Ternyata, Joel mengajak kelompoknya ke pulau. Tempat di mana ia dan Axton bertanding untuk tiba lebih dulu di sana. Hanya saja, saat mereka sudah sampai di bibir pantai dan tak mendapati roh lainnya, dua roh itu bergegas kembali karena Vesper, Antony dan Erik malah melayang di atas permukaan laut. Kini, Vesper dan lainnya kembali dibuat kagum saat mereka tiba ke wilayah yang dipenuhi bangunan bertingkat serta kendaraan terbang berlalu lalang di udara.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Oh! Inikah ... masa depan? Luar biasa!" pekik Erik sampai tubuhnya berputar karena melihat peradaban yang maju pesat, jauh dari zamannya saat hidup dulu.
"Kendaraan apa ini?" tanya Joel yang tak terlihat takut saat terbang ke langit dan malah berdiri di depan jalur kendaraan berlalu-lalang seperti ada sebuah rute di atas sana.
"Lihat! Kendaraan seperti helikopter-helikopter kecil ini terbang dengan rapi. Bahkan ... lihat manusia itu! Kendaraan ini bergerak secara otomatis. Wah, keren sekali! Hampir mirip dengan mobil Hose, tetapi ... ini di udara!" pekik Axton gembira dengan mata terbelalak lebar penuh kekaguman saat melihat seorang pria gemuk tertidur di kursi kemudi, sedangkan helikopter yang memiliki dua dudukan tersebut terbang secara otomatis mengikuti rute.
Kelima roh itu sibuk mengamati sekitar mulai dari bentuk bangunan, cara berpakaian orang-orangnya, jenis kendaraan, dan alat komunikasi yang digunakan. Namun, Vesper terlihat berdiri di depan sebuah jendela besar yang bisa melihat pergerakan para manusia di dalam. Erik yang penasaran dengan perilaku mantan istrinya di mana ia merasa jika Vesper banyak berubah, kembali mendekat.
"Ada apa, Sayang?" tanya Erik seraya mengikuti arah pergerakan mata Vesper.
"Kau dengar itu, Erik?" tanya Vesper dengan senyum tipis terlihat di wajahnya.
"Dengar apa?" tanya Erik bingung.
Vesper memegang tangan mantan suaminya dan diajak menembus kaca tersebut. Erik sedikit terkejut karena ia masih menganggap dirinya manusia. Namun, Erik kembali fokus saat di dalam.
"Dengarkan pembicaraan mereka. Berbeda dengan kehidupan kita saat hidup dulu," ucap Vesper terlihat takjub akan sesuatu.
Erik mencoba fokus dan mengamati sekumpulan pria serta wanita yang duduk pada kursi melayang berbentuk layaknya helm terbalik. Ada yang berwarna putih, hitam, dan silver. Benda itu tak memiliki kaki dan bisa bergerak ke sana kemari dengan pengoperasian telunjuk di sandaran tangan. Vesper dan Erik terpaku karena pembahasan orang-orang itu memang terdengar unik.
"Partikel yang akan digunakan untuk proyek baru nanti baru datang minggu depan. Pekerjaan kita akan tertunda selama 58 detik dan akan menjadi masalah besar! Sistem menolak keterlambatan itu dan tim teknis tak bisa mengubahnya tanpa persetujuan Kapten," ucap seorang wanita dengan pakaian serba putih bahkan wajahnya memiliki riasan unik karena alisnya berlapis glitter. Bibirnya dipoles dengan lipstik putih dan tak ada perona di wajahnya. Mirip seperti manekin.
Tiba-tiba, seorang wanita berdiri dari dudukan dengan penampilan yang lebih manusiawi karena tak begitu ekstrim.
"Aku akan bicara pada Bos. Kalian usahakan yang terbaik agar projek kita berjalan sesuai jadwal. Sial, 58 detik ini benar-benar menggangguku!" gerutu wanita berpakaian ungu itu kesal lalu berjalan melenggang meninggalkan kerumunan.
"Aku tak bisa membayangkan marahnya ibuku jika tak pulang akhir pekan ini ke Great Ruler akibat 58 detik ini," ucap seorang pria lesu.
Orang-orang itu hanya bisa menghela napas panjang lalu meninggalkan rapat yang berkesan seperti obrolan saja. Vesper dan Erik saling melirik. Mereka tersenyum karena merasa hal ini cukup unik.
"Mereka bekerja di bidang apa, Erik? Gaya berbusana mereka sangat ... yah, menarik," ucap Vesper seraya melihat sekitar karena pada dinding tak ada satu pun poster berisi informasi mengenai perusahaan.
Saat Erik dan Vesper dibuat penasaran, tiba-tiba saja Joel masuk lalu menarik tangan Vesper. Sontak, Erik dan wanita cantik itu terkejut. Mereka kembali berada di luar saat Axton dan Antony sudah berada di sana.
"Lihat, mereka berkencan," ujar Joel kesal menatap istrinya tajam.
Vesper memalingkan wajah, tetapi Erik tersenyum lebar.
"Jadi tidak untuk mencari generasi penerus kita?" tanya Axton terlihat tak sabaran.
"Tentu saja. Bukankah Joel yang memiliki solusi bagaimana menemukan keturunan kita," sahut Erik menunjuk Joel.
"Ya, Erik benar. Jadi, apa rencananya?" tanya Boleslav serius.
"Rencananya. Kita tiba di tempat ini yang entah ada di mana. Lalu ... kita cari tahu. Itu saja," jawab Joel santai, tetapi membuat mulut semua orang menganga lebar.
