Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Ketika roh-roh itu mulai meninggalkan lokasi kejadian, tiba-tiba Vesper menghentikan langkah dan membuat para roh yang melayang di belakang nyaris menabraknya.
"Hei!" teriak Axton marah.
"Kenapa kita malah pergi? Bodoh sekali!" pekik Vesper langsung membalik tubuh.
"Apa maksudmu?" tanya Antony berkerut kening.
"Josh mati karena bunuh diri. Sudah pasti mayatnya akan dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi dan dimakamkan. Kenapa kita tak menunggu dan harus repot-repot mencari di mana rumah sakit berada?" jawab Vesper dengan wajah berbinar.
"Ah, kau benar. Kenapa aku tak terpikirkan?" sahut Erik yang ikut merasa bodoh karena tidak peka.
"Heh, aku terpikirkan hal itu, tetapi sengaja diam. Ingin melihat kebodohan kalian," timpal Joel yang membuat empat roh lainnya langsung melirik sadis ke pria asal Filipina itu.
Joel meninggalkan kumpulannya lebih dulu dan kembali ke tempat mayat Josh sedang diamankan oleh robot-robot seperti polisi. Vesper dan lainnya dibuat kagum karena robot itu juga mengeluarkan semacam garis batas polisi dengan warna khas kuning agar sipil tak melintas. Erik dan lainnya terperana karena kecanggihan teknologi di zaman ini sangat jauh berbeda dengan kehidupannya dulu. Baginya, kaki robot adalah sebuah inovasi yang sangat hebat, tetapi jika dibandingkan dengan zaman ia dibangkitkan saat ini, kaki robot seolah hanya sebuah alat penopang kaki agar tak keseleo.
PIPO ... PIPO ... PIPO!
"Lihat! Ada robot yang datang!" seru Erik menunjuk ketika muncul beberapa benda berwarna hitam yang bergerak dengan cepat dan melayang di atas permukaan aspal. Benda itu juga mengeluarkan sirine seperti mobil polisi dan terlihat kuat.
"Perhatikan robot ini. Dia seperti terkoneksi dengan kepolisian pusat. Lihat layarnya, mereka juga mengeluarkan suara," ucap Axton terkagum-kagum ketika melihat sebuah robot berbentuk balok berdiri membuat sebuah barikade.
Pada layar bagian depan robot layaknya ponsel layar sentuh berukuran besar yang tebal, terdapat informasi mengenai laporan adanya korban tewas bunuh diri. Selanjutnya, sensor pada robot mendeteksi aktivitas jantung korban. Jika dinyatakan berhenti dan semua sistem organ telah mati, robot akan langsung menghubungi pihak rumah sakit dan kepolisan terdekat. Pada bagian kanan kirinya seperti memiliki tangan yang direntangkan karena keluar garis batas polisi berwarna kuning dan disambut oleh robot serupa di sebelahnya. Jumlah robot sebanyak 3 buah dan setinggi orang dewasa. Sipil dengan cepat berkerumun dengan ekspresi tak kalah terkejutnya seperti kelima roh ketika melihat insiden itu.
PIP! PIP! PIP!
"Ada yang datang lagi!" seru Joel menunjuk ketika iring-iringan mobil memasuki TKP.
"Amati orang-orang itu. Mereka sangat terkoordinir. Sipil juga langsung memberikan jalan bagi petugas tanpa harus dipaksa untuk menyingkir. Sistem pemerintahan di zaman ini sungguh luar biasa. Aku penasaran siapa Presidennya," ucap Vesper yang diangguki semua orang kecuali Joel.
"Mereka menyingkir karena tak ada gunanya juga menyelamatkan. Josh telah mati. Selain itu, aku yakin jika orang-orang itu takut jika dihukum bila tak memberikan jalan bagi petugas. Entah di penjara atau apalah, aku tak peduli. Tak usah kagum berlebihan seperti itu," ucap Joel dengan wajah datar, tetapi ucapannya membuat para roh lainnya jengkel.
"Kenapa harus ada dia di kelompok kita?" gumam Erik geleng-geleng kepala.
"Aku mendengar pujianmu, Benedict," sahut Joel yang membuat Erik terperangah.
"Wow! Good for you," timpal Erik memasang wajah malas, tetapi Vesper dan lainnya terkekeh.
Vesper dan roh lainnya mengawasi proses evakuasi yang cepat serta terlihat rapi. Para robot yang menjaga wilayah TKP juga langsung pergi. Bahkan, tak ada pola yang dibuat atau mayat diidentifikasi terlebih dahulu layaknya tugas kepolisian bagian penyelidikan dan forensik.
"Lihat! Darahnya disedot dengan alat seperti vacum cleaner. Mayatnya juga langsung dipindahkan. Bahkan, tempat ini dibersihkan seperti tak terjadi kecelakaan," ucap Axton terheran-heran.
Antony terlihat serius mengamati seorang petugas yang didampingi oleh sebuah robot melayang.
"Lihat orang itu. Robot di sebelahnya seperti mengikuti perintah orang tersebut. Dia mengambil gambar, bahkan merekamnya. Orang itu juga menunjuk beberapa tempat seperti ada CCTV terpasang. Orang itu hanya berjongkok mengamati, bahkan yang memegang mayat adalah tangan-tangan robot. Dugaanku, agar tak ada campur tangan sentuhan manusia yang bisa merusak bukti," ucap Antony seraya menunjuk pria berpakaian hitam berjas seperti memiliki lapisan anti air karena mengkilat.
"Wah, kau memang hebat," puji Axton memberikan jempolnya. Antony menjawabnya dengan wajah datar.
"Jangan sampai tertinggal," ucap Joel seraya bergerak ke mobil ambulance berwarna putih yang tampak berbeda karena melayang di atas permukaan aspal.
*kurang lebih begini ilustrasinya walaupun gak sama persis dengan imajinasi lele. kwkw biar ada bayangan.
Joel dan lainnya mengikuti iring-iringan mobil polisi serta ambulance yang semua kendaraan di zaman itu tak ada ban menyentuh tanah. Bahkan mungkin, roda atau ban sudah tak dibutuhkan lagi. Ternyata, tak membutuhkan waktu lama, mereka tiba di sebuah gedung bertingkat yang cukup besar dan itu adalah rumah sakit.
"Welcome to Mega-US Hospital. Enjoy our treatment and we hope, you are always healthy. Thank you," ucap sistem begitu pintu otomatis masuk ke lobi rumah sakit terbuka.
"Hohoho, keren," kekeh Axton seraya bertolak pinggang melihat sekitar.
Vesper dan lainnya terkejut ketika mayat Josh dimasukkan dalam sebuah kapsul yang membuat sosoknya tak terlihat. Benda itu melayang mengikuti seorang petugas rumah sakit berseragam putih yang berjalan di depan.
"Orang itu memakai jam keren. Kurasa, jam itu yang membuat pil terbang tersebut mengikutinya," ujar Vesper seraya menunjuk saat tabung berisi mayat tersebut melintas di depan para roh.
"Ya, aku setuju," jawab Axton sependapat.
Beberapa petugas berjalan beriringan mengikuti pil dengan wadah berwarna silver memasuki sebuah ruangan.
"Sepertinya ini bagian khusus untuk pengurusan mayat dan semacamnya. Lihat, di gedung seberang begitu ramai, sedang di sini sepi," ucap Antony seraya menunjuk ke arah jendela besar seperti dinding di mana terlihat hiruk-pikuk di wilayah lain.
"Mungkin karena kasus kematian tak banyak di negara ini," ujar Erik di mana ia masih belum tahu berada di mana.
Akhirnya, apa yang mereka butuhkan ada di depan mata. Senyum para roh terkembang. Mereka menemukan jasad untuk digunakan selama berada di kota tersebut.
"Oke. Para petugas sudah pergi mengurus si Josh. Jadi ... kita segera pilih lalu pergi," ucap Axton semangat.
"Tunggu," sanggah Vesper dengan wajah serius.
Para roh pria yang sudah memilih targetnya, menatap Vesper keheranan karena wanita itu mengamati sekeliling.
"Tempat ini berbeda dari rumah sakit sebelumnya. Ruangan ini, lebih terkontrol. Lihat, untuk keluar dibutuhkan pengenal semacam lensa atau sidik jari dari petugas itu. Ada alat seperti scan di samping pintu ini," ucap Vesper seraya menunjuk.
"Seperti sensor barcode," gumam Erik mengamati alat pemindai itu.
"Kau benar, barcode! Ingat saat Rosemary mencurigaiku karena tak ingat di mana barcode Jenny terpasang?" seru Vesper yang membuat para mantan mafia itu baru menyadari hal tersebut.
"Sial, menyusahkan! Aku benci masa depan!" pekik Axton kesal. Kening Vesper berkerut di mana sebelumnya, Axton mengatakan sangat menyukai masa depan, tetapi kini sebaliknya.
"Gawat. Tugas berikutnya pasti akan menyulitkan. Hempf, kita makan dulu sambil berpikir," ujar Antony yang diangguki semua roh.
Saat mereka akan beranjak, kelima roh tersebut tiba-tiba mematung seperti menyadari sesuatu.
"Kenikmatan dunia yang dihapus!" seru kelima roh bersamaan.
"Wah!"
"Wow!"
"Kita satu frekuensi. Hem, ajaib," ucap Vesper kagum karena tak menyangka hal tersebut.
"Oke, jadi ... kita tak lapar, tak haus, tak mengantuk, dan ... apa lagi?" tanya Erik mencoba merasakan hal-hal tak wajar dalam dirinya selama menjadi roh.
"Tak bergairah. Ingat?" sahut Axton seraya menunjuk idolanya.
"Maksudnya ... keinginan untuk bercinta?" tanya Joel memastikan. Semua orang mengangguk. "Bullshit! Kita harus memastikannya," imbuh Joel menolak dan bertolak pinggang.
"Apa batang pria setengah wanita yang kugunakan saat itu tak menyadarkanmu, Ramos?" tanya Axton malas.
"Itu karena kau memang bukan pria sejati. Akan kubuktikan sendiri!" serunya menyangkal.
"Hei! Keparatt kurang ajar. Dia menghina sang Casanova!" teriak Axton marah yang bergegas mengejar Joel karena keluar ruangan.
"Ya, Tuhan. Apalagi ini?" keluh Vesper yang kini tekanannya juga dirasakan oleh Erik dan Antony.
***
ILUSTRASI. SOURCE : PINTEREST, unrealengine.com
kwkwkw kalo lele belom up jangan heran karena sekarang si embul udah mulai manja jadi susah nyolong2 waktu buat sekedar ngetik doang. sabar ya LAP. karena ngetiknya jam 2, jadi gak usah seyem2 epsnya. hahahaha😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
wkwkwk si rames am si axton kek tom herry jdi yah...
btw ju apa kbr dirimu aku kangen loh dah lama fakum dri per MT an
2024-07-03
0
🏕️👑🐒 𖣤᭄Kyo≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ💣
Joel ngakak gua sumpah kalau ada nih orang yang pikirannya selalu 21+
semangat terus aju aku padamu wis ju jangan lupakan aku 😝 jangan bosan-bosan sama komen gilaku
2023-07-22
0
🏕️👑🐒 𖣤᭄Kyo≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ💣
ini paling yang usul suara ambulan kayak gini lysa ya Ju😝
2023-07-22
1