Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Seketika, Vesper dan timnya telah berada di suatu tempat yang tak mereka kenal. Dunia telah berubah. Tempat yang mereka datangi seperti sebuah monumen karena terdapat bangunan tinggi menjulang dan ada lambang perdamaian di bagian atas berupa burung merpati putih yang besar sedang terbang. Pada bagian lantai batu putih tertulis "Monumen Perdamaian Dunia".
Vesper dan kawan-kawan seperjuangannya hanya bisa saling memandang karena tak tahu kapan peristiwa itu terjadi mengingat mereka telah mati lebih dari 100 tahun lamannya. Para roh itu bingung bagaimana memulai tugas di zaman tersebut. Saat mereka serius menatap sekitar, tiba-tiba ....
"Akk! Akk! Akk!"
"Shitt! Burung jelek! Kau mengagetkanku!" pekik Joel kesal saat seekor gagak hitam terbang melintasi mereka.
Mata para roh menatap gagak itu lekat yang bertengger pada tangga pilar monumen. Mereka sadar jika itu adalah sosok lain dari sang Kematian.
"Akan kutunjukkan berbagai macam jenis aura manusia pada kalian," ucap gagak hitam tersebut.
Seketika, tempat yang sangat luas itu memudar dan digantikan sebuah ruangan bercahaya redup seperti berada di dalam rumah besar kuno. Tiba-tiba, muncul seorang wanita cantik bergaun putih menutupi tubuh sedang berjalan di dalam sebuah lorong menuju ke suatu tempat. Sebuah rak besi berisi makanan secara otomatis mengikuti wanita berambut panjang pirang tersebut. Mata para roh terfokus pada sosok yang tampak menyejukkan hati dan kedamaian terasa saat berada di dekatnya. Cahaya samar muncul dari tubuh si cantik menerangi sosoknya.
Tanpa sadar, kelima roh tersebut tersenyum melihat wanita tak dikenal itu dan mengikutinya. Lalu tiba-tiba, muncul seorang pria dengan aura mengerikan dan terasa kejahatan dalam jiwanya. Kening kelima roh berkerut saat melihat sosok berpakaian hitam dan berambut gondrong itu memasuki pintu ruangan di mana si wanita cantik juga berada di sana. Namun, seketika, pancaran aura jahat dari tubuh pria itu meredup saat si cantik mendekat padanya.
"Paman, sebaiknya kau beristirahat. Kau terlihat letih. Jangan sampai kau sakit," pinta wanita bermata biru itu dengan senyuman.
"Ada kau yang merawatku," jawabnya dengan wajah datar dan dua tangan dimasukkan ke saku celana.
"Tak selamanya aku ada. Istirahatlah. Kupastikan tak ada yang akan mengganggumu," ucap wanita itu yang senyumnya tak meredup meski pria di depannya berwajah suram.
Pria itu menatap tajam wanita cantik di depannya. Perlahan, aura hitam di tubuhnya kembali muncul. Praktis, hal tersebut membuat kelima roh panik seketika.
"Dia pasti akan berbuat jahat pada wanita itu. Auranya sangat mirip dengan pria di gang yang membunuh nenek! Kita harus menolongnya!" seru Erik panik.
"Hem!" jawab Axton mantap dan dengan sigap, keduanya berlari melayang mendatangi si lelaki beraura hitam itu.
Akan tetapi, WUSS!! WUSS!!
"Oh, apa yang terjadi? Aku ... aku tak bisa menyentuhnya!" pekik Erik bingung.
Axton juga melakukan hal serupa. Tangannya menembus raga lelaki itu, tetapi ia bisa mengambil aura hitam meski bentuk seperti gas itu seolah memiliki pikiran sehingga mampu terbebas dari cengkraman sang Casanova. Kening Vesper dan lainnya berkerut. Mereka mencari keberadaan gagak hitam yang tak ada di sekitar.
"Lady ...."
