Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Para roh pergi meninggalkan kawasan rumah sakit menuju ke tempat di mana Axton dan Joel menemukan sasaran selanjutnya. Mantan-mantan mafia itu terlihat serius ketika memasuki wilayah pusat kota yang lebih ramai ketimbang tempat sebelumnya. Vesper tampak kagum karena zaman tempatnya dibangkitkan kembali sangat jauh berbeda dan modern. Joel menggiring mereka sampai ke sebuah gedung bertingkat layaknya apartemen, tetapi dengan bentuk bangunan yang lebih futuristik seperti kota masa depan.
"Aku sudah tahu di mana kita berada. Mereka menyebutnya, Mega-US," ucap Joel seraya menunjuk sebuah papan layaknya billboard iklan di mana seorang wanita cantik memperkenalkan Mega-US.
"Mega-US itu sebuah kota atau negara?" tanya Antony penasaran.
"Entahlah. Aku masih belum yakin mengenai hal tersebut. Aku juga tak tahu kita berada di benua mana," sahut Axton terlihat pusing karena menggaruk kepalanya seperti merasakan gatal.
Para roh tampak ragu dengan keberadaan mereka hingga tiba-tiba, Joel menunjuk seorang laki-laki yang keluar dari pintu utama apartemen berdinding hitam di seberang. Vesper dan lainnya menatap pria itu tajam di mana gerak-geriknya memang cukup mencurigakan.
"Itukah pria yang kau maksud?" tanya Erik memastikan. Joel dan Axton mengangguk pelan dengan mata tertuju pada pria berpakaian serba hitam tersebut.
"Ikuti dia," titah Vesper.
Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh Joel dan Axton sebelumnya, roh jahat dalam raga pria itu seperti menyadari kehadiran roh mereka. Tiba-tiba saja, pria itu seperti orang bingung dan berjalan tergesa tampak menghindar.
"Dia sadar dengan keberadaan kita! Mungkinkah ... roh jahat yang merasukinya mengenal kita?" tanya Vesper menduga.
"Bisa jadi. Apakah ... dia musuh bebuyutan kita? Jika benar, ini gawat!" pekik Axton dengan mata melotot.
"Jika benar demikian, hal itu akan sangat bagus. Tunggu apa lagi, kejar dia dan tangkap!" ajak Joel.
"Joel, stop! Bagaimana kita bisa menangkapnya jika raga saja tak didapatkan?" tanya Vesper memekik karena mantan suaminya pergi lebih dulu.
Sontak, Joel menghentikan lajunya. Ia bertolak pinggang dan berdecak kesal. Pria dengan roh jahat misterius kabur dari kejaran dan menghilang di balik dinding bangunan. Namun, Joel sadar jika yang diucapkan Vesper adalah benar.
"Lalu ... sekarang bagaimana? Haruskah kita menemui Hose lagi dan minta tolong padanya?" tanya Erik mengusulkan.
"Aku sempat terpikirkan hal itu, tetapi kuyakin jika Vesper menolak," sahut Antony.
"Hem, baguslah jika kalian bisa menebak isi pikiranku," jawab Vesper santai.
"Sebaiknya kita sekarang fokus mencari raga. Selain itu, untuk tugas hari ini sudah terselesaikan. Kita bersiap untuk esok," usul Antony yang diangguki semua roh.
Para roh memilih untuk mempelajari kehidupan baru di tempat tersebut. Perlahan, para roh mulai menikmati layaknya sedang berwisata di suatu tempat. Mereka melihat bagaimana orang-orang menggunakan transportasi dan fasilitas publik. Axton bahkan mencoba helikopter yang terbang secara otomatis dengan masuk di benda tersebut. Mereka yang sepakat untuk terus bersama dan tak terpisah, bersenang-senang di Mega-US hingga matahari terbenam.
"Lihatlah. Indah sekali, meskipun tempat ini padat, ramai, dan sibuk, tetapi tak terlihat adanya tindakan kriminalitas seperti zaman kita," ucap Vesper ketika mereka melayang di udara mengamati sekitar.
"Kau benar. Aku penasaran. Jika aku masih hidup di zaman ini, kira-kira ... aku bekerja dalam bidang apa, ya?" sahut Erik berandai-andai.
Saat para roh itu sibuk mengkhayal, tiba-tiba, terdengar suara seperti alarm peringatan yang menggema di seluruh penjuru. Vesper dan lainnya tertegun ketika melihat para manusia menatap layar yang terpasang di dinding bangunan layaknya televisi sedang memberitakan sesuatu.
"Selamat malam. Aku selaku Presiden Dunia, Alva, ingin memberikan informasi cukup mengejutkan kepada kalian semua. Diharapkan agar semua warga di seluruh dunia memperhatikan hal ini," ucap seorang wanita muda yang membuat mata Vesper dan lainnya melebar.
"Pre-presiden dunia? Wah, seorang wanita muda? Hebat sekali!" pekik Erik kagum.
"Sttt, jangan berisik. Dengarkan," timpal Axton dengan senyum terkembang. Baginya, Alva sangat cantik dengan mata biru yang mempesona dan rambut pirang dikepang membentuk gelungan.
"Banyaknya laporan mengenai kasus tak lazim yang terjadi belakangan ini, membuat Menteri Keamanan Internasional mengambil tindakan. Hal tersebut telah disahkan oleh para pejabat tinggi tiap negara persekutuan dan diizinkan olehku. Maka dengan ini, kami memutuskan untuk meningkatkan keamanan di seluruh negara dan distrik. Semua bentuk tindakan yang mencurigakan sampai pelaku kejahatan tertangkap, diberlakukan 24 jam. Semoga kita semua diberkati dan selamat hingga kasus ini terselesaikan. Terima kasih dan salam perdamaian," ucap wanita cantik itu yang membuat para penontonnya tersenyum seraya memberikan tepuk tangan.
