Bab 14. Membeli rumah baru

Pada akhirnya, Arjuna sudah memutuskan untuk membeli sebuah rumah di kawasan yang dekat dengan perusahaan Bagaskara. Kebetulan juga, perumahan itu baru saja di bangun di area lapang dan dekat dengan jalan raya. Sangat pas untuk dirinya yang harus bolak-balik ke kantor tanpa mengalami kendala macet parah.

Rumah yang saat ini dihuni bersama mama, adik, dan istri-istrinya berada dekat pemukiman warga. Jadi, kebanyakan jalan yang dilalui merupakan jalan yang lebarnya paling tiga meteran. Terlalu mepet ketika berpapasan dengan mobil lainnya.

Nadya dan Nara ikut serta melihat kondisi rumah di sana. Kebanyakan yang membeli rumah di perumahan tersebut merupakan warga negara asing. Jadi, mereka tidak perlu pusing dengan omongan tetangga.

"Apa ini tidak terlalu besar, Mas?" tanya Nara sambil memandangi rumah berlantai dua yang lumayan luas. Ada lahan untuk anak-anak bermain serta taman kecil di sudut halaman.

"Tidak. Aku harap setelah ini kalian bisa menjalin keakraban yang lebih baik lagi," jawab Arjuna dengan mata yang fokus menelisik sekeliling.

Nara dan Nadya saling lempar pandang. Hanya lima detik kemudian saling membuang muka lagi.

"Masuk yuk! Kita harus melihat ruangan-ruangannya. Kalau kalian cocok, akan Mas bayar langsung," ajak Arjuna memilih berjalan lebih dulu.

Mungkin, ketika dirinya hanya bersama Nara, dengan senang hati akan melingkarkan tangan pada pinggang istrinya, lalu mengajaknya berjalan memasuki rumah. Namun, ada perasaan Nadya yang harus Arjuna jaga.

Tidak mungkin juga Arjuna menggandeng keduanya. Walaupun Nara dan Nadya adalah istrinya, tetap saja Arjuna tidak nyaman bila melakukannya.

Ketiganya pun mengelilingi setiap ruangan untuk melihat bagaimana isi dari rumah mewah nan besar tersebut. Sejauh ini, Nara menyukai rumah tersebut. "Bagus sih, Mas. Aku ikut Mas saja," ucap Nara ketika dimintai pendapat oleh suaminya.

"Kalau kamu, Nad?"

"Aku ikut saja, Mas," jawab Nadya juga menyetujui.

"Oke. Semua sudah sepakat ya?" Pertanyaan tersebut membuat Nara dan Nadya mengangguk bersamaan.

"Aku akan beli kalau begitu. Di sini ada sekitar lima kamar dengan satu kamar untuk asisten rumah tangga. Setelah rumah ini ditinggali, akan ada yang bekerja di sini nantinya untuk membantu tugas kalian."

...----------------...

Hari ini merupakan hari terakhir jatah Nara bersama Arjuna. Mungkin tinggal beberapa jam lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Nara yang baru selesai membaca Al-Quran, menatap suaminya yang masih bertahan di atas sajadah.

"Ada yang ingin kamu bicarakan?" Tiba-tiba saja Arjuna menoleh dan melontarkan pertanyaan tersebut.

Nara membuka matanya lebar. Cukup terkejut karena suaminya itu sadar bila sedang ditatap. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Kalau Mas belum selesai, lanjutkan saja. Aku bisa menunggu," jawab Nara sambil mengulas senyumnya.

Arjuna menggeleng kemudian bangkit dari sajadah yang menjadi alas duduknya tadi. "Mas sudah selesai. Kenapa? Mengapa wajah kamu tampak tidak bersemangat?" tanya Arjuna seakan paham dengan isi hati Nara saat ini.

Nara terkekeh pelan. "Sangat kentara ya, Mas?"

"Kita sudah bersama-sama selama lima tahun. Bagaimana mungkin Mas tidak memahami istri Mas sendiri. Hanya melihat wajah kamu saja, Mas tahu apa yang sedang kamu pikirkan," jelas Arjuna yang segera mendapat pukulan pelan di lengan.

"Gombal!"

"Mas bersungguh-sungguh Nara. Saat kamu sedang sedih, marah, bahkan bahagia sekalipun, Mas tahu dari raut wajah kamu."

Nara mengangguk-anggukan kepala, memutuskan untuk mengakhiri perdebatan. "Besok sore Mas akan berangkat ke Bali. Jika diizinkan, aku ingin main ke rumah ayah. Sudah lama juga aku tidak mengunjungi ayah," ucap Nara lembut.

Arjuna terdiam menatap Nara lekat. "Kenapa harus besok? Kenapa tidak kemarin waktu jatah kamu tiba? Mas jadi tidak bisa mengantarkan kamu ke sana," cecar Arjuna mendadak murung.

Nara terkekeh pelan. "Sengaja, Mas. Agar nanti ketika kamu sedang bulan madu bersama Nadya, aku memiliki kesibukan untuk mengalihkan pikiran. Mas tahu sendiri rumah ayah dekat dengan perkebunan teh. Itu bisa membuat hatiku lebih tenang," jelas Nara mengatakan alasannya.

"Maaf ya, Ra. Mas harus membagi raga Mas dengan istri Mas yang lain. Maaf atas janji yang pernah Mas katakan, nyatanya Mas tidak bisa menjadikan kamu satu-satunya," sesal Arjuna menunduk dalam.

Helaan napas kasar pun terdengar. Sekuat apapun Nara mencoba untuk menjalani kehidupan, nyatanya masih ada sakit setiap masalah Nadya di singgung. Untuk saat ini, Nara belum benar-benar rela berbagi. Namun, entah kapanpun itu pasti ada waktunya Nara terbiasa.

"Aku hanya ingin kamu tetap adil. Boleh tidak sih Mas kalau aku meminta kamu untuk tidak jatuh cinta pada Nadya? Aku ingin egois setidaknya hanya itu yang aku punya. Karena kenyataannya, aku tidak bisa menjadi perempuan yang sempurna. Salah satunya, aku belum memiliki anak," ucap Nara mencoba menekan sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya.

Mulut Arjuna sudah terbuka untuk menjawab pertanyaan Nara. Namun, suara azan berhasil mengalihkan perhatian Arjuna juga Nara.

"Kenapa, Mas? Berat yah kalau tidak jatuh cinta?" cecar Nara lagi dengan mata yang berkaca-kaca. Sangat berbanding terbalik dengan bibirnya yang mengulas senyum kepedihan.

"Bukan begitu, Ra. Aku—"

"Sudahlah, Mas. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Ada tidaknya aku suatu saat nanti, mungkin sudah tidak penting lagi bagi Mas. Sebaiknya kita segera melakukan sholat. Kali ini aku ingin sholat sendirian, Mas," ucap Nara lalu segera beranjak menuju sajadah nya yang masih tergelar sempurna.

Nara juga tidak habis pikir dengan kata hatinya yang tiba-tiba meluap. Dia ketakutan akan hal tersebut. Ketakutan akan kehilangan Arjuna sepenuhnya. Padahal, apapun yang berada di dunia sifatnya hanya sementara.

Nara mencoba untuk tidak mengambil pusing karena setiap merasa memiliki pasti akan merasa kehilangan. Padahal, semua itu hanya titipan.

"Astagfirullah. Ampuni aku Ya Allah," gumam Nara lalu segera mendirikan sholat.

Arjuna masih bertahan dengan duduk di sisi ranjang. Dia mengamati Nara dan mencerna setiap ucapan yang dikatakan istri pertamanya itu. Jatuh cinta? Mungkinkah manusia bisa jatuh cinta kepada dua manusia sekaligus? Rasanya tidak mungkin.

Sampai saat ini, hanya Nara yang mampu menggetarkan jiwanya. Namun, Arjuna tentu mengetahui jika Tuhannya Maha membolak-balikan hati. Dia tidak akan tahu sesuatu di masa depan yang belum terjadi.

Namun satu yang bisa Arjuna pastikan, rasa sayang dan rasa hormatnya pada Nara tidak akan pernah hilang. Dia tetap menjadi wanita nomor satu di hatinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...mampir kesini juga yuk 👇👇...

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

sekarang mungkin iya tapi tidak lama lagi kata kata nara akan terbukti,dan setelah ketauan belangnya nadiya baru deh bak lagi ke nara biasanya juga gitu,,,

2025-02-04

0

Ony Syahroni

Ony Syahroni

kl aku jd nara lebih baik pisah, jd janda gak masalah apalagi cepat dpt kerjan utk menghidupi diri sendiri

2023-09-08

1

Itsaku

Itsaku

nara... nara... aku kasihan sama kamu tau

2023-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pernikahan kedua
2 Bab 2. Dzolim?
3 Bab 3. Mas rindu, Ra.
4 Bab 4. Nara!
5 Bab 5. Overthinking
6 Bab 6. Masih cinta
7 Bab 7. Ibadah terlama
8 Bab 8. Perdebatan
9 Bab 9. Antara adil dan tidak
10 Bab 10. Rencana Arjuna
11 Bab 11. Tiba waktunya bersama
12 Bab 12. Saling menginginkan
13 Bab 13. Terjadi lagi
14 Bab 14. Membeli rumah baru
15 Bab 15. Pengusiran
16 Bab 16. Ayah!
17 Bab 17. Keyakinan Nara
18 Bab 18. Tak tergapai
19 Bab 19. Mengulang kenangan
20 Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21 Bab 21. Upnormal
22 Bab 22. Interview
23 Bab 23. Bidadari tak bersayap
24 Bab 24. Perempuan?
25 Bab 25. Pulang?
26 Bab 26. Perkara Dissa
27 Bab 27. Bertukar cerita
28 Bab 28. Beta?
29 Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30 Bab 30. Trouble maker
31 Bab 31. Apa salahku?
32 Bab 32. Khawatir?
33 Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34 Bab 34. Akhirnya terjadi
35 Bab 35. Kemarahan Nara
36 Bab 36. Episode terbaik
37 Bab 37. Membara
38 Bab 38. Balasan
39 Bab 39. Banyak hal baik
40 Bab 40. MAS PRAS
41 Bab 41. Tersentil
42 Bab 42. Lamaran Pras
43 43. Pov Pras-Beta
44 Bab 44. Tersenyum-senyum
45 Bab 45. Kemarahan Nara
46 Bab 46. Pilihan untuk pergi
47 Bab 47. Saran Dissa
48 Bab 48. Perceraian
49 Bab 49. Hantu?
50 Bab 50. Sudah berakhir
51 Bab 51. Jatuhnya talak
52 Bab 52.Mulai terlihat
53 Bab 53. Membahas kasus
54 Bab 54. Bertemu
55 Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56 Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57 Bab 57. Sidang mediasi
58 Bab 58. Terapi lagu
59 Bab 59. Melahirkan?
60 Bab 60. Operasi caesar
61 Bab 61. Sama-sama kehilangan
62 Bab 62. Tiga tahun kemudian
63 Bab 63. Atok!
64 Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65 Bab 65. Dipertemukan kembali
66 Bab 66. Anak Mas cantik
67 Bab 67. Dugaan Arjuna
68 Bab 68. Gerak cepat
69 Bab 69. Kenapa?
70 Bab 70. Saling sayang
71 Bab 71. Mengunjungi Nadya
72 Bab 72. Mungkin lupa
73 Bab 73. NADYA!
74 Bab 74. Turut berduka cita
75 Bab 75. The wedding
76 Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77 Bab 77. Boleh sekarang
78 Bab 78. Suasana pengantin baru
79 Bab 79. Main lagi yuk!
80 Bab 80. Membesarkan Raden
81 Bab 81. Tebakan Beta
82 Bab 82. Positif
83 Bab 83. Bukan sebuah akhir
84 Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85 Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Pernikahan kedua
2
Bab 2. Dzolim?
3
Bab 3. Mas rindu, Ra.
4
Bab 4. Nara!
5
Bab 5. Overthinking
6
Bab 6. Masih cinta
7
Bab 7. Ibadah terlama
8
Bab 8. Perdebatan
9
Bab 9. Antara adil dan tidak
10
Bab 10. Rencana Arjuna
11
Bab 11. Tiba waktunya bersama
12
Bab 12. Saling menginginkan
13
Bab 13. Terjadi lagi
14
Bab 14. Membeli rumah baru
15
Bab 15. Pengusiran
16
Bab 16. Ayah!
17
Bab 17. Keyakinan Nara
18
Bab 18. Tak tergapai
19
Bab 19. Mengulang kenangan
20
Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21
Bab 21. Upnormal
22
Bab 22. Interview
23
Bab 23. Bidadari tak bersayap
24
Bab 24. Perempuan?
25
Bab 25. Pulang?
26
Bab 26. Perkara Dissa
27
Bab 27. Bertukar cerita
28
Bab 28. Beta?
29
Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30
Bab 30. Trouble maker
31
Bab 31. Apa salahku?
32
Bab 32. Khawatir?
33
Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34
Bab 34. Akhirnya terjadi
35
Bab 35. Kemarahan Nara
36
Bab 36. Episode terbaik
37
Bab 37. Membara
38
Bab 38. Balasan
39
Bab 39. Banyak hal baik
40
Bab 40. MAS PRAS
41
Bab 41. Tersentil
42
Bab 42. Lamaran Pras
43
43. Pov Pras-Beta
44
Bab 44. Tersenyum-senyum
45
Bab 45. Kemarahan Nara
46
Bab 46. Pilihan untuk pergi
47
Bab 47. Saran Dissa
48
Bab 48. Perceraian
49
Bab 49. Hantu?
50
Bab 50. Sudah berakhir
51
Bab 51. Jatuhnya talak
52
Bab 52.Mulai terlihat
53
Bab 53. Membahas kasus
54
Bab 54. Bertemu
55
Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56
Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57
Bab 57. Sidang mediasi
58
Bab 58. Terapi lagu
59
Bab 59. Melahirkan?
60
Bab 60. Operasi caesar
61
Bab 61. Sama-sama kehilangan
62
Bab 62. Tiga tahun kemudian
63
Bab 63. Atok!
64
Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65
Bab 65. Dipertemukan kembali
66
Bab 66. Anak Mas cantik
67
Bab 67. Dugaan Arjuna
68
Bab 68. Gerak cepat
69
Bab 69. Kenapa?
70
Bab 70. Saling sayang
71
Bab 71. Mengunjungi Nadya
72
Bab 72. Mungkin lupa
73
Bab 73. NADYA!
74
Bab 74. Turut berduka cita
75
Bab 75. The wedding
76
Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77
Bab 77. Boleh sekarang
78
Bab 78. Suasana pengantin baru
79
Bab 79. Main lagi yuk!
80
Bab 80. Membesarkan Raden
81
Bab 81. Tebakan Beta
82
Bab 82. Positif
83
Bab 83. Bukan sebuah akhir
84
Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85
Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!