Bab 12 ~ Menghindar

Di dalam kamarnya, Zee terus mondar-mandir sambil menggigit kukunya guna menetralisir panik yang kini melanda hatinya.

Tok, tok, tok!

Ketukan pintu membuat jantung Zee seketika berdegup dengan kencang.

"Tenang, Zee. Kamu hanya perlu membuka pintu, setelah itu baru pikirkan rencana," gumamnya berusaha menenangkan diri.

Begitu pintu Zee buka, Gill langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Pria bertubuh kekar itu melangkah dengan cepat, kemudian membalikkan badan, menatap Zee dengan mata elangnya yang siap menerkam mangsa.

"Mana anakku?" tanya Gill to the point. Zee terdiam seribu bahasa. Otaknya reflek menyusun rangkaian alasan, tapi sayang tak bisa ia katakan lantaran lidah yang tiba-tiba terasa kelu, hingga satu kalimat pun tak berhasil tembus dari bibir sensualnya.

Tak ingin semuanya terbongkar begitu saja, Zee pun menghela napas kasar, berusaha menyadarkan diri lalu berkata, "A-aku tidak mengerti apa maksudmu, Gill. Anak? CK! Jangan mentang-mentang kita pernah seranjang, lantas kamu pikir aku hamil anakmu? Apa kamu pikir semudah itu?"

"Jelaskan atau aku cari tahu sendiri!" ancam Gill.

"Silakan! Silakan cari tahu sampai ketemu! Tapi sebelum itu dengarkan akui baik-baik, kalau pun saat itu aku mengandung anakmu, aku pastikan untuk menggugurkannya!" tegas Zee berusaha menutupi perasaan takut. Melihat percikan api amarah di wajah Gill, Zee langsung melarikan diri. Kamar Dison sang suami menjadi tempat untuknya berlindung sementara waktu.

***

Demi mencari bukti bahwa Zee pernah melahirkan, Gill diam-diam menjual mobil sportnya miliknya. Dengan uang yang ia peroleh, Gill menyewa tim khusus untuk membantunya memeriksa di setiap rumah sakit yang ada di kota.

"Bagaimana?"

"Semua rumah sakit maupun puskesmas sudah kami periksa, tapi tidak menemukan hasil. Sekarang kami dalam perjalanan menuju rumah sakit terakhir yaitu rumah sakit sentral," jelas orang yang Gill sewa di seberang sana.

"Tidak perlu karena sekarang aku sudah berada di rumah sakit sentral, kalian semua kembalilah ke markas. Ingat, jangan sampai papaku tahu."

Usai mengakhiri panggilan, Gill langsung melangkah cepat memasuki halaman rumah sakit. Langkahnya terhenti ketika sudah berada di bagian transaksi.

"Ada yang bisa dibantu, tuan?" tanya sang perawat dengan sopan dan juga ramah.

"Berikan padaku dokumen transaksi pasien atas nama Azella Belva," pinta Gill sembari menyerahkan sebuah amplop tebal.

Perawat cantik itu menerima amplop yang Gill berikan, senyuman kecil tersemat di bibirnya setelah membuka dan memeriksa isi di dalamnya. Tanpa berkata apa pun, ia langsung mengutak-atik komputernya lalu berkata, "Pasien atas nama Azella Belva pernah dirawat pada enam tahun lalu dan juga pada lima tahun lalu."

Gill tersenyum miring mendengar penjelasan sang perawat, kali ini Zee tak bisa lagi lari darinya. Bagaimana pun caranya, ia pasti akan bertemu dengan buah hatinya. "Riwayatnya apa? Sakit atau—"

"Melahirkan, tuan." potong sang perawat.

***

"Sudah larut malam, Zee. Pergi dan istirahatlah di kamarmu," usir Dison seperti biasa. Setahun lebih menjadi pasangan suami istri, tapi keduanya tak pernah sekalipun tidur sekamar apalagi seranjang.

Zee yang semula menundukkan wajah, seketika mengangkat kembali wajahnya.

"Selama menikah, aku tidak pernah tidur di kamarmu. Kumohon, malam ini saja, izinkan aku untuk tidur bersamamu, bolehkah?" dengan tatapan mata sayu Zee berkata manja. Bukan apa-apa, tapi itu terpaksa Zee lakukan untuk menghindari Gill sementara waktu, sampai ia menemukan sebuah alasan.

"Kamu yakin?" tanya Dison, Zee langsung menganggukkan kepala dengan cepat. Dison pun beringsut menggeser tubuh, memberi ruang agar sang istri dapat berbaring di sebelahnya.

