Pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Pak Ivan yang hanya menggunakan celana kolor pendek. Tubuh bagian atasnya ia biarkan terbuka. Sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, Pak Ivan melewati istrinya begitu saja menuju ke lemari pakaian.
Melihat itu Bentari hanya terbengong. Namun setelah tersadar, Bentari segera memalingkan wajahnya. Untuk pertama kalinya Bentari melihat suaminya itu tidak mengenakan baju. Biasanya suaminya itu sudah menggunakan pakaian yang lengkap saat keluar dari kamar mandi.
"Pak," Bentari bangkit dari duduknya dengan kepala menunduk karena tidak ingin melihat pemandangan yang membuat matanya tak berkedip. "Apa ada yang bapak butuhkan?"
Pak Ivan masih diam saja tanpa menyahut perkataan istrinya. Dengan santainya Pak Ivan menarik salah satu kaos yang berada di lipatan baju kemudian segera memakainya.
Karena tidak mendapat jawaban dari suaminya, Bentari akhirnya mengangkat kepalanya dan mendapati suaminya itu sudah memakai baju. "Ada apa? Kenapa bapak diam saja?"
Pak Ivan masih belum membuka suaranya. Ia malah langsung keluar dari kamar membiarkan Bentari yang kebingungan atas sikapnya.
"Ah ya sudahlah." Bentari memilih langsung masuk ke dalam kamar mandi.
*****
"Loh Van, kok sendirian? Mana istri mu? Bukannya tadi kalian pulang bareng?" Tanya Mama Davira saat melihat menantunya itu hanya sendirian duduk di ruang makan. Setahu mama Davira mereka tadi pulang bersama, karena keduanya masuk ke dalam rumah bergantian.
Pak Ivan yang saat itu sedang menikmati makan siangnya langsung menoleh ke arah mama mertuanya. "Masih di kamar ma." Sahut Pak Ivan kemudian melanjutkan makannya.
"Bener-bener itu anak." Mama Davira langsung meninggalkan ruang makan menuju ke kamar anaknya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Mama Davira langsung menerobos masuk dan mendapati anaknya itu sedang tiduran di atas ranjang.
Tentu saja itu membuat Bentari kaget dan langsung terlonjak duduk. "Mama ada apa?" Bentari turun dari tempat tidur menghampiri mamanya yang nampak kesal.
"Bener-bener ya kamu ini!" Mama Davira langsung menarik telinga anaknya.
"Aw aw... Ma, ada apa ini?" Bentari mengusap-usap daun telinganya yang terasa panas.
"Punya anak perempuan satu aja bebalnya minta ampun!"
"Apa sih ma?!"
"Suami makan bukannya ditemenin malah enak-enakan mainan HP di atas tempat tidur!"
"Owh, memangnya pak Ivan lagi makan?"
"Pak, pak, memangnya dia bapak mu?!" Mata mama Davira langsung melotot. "Dia itu suami mu Tari! Jadi berhenti memanggilnya dengan sebutan bapak!" Uh, gemes sekali mama Davira ingin rasanya menampol anaknya itu biar otaknya mikir.
"Udah terbiasa ma. Kan Pak Ivan memang gurunya Tari."
"Itu dulu Tari! Sekarang dia suami mu! SU-A-MI-MU! Paham nggak?!"
"Iya, iya, ah mama berisik!" Bentari langsung keluar dari kamarnya meninggalkan mama Davira yang nampak mengelus-elus dadanya beberapa kali. Dosa apa Mama Davira hingga memiliki anak seperti Bentari. Kata orang anak laki-laki itu jauh lebih bandel daripada anak perempuan. Tapi nyatanya anak perempuannya itu sungguh luar biasa bebalnya.
Saat tiba di ruang makan ternyata Pak Ivan sudah beranjak dari duduknya karena sudah menyelesaikan makan siangnya. Dan lagi-lagi Bentari dilewatinya begitu saja tanpa menyapanya.
"Ish, kenapa sih orang di dalam rumah ini pada aneh?" Bentari langsung menyusul suaminya yang ternyata sudah masuk ke dalam kamar.
