Bonus untuk pertama release dengan 3 eps sekaligus dalam sehari. Tunggu aja eps selanjutnya. Lele padamu 💋
---- back to Story :
Kelima roh itu shock dengan jawaban dari seekor burung gagak yang suaranya sama persis dengan sang kematian. Saat para mantan mafia itu dilanda kebingungan, tiba-tiba kehidupan di zaman modern itu lenyap dari pandangan. Vesper dan lainnya dibuat terheran-heran dengan keanehan yang dialami. Meskipun mereka telah mati, tetapi kemampuan para mafia itu tak dihilangkan oleh sang Kematian. Mereka tahu kapan waktunya serius.
"Jelaskan pada kami," pinta Vesper menatap sosok yang tak memiliki raga itu saksama.
"Tugas kalian adalah, menangkap roh-roh jahat yang berkeliaran di Bumi."
"Hanya itu? Hem, kita berburu. Mudah," jawab Axton dengan senyum tengilnya.
"Axton," panggil Erik menatapnya lekat seperti mengisyaratkan sesuatu, tetapi Axton menjawabnya dengan menaikkan kedua bahu pertanda jika hal itu memang mudah dilakukan. Semua orang terlihat tegang kecuali keturunan Giamoco tersebut.
"Kalian lihat perbedaan dari kumpulan orang-orang itu?" tanya sang Kematian saat para manusia di kota tak dikenal tadi kembali muncul di sekitar mereka. Seolah, para roh itu membaur bersama mereka.
"Perbedaan? Warna kulit?" jawab Joel santai seraya melirik ke arah orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.
Sedangkan Anthony dan Vesper terlihat serius mengamati. Keduanya saling melirik dalam diam lalu memejamkan mata. Saat mata mereka terbuka, dua roh itu seperti menyadari sesuatu.
"Apa itu?" tanya Vesper dengan kening berkerut saat ia melangkah, tetapi seperti melayang.
Mata para roh lain mengamati pergerakan Vesper yang mendekati seorang pria berpakaian serba hitam, bergaya layaknya eksekutif muda, terlihat tampan dan kaya.
"Ya, dia terlihat seperti orang sukses, Sayang," jawab Erik berpendapat.
"Berani kau mengatakan istriku dengan sebutan itu, aku tak segan merobek mulutmu, Benedict!" tegas Joel.
"Hei, orang mati. Aku memang suami dari Vesper! Kau saja yang mati lebih dulu jadi tak tahu hal itu!" jawab Erik melotot.
"What? Kau menikahi bajiingan ini?" tanya Joel menunjuk wajah Erik dan menembus matanya. Axton terkekeh.
"Bukan hanya kalian saja, tetapi ada Kai dan Han," imbuh Axton.
"What!" pekik mantan suami Vesper kaget bukan main mengetahui kenyataan gila itu.
"Vesper! Jelaskan!" teriak Joel mengamuk.
"Sudahlah. Ini bukan waktu yang tepat. Diam!" teriak Vesper tak kalah kesalnya.
"Hahahahaha! Hahahaha!" tawa Axton sembari bertepuk tangan. Ia begitu puas dengan perseteruan di depannya.
Napas Erik dan Joel menderu. Mereka menatap Vesper tajam terlihat begitu marah padanya. Vesper memilih tak membalas tatapan itu karena tahu jika dua mantan suaminya mengamuk seolah ingin mencabik rohnya.
"Vesper. Apa kau melihat seperti yang kulihat?" tanya Boleslav yang masih berdiri tenang di tempatnya.
"Sepertinya begitu. Kalian tidak?" tanya Vesper yang kini memandangi Axton, Joel dan Erik bergantian.
"Langsung saja. Tak usah sok pintar!" gerutu Joel dengan wajah jengkel.
Vesper menarik napas dalam lalu diembuskan seolah ia masih menjadi manusia. "Pejamkan mata kalian. Lalu ... tenangkan pikiran dan fokus pada diri masing-masing. Setelah itu, coba buka mata dan lihatlah apa yang aku lihat," jawab Vesper menjelaskan.
Joel terlihat enggan melakukannya, tetapi Erik dan Axton mengikuti instruksi dari Vesper. Seketika, mata dua pria itu terbelalak lebar. Mereka mengamati lelaki yang didekati Vesper dengan wajah serius.
"Kenapa ... dia seperti ... wow, apa itu!" pekik Erik terkejut yang membuat Vesper ikut menjauh.
Erik spontan memeluk mantan istrinya dengan mata terfokus pada sosok pria yang terlihat tampan itu.
"Hei!" teriak Joel marah yang berjalan mendekati Vesper dan Erik dengan gusar.