Keesokan harinya, Zee bangun pagi-pagi sekali. Saat membuka kedua mata, Dison sang suami sudah tak lagi ada di sebelahnya. "Ke mana dia? Tidak mungkin tidur di kamar lain, kan?" gumam Zee bertanya-tanya.

"Kau sudah bangun?" tanya sosok pria yang masih tampak tegap di usia yang sudah tak lagi muda. Dison yang hanya mengenakan handuk membuat Zee mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Iya tuan, saya baru saja bangun," balas Zee dengan suara bergetar.

"Kembalilah ke kamarmu, kamu harus siap-siap berangkat ke hotel, kan?" Dison melangkah menuju walk in closet.

"Tuan tunggu!" tahan Zee.

Dison menghentikan langkahnya, "Ada apa?"

"Saya boleh menggunakan kamar mandi?" izin Zee dan Dison pun membolehkan.

Pagi itu, Zee mandi dan mengenakan pakaian di kamar Dison. Demi menghindari anak tirinya, Zee rela mengenakan pakaian Dison.

"Sudah?"

"Sudah, tuan," jawab Zee yang telah siap dengan setelan jas formal milik Dison yang beruntung pas di tubuhnya.

"Kita sarapan sekarang, sepertinya Gill sudah menunggu," ajaknya dan Zee membantu Dison berjalan perlahan hingga tiba di ruang makan. Benar saja, saat tiba di ruang makan, Gill sudah duduk manis di sana sambil menikmati sarapannya.

"Pagi Pa, pagi, Ma." sambut Gill tersenyum penuh arti, tapi senyuman itu lenyap seketika kala melihat Zee yang mengenakan pakaian ayahnya.

"Pagi, nak," balas Dison duduk di kursi dibantu oleh Zee.

"Mama Zee, berikan kunci mobilmu padaku karena sepertinya ada sedikit masalah dan harus dibawa ke bengkel. Biar aku saja yang serahkan kunci mobilnya pada boddyguard agar mobilnya segera dibawa ke bengkel," pinta Gill mengulurkan tangannya.

Zee mematung di tempat, ia tahu itu adalah ulah Gill. Dan Zee juga tahu pasti Gill sengaja melakukannya. "Berikan saja kunci mobilmu pada Gill, biar Gill yang urus mobilmu. Hari ini kamu berangkat diantar supir saja," titah Dison sambil melahap sarapannya.

"Tidak perlu, pa. Lagian'kan Gill juga akan pergi ke hotel, kita satu tujuan, untuk hari ini biar Gill saja yang antar Mama, papa tidak perlu khawatir," sanggah Gill membuat Zee kesulitan menelan makanannya.

"Oh, baguslah kalau begitu," balas Dison mengizinkan dengan mudah. Gill menyeringai melihat dan mendengar mendengar reaksi sang ayah.

"Mana kunci mobilnya, Ma? Biar sekalian Gill antar dan serahkan pada boddyguard di depan," pinta Gill lagi dan mau tak mau Zee menyerahkan kunci mobil kesayangannya.

Begitu mendapatkan kunci mobil milik Zee, Gill yang telah selesai sarapan langsung bangkit akan pergi. Sebelum pergi ia berkata, "Ma, Gill tunggu di depan, ya." Zee merinding mendengarnya, tapi ia tetap menganggukkan kepala agar tidak dicurigai.

"Sial, matilah aku."

***

Terpopuler

Comments

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

permainan dimulai

2023-11-02

0

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

yo alah bang,sampe segitunya jual mobil......kere

2023-11-02

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

kasihan banget Gill.. jd anak pengusaha, mau menyelidiki jejak anak nya harus jual mobil dulu..

