Di dalam kamarnya, Zee terus mondar-mandir sambil menggigit kukunya guna menetralisir panik yang kini melanda hatinya.
Tok, tok, tok!
Ketukan pintu membuat jantung Zee seketika berdegup dengan kencang.
"Tenang, Zee. Kamu hanya perlu membuka pintu, setelah itu baru pikirkan rencana," gumamnya berusaha menenangkan diri.
Begitu pintu Zee buka, Gill langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Pria bertubuh kekar itu melangkah dengan cepat, kemudian membalikkan badan, menatap Zee dengan mata elangnya yang siap menerkam mangsa.
"Mana anakku?" tanya Gill to the point. Zee terdiam seribu bahasa. Otaknya reflek menyusun rangkaian alasan, tapi sayang tak bisa ia katakan lantaran lidah yang tiba-tiba terasa kelu, hingga satu kalimat pun tak berhasil tembus dari bibir sensualnya.
Tak ingin semuanya terbongkar begitu saja, Zee pun menghela napas kasar, berusaha menyadarkan diri lalu berkata, "A-aku tidak mengerti apa maksudmu, Gill. Anak? CK! Jangan mentang-mentang kita pernah seranjang, lantas kamu pikir aku hamil anakmu? Apa kamu pikir semudah itu?"
"Jelaskan atau aku cari tahu sendiri!" ancam Gill.
"Silakan! Silakan cari tahu sampai ketemu! Tapi sebelum itu dengarkan akui baik-baik, kalau pun saat itu aku mengandung anakmu, aku pastikan untuk menggugurkannya!" tegas Zee berusaha menutupi perasaan takut. Melihat percikan api amarah di wajah Gill, Zee langsung melarikan diri. Kamar Dison sang suami menjadi tempat untuknya berlindung sementara waktu.
***
Demi mencari bukti bahwa Zee pernah melahirkan, Gill diam-diam menjual mobil sportnya miliknya. Dengan uang yang ia peroleh, Gill menyewa tim khusus untuk membantunya memeriksa di setiap rumah sakit yang ada di kota.
"Bagaimana?"
"Semua rumah sakit maupun puskesmas sudah kami periksa, tapi tidak menemukan hasil. Sekarang kami dalam perjalanan menuju rumah sakit terakhir yaitu rumah sakit sentral," jelas orang yang Gill sewa di seberang sana.
"Tidak perlu karena sekarang aku sudah berada di rumah sakit sentral, kalian semua kembalilah ke markas. Ingat, jangan sampai papaku tahu."
Usai mengakhiri panggilan, Gill langsung melangkah cepat memasuki halaman rumah sakit. Langkahnya terhenti ketika sudah berada di bagian transaksi.
"Ada yang bisa dibantu, tuan?" tanya sang perawat dengan sopan dan juga ramah.
"Berikan padaku dokumen transaksi pasien atas nama Azella Belva," pinta Gill sembari menyerahkan sebuah amplop tebal.
Perawat cantik itu menerima amplop yang Gill berikan, senyuman kecil tersemat di bibirnya setelah membuka dan memeriksa isi di dalamnya. Tanpa berkata apa pun, ia langsung mengutak-atik komputernya lalu berkata, "Pasien atas nama Azella Belva pernah dirawat pada enam tahun lalu dan juga pada lima tahun lalu."
Gill tersenyum miring mendengar penjelasan sang perawat, kali ini Zee tak bisa lagi lari darinya. Bagaimana pun caranya, ia pasti akan bertemu dengan buah hatinya. "Riwayatnya apa? Sakit atau—"
"Melahirkan, tuan." potong sang perawat.
***
"Sudah larut malam, Zee. Pergi dan istirahatlah di kamarmu," usir Dison seperti biasa. Setahun lebih menjadi pasangan suami istri, tapi keduanya tak pernah sekalipun tidur sekamar apalagi seranjang.
Zee yang semula menundukkan wajah, seketika mengangkat kembali wajahnya.
"Selama menikah, aku tidak pernah tidur di kamarmu. Kumohon, malam ini saja, izinkan aku untuk tidur bersamamu, bolehkah?" dengan tatapan mata sayu Zee berkata manja. Bukan apa-apa, tapi itu terpaksa Zee lakukan untuk menghindari Gill sementara waktu, sampai ia menemukan sebuah alasan.
"Kamu yakin?" tanya Dison, Zee langsung menganggukkan kepala dengan cepat. Dison pun beringsut menggeser tubuh, memberi ruang agar sang istri dapat berbaring di sebelahnya.
Keesokan harinya, Zee bangun pagi-pagi sekali. Saat membuka kedua mata, Dison sang suami sudah tak lagi ada di sebelahnya. "Ke mana dia? Tidak mungkin tidur di kamar lain, kan?" gumam Zee bertanya-tanya.
"Kau sudah bangun?" tanya sosok pria yang masih tampak tegap di usia yang sudah tak lagi muda. Dison yang hanya mengenakan handuk membuat Zee mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Iya tuan, saya baru saja bangun," balas Zee dengan suara bergetar.
"Kembalilah ke kamarmu, kamu harus siap-siap berangkat ke hotel, kan?" Dison melangkah menuju walk in closet.
"Tuan tunggu!" tahan Zee.
Dison menghentikan langkahnya, "Ada apa?"
"Saya boleh menggunakan kamar mandi?" izin Zee dan Dison pun membolehkan.
Pagi itu, Zee mandi dan mengenakan pakaian di kamar Dison. Demi menghindari anak tirinya, Zee rela mengenakan pakaian Dison.
"Sudah?"
"Sudah, tuan," jawab Zee yang telah siap dengan setelan jas formal milik Dison yang beruntung pas di tubuhnya.
"Kita sarapan sekarang, sepertinya Gill sudah menunggu," ajaknya dan Zee membantu Dison berjalan perlahan hingga tiba di ruang makan. Benar saja, saat tiba di ruang makan, Gill sudah duduk manis di sana sambil menikmati sarapannya.
"Pagi Pa, pagi, Ma." sambut Gill tersenyum penuh arti, tapi senyuman itu lenyap seketika kala melihat Zee yang mengenakan pakaian ayahnya.
"Pagi, nak," balas Dison duduk di kursi dibantu oleh Zee.
"Mama Zee, berikan kunci mobilmu padaku karena sepertinya ada sedikit masalah dan harus dibawa ke bengkel. Biar aku saja yang serahkan kunci mobilnya pada boddyguard agar mobilnya segera dibawa ke bengkel," pinta Gill mengulurkan tangannya.
Zee mematung di tempat, ia tahu itu adalah ulah Gill. Dan Zee juga tahu pasti Gill sengaja melakukannya. "Berikan saja kunci mobilmu pada Gill, biar Gill yang urus mobilmu. Hari ini kamu berangkat diantar supir saja," titah Dison sambil melahap sarapannya.
"Tidak perlu, pa. Lagian'kan Gill juga akan pergi ke hotel, kita satu tujuan, untuk hari ini biar Gill saja yang antar Mama, papa tidak perlu khawatir," sanggah Gill membuat Zee kesulitan menelan makanannya.
"Oh, baguslah kalau begitu," balas Dison mengizinkan dengan mudah. Gill menyeringai melihat dan mendengar mendengar reaksi sang ayah.
"Mana kunci mobilnya, Ma? Biar sekalian Gill antar dan serahkan pada boddyguard di depan," pinta Gill lagi dan mau tak mau Zee menyerahkan kunci mobil kesayangannya.
Begitu mendapatkan kunci mobil milik Zee, Gill yang telah selesai sarapan langsung bangkit akan pergi. Sebelum pergi ia berkata, "Ma, Gill tunggu di depan, ya." Zee merinding mendengarnya, tapi ia tetap menganggukkan kepala agar tidak dicurigai.
"Sial, matilah aku."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kenzi Kenzi
permainan dimulai
2023-11-02
0
Kenzi Kenzi
yo alah bang,sampe segitunya jual mobil......kere
2023-11-02
0
Sandisalbiah
kasihan banget Gill.. jd anak pengusaha, mau menyelidiki jejak anak nya harus jual mobil dulu..
2023-07-27
1