"Joel, hati-hati!" pinta Vesper yang langsung mendekati pria asal Filipina itu dan menahan dadanya.
Kening Joel berkerut. Ia akhirnya mengikuti saran Vesper. Betapa terkejutnya ketika ia melihat seperti apa yang ditakutkan oleh yang lain.
"Makhluk apa itu?" tanya Joel menatap sang Kematian saksama.
"Itu adalah aura jahat dari manusia. Ia memiliki niatan buruk dan tak bisa dimaafkan jika sampai perbuatan keji itu terjadi. Dosanya akan bertambah dan malaikat siap mencatatnya," jawab sang Kematian yang membuat para roh itu tegang seketika.
"Mau ke mana dia? Ikuti!" titah Axton.
Tanpa pikir panjang, kelima roh itu mengikuti si pria tampan yang memancarkan aura seperti asap hitam di sekitar tubuhnya. Bahkan, terlihat adanya tangan-tangan berkuku tajam keluar dari tubuhnya. Vesper dan lainnya menjaga jarak karena bisa merasakan aura jahat dari lelaki itu. Hingga akhirnya, langkah pria itu terhenti ketika ia memasuki sebuah gang bercahaya redup dan ada sebuah pintu di sana.
Vesper dan lainnya menghentikan langkah tak mengikuti lagi. Mata mereka terbelalak lebar saat melihat asap hitam tersebut makin besar dan kepala lelaki itu muncul tanduk di sisi kiri dan kanan berujung runcing. Roh-roh itu mematung saat melihat pintu di gang tersebut terbuka dan terlihat seorang nenek renta keluar.
Seketika, "AAAAAA!"
"Gila! Apa yang orang itu lakukan!" pekik Erik sampai melotot.
Jantung para mantan mafia itu seperti akan meledak melihat kekejaman pria tak dikenal yang menusuk wanita tua dengan pisau yang disembunyikan dari balik jas hitamnya. Nenek itu tak bisa melawan dan ambruk saat pisau tersebut telah berlumuran darahnya. Luka tusukan memenuhi tubuh renta itu hingga darah membanjiri lantai gang. Pria tersebut tak berekspresi, diam saja usai menyelesaikan tugasnya.
Tangan-tangan hitam yang keluar dari tubuhnya perlahan masuk ke raga pria itu berikut tanduk runcing mencuat tadi. Pria tersebut mengembuskan napas panjang lalu mengelap pisaunya dengan wajah datar menggunakan kain yang diambil dari saku jas. Ia melihat mayat sang nenek yang tergeletak dengan mengenaskan lalu berjalan meninggalkannya begitu saja berikut sapu tangan tersebut. Vesper membalik tubuhnya dan menatap sang Kematian. Sosok besar itu diam saja ketika tampilan kehidupan dunia kembali hilang dari pandangan.
"Apa yang terjadi?" tanya Vesper terlihat tegang.
"Menurutmu?" tanya sang Kematian yang membuat Vesper memejamkan mata sejenak.
"Maaf, hanya saja, aku tak bisa berpikir kali ini. Kejadian tadi sungguh mengejutkanku," jawabnya gugup.
"Dia seperti kalian. Pembunuh. Psikopat. Tak berbelas kasih. Banyak masalah yang bisa diselesaikan dengan cara yang bijak tanpa harus merenggut nyawa seseorang. Namun, kalian memilih untuk mengakhiri hidupnya. Siapa kalian? Tuhan?"
Praktis, ucapan sang Kematian membuat jiwa roh-roh itu terguncang. Tiba-tiba saja, tampilan neraka yang sangat ingin dilupakan kembali muncul. Mata kelima roh itu terbelalak lebar melihat penyiksaan yang dilakukan di dalam neraka.
"Ingat penyiksaan kalian?" tanya sang Kematian yang membuat tubuh kelima roh itu bergetar hebat.
"Hentikan, jangan tunjukkan lagi, jangan!" pinta Vesper penuh permohonan yang ambruk dengan tubuh melayang di atas bara api.
"Inikah hukuman kami karena melakukan perbuatan keji di masa lalu?" tanya Boleslav dengan wajah berkerut.
"Bukankah kalian merasa bangga saat berhasil membunuh seseorang? Kenapa sekarang tidak menunjukkan senyum tengil kemenangan itu?" sindir sang Kematian yang membuat napas semakin sesak.
Para mafia itu sadar akan kejahatan mereka selama di dunia. Meskipun banyak diantaranya dilakukan karena dirasa perlu. Roh-roh itu tak tahu jika apa yang menurut mereka benar ternyata salah di mata Tuhan dan disinilah semuanya kini berakhir. Masa hukuman atas semua perbuatan di dunia dalam keabadian.
