Malam pun tiba. Seluruh anggota keluarga Papa Adrian yang hanya berjumlah empat orang itu sudah duduk di ruang makan. Mama Davira terlihat sibuk melayani suaminya. Mengambilkan nasi beserta lauknya untuk sang suami. Setelah itu mengisi piringnya sendiri.
Mama Davira yang melihat anaknya itu hanya diam saja segera menendang pelan kaki anaknya yang ada di bawah meja. Bentari langsung menoleh menatap ke arah mamanya. Mamanya itu terlihat melotot kepadanya. Bentari pun mengerti. Itu adalah kode yang diberikan oleh mamanya agar dirinya segera melayani suaminya. Bentari sudah hapal, hanya saja dirinya merasa malas karena biasanya dirinya yang dilayani oleh mamanya. Namun semenjak dirinya memiliki seorang suami, sekarang dirinya lah yang harus melayani suaminya.
Dengan malas Bentari menyendokkan nasi ke atas piring suaminya beserta beberapa lauk tanpa bertanya terlebih dahulu kepada sang suami lauk apa yang diinginkan oleh suaminya itu.
Melihat itu Pak Ivan pun tidak pernah protes. Karena memang selalu begitulah yang dilakukan istrinya. Tidak pernah bertanya kepadanya apa yang ia inginkan. Namun begitu Pak Ivan selalu memakan apapun yang diberikan oleh istrinya itu guna menghargai sang istri.
Sabar, sabar, sabar. Semoga saja dirinya senantiasa diperluas kesabarannya dalam menghadapi sang istri.
Semua orang akhirnya mulai menyantap makan malamnya. Tidak ada pembicaraan sama sekali saat makan malam itu berlangsung. Hingga akhirnya Papa Adrian membuka suaranya setelah menghabiskan makanannya dan meneguk air minumnya.
"Bagaimana kuliah mu hari ini?" Papa Adrian menatap ke arah anak gadisnya itu.
"Lancar Pa." Sahut Bentari.
Papa Adrian terlihat manggut-manggut kemudian beralih menatap sang menantu. "Bagaimana? Apa kamu merasa nyaman mengajar di sana?"
"Nayaman Pa." Sahut Pak Ivan.
"Apa tidak ingin pindah mengajar ke sekolah yang lain? Papa bisa membantu kalau kamu ingin pindah dari sana."
"Terimakasih Pa, tapi aku sudah nyaman berada di sekolah itu." Tolak Pak Ivan halus agar mertuanya itu tidak tersinggung.
"Baiklah, Papa tidak akan memaksa." Papa Adrian memilih mengalah. Papa Adrian hanya takut menantunya itu tidak nyaman berada di sekolah itu karena kejadian yang pernah menimpa anak dan menantunya. "Kalau kamu sudah tidak merasa nyaman di sana, kamu bilang saja sama papa."
"Iya Pa." Pak Ivan mengangguk.
Papa Adrian langsung beranjak dari duduknya meninggalkan ruang makan, diikuti oleh Bentari yang juga ikut meninggalkan ruang makan setelah menyelesaikan makannya. Tertinggal Pak Ivan dan juga mama Davira yang nampak menghela nafasnya pelan saat melihat anaknya itu ikut beranjak tanpa sepatah kata pun.
"Yang sabar ya Van." Ujar mama Davira kepada menantunya itu seraya mengulas senyum. "Mama juga sudah menasehati Tari. Tapi anaknya saja yang bebal. Tidak mau mendengarkan nasihat mama."
"Iya Ma. Mama nggak usah khawatir. Aku akan selalu sabar menghadapi istri kecil ku itu." Pak Ivan terkekeh saat menyebut istri kecil kepada istrinya. Mama Davira pun ikut terkekeh.
Mama Davira beranjak dari duduknya meninggalkan ruang makan. Begitu pula Pak Ivan yang juga langsung beranjak dari duduknya karena dirinya juga sudah menyelesaikan makan malamnya.
Pak Ivan kembali ke dalam kamarnya dan mendapati sang istri yang nampak sedang belajar di atas tempat tidur. Pak Ivan mendekati tempat tidur kemudian duduk di pinggir ranjang. "Sedang belajar?"
"Heem!" Sahut Bentari yang masih terfokus pada laptop yang menyala di hadapannya.
"Apa ada tugas?" Tanya Pak Ivan lagi.
"Heem!" Lagi-lagi Bentari hanya menjawab dengan heem saja.
"Apa butuh bantuan?" Pak Ivan menawarkan diri, barangkali istrinya itu membutuhkan bantuannya dalam mengerjakan tugas kampus.
"Tidak terimakasih." Sahut Bentari cepat tanpa menatap suaminya.
Pak Ivan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Setelah itu dirinya kembali naik ke atas tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya. Pak Ivan terlihat memainkan ponselnya dan sesekali melirik ke arah istrinya yang masih bergelut dengan laptopnya.
Bentari menutup laptopnya kemudian segera mengemasi buku-bukunya yang berserakan di atas tempat tidur. Memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu dirinya langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Setelah itu kembali naik ke atas tempat tidur.
Ditatanya kembali guling yang sudah berada di tengah-tengah mereka. Bentari membetulkan letak guling itu. Padahal guling itu masih berada di posisinya semula. Dan semua yang dia lakukan itu tidak lepas dari pandangan sang suami. Setelah dirasa cukup, Bentari segera merebahkan tubuhnya.
Dimiringkannya tubuhnya menghadap sang suami. "Eem, apa boleh besok aku bawa mobil sendiri?" Bentari meminta izin kepada suaminya.
Setelah di pikir-pikir, mungkin itu jauh lebih baik. Daripada istrinya itu harus satu mobil dengan mantan kekasihnya. Jujur saja dia tidak rela. Pak Ivan pun ikut memiringkan tubuhnya menghadap sang istri. "Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?" Bentari menyangga kepalanya dengan salah satu tangannya.
"Jangan mengabaikan telepon atau pesan ku agar aku tidak khawatir."
"Baiklah, maaf." Ya, Bentari memang sering mengabaikan telepon dari suaminya itu. Bahkan membalas pesannya saja ia merasa enggan.
"Dan satu lagi."
"Apa?"
"Apapun yang terjadi jangan pernah melepas cincin pernikahan kita!" Tegas Pak Ivan.
"Apa tidak boleh aku melepasnya sebentar saja saat berangkat ke kampus? Aku janji akan memakainya kembali setelah pulang dari kampus." Mohon Bentari.
"No! Aku tidak akan pernah ridho."
Gluk!
Bentari susah payah menelan ludahnya. Mendengar kata ridho dari suaminya itu mengingatkannya dengan nasihat mamanya yang mengatakan bahwa ridho Allah tergantung ridho suami. Itu alasan mengapa surga seorang istri ada pada suaminya. Karena sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk berbakti kepada sang suami. Begitu pula sebaliknya. Meskipun surga seorang Istri berada pada suaminya, namun suami juga tidak akan masuk surga jika tidak bisa menjaga dan membimbing sang istri yang sudah diamanahkan kepadanya.
Akhirnya Bentari hanya bisa menganggukkan kepalanya menuruti apa yang diucapkan oleh suaminya.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Zahra🌼
Surga istri ada pada suaminya jika suaminya baik 🤭
2023-06-06
4
Zahra🌼
kamu keterlaluan Tari 😡
2023-06-06
4
Zahra🌼
pak Ivan tahan bener 🤭 sikat aja pak kan sudah halal 😂
2023-06-06
4