Beberapa hari berlalu, Gill menjalankan tugasnya sebagai bellboy dengan baik. Perubahan itu tentu saja membuat Zee tenang dan Dison senang. Hanya saja Zee merasa ada yang aneh dengan sikap putra tirinya itu. Bagaimana tidak? Gill yang biasa mengganggunya, kini selalu menghilang setiap pulang kerja. Meski penasaran ke mana perginya, tapi Zee sama sekali tidak peduli.
Yang ia pedulikan saat ini adalah kesibukannya yang harus mengurus hotel sekaligus sebagai DJ. Apalagi tawaran manggung di beberapa stasiun tv terus mengundangnya, tapi selalu Zee tolak. Ia masih ingin bekerja di Grebek Club yang membuatnya merasa nyaman
"Kalau aku jadi kamu, aku juga dilema mau pilih siapa? Tuan Dison udah tua, tapi banyak uangnya. Sementara tuan Gill sangat tampan, pintar, tinggi, kekar, dan yang pasti dia cinta sama kamu," ujar Risha turut bingung memikirkan posisi sang sahabat.
"Cinta?" Zee memangku kedua tangan dengan malas.
"Yaiyalah cinta, aku sangat yakin cinta satu malam tujuh tahun lalu tidak bisa dia lupakan, itulah sebabnya dia terus mendekatimu," sahut Risha menggebu-gebu, ia sangat yakin atas ucapannya.
"Kamu itu tidak bisa membedakan mana cinta dan yang mana nafsu."
"Risha!" panggil Marko dari ruangannya yang berada tepat di sebelah ruang istirahat Zee.
"Iya, Pak. Sebentar!" balas Risha juga berteriak.
"Ada apa lagi dengan si tua bangka itu," ejek Risha mendengus kesal. Meski kesal, tapi ia tetap bangkit dan berjalan cepat menuju ruangan Marko.
Tak lama setelah kepergian Risha, tiba-tiba pintu ruangan diketuk oleh seseorang.
"Masuk!" sahut Zee yang sudah tahu siapa yang datang hanya dari nada ketukannya yang bahkan terdengar sopan melewati telinganya.
"Kamu sedang apa?" tanya seorang duda tampan yang terlihat dewasa dengan pakaian formalnya.
"Kak Axel," sambut Zee dengan senyuman samar yang terukir indah di bibirnya.
Axel adalah sosok duren sawit (duda keren sarang duit) yang selalu berada di sisi Zee selama 7 tahun terakhir. Bahkan Axel rela datang ke club setiap malam hanya untuk bertemu dengan wanita pujaannya, siapa lagi kalau bukan Zee.
"Bukannya kak Axel keluar negeri untuk perjalanan bisnis?" tanya Zee ketika Axel telah duduk tepat di hadapannya.
"Tidak jadi, papa yang pergi, tapi seharusnya kamu yang pergi," Axel menatap Zee dengan sedih, semacam ada perasaan bersalah sekaligus penyesalan yang tidak bisa ia lupakan seumur hidup.
"Sudah, tidak perlu dibahas lagi. Aku juga bahagia dengan jalan hidupku yang sekarang," balas Zee tersenyum hangat, sehangat hatinya yang akhir-akhir ini begitu tenang dan damai.
"Zee," panggil Axel dengan suara lembut namun bergetar.
"Iya?" sahut Zee mengerut dahi heran.
Axel tak langsung menjawab, duda sempurna tanpa anak itu tampak gugup hingga menghela napas berat beberapa kali. Axel seakan berusaha meyakinkan hati serta menyiapkan diri untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Aku hanya ingin jujur padamu tenteng isi hatiku karena aku sudah tidak lagi sanggup memendamnya terlalu lama. Terserah kamu mau jawab apa, tapi yang terpenting aku sudah mengatakannya," kalimat yang lumayan panjang itu Axel katakan dengan lugas dan lancar, meski nada suaranya semakin bergetar.
Zee menundukkan wajah, kemudian kembali mengangkatnya dengan iringan senyum kecil yang mampu menenangkan siapa pun yang melihatnya.
"Katakan saja, Kak. Apa pun itu, aku pastikan sikapku terhadap kakak tidak akan berubah dan aku tidak akan pernah melupakan kebaikan demi kebaikan yang selama ini kakak berikan," tutur Zee mampu mengubah ekspresi wajah Axel. Bagaimana tidak? Ucapan Zee membuat semakin jatuh sejatuh-jatuhnya.
"Terima kasih, Zee. Sekarang aku tahu kenapa kamu tetap mau menerimaku sebagai kakak sekaligus sahabat, walau kamu tahu seperti apa perasaanku padamu yang lebih dari sekadar kakak yang menyayangi serta berusaha melindungi adiknya. Meski kamu sudah tahu, aku akan tetap mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Maaf, perasaan ini timbul tidak pada tempatnya, tidak seharusnya aku mencintaimu," ungkap Axel panjang kali lebar.
Zee sama sekali tidak kaget karena memang ia mengerti bagaimana perasaan Axel padanya.
"Kakak tahu aku bukan wanita sempurna yang suci, ada sesuatu yang telah hilang dalam diriku sebagai seorang wanita. Meski aku sudah bahagia sekarang, tapi aku belum siap, kak. Aku masih merasa hina dan menjijikkan. Lagipula aku sudah menikah," Zee mengalihkan pandangan, tak sanggup melihat raut wajah Axel yang pasti sangat kecewa padanya.
"Bukan fisikmu yang membuatku jatuh cinta, melainkan kepribadian dan juga kebaikan hatimu, kamu adalah wanita sempurna dan terbaik yang pernah aku temui di dunia ini. Aku mohon, izinkan pria tak sempurna ini memilikimu. Aku berjanji akan membantumu membebaskan diri dari pernikahanmu," Axel masih berharap Zee mau menerima cintanya. Bahkan ia tak peduli apa status Zee saat ini, tapi yang pasti ia tahu rahasia serta tujuan Zee memilih untuk menikah dengan lansia yang tidak ia cintai.
"Aku menerima cinta kak Axel, tapi....
***
Selain ingin menjadi CEO ewe hotel, kira-kira apalagi, ya, tujuan Zee menikahi Dison? Ada yang bisa nebak nggak, nih?
Zee
Gill
Axel
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
wah... bnyk tujuanmu EA zee
2023-10-06
0
Sandisalbiah
demi Vinson... masadepan ank nya dan kalau gak salah si awal bab Risha perna mengatakan utk perobatan Vinson..?
2023-07-27
0
Anggi Susanti
ingin menjadikan anak ya menjadi pewaris hotel ewe
2023-05-21
0