"Kau ... harghh!"
"Tony!" teriak Vesper karena Boleslav mengamuk.
Pria Rusia itu merasa seperti dipermainkan oleh keturunan Borka. Axton tertawa terbahak bahkan memprovokatori Antony untuk terus menghajar Joel, meski hal tersebut hanya meninggalkan rasa sakit sesaat, tak melukai roh.
"Ya, Tuhan. Hidup mati sama saja," keluh Vesper yang mendadak merasa pusing sambil memegang kepala.
Erik tersenyum dan mengelus punggung istrinya lembut walau hanya bertahan lima detik. Vesper yang tak ingin pusing memikirkan perseteruan di kelompoknya, memindai sekitar seperti mencari sesuatu.
"Oh, lihat itu!" seru Vesper seraya menunjuk.
"Apa? Apa?" tanya Axton antusias dan langsung mendekati Vesper.
Mata para mantan mafia terfokus pada telunjuk Vesper yang mengarah pada sebuah papan kaca tembus pandang. Kening orang-orang itu berkerut ketika Vesper mengajak untuk mendatangi alat aneh tersebut.
"Tadi aku melihat, ada orang yang berdiri di sini, lalu dia mengatakan 'Selivia Moge'. Lalu setelahnya, muncul data dari orang itu. Ini seperti alat untuk mencari seseorang. Hanya saja, aku tak tahu lingkupnya. Apakah hanya di sekitar pulau ini, atau bisa seluruh dunia. Kita harus mencobanya!" ucap Vesper semangat.
"Aku sangat beruntung kau ada dalam tim ini, Vesper," ujar Antony yang membuat Erik mengangguk membenarkan.
"Dan kau menganggap aku sebagai petaka?" sahut Joel saat perkelahian di antara mereka berdua berakhir. Antony memilih tak menjawab dan mengamati alat itu saksama.
"Namun, kita butuh raga. Kita bahkan tak bisa menyentuh alatnya," ucap Axton terdengar pintar.
"Oke. Kita cari rumah sakit, lalu ... kamar mayat. Kita merasuki lagi," ajak Joel, dan kali ini semua orang sependapat.
Hanya saja, gedung-gedung di tempat itu membuat mereka bingung. Tak terdapat informasi bangunan tersebut adalah apa. Para roh dibuat repot karena harus keluar masuk gedung untuk memastikan jenis bangunan tersebut.
"Sial! Apakah orang-orang di masa depan menggunakan braille! Kenapa tak ada papan atau semacamnya untuk memberitahukan tempat yang kita mau!" pekik Joel gusar karena lelah keluar masuk gedung tak mendapatkan hasil.
"Vesper, berpikirlah!" pinta Axton.
"Execuse me? Why me!" tanya Vesper langsung melotot.
"Di antara kami semua, kau yang paling waras dan pintar. Bukankah ... IQ-mu tinggi? Jadi, maksimalkan," ucap Axton yang membuat Vesper melongo.
"Ya Tuhan, aku memilih jadi orang bodoh saja jika tahu begini," keluh Vesper langsung berwajah malas.
"Jangan. Bodoh sudah menjadi kutukannya," sahut Joel menunjuk Axton.
"Hei!" teriak Axton marah, dan kembali. Perkelahian Axton dan Joel terjadi.
Erik tertawa melihat kawan-kawannya sangat mudah tersulut emosi. Padahal, dirinya juga demikian. Vesper yang merasa tertekan memilih terbang menjauh. Antony menyadari hal itu dan mengikutinya dari perlahan.
"Aku akan membantumu," ucap Antony yang membuat Vesper menoleh.
Vesper menerima bantuan itu, hingga tiba-tiba, Erik memekik.
"Hei, lihat orang di atas gedung itu!" teriaknya seraya menunjuk.
Praktis, Vesper dan lainnya langsung mengarah ke orang yang dimaksud. Tampak seorang lelaki duduk di tepi atap tertinggi bangunan dengan tangis terisak.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Vesper berkerut kening dan mulai terbang ke atas menghampiri bersama yang lain.
"Hiks ... aku ... aku sudah tak tahan. Aku mau mati saja," ucapnya yang membuat mata semua roh melotot.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (peaxpx, ministry to youth)
Oke gaes. Lele mau kasih info dulu. Yg kasih tips koin, lele insert pas gak pakai gambar aja ya utk bantu proses review. Jadi tiap eps biar ada terus gambarnya walaupun gak semua ilustrasi, tapi ada temen2 LAP yang sedekah koin. Biar gak numpuk2 juga karena 1 eps kebanyakan gambar😁 Lalu karena ini lompatan tahunnnya jauh setelah Simulation, jadi lele sambungin dikit-dikit. Kwkwkw😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
tuhh orang mau bunuh diri kahhhh
2024-07-03
0
🏕️👑🐒 𖣤᭄Kyo≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ💣
Ju sumber ilustrasi mu bikin gua ngakak masak sumbernya peax kayak ngomong peak😱🤣🤣🤣
dahlah aku gak mau komen banyak2 masalah naskah
semangat terus aju aku padamu wis ju jangan lupakan aku 😝
2023-07-22
0
🏕️👑🐒 𖣤᭄Kyo≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ💣
wkwkwkwkk inilah novel penyambung semua novel aju sayang 1 yang gak bakal nyambung kayaknya ya si Jono🤔
2023-07-22
0