Setelah jamuan dan beristirahat, Fel menjelaskan semuanya di depan kami.
Tujuh dosa mematikan berniat menghancurkan ibukota demi-human dengan cara menggunakan sihir kuno dari sebuah sihir ledakan.
Mereka akan mengirim sihir mereka ke langit, dan ketika itu mampu membentuk sihir raksasa maka seluruh negara demi human akan dihancurkan.
Masing-masing tujuh dosa mematikan berada di benteng timur, barat, utara dan selatan dan tiga orang lagi berada di istana.
Ini memungkinkan kami harus bisa mengalahkan masing-masing dari mereka, satu saja dikalahkan maka sihir ini tidak akan bekerja.
Yang menjadi masalah adalah kami tidak tahu siapa yang berada di masing-masing tempat dan bagaimana kemampuan mereka, dari segi perang kami kalah jumlah dan juga kekurangan informasi.
Walau demikian tidak ada jalan lagi selain melakukannya, semua orang mengangguk mengiyakan.
Marie dan Kila akan pergi ke Benteng Utara.
Yue dan Noel akan pergi ke Benteng Barat.
Fel dan Carot akan pergi ke Benteng Selatan.
Aku dan tuan putri akan pergi ke Benteng Timur.
Aku sempat terkejut bahwa putri sendiri akan turut ikut serta dalam peperangan ini namun yang jelas dia terlihat sudah siap dengan apapun yang terjadi.
"Kalau begitu masing-masing dari kita membawa sedikit pasukan dan siapapun yang sudah selesai langsung pergi ke istana."
Kami semua mengangguk sebagai jawaban lalu berpencar dengan kuda yang masing-masing telah disiapkan. Aku dan Kokoro memimpin di depan dan di belakang kami para kesatria bertubuh kekar dan kuat mengikuti.
"Kita tidak akan tahu berapa orang yang akan hilang dalam peperangan ini, aku paling tidak ingin mengingat wajah semua orang yang ada di sini."
"Begitu."
Yang dikatakannya memanglah tepat, bagaimanapun kami tidak tahu lawan seperti apa yang akan kami hadapi.
Dari kejauhan kami bisa melihat benteng yang di maksud, di tengah bangunan itu sebuah sinar mirip laser telah ditembakkan ke atas langit.
Ada sebuah benda mirip seperti sebuah kristal yang diletakkan di sana dan semua orang secara bergiliran mengalirkan sihir ke dalamnya. Tujuan kami adalah untuk menghancurkannya.
Kokoro melirik ke semua orang untuk memastikan semuanya telah siap, dia menarik pedangnya lalu berkata serang dan kami mengikutinya dari belakang.
Tidak ada rencana yang bisa kami gunakan di tempat ini kecuali menyerang langsung ke titik benteng.
Para penjaga yang menyadari kedatangan kami mulai mengalihkan busur ke arah kami lalu melesatkan banyak panah pada kami.
Kokoro merapalkan sebuah sihir unik untuk memasang penghalang yang membuat seluruh panah menabrak dinding tidak terlihat hingga berjatuhan di tanah.
Seorang kesatria bertubuh besar yang membawa tombak raksasa mengambil alih di depan, dia mengarahkan ujung tombaknya dan itu menembus gerbang hingga kami bisa masuk ke dalamnya.
Aku memilih melompat dari kuda lalu memanjat ke tempat tinggi untuk menjatuhkan para pemanah. Mereka cukup merepotkan jika tidak ditangani lebih dulu.
Aku menarik pedang lalu menendang mereka hingga berjatuhan ke tanah.
"Kau!"
Beberapa dari mereka menggunakan pedang juga dan aku mengimbangi permainan mereka, bunyi dentuman terdengar dari segala arah bersamaan kilatan yang menyilaukan dari dua logam yang saling bertubrukan.
Aku mendorong pedangnya lalu bergerak dengan cepat untuk menebas mereka, inilah hasil dari latihanku selama ini.
Beberapa panah meluncur padaku dan aku menebasnya menjadikan potongan kecil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments