"Zee!" teriak Dison, sang suami yang tiba-tiba muncul.
Baik Zee maupun Gill sama-sama panik saat Dison tiba-tiba muncul memergoki. Bahkan, Zee hampir terluka karena Gill langsung menghempas tubuhnya hingga terjungkal, beruntung kepalanya tak mengenai sudut meja. Meski begitu, Zee tetap merasakan sakit yang amat sangat pada pinggulnya yang terhentak. Zee berusaha bangkit sendiri, sementara sang pelaku mematung melihat sang ayah yang berjalan mendekat tanpa kursi roda.
"Zeel, apa itu kamu?" tanya Dison sambil meraba-raba dengan kedua tangannya. Gill menghela napas lega saat menyadari bahwa sang ayah sedang tidak mengenakan kacamata. Itu artinya, Dison tak melihat apa yang barusan terjadi. Kali ini Gill dan Zee masih selamat.
"Ah iya, ini saya," sahut Zee berhasil bangkit. Bukannya membantu, Gill Justru melesat pergi melarikan diri.
"Pria sialan itu!" batin Zee kesal dengan tangan kanan mengusap bibir bengkaknya, dan tangan sebelah kiri mengusap pinggul yang terhentak. Dua rasa sakit Zee nikmati dalam waktu yang bersamaan.
"Kamu kenapa?" Dison sudah berdiri tepat di hadapan Zee yang masih meringis kesakitan.
"Hanya terjatuh karena berjalan sambil mengetik pesan, tapi saya baik-baik saja, tidak terluka ataupun sakit sama sekali," terang Zee tentu saja berbohong. Jelas ia kesakitan akibat ulah si anak tirinya yang menyebalkan.
"Syukurlah kamu tidak terluka, lain kali hati-hati, berhenti saat ingin memainkan ponsel."
"Baiklah, tapi kenapa tuan tidak istirahat? Di mana kursi rodanya?" pertanyaan beruntun Zee layangkan kepada pria lansia yang tak lain adalah suami sahnya.
"Seperti yang kamu lihat, kondisiku sudah mulai membaik berkat kehadiran Gill. Aku sudah tidak membutuhkan kursi roda," jawab Dison tersenyum senang.
"Baguslah kalau begitu, tuan mau ke mana sekarang? Akan saya bantu antarkan."
"Kamu memang harus membantu karena aku menginginkan nasi goreng buatanmu. Namun, bila merasa lelah sebaiknya pergi istirahat, aku akan minta pelayan memasaknya sesuai resep darimu," ujarnya tak memaksa.
"Akan saya buatkan nasi goreng spesial untuk tuan, kebetulan saya juga lapar," balas Zee langsung menuntun Dison menuju dapur.
***
Pagi-pagi sekali, Zee dan Gill sama-sama telah siap dengan outfit masing-masing. Zee dengan dress seksi yang mempertontonkan tubuh aduhainya.
Sementara Gill tampil seperti badboy pada umumnya, pakaian santai serba hitam, tak ketinggalan headset yang mengalung di leher dan jaket hitam yang ia tenteng. Karena pada dasarnya memang sudah tampan, maka mau didandani seperti apa pun, aura tampan dan machonya selalu melekat.
"Hei kalian! Apa yang kalian lihat? Cepat singkirkan mobil butut ini! Menghalangi saja," protes Gill pada mobil milik Zee yang menghalangi motor sportnya untuk lewat.
"Woy! Apa kalian punya telinga?!" bentak Gill murka karena para boddyguard seakan mengabaikannya.
"Maaf, tuan. Kunci mobilnya ada pada nyonya," ucapnya sembari menunjuk pada Zee yang berdiri bertolak pinggang menonton aksi Gill yang menghina mobil kesayangannya. Ya, mobil jenis civic itu adalah mobil pilihannya sendiri, yang ia beli dengan uang sang suami pastinya. Gajinya sebagai DJ mana mungkin cukup walau membeli mobil bekas sekalipun.
"Singkirkan mobil bututmu ini, atau aku tabrak!" ancam Gill. Tak mau meladeni sang putra tiri, Zee langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia maju sedikit hingga Gill bisa keluar dari bagasi. Saat akan tancap gas menuju perusahaan, Gill justru menahan jendela mobilnya dengan tangan.
Dengan malas Zee bertanya, "Sekarang apa lagi?"
"Siapa yang lebih dulu tiba di hotel, maka berhak duduk di kursi CEO. Bagaimana menurutmu?" tantang Gill menyeringai merendahkan mobil milik Zee. Ya, dari segi merk dan fakta, motor sport super mahal yang Gill naiki memang lebih cepat daripada mobil miliknya.
"Kamu bercanda?" tanya Zee.
"Ck! Kau takut, kan?"
"Baiklah, kalau kamu sampai duluan, maka kamu berhak duduk di kursi CEO. Tapi ...."
"Tapi apa?" tanya Gill penasaran.
"Tapi kalau aku yang sampai duluan, maka kamu harus bekerja sebagai bellboy. Bagaimana? Jangan bilang kamu takut," tantang Zee menatap rendah Gill.
"Setuju!" balas Gill langsung tancap gas lebih dulu.
"Dasar curang!" umpat Zee kesal.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, Gill berhasil sampai lebih dulu di hotel yang seharusnya memakan waktu tempuh sekitar 10-15 menit perjalanan. Dengan penuh percaya diri Gill pun melenggang memasuki hotel milik sang ayah.
"Selamat pagi, tuan muda Gill," sambut Sekretaris Sean, Gill tak peduli dan tetap masuk ke dalam ruangan yang tidak dikunci. Saat sampai di dalam ruangan, ia dibuat tercengang dengan kehadiran seorang wanita seksi yang sudah duduk dengan santai di kursi CEO.
"Pakaian Bellboy-nya ada di atas meja."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Dyah Oktina
kok anaknya zee.. ngak ada ceritanya???
2024-03-07
0
Ismu Srifah
pingsan gak itu gill tau zee sdh d dlm
2023-11-18
0
Kenzi Kenzi
kaget kamu bang...kedisik an....hehehehe....
2023-11-02
0