2023-07-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 01 ~ Batu Loncatan
2 Bab 02 ~ Married With CEO Lansia
3 Bab 03 ~ Putra Tiri
4 Bab 04 ~ Ibu Tiriku, Mantan Partner Ranjangku
5 Bab 05 ~ Dasar Mesum!
6 Bab 06 ~ Dasar Wanita Murahan!
7 Bab 07 ~ Warisan
8 Bab 08 ~ Kursi CEO
9 Bab 09 ~ Bellboy Lulusan S3
10 Bab 10 ~ Segera Nikahi Dia!
11 Bab 11 ~ Bekas Jahitan Horizontal
12 Bab 12 ~ Menghindar
13 Bab 13 ~ Pemakaman
14 Bab 14 ~ Kau mencintai papaku?
15 Bab 15 ~ Gill akan menikah setelah papa mati!
16 Bab 16 ~ Aku Sangat Mencintaimu
17 Bab 17 ~ Mau Kamu!
18 Bab 18 ~ Putra Tiri Laknat
19 Bab 19 ~ Ketahuan
20 Bab 20 ~ Merger Verz Group
21 Bab 21 ~ Malaikat Kecil
22 Bab 22 ~ Mengobati Luka
23 Bab 23 ~ Bertemu Axel
24 Bab 24 ~ Balas Budi
25 Bab 25 ~ Om Bintang Lima
26 Bab 26 ~ Om mau jadi papa Vinson?
27 Bab 27 ~ Test DNA
28 Bab 28 ~ Dia Adalah....
29 Bab 29 ~ Mobil Bergoyang
30 Bab 30 ~ Tubuhmu Membuatku Gila!
31 Bab 31 ~ Aku tidak pernah tidur dengan papamu!
32 Bab 32 ~ Aku tak akan mengasihanimu!
33 Bab 33 ~ Kau akan menyesal, Gill!
34 Bab 34 ~ R.I.P Maddison Pharverz
35 Bab 35 ~ Apa kamu akan menikahi ibu tirimu
36 Bab 36 ~ Surat wasiat
37 Bab 37 ~ Kau pasti dalang meninggalnya papaku!
38 Bab 38 ~ Aku akan menikahi Risha!
39 Bab 39 ~ Vinson dalam bahaya....
40 Bab 40 ~ Hasil Test DNA
41 Bab 41 ~ Vinson Putramu
42 Bab 42 ~ Nyawa harus dibayar nyawa!
43 Bab 43 ~ Flashback
44 Bab 44 ~ Kau sudah jadi janda, bagaimana kalau kita menikah?
45 Bab 45 ~ Mengundurkan Diri
46 Bab 46 ~ Kebenaran
47 Bab 47 ~ Terungkap
48 Bab 48 ~ Vinson
49 Bab 49 ~ Pengakuan Risha
50 Bab 50 ~ TAMAT!
51 Duren Dokter (Calvin & Nana)
Episodes

Updated 51 Episodes

1
Bab 01 ~ Batu Loncatan
2
Bab 02 ~ Married With CEO Lansia
3
Bab 03 ~ Putra Tiri
4
Bab 04 ~ Ibu Tiriku, Mantan Partner Ranjangku
5
Bab 05 ~ Dasar Mesum!
6
Bab 06 ~ Dasar Wanita Murahan!
7
Bab 07 ~ Warisan
8
Bab 08 ~ Kursi CEO
9
Bab 09 ~ Bellboy Lulusan S3
10
Bab 10 ~ Segera Nikahi Dia!
11
Bab 11 ~ Bekas Jahitan Horizontal
12
Bab 12 ~ Menghindar
13
Bab 13 ~ Pemakaman
14
Bab 14 ~ Kau mencintai papaku?
15
Bab 15 ~ Gill akan menikah setelah papa mati!
16
Bab 16 ~ Aku Sangat Mencintaimu
17
Bab 17 ~ Mau Kamu!
18
Bab 18 ~ Putra Tiri Laknat
19
Bab 19 ~ Ketahuan
20
Bab 20 ~ Merger Verz Group
21
Bab 21 ~ Malaikat Kecil
22
Bab 22 ~ Mengobati Luka
23
Bab 23 ~ Bertemu Axel
24
Bab 24 ~ Balas Budi
25
Bab 25 ~ Om Bintang Lima
26
Bab 26 ~ Om mau jadi papa Vinson?
27
Bab 27 ~ Test DNA
28
Bab 28 ~ Dia Adalah....
29
Bab 29 ~ Mobil Bergoyang
30
Bab 30 ~ Tubuhmu Membuatku Gila!
31
Bab 31 ~ Aku tidak pernah tidur dengan papamu!
32
Bab 32 ~ Aku tak akan mengasihanimu!
33
Bab 33 ~ Kau akan menyesal, Gill!
34
Bab 34 ~ R.I.P Maddison Pharverz
35
Bab 35 ~ Apa kamu akan menikahi ibu tirimu
36
Bab 36 ~ Surat wasiat
37
Bab 37 ~ Kau pasti dalang meninggalnya papaku!
38
Bab 38 ~ Aku akan menikahi Risha!
39
Bab 39 ~ Vinson dalam bahaya....
40
Bab 40 ~ Hasil Test DNA
41
Bab 41 ~ Vinson Putramu
42
Bab 42 ~ Nyawa harus dibayar nyawa!
43
Bab 43 ~ Flashback
44
Bab 44 ~ Kau sudah jadi janda, bagaimana kalau kita menikah?
45
Bab 45 ~ Mengundurkan Diri
46
Bab 46 ~ Kebenaran
47
Bab 47 ~ Terungkap
48
Bab 48 ~ Vinson
49
Bab 49 ~ Pengakuan Risha
50
Bab 50 ~ TAMAT!
51
Duren Dokter (Calvin & Nana)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!