Tadinya aku berfikir Cosetta merupakan bangsawan manja yang menerima perlakuan khusus dari pelayannya namun jelas semua anggapan itu ditepis dengan apa yang dia lakukan.
"Aku tidak berpikir bahwa seorang bangsawan bisa masak sendiri nyan."
"Jujur aku juga berfikir begitu, mereka bukannya bisa menyuruh orang itu dan itu."
"Sebelum aku menjadi bangsawan aku tinggal di daerah kumuh, sebelumnya kalian tidak akan percaya bahwa di kota labirin ada tempat seperti itu."
Itu terdengar mustahil bagaimana kota labirin sekarang lebih maju.
"Noel kamu mau menjadi orang yang pertama mencobanya?"
"Mau sekali guk, guk, guk."
"Anak baik."
Cosetta mengelus rambut Noel layaknya seekor hewan peliharaan. Aku tidak ingin berkomentar apapun soal ini.
"Enak sekali."
"Kalian juga."
Daging ular yang kami lihat telah berubah menjadi daging bulat satu kali gigit, ini memang sangat enak.
Kami melanjutkan kembali perjalanan, tidur dan kembali berjalan, hal itu terus berulang sampai tiba-tiba saja sebuah panah menancap di dekat kakiku.
Aku mengalihkan pandangan ke atas dan melihat bahwa seorang wanita bermantel telah melompat turun, dia membuka tudung yang selama ini menyembunyikan dirinya dan kami bisa memastikan bahwa dia seorang demi-human kucing dengan rambut perak.
"Namaku Carot. Akhirnya kalian tiba, putri sudah menunggu kalian."
"Tunggu sebentar kenapa kamu tidak berbicara dengan akhirnya nyan?" tanyaku.
"Kami tidak harus melakukan hal seperti itu."
Aku dan Marie melirik pada Kila di waktu bersamaan.
"Kalau pakai nyan, bukannya terdengar imut nyan."
Kami salah mengira bahwa demi-human bicaranya akan seperti ini. Ternyata mereka normal.
Carot memimpin jalan kami hingga tiba di sebuah pemukiman yang dibuat sederhana yang berisi beberapa kesatria demi-human serta Fel di antaranya.
Setiap kesatria memiliki ekor dan telinga berbeda, ada rubah, musang dan juga variasi lainnya.
"Syukurlah kau baik-baik saja Fel, apa kau mendapatkan sesuatu yang menarik?"
"Beberapa, tapi akan lebih baik jika kita bicarakan nanti."
"Begitu."
Kami dipandu untuk masuk ke dalam pondok yang jauh dari lainnya dan di dalam sana ada gadis rubah dengan ekor sembilan di belakangnya.
Ia memiliki mata putih selaras dengan rambut panjangnya yang terjuntai di lantai.
Ekornya begitu lebat.
Ia mengenakan gaun putih yang menambah nuansa kecantikannya.
"Namaku Kokoro, maaf sudah merepotkan kalian bahkan mau membantu kami."
"Aku tidak keberatan, lagipula kerajaan kita beraliansi, ngomong-ngomong perkataanku akan menjadi perkataan yang sama dengan tuan putri."
"Kami mengerti."
Cosetta jelas langsung mengatakan posisinya, itu memungkinkan semua orang akan mendengarkannya.
"Kalian pasti lelah, Carot.."
"Aku akan menyiapkan semua keperluan mereka."
"Terima kasih."
Aku mengangkat tanganku.
"Ini mungkin kurang sopan tapi apa aku boleh menyentuh ekormu."
"Ekorku?"
Cosetta mendesah pelan.
"Pernyataan barusan cukup untuk membuat perang baru di tanah ini, walau kamu ingin melakukannya itu tidak bisa dilakukan."
"Kenapa?"
"Hanya orang yang menjadi suamiku yang bisa melakukannya," potongnya.
Yue menatap tajam ke arahku dengan tatapan menembus jantung.
"Aku tidak mengerti tapi terkadang Okta tidak ragu untuk menunjukan nafsunya."
"Aku hanya bertanya."
"Berhenti bercanda mari ikuti aku, dan tuan Okta jika Anda mengatakan hal barusan lagi aku tidak ragu untuk menikam leher Anda."
Carot sangat serius akan membunuhku.
"Aku minta maaf."
"Okta kena marah nyan."
"Tolong marahi aku juga."
Marie mendesah pelan.
"Okta benar-benar blak-blakan."
"Aku tidak tahu itu, apa kalian tidak tergoda untuk menyentuhnya?"
"Jika itu berarti perang, aku tidak mau," balas Marie demikian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments