Zee pamit pada suaminya setelah memberikan obat. Untuk kali ini ia benar-benar tak bisa lagi menghindar. Mau tak mau, siap tak siap Zee harus mengungkap semuanya kepada Gill, karena bagaimana pun anak tirinya itu juga berhak tahu.
"Naiklah," ketus Gill yang sudah duduk di atas motor sportnya.
"Motor? Mana mobilmu?" tanya Zee enggan naik ke atas motor meski kini ia tak mengenakan dress seksi seperti biasa.
"Jangan banyak tanya, naik atau aku habisi kamu di sini!" ancam Gill membuat Zee langsung naik. Tempat duduk yang terlalu menukik, membuat Zee kesulitan menahan diri untuk menjaga jarak. Rela tak rela, bamper depannya menyatu dengan punggung kekar Gill.
"Pegangan yang erat!" Gill mengingatkan sebelum tancap gas. Zee tak peduli, ia lebih memilih berpegang pada bahu Gill. Ketika Gill melajukan motor dengan kecepatan tinggi, Zee terpaksa memeluk dengan erat agar tidak terjatuh.
"Sial, ke mana dia mau membawaku? Ini kan bukan arah menuju hotel," batin Zee tak begitu panik karena memang ia akan membongkar misteri di balik jahitan horizontal di perutnya.
Beberapa menit kemudian, Gill menginjak rem mendadak saat sampai di tempat tujuan. Di mana lagi kalau bukan di rumah sakit sentral.
"Kenapa? Apa rumah sakit ini mengingatkanmu akan sesuatu?" tanya Gill sambil melepas helmnya.
"Iya, di sinilah tempatku berjuang antara hidup dan mati," balas Zee tersenyum kecut.
"Jadi sekarang kau mengakuinya!?" tekan Gill mencengkram pergelangan tangan Zee dengan kuat. Semula Gill mengira Zee kelepasan, tapi melihat setitik air bening yang menetes dari sudut mata Zee, Gill mengerutkan dahi tak mengerti. Apa yang membuat ibu tirinya itu bersedih? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit itu?
"Iya, aku akui one night stand tujuh tahun lalu memang membuatku mengandung benihmu," ucap Zee lantang sembari menyeka air mata dengan kasar.
"Kau tidak bisa membual dengan mengatakan telah mengugurkannya, jahitan horizontal di perutmu adalah bukti nyata selain dokumen transaksimu enam tahun lalu. Lebih baik sekarang katakan di mana anakku!" paksa Gill tak terima alasan apa pun yang kemungkinan sedang Zee karang.
Air mata yang kembali menetes langsung Zee tepis, ia merebut helm dari Gill, kemudian naik ke atas motor sport milik Gill. Bukan sebagai penumpang yang duduk di belakang Gill seperti sebelumnya, melainkan duduk di depan sebagai pengemudi.
"Naiklah!" titah Zee mulai memutar kunci motor yang masih bertengger di tempatnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Gill tak mengerti.
"Cepat naik jika ingin bertemu dengan anakmu!" balas Zee dengan nada suara yang meninggi.
"Tunggu ... Kau yang mengemudi? Kau yakin?" Gill ragu untuk naik meski kedua kaki jenjang Zee sama sekali tak kesulitan menjaga keseimbangan motor berat miliknya tersebut.
"Ck! Jangankan motor, pesawat sekalipun aku terbangkan!" tegas Zee membuat Gill terpaksa naik dan duduk di belakang Zee. Gill membatu ketika Zee mulai tancap gas dengan kecepatan tinggi. Pria dewasa dengan wajah tampan itu tak menyangka bahwa ibu tirinya benar-benar hebat. Entah kenapa Gill justru merasa bangga.
"Tubuh Seksi, tinggi, wajah cantik, pintar, cerdas, mandiri dan tidak bergantung pada siapa pun. Ibu tiriku ini adalah spek wanita sempurna tipe idealku. Tak salah aku menerima tawaran untuk tidur dengannya tujuh tahun lalu," batin Gill bangga.
Senyuman bangga yang tersemat di bibir Gill harus lenyap saat Zee menginjak rem saat sudah berada di sebuah pemakaman elit.
"Apa maksudnya? Kenapa kau membawaku ke pemakaman?" tanya Gill dengan hati yang berkecamuk. Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi benaknya.
"Apalagi? Bukankah tuan Gill mau bertemu dengan anak kita?"
"Tidak ... Tidak mungkin anakku....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kenzi Kenzi
weeeladalahhhhhhh.....keren kan,status vinson,dimatikan,.....demi,.
2023-11-02
0
Intan IbunyaAzam
knp bhog Zee
2023-10-06
0
Sandisalbiah
kenapa harus bohong Zee.. apa Vinson beneran udah meninggal..
2023-07-27
0