Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Axton dan Antony yang terdampar di wilayah gurun hanya saling memandang. Axton yang mengakui jika mengetahui seluk-beluk Amerika dan sudah terpatri di otaknya kini hanya bisa terbengong karena tak mengenali keberadaannya sekarang.
"Great. Kita asik berkelahi, keluar dari jalur, terbang tanpa arah dan ... di sinilah akhirnya," ucap Antony mencoba menahan amarah.
Entah kenapa, keturunan Boleslav itu seperti masih merasakan nyeri pada jantungnya padahal ia sudah mati. Ingatan tentang rasa sakit ketika ia mengidap jantung koroner seperti tak bisa hilang dari pikiran. Antony memegangi dadanya dan mencoba untuk tetap tenang tak tersulut emosi.
"Sial. Kenapa Amerika banyak sekali berubah? Di mana Amerika Selatan yang memiliki gurun? Apakah Brazil memiliki gurun?" tanya Axton yang membuat Antony mengembuskan napas malas.
"Jika kau bertanya tentang Rusia, aku tahu. Namun, Amerika? Amerika Selatan? Lupakan saja," jawab Antony dengan mata menyipit mencoba mencari petunjuk tentang keberadaannya.
"Katanya masa depan dan zaman modern. Kenapa gurun saja sampai tak berpenghuni? Maksudku ... tak ada kota di tempat ini," ujar Axton bertolak pinggang.
Saat dua orang itu dilanda kebingungan karena takut salah mengambil arah, tiba-tiba saja, terdengar suara gemuruh yang semakin besar. Mata Axton dan Antony melebar. Mereka seperti bisa merasakan adanya pergerakan besar di dekat mereka, tetapi tak tahu apa. Tiba-tiba ....
"GOAARRR!"
"Oh my 'p'!" pekik Axton dengan mata terbelalak lebar seraya memegangi jagoan kebanggaannya saat seekor cacing raksasa muncul dari dalam tanah seperti melompat, tetapi kemudian melata di permukaan tanah.
"I-itu ...," ucap Antony dengan tangan menunjuk.
"Monster!" teriak keduanya dengan wajah tegang melihat seekor cacing besar melata dengan cepat di atas permukaan pasir.
Saat Axton terkagum-kagum, kening Antony berkerut.
"No! Lihat, Axton! Itu bukan hewan! I-itu robot! Itu sejenis ... entah bagaimana menyebutnya. Kereta? Kereta dalam bentuk cacing?" tanya Antony kebingungan dalam menjawab usai melihat bagian akhir dari benda tersebut.
"What? Maksudmu ... seperti ... kendaraan? Transportasi?" tanya Axton sampai menatap kawannya lekat.
"Yes! Ayo datangi!" ajak Antony langsung terbang turun dan diikuti Axton yang masih geli karena wujud dari kendaraan itu sangat mirip dengan cacing berukuran raksasa.
Benar saja, saat Axton dan Antony terbang di samping benda itu, mereka terkejut karena cacing raksasa tersebut memanglah sebuah kendaraan layaknya kereta. Tak ada rel yang menempel di permukaan tanah atau roda pada tubuh cacing. Bagian mulut kereta seperti memiliki mesin penggiling yang memakan batu, pasir, dan kerikil lalu kemudian dikeluarkan pada bagian ekor berupa pasir halus. Tanpa disadari, senyum dua orang itu terkembang. Mereka tak menyangka jika ada teknologi seperti ini di masa depan.
"Axton, ayo masuk. Kita cari tahu kinerja robot cacing ini," ajak Antony dan diangguki sang Casanova.
Keduanya menembus dinding besi dari robot transportasi berbentuk seperti cacing raksasa tersebut. Warna kulitnya menyerupai dengan gurun sehingga tak begitu terlihat. Pergerakannya pun sangat cepat dan berjalan dengan stabil tanpa roda. Kaki-kaki pada cacing memiliki dua fungsi berbeda dan berubah secara otomatis ketika berada di dalam tanah dan di permukaan.
Saat di dalam tanah, sekeliling cacing memiliki besi-besi tajam berbentuk segitiga yang berputar untuk mengikis tanah membuat jalur berongga. Ketika mereka naik ke permukaan, besi-besi tajam yang berputar itu akan kembali masuk ke dalam lapisan luar. Lalu pada bagian bawah atau perut cacing yang menyentuh permukaan, muncul rongga-rongga mesin pendorong yang membuat benda berukuran besar dan panjang itu melayang di udara seperti mobil milik Hose. Cacing bergerak dengan leluasa di dalam tanah atau pun permukaan melihat dari jenis tanah yang dilewati.
Sedang bagian dalam cacing robot tersebut memiliki gravitasi stabil sehingga ketika cacing bergerak dalam posisi berputar atau terbalik sekalipun, orang-orang yang duduk di dalamnya tetap dalam posisi yang sama. Orang-orang itu masuk dalam sebuah benda seperti balon yang memiliki lapisan pelindung dan tahan terhadap benturan. Terlihat para penumpang layaknya telur di dalam tubuh cacing. Penumpang tak akan merasakan mual atau terguncang karena terlindungi.
Axton dan Antony melihat para penumpang di dalam telur layaknya bayi. Mereka melayang di dalam benda itu dengan sebuah alat pada salah satu sisi lapisan bening telur yang berfungsi sebagai suplai oksigen. Dua mantan mafia itu tersenyum karena ide unik tersebut. Ingin rasanya mereka menjajal hidup di zaman itu sebagai manusia agar bisa merasakan sensasinya, tetapi hal tersebut tak mungkin terjadi.
