"Kenapa? Apa kamu tidak nyaman berada di sini?" Tanya Pak Ivan saat melihat istrinya itu nampak gelisah.
"Eem, aku tidak membawa baju ganti Pak." Bentari memberanikan diri mengutarakan kegelisahannya. "Aku pikir tadinya tidak akan menginap di sini."
"Owh, biar aku pinjamkan sama ibu." Pak Ivan langsung keluar dari kamarnya untuk meminjam pakaian ibunya yang bisa digunakan oleh istrinya.
Di dalam kamar, Bu Eny dengan bantuan anaknya bangkit dari tempat tidur kemudian melangkah menuju ke lemari untuk mencarikan baju buat menantunya. Satu baju berada ditumpukan paling bawah ia tarik.
"Adanya ini Van, daster. Memangnya istri mu mau memakai daster? Ini baru sekali ibu pakai." Bu Eny agak ragu memberikan baju bekas pakainya kepada sang menantu. Dirinya yang sudah tua jelas saja tidak menyimpan pakaian anak muda. Dan ditambah lagi pernikahan anaknya itu mendadak. Mana mungkin ia kepikiran untuk menyiapkan baju buat menantunya?
"Tak apalah Bu, daripada nggak ada baju ganti. Kan nggak enak juga tidur pakai celana jeans ketat begitu. Pasti tidak akan nyaman."
"Ya sudah ini, berikan kepada istri mu." Bu Eny menyodorkan dasternya kepada sang anak.
Pak Ivan pun segera meraihnya kemudian meninggalkan kamar ibunya menuju ke kamarnya sendiri. Saat dirinya membuka pintu kamarnya, istrinya itu masih duduk di tepi ranjang.
"Ibu hanya punya daster ini." Pak Ivan memperlihatkan daster yang ada di tayangannya kepada sang istri.
Bentari memperhatikan baju yang ada di tangan suaminya. Daster? Seumur-umur Bentari belum pernah memakai baju yang bernama daster itu. Bukankah itu baju yang sering dipakai oleh mamanya serta pembantu rumah tangganya? Tapi kan nggak ada pilihan lain? Daripada dirinya harus tidur dengan memakai celana jeans. Akhirnya mau tak mau Bentari pun meraih baju yang ada di tangan suaminya.
"Kalau mau ganti di sana kamar mandinya." Pak Ivan menunjuk pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. "Atau kalau kamu mau ganti baju di sini biar aku yang keluar."
Bentari masih terdiam di tempatnya tanpa menyahut ucapan suaminya. Akhirnya Pak Ivan yang mengalah memilih keluar dari kamarnya agar istrinya itu segera bisa berganti pakaian.
*****
Di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman Papa Adrian. Sepasang suami istri paruh baya itu sudah kembali lagi ke dalam kamar setelah menyelesaikan makan malam mereka berdua, karena anak dan menantunya sedang tidak berada di rumah.
"Pa, sepertinya Ivan itu orang yang baik." Ujar mama Davira yang sedang duduk di depan meja riasnya. "Papa lihat sendiri kan sikapnya, tutur katanya sopan begitu. Rasanya tidak mungkin kalau Ivan tega melakukan hal sebejat itu kepada putri kita."
"Papa juga awalnya berpikir seperti itu Ma, Tapi kan Papa sudah melihat sendiri rekaman video kejadian waktu itu." Ucap Papa Adrian menimpali.
"Papa ini kok ya bodoh dipelihara." Sungut mama Davira.
"Mama kok malah ngatain Papa bodoh?" Papa Adrian jelas saja tidak terima dengan ucapan istrinya.
"Coba Papa cari tahu dengan benar apa yang sebenarnya terjadi. Bisa sajakan video itu direkayasa?"
"Maksud Mama apa?"
"Haduh Pa, Papa ini bodoh apa pura-pura bodoh sih?" Gemes sekali mama Davira dengan suaminya itu. "Sekarang coba papa pikir, bukankah kata Pak Damar CCTV di sekitar gudang tidak berfungsi alias rusak? Lantas dari mana asal rekaman video itu kalau bukan dari seseorang yang memang dengan sengaja ingin menjebak anak kita atau Ivan?"