Praktis, panggilan itu membuat kepala semua orang dalam ruangan menoleh ke tirai.
Sang paman melangkah pergi, tetapi menyempatkan melirik ke bentangan kain besar bergelombang yang tertutup entah ada siapa di sana. Laki-laki beraura jahat itu melangkah meninggalkan si wanita cantik dalam diam. Para roh masih menatap gerak-gerik wanita tersebut hingga mereka melihat ada sosok renta sedang terbaring di ranjang tampak sakit karena banyak alat medis terpasang di tubuhnya.
"Hati-hati dengannya, Lady. Dia kejam, brutal dan tak segan membunuh siapa pun yang dianggap pengganggu. Pergi dan menghilanglah. Tak usah khawatir dengan si tua ini. Aku sudah siap jika Vorus merenggut nyawaku," ucap pak tua seraya menggenggam tangan wanita itu lekat.
Namun, wanita cantik itu tersenyum.
"Jangan berburuk sangka. Aku tak pernah melihat Vorus melakukan hal keji di depanku, Kakek. Sudah, aku suapi, ya. Jangan takut, hanya kematian yang boleh merenggut nyawamu, bukan Vorus," jawab wanita bergaun itu dengan senyuman lalu mengambil mangkuk berisi sup, siap untuk menyuapi.
Sang kakek hanya menggeleng. Ia seperti pasrah karena cucunya memilih untuk percaya pada kata hati. Wanita cantik itu tak terlihat tertekan. Ia merawat pria tua itu dengan penuh perhatian. Bahkan, saat bertemu Vorus yang diyakini oleh para roh jika pria itu berhati iblis, wanita tersebut masih percaya bila terdapat kebaikan dalam diri sang paman. Hal itu dibuktikan, Vorus tak melukai wanita bernama Lady.
"Apa yang kalian simpulkan dalam hal ini?"
"Ya, Lady baik bagaikan malaikat, sedang Vorus seperti iblis," jawab Joel santai.
"Iblis tak akan mengizinkan sekecil apa pun kebaikan singgah di hati seseorang. Mereka membenci hal itu," ucap sang gagak yang perlahan, tampilan di kastil itu memudar.
Kelima roh kembali ke tempat di mana monumen perdamaian dunia berada. Cahaya matahari menyilaukan membuat mata para roh itu menyipit, seolah mereka masih menjadi manusia. Sang Kematian sengaja membuat mereka seperti hidup, meskipun tanpa raga karena roh-roh itu membutuhkannya dalam menjalankan tugas nanti.
"Vorus tersesat. Saat hatinya berkecamuk, saat itulah roh-roh jahat masuk dalam raganya. Begitu usaha roh jahat berhasil untuk membuat Vorus menjadi pria kejam seperti keinginan mereka, roh itu akan bersemayam dalam dirinya. Semakin banyak kejahatan yang dilakukan Vorus, semakin lama ia mendekam di neraka."
"Hem, aku mengerti," gumam Boleslav yang memang jarang bicara jika tak terdesak.
"Vorus seperti kalian. Dia bisa disadarkan jika bertemu dengan orang berhati malaikat seperti Lady. Roh jahat dalam diri seperti Vorus yang harus kalian tangkap dan bawa kembali ke neraka."
Praktis, penjelasan sang Kematian membuat mata para roh tersebut melebar seketika. Tak disangka, jika pekerjaan mereka cukup sulit tak seperti yang dibayangkan.
"Bagaimana kami menarik roh jahat keluar dari raga seorang manusia?" tanya Vesper cepat.
"Ya, Axton dan Erik saja tak bisa menangkap roh jahat itu. Mereka sudah melakukannya tadi jika kau melihatnya," sindir Joel. Tiba-tiba, "Arghhh!"
"Joel!" teriak Vesper panik saat roh keturunan Borka itu tiba-tiba terlilit rantai besi.
