Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Wajah Vesper dan lainnya tegang menunggu jawaban dari Joel Ramos tentang Imelda Flame, selaku ibu dari Tobias. Anak lelaki yang tak diketahui oleh Joel Ramos sendiri.
"Siapa Imelda Flame, Joel?" tanya Boleslav serius.
"Dia ... entahlah. Aku tak ingat. Wanitaku banyak dan aku tak peduli dia berasal dari mana. Selama dia bisa memuaskanku, aku tak akan mengusik latar belakangnya," jawab pria berambut tipis itu santai.
"Ya Tuhan," keluh Vesper langsung memasang wajah malas.
"Lalu kenapa kau bisa tahu banyak tentang Vesper? Bahkan menyebutnya istri? Memangnya kau mencintainya?" tanya Erik ketus.
Wajah Joel serius seketika. Entah kenapa, Vesper menjadi gugup karena pertanyaan itu.
"Kenapa? Kau cemburu? Jangan lupa Benedict, kau sangat frustasi saat tahu Vesper menikah denganku, bukan? Jika aku tak mati saat itu, Vesper tak akan menikahimu atau lelaki lainnya," jawab Joel seraya mendekati raga baru sang istri.
"Sudahlah. Fokus pada misi kita. Jadi ... soal Tobias, lupakan saja. Intinya, Toby tahu jika kau ayahnya," ucap Vesper tenang. Joel diam saja tak mengomentari hal tersebut.
"Katakan caranya merasuki jasad itu, Vesper," pinta Boleslav dan Vesper mengangguk.
Ia yang hanya membalut tubuhnya dengan kain penutup jasad, malah terlihat seperti orang selesai mandi.
"Pilihlah jasad yang ingin kalian rasuki. Lalu dekatkan wajah ke mayat itu. Pejamkan mata dan buatlah diri kalian seolah memiliki raga orang tersebut. Ya, begitu saja. Tubuhku masuk dengan sendirinya dan bisa bergerak seperti manusia hidup," jawab Vesper menjelaskan.
"Oke. Kelas merasuki dimulai. Jadi, sekarang ujian praktik. Hem," ujar Axton seraya melihat sekitar dengan bertolak pinggang.
Sang Casanova akhirnya menemukan seorang jasad perempuan yang terlihat cantik. Erik dan lainnya yang penasaran, mengamati Axton. Keturunan Giamoco tersebut terlihat tak sabar karena ia menggosokkan kedua tangannya. Axton melakukan seperti yang Vesper lakukan. Seketika ....
"Hahaha! Aku berhasil!" teriaknya senang dengan dua tangan ke atas dan langsung duduk.
Vesper bertepuk tangan begitu pula tiga roh yang tersisa. Namun, saat Axton turun dari ranjang, mata semua orang melotot. Kain penutup tubuh mayat melorot.
"Shiit! Kau manusia jenis apa!" pekik Antony langsung melangkah mundur.
"Memangnya apa ya sa— oh, fvck!" pekik Axton ikut melotot saat menyadari jika tubuhnya bukan perempuan seutuhnya.
Joel tertawa terbahak. Sedang Axton malah risih dengan wujud barunya. Vesper tak bisa menahan tawa begitu pula Erik.
"Tentukan jenis kelamiinmu, Axton," sindir Boleslav.
"Diam! Mana kutahu jika dia memiliki keran!" pekiknya kesal.
"Hahaha, kau memiliki payuudara, tetapi kau juga memiliki batang. Wah, jenismu sepertinya mulai mewabah. Dunia pasti benar-benar sudah kiamat. Untung aku tak hidup lama di zaman itu," kekeh Erik melihat sahabat psikopatnya memasang wajah masam.
Axton ingin keluar dari raga itu, tetapi tak tahu bagaimana caranya. Vesper memberikan kain untuk menutup tubuh wanita itu, tetapi Axton hanya melilitkan pada pinggulnya saja.
"Hei, tutupi dadamu," ucap Vesper menunjuk.
"Kenapa? Kau iri karena milikku lebih bagus?" jawab Axton seraya meraba dadanya yang montok.
"Punyamu palsu. Milikku asli," jawab Vesper seraya mengibaskan rambut panjang si mayat ke belakang.
"Hentikan kalian berdua! Jangan membuat hari ini makin buruk," gerutu Antony yang segera mendekati mayat lelaki pilihannya tadi.
Vesper yang menyadari kebodohannya karena berdebat hal tidak penting segera mendekati Erik. Mantan suami Vesper terlihat sudah memiliki pilihan.
"Ya, kita membutuhkan tubuh yang besar untuk memegangi tubuh manusia ketika rohnya ditarik," ucap Vesper menyetujui pilihan Erik.
Namun, saat Erik akan masuk ke raga itu, Joel langsung menahan bahunya.
"Apa lagi maumu?" tanya Erik kesal.
"Kalian tak ingat kata Kematian? Ada yang menarik roh dan ada yang memegangi tubuh. Jika kalian semua masuk ke raga manusia, siapa yang akan menarik roh? Sedangkan rantai itu ada dalam roh si jelek itu!" pekik Joel yang membuat para roh itu baru menyadari perbuatannya.
"Sial, aku lupa!" pekik Axton bingung, termasuk Antony yang sudah terlanjur memasuki raga pria pilihannya.
"Apakah rantai itu bisa diberikan kepada yang lain?" tanya Vesper penasaran.
"Entahlah. Kita tak tahu jika belum mencoba. Bagaimana jika kita berburu saat matahari muncul? Jika melihat waktu sekarang, seharusnya ... tinggal 5 jam lagi," ujar Antony mengusulkan.