"Kok Papa tidak kepikiran sampai ke sana Ma? Sialan! Siapa yang berani bermain-main dengan ku?!" Papa Adrian mengeram marah.
"Makanya sekarang papa selidiki."
"Baiklah, besok papa akan menyuruh seseorang untuk menyelidikinya."
*****
Setelah makan malam bersama dengan lauk seadanya, Bentari dan Pak Ivan kembali masuk ke dalam kamar. Bentari kembali mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Ia masih diam membisu karena tidak tahu harus mengatakan apa dan melakukan apa. Saat suaminya mendekat, Bentari cepat-cepat memundurkan duduknya.
Menyadari itu Pak Ivan pun menghentikan langkahnya. "Kalau kamu tidak nyaman sekamar dengan ku, aku akan tidur di luar." Pak Ivan tidak akan memaksa jika istrinya itu memang belum siap. Dia sadar dia telah menikahi bocah. Jadi dirinya harus banyak bersabar.
"Bu-bukan begitu Pak." Sahut Bentari cepat. "Silahkan kalau bapak mau tidur." Bentari naik ke atas tempat tidur kemudian meletakkan guling di tengah-tengah sebagai pembatas di antara mereka.
Pak Ivan menahan senyumnya melihat itu. Istrinya nampak lucu saat terlihat ketakutan. Pak Ivan akan perlahan mengambil hati sang istri. Meskipun istrinya belum bisa menerimanya sebagai suaminya, setidaknya istrinya itu tidak menolaknya. Pak Ivan langsung merebahkan tubuhnya di bagian yang kosong.
Bentari ikut merebahkan tubuhnya namun dengan posisi miring membelakangi sang suami. Pak Ivan bisa melihat dengan jelas punggung kecil istrinya itu. Andai saja mereka menikah karena cinta, sudah pasti dirinya saat ini sudah bisa memeluk punggung kecil itu dari belakang.
"Astaga.... Besok kamu ujian." Ujar Pak Ivan tiba-tiba hingga membuat Bentari langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arahnya.
"Ah iya, aku belum belajar." Bentari langsung terduduk lesu saat menyadari di mana dirinya saat ini.
"Tak apa, besok pagi-pagi sekali aku akan mengantar mu pulang agar kamu bisa belajar. Sekarang tidurlah." Pak Ivan mengulas senyum guna menenangkan istrinya.
Bentari pun mengangguk kemudian merebahkan tubuhnya kembali. Tak berselang lama nafasnya sudah terdengar teratur. Pak Ivan menyunggingkan senyum. Tangannya terulur merapikan anak rambut istrinya yang menutupi wajah.
"Cantik!" Ucap pak Ivan memperhatikan raut wajah sang istri yang nampak tenang dalam tidurnya. Kemudian ia pun ikut memejamkan mata.
Belum lama rasanya matanya terpejam, Pak Ivan sudah dikagetkan dengan sebuah tangan kecil yang melingkar di tubuhnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sang istri. Kemudian disusul dengan kaki kecil yang ikut membelit tubuhnya. Entah ke mana perginya guling yang menjadi pembatas di antara mereka.
"Hiks.. hiks.. Tari nggak mau nikah Pa. Tari masih ingin sekolah. Hiks.. hiks.." Tiba-tiba saja Bentari terisak dalam tidurnya seraya memeluk erat tubuh suaminya.
Pak Ivan yang mendengar itu pun kaget. Dirinya jadi merasa bersalah. Ternyata pernikahan paksa yang terjadi di antara dirinya dan istrinya itu membuat sang istri tertekan hingga terbawa mimpi. Pak Ivan mengulurkan tangannya untuk merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di puncak kepala sang istri guna menenangkannya. Ajaibnya sang istri pun kembali tenang dalam tidurnya.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Wiek Soen
lumayan ya pk guru...sambil menyelam dapat ikan
2024-01-29
0
Devi Sihotang Sihotang
emang benar papa bentari kok geblek... percuma org kayah, bisa byr anak buah utk mata2
2023-06-30
1
Zahra🌼
wkwkwk curi2 kecupan 😂
2023-06-02
4