Vesper dan lainnya terlihat tegang karena Joel seperti disiksa. Rantai itu bergerak sendiri seperti memiliki jiwa. Ia melilit roh Joel seperti ular.
"Agg, agg ... si-sial ...," gerutu Joel tersiksa.
"Bahkan saat kau sudah mati, sikapmu tak berubah, Joel Ramos. Entah kenapa kau yang terpilih. Jika bukan karena perintah-Nya, aku tak sudi memuntahkanmu dari neraka," ucap sang gagak yang membuat napas para roh tersengal.
KRANGG!!
"Hah! Hah!" engah Joel saat rantai yang menjerat lehernya terlepas berikut rantai lain yang melilit tubuh.
Vesper tak berani mendekati mantan suaminya itu karena dirasa jika Joel memang keterlaluan dalam bicara, terlebih kepada sang Kematian. Vesper memilih kembali fokus meski ia mencemaskan pria berdarah campuran Rusia-Filipina itu.
"Sebagai awalan, kalian kuizinkan melakukan cara ini. Sampai saat salah satu dari kalian bisa mengendalikannya, kuanggap sebagai larangan," ucap sang Kematian yang membuat kening para roh berkerut.
"Apa maksudnya? Kau paham?" tanya Axton menoleh ke arah Erik. Mantan suami Vesper menggeleng tidak tahu.
"Tolong jelaskan," pinta Boleslav sopan.
"Tak cukup dengan roh saja, harus ada raga untuk menahan roh jahat saat ditarik keluar dari tubuh seorang manusia."
"Wait. Maksudmu ... kami merasuki tubuh seseorang?" tanya Vesper menebak.
"Benar. Oleh karena itu, kalian kujadikan satu tim. Dua orang memegangi raga manusia itu, dan sisanya menarik roh jahat. Setelahnya, gunakan rantai ini untuk menjerat roh jahat tersebut agar tak kabur."
"Woah!" kagum Axton saat sebuah rantai berwarna emas terbang melayang ke arahnya. Sang Casanova menerima rantai yang bergerak seperti memiliki jiwa itu lalu tiba-tiba masuk ke dalam telapak tangannya dan menghilang. "Oh! A-apa yang terjadi? Ke mana perginya?" tanya Axton bingung.
"Rantai itu tersimpan dalam rohmu, Adrian Axton Giamoco. Jumlah rantai itu tak terbatas. Saat dua tanganmu memegang roh jahat, rantai belenggu akan melilit roh jahat dengan sendirinya."
"Wow, ini hebat!" ucap Axton bangga seraya bertolak pinggang.
"Namun, ingat. Semakin keji manusia itu, semakin sulit roh yang akan ditarik. Kalian harus bekerja sama dengan baik. Roh jahat bergerak sangat cepat dan mampu keluar dari raga yang dirasukinya. Mereka bisa berpindah merasuki jiwa manusia rapuh lainnya."
"Kami mengerti. Jadi ... berapa banyak roh jahat yang harus kami tangkap untuk menyelesaikan tugas ini?" tanya Erik penasaran.
"Sampai kalian memutuskan berhenti."
"What!" pekik kelima roh itu tertegun karena hal tersebut dirasa adalah pertanda baik mengingat mereka bisa hidup lama di Bumi tanpa harus kembali ke neraka.
Akan tetapi, ingatan tentang orang-orang yang disiksa dalam neraka seperti mereka, membuat kebahagiaan itu terasa canggung. Ada hal yang salah meski mereka lega karena menunda penyiksaan.
***
Wah makasih again tips koinnya Jeng Ramlah ❤️ lele padamu 💋 LAP lainnya jangan lupa dukungannya ya😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
owalah misi serumit ini kah
2024-07-03
0
John Singgih
oh jadi itu misinya ya
2023-08-27
0
𝐋α²¹ℓ◦𝐒єησяιтꙷαᷜ 🇵🇸🇮🇩
jadi inget Casper klo sosok para mafia ini Roh 😄
2023-06-10
0