"Oke, aku setuju. Erik, sebaiknya kau dan Joel tetap dalam wujud roh saja. Namun, ini unik. Padahal aku masuk dalam raga manusia, tetapi ... masih bisa melihat arwah kalian," ucap Vesper terheran-heran menatap dua mantan suami di depannya.
"Kuasa Tuhan. Jangan dipikirkan, ilmu kita tak setinggi Pencipta," ucap Axton yang membuat semua orang tertegun karena terdengar seperti orang religius.
"Oke," jawab Erik dengan anggukan.
"Kita tak bisa berpenampilan seperti ini. Erik, kau bisa menembus apapun. Cari lokasi di mana kami bisa mendapatkan pakaian lalu arahkan. Pastikan tak ada yang melihat keberadaan mayat-mayat ini. Rumah sakit akan heboh jika ada kabar tentang mayat hidup," ucap Vesper yang baru disadari oleh para mantan mafia tersebut.
"Sure, Babe," jawab Erik yang dengan sigap pergi meninggalkan ruangan dengan menembus tembok.
Antony dan Axton yang sudah masuk dalam raga seorang mayat, tampak gugup karena hal ini baru pertama kali terjadi pada hidup mereka. Sedangkan Joel, terlihat serius sembari menatap mantan istrinya yang berwujud lain.
"Vesper. Aku terpikirkan sesuatu dan ini cukup menggangguku," ucapnya dengan dua tangan melipat di depan perut.
"Katakan saja, Joel," ujar Vesper seraya melihat dua tangannya yang pucat.
"Di tahun ini ... apakah ... masih ada keturunan dari kita yang hidup?"
"Entahlah. Aku tak begitu yakin. Kenapa?" jawab Vesper menatap Joel lekat.
"Tobias. Kata kalian, dia sangat kejam, bukan?"
"Ha! Aku yakin jika dia sedang disiksa di neraka karena dosanya yang berlimpah!" seru Axton bertolak pinggang. Namun, Joel seperti tak tersinggung.
"Itulah. Maksudku ... kita bisa menolong mereka dari siksa neraka," ucapnya yang mengejutkan semua orang.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Boleslav mulai tertarik.
"Doa. Bukankah doa membuat penyiksaan kita ditunda? Bahkan mungkin bisa dihapuskan jika Tuhan berkehendak. Itukan yang dikatakan oleh sang Kematian?" jawabnya serius. Vesper dan lainnya mengangguk membenarkan. "Tak perlu generasi kita yang mendoakan. Kita cari orang-orang dan minta mereka untuk mendoakan anak-anak kita yang disiksa. Bagaimana?"
Praktis, ucapan Joel membuat mata semua orang melebar.
"Ide gilamu boleh juga. Heh, kau pintar," puji Axton menunjuk.
"Jika tak pintar, bagaimana bisa aku masuk ke rumah kalian dan membuat Vesper menikahiku? Kalian saja yang bodoh karena terlambat menyadari kecerdikanku," ucapnya bangga.
Wajah para mafia itu masam seketika karena penuturan Joel.
"Oke. Kita tampung idemu dan akan dicoba saat misi pertama kita berhasil," ucap Vesper menengahi.
Saat orang-orang itu terdiam dengan pikiran masing-masing, Erik tiba-tiba masuk dan mengejutkan semua orang. Mereka yang belum terbiasa dengan dunia arwah dan semacamnya, masih mencoba untuk beradaptasi.
"Kalian bisa keluar sekarang. Para petugas yang menjaga di lantai ini dan lantai lainnya sampai pintu keluar sedang berkumpul di pos masing-masing. Aku menemukan rute sampai ke tempat parkir," ucap Erik semangat.
"Bagus! Ayo, pergi dari sini," ajak Antony dan diangguki semua orang.
Vesper memaksa Axton menutup tubuhnya dengan benar dan lelaki itu akhirnya menurut. Erik sebagai pemandu jalan. Joel berada di barisan paling belakang saat tiga mayat hidup itu keluar dengan mengendap dari ruang penyimpanan jasad. Saat mereka berhasil menyusuri koridor menuju ke pintu darurat, tiba-tiba saja muncul seseorang dari pintu lain. Kening pria itu berkerut melihat tiga orang masuk ke pintu menuju tangga evakuasi.
"Apakah aku salah lihat? Bukankah ...," ucap lelaki itu pucat.
Orang itu berlari dengan tergesa ke arah ruangan tempat petugas berjaga. Betapa terkejutnya saat para tenaga medis itu mendengar jika orang yang seharusnya sudah mati malah berkeliaran bersama dua orang tak dikenal. Para petugas yang penasaran, bergegas menuju ke ruang penyimpanan mayat. Sontak, kehebohan langsung terjadi.
"Pastikan dengan kamera pengawas!" perintah seorang perawat terlihat pucat karena tiga mayat yang seharusnya siap dimakamkan esok hari menghilang.
Orang-orang berlari menuju ke ruang operator untuk melihat kejadian sebenarnya. Mereka tertegun melihat tiga mayat itu hidup bahkan mengobrol meski tak terdengar perbincangan tersebut karena tak adanya fitur suara. Orang-orang itu saling memandang dengan wajah pucat, bingung dengan apa yang harus dilakukan.
***
tips dari jeng Manda lagi🎉jangan bilang minta crazy up lho ya🥲
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ayay Nya Yuda
ngakak😭
2025-01-24
0
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
gw jdi ngebayangin si axton gmna bntuk ya itu🙄 berhua dada tpi ad belalai ya🤣
2024-07-03
0
Mami Mara
njirrrr,,, grup mereka ini mmg ga pernah gagal buat ngakak. always lawak 🤣🤣🤣
2024-01-08
0