"Percuma memohon ampun. Dosa kalian sudah dihitung dan tak bisa dihapus, kecuali atas kehendak-Nya. Namun, bisa ditunda penyiksaannya," ujar sang Kematian yang membuat kepala orang-orang itu mendongak.
"Ditunda? Apa maksudnya?" tanya Erik yang sudah terlihat pucat karena banyaknya siksaan diterima.
"Doa."
Wajah roh-roh itu berkerut.
"Tunggu. Apakah maksudmu ... karena banyak orang yang mendoakan kami setelah kematian?" tanya Vesper menduga. Sosok besar itu mengangguk. Sontak, para mafia itu tertegun karena tak menyangka hal tersebut.
"Siapa yang mendoakan kami? Apa doa mereka?" tanya Joel penasaran.
Seketika, muncul bayangan orang-orang yang mendoakan mereka. Mata orang-orang itu melebar. Banyak di antara orang-orang itu yang tak dikenali oleh para roh. Perlahan, mereka mulai berdiri dan menatap satu per satu wajah-wajah yang tampak khusyu berdoa.
"Dia ...," ujar Joel menunjuk seseorang yang terlihat begitu serius berdoa seusai salat.
"Lysa. Dia mendoakanmu, Joel!" jawab Vesper yang mengejutkan pria itu.
"Dia ... dia hampir membunuhku. Kenapa dia mendoakanku?" tanya Joel bingung.
"Mungkin merasa berdosa?" sahut Boleslav dan diangguki semua orang.
"Dia ... siapa?" tanya Erik menunjuk seorang pemuda yang dipenuhi banyak tato.
"Jonathan! Dia putra kita, Erik!" jawab Vesper yang membuat mata Erik melebar.
Erik membungkam mulutnya rapat. Ia menatap Jonathan yang berdoa untuknya saat malam tiba di tepi danau. Mata Erik berlinang. Ia tak menyangka bisa melihat putranya untuk sekali lagi saat ia tumbuh dewasa.
"Ia ... tampan dan terlihat hebat," ucap Erik yang diangguki Vesper. "Dia mendoakanku," imbuhnya terlihat terharu.
Saat Axton sedang mendekati sosok pria yang sedang berdiri di depan lukisannya di kediaman Giamoco, tiba-tiba saja penglihatan itu menghilang. Praktis, kebahagiaan tersebut ikut sirna. Para roh melihat sang Kematian yang masih duduk di balik meja batu seperti menatap mereka saksama.
"Selesaikan tugas dan kuizinkan kalian bertemu dengan satu orang yang telah mati sebelum kembali ke neraka meneruskan penyiksaan," ujar sosok besar itu yang mengejutkan semua para mafia.
Roh-roh itu terdiam. Teringat jelas bagaimana tersiksanya mereka di neraka dan enggan untuk kembali lagi. Tugas yang ditawarkan sang Kematian seperti menunda saja, tidak membuat mereka lepas dari siksa api neraka.
"Bahkan saat telah mati dan menjadi roh, kalian masih begitu egois. Lihatlah," ucap sosok itu yang mengejutkan semua roh tersebut.
Tampak jelas orang-orang yang tadi mendoakan mereka ternyata ikut disiksa. Pilu dan sesak langsung menyelimuti hati roh-roh itu karena siksaan tersebut sangat keji. Vesper menangis melihat anak-anaknya mendapatkan hukuman tak kalah mengerikan dengan dirinya.
"Apa yang kauinginkan!" teriak Boleslav ketika melihat putranya Jordan mendapat siksaan dengan cara dimutilasi hidup-hidup karena dulunya membunuh orang-orang dengan pedang pemberian Vesper.
Tubuh Vesper bergetar. Ia tak menyangka jika pedang yang diberikan kepada Jordan dan membuatnya melakukan kejahatan, membuat Vesper ikut menanggung dosa. Vesper lemas dengan pandangan tak menentu.
"Tangkap roh-roh jahat seperti pria tadi. Kalian satu tim. Sehari cukup satu roh untuk dibawa kembali ke neraka."
"Oke! Katakan bagaimana caranya! Kami siap melakukan," sahut Erik cepat yang tak sanggup melihat Jonathan disiksa.
"Bersiaplah."
***
Makasih tips koinnya Jeng Ramlah 😍 lele padamu 💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
aku suka aku suka
2024-07-03
0
John Singgih
menerima tugas demi keamanan orang terkasih
2023-08-27
1
Iamtvr
seneng bgt ada novel ini, ngobatin rindu sama gengsnya Vesper 😭
2023-07-30
1