Bab 19. Mengulang kenangan

Bukan takdirNya yang berat, tetapi hati kita yang kurang lapang dalam menerimanya. Bukan jalan-Nya yang sulit, tetapi kaki kita yang kurang kuat melewatinya. (Ustadzah Halimah Alayadrus)

Tak terasa, waktu berjalan sangat cepat hingga Nara belum sempat menarik napas. Dua bulan berlalu dan hari ini rasanya Nara ingin pergi saja dari dunia karena Nadya mengumumkan tentang kehamilannya.

"Mas? Aku ada hadiah kecil untuk kamu," ucap Nadya ketika sarapan telah selesai.

Kini, Arjuna bersama Nara dan Nadya sudah menempati rumah barunya. Jadi, ketiganya selalu melakukan apapun bersama-sama demi menjalin keakraban.

Hanya saja saat di malam hari, Arjuna tetap harus membuat jadwal seperti dulu. Bedanya, jika dulu Nara dan Nadya memiliki jatah satu minggu, kini menjadi tiga hari saja. Sedangkan satu hari yang luang, Arjuna habiskan bersama Nara dan Nadya bersamaan.

"Hadiah apa?" tanya Arjuna penasaran.

Nara hanya diam menyaksikan hadiah apa yang akan Nadya berikan. Posisi duduknya sekarang memudahkan Nara untuk menatap Nadya dan suaminya bergantian. Nadya duduk di hadapannya dengan berbatasan meja, sedangkan Arjuna berada di ujung meja.

"Buka ini." Nadya mengulurkan benda kecil yang sangat Nara kenali adalah alat tes kehamilan. Arjuna yang belum tahu, pada akhirnya menerima benda tersebut dan melihat dengan ekspresi yang... Bahkan Nara tak mampu menggambarkan ekspresi suaminya kali ini yang sangat-sangat bahagia.

"Kamu hamil, Nad?" tanya Arjuna setengah tak percaya.

"Iya, Mas. Aku hamil. Sudah hampir dua bulan aku tidak kedatangan tamu bulanan," jawab Nadya yang matanya mulai berkaca-kaca.

Lalu adegan saling memeluk satu sama lain terjadi. Nara hanya bisa menatap keduanya dengan tak berdaya. Kebahagiaan tampak terpancar dari keduanya hingga membuat setitik di hati Nara merasakan iri.

"Nanti siang kita harus periksa ke dokter agar lebih jelas ya," ucap Arjuna penuh perhatian, melupakan Nara yang sejak tadi termangu memandangi keduanya.

Memangnya apa yang Nara harapkan? Arjuna akan membagi rasa bahagianya? Nyeri sekali dada Nara saat ini bila mengingat hal itu. "Aku pergi dulu ya, Mas," pamit Nara tanpa mau mendengar jawaban dari Arjuna. Dia sudah ada janji dengan Dissa untuk mengunjungi apartemen temannya itu.

Beruntung, Nara sudah membawa tas selempangnya bersamaan dengan keluar dari kamar. Jadi, dia tidak perlu naik ke lantai dua hanya untuk mengambil tas dan ponselnya.

Setelah berada di garasi, Nara seketika kesal karena pak Satpam yang berjaga belum datang untuk membuka pintu garasi. Dengan begitu, Nara harus kembali ke dalam dan mengambil kunci.

Namun ketika kakinya akan melangkah, dia melihat Arjuna sedang berdiri di ambang pintu yang menghubungkan garasi dengan ruang tengah. Tatapan Arjuna begitu dalam hingga membuat Nara tak sanggup menatapnya.

"Pak Tono tidak datang hari ini. Kamu mau pergi kemana? Biar Mas yang antar ya?" tawar Arjuna pada akhirnya membuka suara.

Nara melengos begitu saja. Dia tidak ingin luluh hanya karena suara lembut suaminya. "Tidak perlu. Aku berencana pulang malam. Jadi, harus bawa motor sendiri," ucapnya lalu ingin melewati Arjuna yang masih berada di ambang pintu.

