki-laki muda yang ramah dan baik hati. Namun bukti yang dilihat oleh mata kepala mereka sendiri dan juga penjelasan dari Bentari cukup kuat untuk menjadikan Pak Ivan sebagai tersangka kasus p3l3c3han seorang guru terhadap anak muridnya sendiri.

Amanda yang sejak tadi menyaksikan dan mendengarkan drama di depan matanya tersenyum puas. Hatinya bersorak kegirangan.

"Begini pak, saya selaku kepala sekolah mewakili semua jajaran guru yang ada di sini mengucapkan beribu-ribu maaf atas kejadian ini. Saya mohon jangan membawa masalah ini ke jalur hukum." Jelas saja pak Damar takut nama baik sekolahan yang dipimpinnya menjadi buruk di mata umum. "Bila perlu saya akan memecat Pak Ivan sekarang juga." Imbuh pak Damar.

Pak Ivan yang sudah menduga akan hal ini tak lagi terkejut. Siap tidak siap dirinya harus bersedia diberhentikan dari sekolah ini.

"Itu sudah pasti harus bapak lakukan!" Sahut Papa Adrian. "Jangan sampai kejadian yang menimpa anak saya kembali terulang dan menimpa murid lainnya." Lanjutnya. "Ayo kita pulang!" Papa Adrian beranjak dari duduknya dan langsung membawa anak istrinya keluar dari ruang kepala sekolah. Namun saat tiba di pintu, Papa Adrian berbalik. "Urusan kita belum selesai!" Papa Adrian mengarahkan telunjuknya ke arah Pak Ivan. Dan setelah mengatakan itu Papa Adrian melanjutkan langkahnya.

Dan sore itu juga Pak Ivan diberhentikan dari sekolah itu.

Pak Ivan berjalan gontai menuju ke tempat parkir untuk mengambil motornya. Pak Ivan langsung melesatkan motornya meninggalkan parkiran sekolah tempatnya mengajar. Lebih tepatnya tempat ia pernah mengajar. Saat ini tujuannya adalah pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, laki-laki muda yang berusia 28 tahun itu langsung disambut oleh ibunya. "Kenapa baru pulang?" Tanya Bu Eny kepada anaknya.

Pak Ivan langsung meraih tangan ibunya kemudian menciumnya dengan takzim. Dosa apa yang sudah dilakukannya hingga dia terjerat masalah seperti ini. Pak Ivan pun sempat berpikir, apakah dirinya pernah melakukan kesalahan yang tidak disadarinya kepada ibunya? Orang tua satu-satunya yang dimilikinya saat ini.

"Masih ada urusan di sekolah tadi Bu."

"Loh kenapa dengan wajah mu ini?" Bu Eny meraba wajah anaknya yang terlihat membiru.

"Tadi sempat jatuh di sekolah dan terbentur meja Bu. Tapi nggak papa kok. Ibu jangan khawatir."

"Hati-hati Van, ya sudah sana mandi dulu."

Pak Ivan pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Bu Eny sebenarnya tidak percaya dengan pengakuan anaknya itu. Dilihat dari sikap anaknya yang terlihat lesu seperti ada beban atau masalah yang sedang menimpanya. Namun dirinya juga tidak ingin ikut campur dengan urusan anaknya selagi anaknya itu belum bercerita kepadanya.

*****

*****

*****

Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

Terpopuler

Comments

Wiek Soen

Wiek Soen

ternyata ada preman di sekolah ya

2024-01-29

0

Zahra🌼

Zahra🌼

Anggap saja ini sebagai ujian Pak 🤭

2023-05-28

4

Zahra🌼

Zahra🌼

Sabar ya pak 🤭 orang sabar pasti nyesek wkwkwk 🤣🤣🤣

2023-05-28

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!