"Axton, lihat. Orang-orang ini seperti ditidurkan. Tak ada satu pun dari mereka yang bangun, semuanya memejamkan mata," ucap Antony saat menyadari keheningan dalam robot cacing yang berisi kurang lebih 200 orang tersebut.
"Ya, kau benar. Mungkin ... entahlah. Aku tak bisa berpikir," ujar Axton mengembuskan napas panjang.
Saat dua roh itu menyusuri tiap gerbong, seketika, senyum mereka terkembang. Apa yang mereka cari akhirnya ditemukan.
"Kita naik kereta yang tepat, Tony!" pekik Axton yang membuat senyum keturunan Boleslav tersebut terkembang.
"Hem," jawab Antony saat melihat rute terakhir dari cacing robot itu adalah Distrik Lumia.
Sedangkan di tempat Vesper dan lainnya berada.
Vesper yang harus menyembunyikan sosoknya itu begitu tiba di tempat pemberhentian, harus bersabar menunggu dua kawannya karena belum terlihat. Joel yang tak sabaran, terus mengumpat. Erik yang tak tahan, memilih menemani sang istri. Vesper akhirnya menutup wajah agar tak dikenali menggunakan kacamata dan syal.
"Jika keadaan terdesak, tinggalkan saja jasad Gina, Sayang," saran Erik.
"Ya, aku juga berpikir demikian. Sial, kita sudah menunggu hampir satu jam! Ke mana mereka? Jangan-jangan tersesat," pekik Vesper seraya mengawasi sekitar karena dirinya adalah mayat buronan.
Saat Erik dan Vesper dilanda kebingungan, Joel datang dengan wajah dingin terlihat marah. Vesper mencoba untuk tenang karena tahu jika mantan suaminya akan mengamuk.
"Aku marah, tetapi aku tetap berpikir. Apa Gina memberitahumu kenapa kita harus ke tempat ini?" tanya Joel yang membuat Erik langsung menatap mantan istrinya lekat. Vesper menggeleng. "Sial! Kenapa tak kau tanyakan, bodoh!"
"Hei! Jaga bicaramu, Ramos!" pekik Erik langsung melotot.
Vesper beranjak dan memilih menjauh.
"Oh, suami yang lemah ini berlagak sok pengertian. Baiklah, Benedict. Katakan padaku, kenapa kita kemari dari sekian banyak tempat yang ada di Bumi?" tanya Joel dengan wajah tengilnya.
Erik berusaha bersabar dan tak berkedip menatap rivalnya. "Banyak kemungkinan. Kau tak ada di ruang kendali saat aku, Vesper dan Antony mempelajari tentang dunia yang baru. Jadi, diamlah dan biarkan aku serta istriku yang cantik berpikir. Jika kau ingin mengumpat sepanjang hari, silakan. Namun, jangan hina Vesper. Kau paham?" tegas Erik.
"Hem, oke. Jika sampai misi hari ini gagal, aku tak sungkan mengajukan namamu kepada sang Kematian untuk ditukar dengan roh lain, meskipun itu Hashirama," tegas Joel.
Erik terlihat gugup seketika, tetapi mengangguk.
"Apa yang kalian perdebatkan?" tanya Vesper dengan kening berkerut seraya berjalan mendekat karena dua mantan suaminya seperti beradu mulut ketika ia sibuk mencari tahu melalui alat yang pernah dilihat saat di Mega-US.
Erik dan Joel saling bertatapan lalu membuang muka. Vesper mencoba untuk tetap bersabar di antara konflik dua mantan suaminya.
"Aku sudah mencari tahu tentang Gina. Aku cukup yakin mengapa ia mengarahkan kita kemari. Gina dulu tinggal di sini. Bisa dibilang, kampung halamannya. Aku mendapatkan alamat rumah Gina, berikut siapa saja anggota keluarganya yang masih hidup. Gina ingin pulang ke rumahnya. Ia ingin kita mengantarkan raganya kepada keluarga," ucap Vesper yang membuat mulut Erik dan Joel melongo.
"Good. Jadi, kita sekarang menjadi roh pengantar jasad? Kita dibodohi, Vesper! Dia memanfaatkan kita! Apanya yang menolong, dia menjebak kita di tempat ini!" pekik Joel karena Lumia tak sebesar Mega-US. Lebih mirip seperti kota yang berada di antara rerimbunan hutan karena dipenuhi banyak pohon.
"Ya, dia benar. Mungkin yang tinggal di sini seperti Tarzan dan semacamnya? Hehe," kekeh Erik, tetapi bagi Joel itu bukan gurauan.
Vesper memilih tak berkomentar dan menunggu kedatangan Axton serta Antony di mana matahari mulai menyilaukan.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Freepik).
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
🏕️👑🐒 𖣤᭄Kyo≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ💣
lanjut baca aja dah bingung mau komen apa
semangat terus aju aku padamu wis ju jangan lupakan aku 😝 jangan bosan-bosan sama komen gilaku ju
2023-07-22
0
🏕️👑🐒 𖣤᭄Kyo≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ💣
yeyyy si gob gob muncul
2023-07-22
0
👑 N¡e©hα💣
padahal jadi roh loh.. masih aja cintanya melekat
uuunch babang erik😍😍
2023-06-16
0