Pak Ivan mendudukkan tubuhnya di sofa seraya mengotak-atik ponselnya. Bentari memberanikan diri duduk di sebelah suaminya.
"Kenapa tadi bapak nggak bilang kalau mau makan?"
"Memangnya kamu peduli saya lapar atau tidak?!"
Jleb!
Sungguh jawaban yang suaminya lontarkan itu benar-benar membuatnya langsung terdiam. Ya, Bentari sadar jika dirinya selama ini tidak pernah peduli dengan apa yang dilakukan dan apa yang dirasakan oleh suaminya itu.
"Maaf," Lirih Bentari menunduk.
"Simpan saja kata maaf mu itu!" Pak Ivan bangkit berpindah ke atas tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya.
Sesabar-sabarnya seseorang pasti ada batasnya. Ada saatnya orang itu akan merasa lelah karena kesabarannya tidak pernah dihargai.
*****
Hari libur tiba. Setelah menikmati sarapan bersama, Pak Ivan langsung berpamitan kepada kedua mertuanya untuk pergi ke rumah ibunya.
Pak Ivan masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Bentari sejak tadi hanya mengikuti suaminya itu tanpa membuka suaranya. Dua hari berlalu namun suaminya itu masih mendiamkannya.
"Apa mau ikut?" Pak Ivan akhirnya membuka suaranya, karena sebenarnya dirinya ingin mengajak istrinya itu ke rumah ibunya. Sudah lama istrinya itu tidak pernah datang ke rumah ibunya. Kalau dirinya sering datang setelah mengajar, hanya untuk memastikan keadaan ibunya baik-baik saja selama dirinya tidak bersama sang ibu.
Bentari yang ditanya seperti itu jadi gelagapan. Pasalnya hari ini dirinya ada janji dengan seseorang untuk pergi. "Eem, lain kali saja boleh nggak? Ak-aku ada janji sama temen ku hari ini mau pergi."
"Temen? Temen siapa?" Pak Ivan memicingkan matanya curiga.
"Vi-Vida!" Sahut Bentari cepat. "Ka-kami sudah janjian akan pergi menonton hari ini."
"Owh," Pak Ivan manggut-manggut. Tanpa berucap lagi Pak Ivan langsung keluar dari kamar meninggalkan istrinya yang nampak bernapas lega karena Bentari pikir suaminya itu tidak akan curiga dengannya.
Saat tiba di depan rumah, Pak Ivan melihat sebuah mobil memasuki halaman rumah. Pak Ivan masih berdiri di teras rumah memperhatikan siapa yang baru saja turun dari mobil tersebut. Ternyata memang Vida teman istrinya. Berarti memang istrinya itu tidak berbohong. Padahal dirinya tadi sempat menduga bahwa istrinya itu akan pergi menonton bersama dengan Daffa.
"Pagi kak." Sapa Vida saat tiba di teras. "Tarinya ada?"
"Ada, masuk aja." Pak Ivan langsung berlalu.
"Eh, Kakak mau ke mana kok buru-buru begitu?"
Langkah Pak Ivan terhenti kemudian membalikkan tubuhnya lagi. "Pergi!" Jawab Pak Ivan singkat kemudian melanjutkan langkahnya menuju garasi untuk mengambil motornya.
"Huuuft, susah banget didekati." Keluh Vida. "Tapi tak apa. Sikapnya yang dingin itu malah membuatnya semakin keren." Vida malah tersenyum-senyum sendiri sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
Ya begitulah pak Ivan. Sebenarnya sikap aslinya adalah hangat. Namun dirinya berubah menjadi dingin kepada orang lain saat istrinya itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang kakak.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Darmawangsya Darmawangsya
betul banget
2025-02-21
0
Mara
Pertahankan sikap mu pak....orang akan baru sadar klo sudah tahu kehilangan 😁
2023-08-14
2
Zahra🌼
yang dingin-dingin begitu bikin penasaran ya fit Vid 😂
2023-06-06
4