"Wah, penduduk di kota ini kompak. Aku baru tahu jika ada yang namanya Presiden Dunia. Itu keren," ucap Axton ikut bertepuk tangan usai menyaksikan tayangan tersebut.
"Oke, sudah cukup bersantai. Kini kita mendapatkan ancaman serius mengingat sistem keamanan di semua negara diperketat. Kita terlalu ceroboh dan menyepelekan tugas ini. Sekarang, inilah konsekuensinya," ujar Antony yang membuat para roh tertekan dengan ucapannya.
"Baik, baik, kami mengerti. Jadi ... sepanjang malam kau ingin kita menyusun strategi dan semacamnya. Begitu?" tanya Axton memastikan.
"Hem," jawab Boleslav singkat.
"Aku setuju. Kalau begitu, kita cari rumah sakit atau rumah duka di luar pusat kota. Kurasa keamanan di kawasan pinggiran tak seketat di sini. Bagaimana?" usul Vesper.
"Aku setuju, ayo!" ajak Erik dan diangguki semua orang.
Para roh itu terbang melayang meninggalkan hiruk-pikuk kota metropolitan dengan segala kecanggihannya. Mereka memilih untuk mengurangi risiko. Hanya saja, mencari roh jahat ternyata cukup sulit mengingat orang-orang di era ini tampaknya patuh dengan aturan yang berlaku. Mereka terbang menyusuri tepian pantai hingga tiba di suatu kawasan seperti pedesaan.
"Wow, tempat ini ... sangat berbeda. Seperti pedesaan zaman kita hidup dulu," ucap Erik kagum karena mengingatkannya akan masa lalu ketika berada di Camp Militer.
"Hei, bodoh. Lihat papan itu," ucap Joel seraya menunjuk sebuah papan seperti gapura.
Para roh terbang mendekat dan membaca tulisan yang dibuat ukiran dengan hiasan layaknya bingkai mengelilinginya. Terpampang nama Old Village.
"Sepertinya aku tahu kita berada di mana," ucap Axton dengan wajah serius menatap sekitar.
"Di mana, Axton?" tanya Vesper penasaran.
"Wilayah Amerika Selatan. Lihat! Bentuk bangunan ini seperti ciri khas negara-negara di benua Amerika. Apa kau tak menyadarinya, Erik?" tanya Axton menatap keturunan Benedict itu lekat.
"Ya, kau benar. Mungkin desa ini seperti bangunan peninggalan zaman kita saat hidup dulu. Tempat ini tak asing, seperti berada di ... oh, shitt! Lihat patung itu! Aku tahu kita di mana!" pekik Erik seraya menunjuk ke bukit.
Sontak, mata para mafia itu melebar. Sudah lama sekali orang-orang itu tak berkunjung ke negara tersebut. Tak disangka, patung Christ the Redeemer masih berdiri di atas sana. Praktis, senyum para mafia itu terkembang.
"Brazil," gumam semua roh yang menyadari keberadaan mereka saat ini.
"Kita terselamatkan. Amerika adalah jajahanku. Hah, kalian beruntung karena sang Casanova ada dalam kelompok ini," ucap Axton bangga dengan dua alis terangkat ke atas.
"Oke, Casanova. Jadi, sekarang tunjukkan di mana rumah sakit atau rumah duka di negara ini. Cepat," sindir Joel yang membuat wajah Axton masam seketika.
"Tentu saja aku tahu! Benua Amerika bahkan menjadi tato di tubuhku!" pekiknya kesal.
Vesper dan lainnya memilih diam saat Axton kembali bersiteru dengan Joel. Namun, Axton yang tak ingin wibawanya dihancurkan oleh keturunan Borka itu, dengan penuh percaya diri memasuki Old Village. Tempat tersebut bercahaya lampu seperti zaman mereka hidup dulu. Vesper seperti bernostalgia melihat rumah-rumah tersebut dirawat dengan rapi meski terlihat sepi tak berpenghuni.
"Ke mana orang-orang? Apa tempat ini hanya dijadikan semacam museum atau sejenisnya?" tanya Erik bingung karena tak mendapati satu pun manusia di sana.
Hingga tiba-tiba ....
"Agg, ahhh ... tidak, tidak, bukan aku pembunuhnya, bukan," ucap seseorang di sebuah rumah tak jauh dari tempat para roh berada.
"Kalian dengar itu?" tanya Boleslav serius.
Para roh mengangguk pelan. Mereka berjalan mendekati sebuah rumah tempat suara itu berasal. Saat Antony menembus tembok untuk memastikan hal tersebut, sontak matanya terbelalak lebar melihat hal tak terduga.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
wehhhh kok imajinasi ak jdi kemana ya
2024-07-03
0
🏕️👑🐒 𖣤᭄Kyo≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ💣
Alva jadi inget kalau gak masuk sekolah gak pake izin atau surat kita di kasih keterangan Alva ya kan
menanti munculnya sang presiden perdamaian dunia alias pak Eko😝😝😝😝
semangat terus aju aku padamu wis ju jangan lupakan aku 😝 jangan bosan dengan komen gilaku ju
2023-07-22
0
Ĺęø ♌️
Lbh tEpAtnya mEgApoLitAn 👏
2023-05-31
1