"Tidak ... Tidak mungkin anakku ada di tempat ini! Kamu bercanda kan? Tunggu ... Aku tahu sekarang, aku tahu kau pasti mengarang cerita lagikan? Ayo mengaku!" bentak Gill tak terima dibawa ke pemakaman oleh sang ibu tiri.
Zee yang geram memilih tak merespon pertanyaan Gill, ia langsung menyeret dan membawa Gill menuju sebuah makam berukuran kecil bertuliskan Vinsen. Gill langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah, memeriksakan batu nisan, tulisan, tanggal yang tertera serta tanah bahkan rumputnya. Sayangnya ia tak menemukan celah rekayasa. Ciri-ciri serta tekstur tanah membuktikan bahwa makam telah berusia kurang lebih enam tahun. Dan itu artinya Zee tidak sedang membohongi dirinya dengan membuat rekayasa.
Tak sanggup berlama-lama di makan putranya, Zee pergi begitu saja, meninggalkan Gill dengan isakan tangis yang terdengar begitu menyedihkan.
Di jalan raya Zee menghentikan sebuah taksi dan masuk ke dalamnya.
"Jalan, pak!" tegasnya dan mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang. Zee membuka kaca mobil, menyandarkan kepala, memejamkan mata dan membiarkan angin menerpa kulit serta rambutnya. Zee memukul pelan dada guna mengurangi sesak yang dirasa.
"Andai kita dipertemukan lebih cepat, mungkin aku tidak akan kehilangan Vinsen," sesal Zee sembari mengusap kasar air mata yang terus mengalir deras.
***
Zee yang tengah sibuk membaca dan menandatangani beberapa berkas penting dibuat kaget akan kedatangan sang putra tiri yang langsung menerobos masuk ke dalam ruangan kerjanya. Zee terpaksa menghentikan pekerjaan, kemudian bangkit dari duduknya.
"Apa lagi?" tanya Zee ketus.
Bukannya merespon pertanyaan Zee, Gill justru memeluk Zee dengan begitu eratnya. Mendengar isakan tangis sang putra, Zee membiarkan Gill menangis dalam pelukannya. Sama seperti dirinya yang sedih kehilangan Vinsen, Zee mengerti betapa beratnya Gill menerima kenyataan kehilangan anak yang bahkan belum pernah ia lihat seperti apa wajahnya.
Hanya di hadapan Zee, Gill mampu memperlihatkan sisi lemahnya sebagai seorang pria sejati. Lihatlah bagaimana ia menumpahkan segala kesedihan dalam dekapan Zee, bahkan Dison tak pernah melihat Gill menangis semasa remaja hingga dewasa.
"Maaf, maaf karena terlambat menemukanmu. Andai aku menemukanmu lebih awal, aku tidak akan membiarkan putra kita pergi begitu saja. Andai aku menemukanmu sebelum papaku, aku pastikan kamu akan menjadi istriku, bukan ibu tiriku," Gill menuturkan penyesalan seumur hidupnya dengan bibir bergetar.
"Cukup, aku mohon jangan dibahas lagi. Biarkan semuanya mengalir seperti air, kita sudah ditempatkan pada posisi takdir kita masing-masing. Kamu anakku dan aku ibumu, jalani takdir ini dengan ikhlas, aku mohon sudahi dosa ini. Aku tidak mau mengulang dosa di masa lalu," Zee menjauhkan diri dari Gill.
"Aku tidak bisa, aku tidak mau, aku tidak terima dan aku tidak akan pernah rela. Takdirmu adalah menjadi istriku, bukan ibu tiriku. Aku ... Aku akan menceritakan segalanya pada papaku tentang apa yang terjadi tujuh tahun lalu. Hanya dengan cara itu papaku akan menceraikanmu dan kita berdua bisa menikah," ucap Gill dengan entengnya.
"Tidak, Gill. Aku mohon jangan lakukan itu. Kau tahu papamu mengidap gagal jantung stadium akhir. Menceritakan padanya tentang apa yang terjadi tujuh tahun lalu, sama saja dengan membunuhnya!" tekan Zee tak setuju dengan apa yang Gill katakan.
Mendengar ucapan Zee, Gill menatapnya tajam dengan wajah memerah serta urat-urat leher yang mengencang, "Kau mencintai papaku?"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kenzi Kenzi
vinsen dan vinson.....
2023-11-02
0
Intan IbunyaAzam
mgkin anknya ad 2kmbar thor
2023-10-06
0
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
waaah kembar donk ank nya
2023-09-13
0