Namun, Arjuna mencegat dengan geser ke kiri dan ke kanan, mengikuti Nara menggeser kakinya. Suaminya itu tidak membiarkan ada celah sedikitpun untuk Nara lewat.

"Mas! Aku mau ambil kunci!" kesal Nara frustasi.

"Kuncinya sudah ada padaku. Kamu marah? Jika iya, Mas minta maaf," tanya Arjuna yang membuat Nara seketika ingin mencakar wajah tampan suaminya.

Dengkusan napas kasar pun terdengar dari Nara. "Kamu masih tanya aku marah atau tidak?"

Arjuna justru terkekeh geli. "Kelihatan kok. Nih, wajahnya jutek begini," ucapnya tanpa beban lalu mencolek hidung Nara yang segera ditepis oleh sang Empunya.

"Apaan sih," kesal Nara lalu segera menjauh dan duduk di atas motornya. Matanya enggan menatap Arjuna yang kini sedang berkacak pinggang mengamati dirinya.

"Biar Mas yang antar ya? Sekalian Mas buka pintu garasinya," tawar Arjuna tak mau menyerah.

"Nggak perlu, Mas. Aku bisa sendiri," kesal Nara geram sendiri. Gigi-giginya sampai bergemeletuk karena suaminya itu bertingkah menyebalkan.

"Tapi Mas tidak akan membuat kamu melakukan apa-apa sendiri. Biar Mas yang antar, titik."

Setelah itu, Arjuna berjalan pelan mendekati Nara, membuat Nara mengernyitkan keningnya bingung. "Kenapa?" tanya Nara ketika suaminya hanya terdiam dengan mata yang mengunci pandangan Nara.

Namun sedetik kemudian, Nara paham karena Arjuna tiba-tiba mencabut kunci motornya. "Mas! Jahat!" pekik Nara kesal se kesal-kesalnya.

"Kenapa sih? Mas cuma mau antar kamu. Atau sebenarnya, kamu ingin bertemu orang lain? Bukan Dissa?" Sengaja Arjuna berucap demikian untuk meluluhkan kerasnya hati Nara.

"Ya sudah. Mas saja yang antar kalau masih belum percaya," jawab Nara pada akhirnya mengalah. Arjuna pun tersenyum puas dan masuk ke ruang tengah sebentar untuk berpamitan pada Nadya yang saat ini sedang jatahnya bersama.

Nara pikir, suaminya akan mengantar menggunakan mobil. Ternyata, suaminya itu memilih motor sebagai alat kendaraan menuju apartemen Dissa. Arjuna beralasan jika suaminya itu ingin mengulang kenangan di masa lalu ketika awal-awal pernikahan.

"Nara?" panggil Arjuna ketika berhenti di traffic light.

"Kenapa?" jawab Nara ketus.

"Peluk, Mas dong. Romantis sedikit tidak masalah bukan?" goda Arjuna yang langsung mendapat pukulan di pundaknya.

Tawa renyah pun terdengar membuat Nara ikut terkekeh. Suaminya itu memang pandai membuat perasaanya menjadi lebih baik. Pada akhirnya, Nara mengulurkan tangan ke depan untuk bisa memeluk suaminya.

Kepalanya disandarkan ke punggung Arjuna dan Nara memejamkan mata. Rasanya begitu nyaman bisa memeluk suaminya seperti ini.

Motor kembali melaju membelah ruas jalan yang belum terlalu macet. Sehingga, Arjuna dengan mudah sampai di sebuah tower apartemen. "Yah. Kok cepat sekali sampainya," keluh Arjuna ketika motor telah berhenti di area parkir.

Nara terkekeh. "Kalau aku mau ajak Mas minum kopi di kafe itu, Nadya marah tidak ya karena jatahnya terpotong."

"Mas rasa tidak," jawab Arjuna cepat.

Nara langsung menyemburkan tawa. "Tidak boleh! Aku hanya bercanda. Sudah. Mas harus pulang. Nadya kan sedang berbadan dua," ucap Nara mengusir halus.

"Cium dulu. Baru Mas akan pulang," pinta Arjuna layaknya anak kecil yang meminta dibelikan sebuah mainan.

Nara memutar bola matanya malas. Namun, dia tetap mencium pipi Arjuna sekilas. Setelah itu, Nara lari begitu saja, meninggalkan Arjuna yang masih tersenyum berbunga-bunga.

"Nara ... Nara." Arjuna bergumam sambil menggelengkan kepalanya pelan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Terima kasih atas setiap dukungan yang kalian berikan selama ini🥰...

...jangan berhenti kasih like, komen, vote, saja hadiah semampu kalian ya😘...

...mampir juga kesini yuk 👇👇...

Terpopuler

Comments

Ony Syahroni

Ony Syahroni

aku gak suka thor poligami menyusahkan wanita, enak aja jd laki2, menghancurkan sepotong daging yg to bernama hati, mending pisah dan cari laki2 ygbetul2 mencintai kita seutihnya

2023-07-24

0

Yunda Aswin

Yunda Aswin

alur ceritanya bagus kak,

2023-07-09

0

Muliahati Ziliwu

Muliahati Ziliwu

Wanita rendah banget mau digilir satu rumah haduh ngomongnya cinta tp tdr dgn wanita lain hina banget deh... mending pisah

2023-05-31

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pernikahan kedua
2 Bab 2. Dzolim?
3 Bab 3. Mas rindu, Ra.
4 Bab 4. Nara!
5 Bab 5. Overthinking
6 Bab 6. Masih cinta
7 Bab 7. Ibadah terlama
8 Bab 8. Perdebatan
9 Bab 9. Antara adil dan tidak
10 Bab 10. Rencana Arjuna
11 Bab 11. Tiba waktunya bersama
12 Bab 12. Saling menginginkan
13 Bab 13. Terjadi lagi
14 Bab 14. Membeli rumah baru
15 Bab 15. Pengusiran
16 Bab 16. Ayah!
17 Bab 17. Keyakinan Nara
18 Bab 18. Tak tergapai
19 Bab 19. Mengulang kenangan
20 Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21 Bab 21. Upnormal
22 Bab 22. Interview
23 Bab 23. Bidadari tak bersayap
24 Bab 24. Perempuan?
25 Bab 25. Pulang?
26 Bab 26. Perkara Dissa
27 Bab 27. Bertukar cerita
28 Bab 28. Beta?
29 Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30 Bab 30. Trouble maker
31 Bab 31. Apa salahku?
32 Bab 32. Khawatir?
33 Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34 Bab 34. Akhirnya terjadi
35 Bab 35. Kemarahan Nara
36 Bab 36. Episode terbaik
37 Bab 37. Membara
38 Bab 38. Balasan
39 Bab 39. Banyak hal baik
40 Bab 40. MAS PRAS
41 Bab 41. Tersentil
42 Bab 42. Lamaran Pras
43 43. Pov Pras-Beta
44 Bab 44. Tersenyum-senyum
45 Bab 45. Kemarahan Nara
46 Bab 46. Pilihan untuk pergi
47 Bab 47. Saran Dissa
48 Bab 48. Perceraian
49 Bab 49. Hantu?
50 Bab 50. Sudah berakhir
51 Bab 51. Jatuhnya talak
52 Bab 52.Mulai terlihat
53 Bab 53. Membahas kasus
54 Bab 54. Bertemu
55 Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56 Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57 Bab 57. Sidang mediasi
58 Bab 58. Terapi lagu
59 Bab 59. Melahirkan?
60 Bab 60. Operasi caesar
61 Bab 61. Sama-sama kehilangan
62 Bab 62. Tiga tahun kemudian
63 Bab 63. Atok!
64 Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65 Bab 65. Dipertemukan kembali
66 Bab 66. Anak Mas cantik
67 Bab 67. Dugaan Arjuna
68 Bab 68. Gerak cepat
69 Bab 69. Kenapa?
70 Bab 70. Saling sayang
71 Bab 71. Mengunjungi Nadya
72 Bab 72. Mungkin lupa
73 Bab 73. NADYA!
74 Bab 74. Turut berduka cita
75 Bab 75. The wedding
76 Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77 Bab 77. Boleh sekarang
78 Bab 78. Suasana pengantin baru
79 Bab 79. Main lagi yuk!
80 Bab 80. Membesarkan Raden
81 Bab 81. Tebakan Beta
82 Bab 82. Positif
83 Bab 83. Bukan sebuah akhir
84 Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85 Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Pernikahan kedua
2
Bab 2. Dzolim?
3
Bab 3. Mas rindu, Ra.
4
Bab 4. Nara!
5
Bab 5. Overthinking
6
Bab 6. Masih cinta
7
Bab 7. Ibadah terlama
8
Bab 8. Perdebatan
9
Bab 9. Antara adil dan tidak
10
Bab 10. Rencana Arjuna
11
Bab 11. Tiba waktunya bersama
12
Bab 12. Saling menginginkan
13
Bab 13. Terjadi lagi
14
Bab 14. Membeli rumah baru
15
Bab 15. Pengusiran
16
Bab 16. Ayah!
17
Bab 17. Keyakinan Nara
18
Bab 18. Tak tergapai
19
Bab 19. Mengulang kenangan
20
Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21
Bab 21. Upnormal
22
Bab 22. Interview
23
Bab 23. Bidadari tak bersayap
24
Bab 24. Perempuan?
25
Bab 25. Pulang?
26
Bab 26. Perkara Dissa
27
Bab 27. Bertukar cerita
28
Bab 28. Beta?
29
Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30
Bab 30. Trouble maker
31
Bab 31. Apa salahku?
32
Bab 32. Khawatir?
33
Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34
Bab 34. Akhirnya terjadi
35
Bab 35. Kemarahan Nara
36
Bab 36. Episode terbaik
37
Bab 37. Membara
38
Bab 38. Balasan
39
Bab 39. Banyak hal baik
40
Bab 40. MAS PRAS
41
Bab 41. Tersentil
42
Bab 42. Lamaran Pras
43
43. Pov Pras-Beta
44
Bab 44. Tersenyum-senyum
45
Bab 45. Kemarahan Nara
46
Bab 46. Pilihan untuk pergi
47
Bab 47. Saran Dissa
48
Bab 48. Perceraian
49
Bab 49. Hantu?
50
Bab 50. Sudah berakhir
51
Bab 51. Jatuhnya talak
52
Bab 52.Mulai terlihat
53
Bab 53. Membahas kasus
54
Bab 54. Bertemu
55
Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56
Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57
Bab 57. Sidang mediasi
58
Bab 58. Terapi lagu
59
Bab 59. Melahirkan?
60
Bab 60. Operasi caesar
61
Bab 61. Sama-sama kehilangan
62
Bab 62. Tiga tahun kemudian
63
Bab 63. Atok!
64
Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65
Bab 65. Dipertemukan kembali
66
Bab 66. Anak Mas cantik
67
Bab 67. Dugaan Arjuna
68
Bab 68. Gerak cepat
69
Bab 69. Kenapa?
70
Bab 70. Saling sayang
71
Bab 71. Mengunjungi Nadya
72
Bab 72. Mungkin lupa
73
Bab 73. NADYA!
74
Bab 74. Turut berduka cita
75
Bab 75. The wedding
76
Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77
Bab 77. Boleh sekarang
78
Bab 78. Suasana pengantin baru
79
Bab 79. Main lagi yuk!
80
Bab 80. Membesarkan Raden
81
Bab 81. Tebakan Beta
82
Bab 82. Positif
83
Bab 83. Bukan sebuah akhir
84
Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85
Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!