Bab 16. Ayah!

Nara benar-benar pergi dari rumah. Bukan untuk selamanya. Melainkan untuk satu minggu ke depan selama suaminya tak berada di rumah. Sebagai istri yang patuh, dia harus memberitahukan Arjuna.

Walau beberapa hari yang lalu pun, Nara sudah mengatakan ingin ke rumah sang ayah, dia akan kembali mengulang dengan mengirim pesan singkat. Dia tidak ingin menganggu waktu bulan madu Nadya juga suaminya.

Nara tersenyum miris mengingat kenyataan itu. Helaan napas kasar pun terdengar. Dia harus bersiap sore ini agar tiba di kota sang Ayah tidak terlalu malam.

Hanya beberapa helai gamis serta pakaian tidur yang dibawa Nara, lalu memasukkan ke dalam tas ransel.

Setelah itu, baru Nara mencoba mengirim pesan kepada suaminya sebelum benar-benar beranjak dari rumah itu.

Assalamu'alaikum, Mas. Hari ini aku jadi ke rumah Ayah ya.

Hanya itu pesan yang Nara kirimkan. Dia tidak ingin berbicara panjang kali lebar yang akan menganggu waktu sang Suami bersama istri keduanya. Setelah itu, Nara memasukkan ponselnya kembali pada tas selempang yang dibawanya.

"Ma. Aku pamit pergi hari ini," ucap Nara ketika melihat ibu mertuanya sedang duduk santai di sofa. Dia melakukannya karena tetap menghargai Bu Azni sebagai ibu dari Arjuna, juga sebagai tuan rumah.

Bu Azni pun tersenyum. "Pergilah!"

Nara mengangguk. Lagi pula setelah suaminya pulang, semua sepakat untuk pindah ke rumah baru. Jadi, Nara memang tidak akan tinggal di rumah tersebut lagi.

Setibanya di teras, Nara melihat Teh Arum yang baru saja membuang sampah. Raut terkejut berhasil Nara tangkap dari tatap Teh Arum. "Non mau kemana? Kok bawa tas besar?" tanya beliau bingung.

Nara tersenyum manis. "Mau ke rumah Ayah, Teh. Sudah lama aku tidak mengunjungi Ayah. Rindu," jawab Nara berkata jujur. Dia memang sangat merindukan sosok ayahnya itu.

"Tapi benar hanya untuk mengunjungi ayah Non kan? Bukan berniat untuk pergi?" Beliau kembali bertanya lagi, membuat Nara terkekeh geli.

"Kita lihat saja nanti ya, Teh."

Raut wajah Teh Arum tampak iba menatapnya. Beliau memegang lengan Nara dan berkata. "Maaf ya, Non. Tadi sore saya tidak bisa membantu Non ketika menghadapi Ibu. Saya takut, Non," sesal Teh Arum merasa bersalah.

Nara pun menggelengkan kepala dengan bibir yang menyunggingkan senyum. "Santai, Teh. Aku tidak apa-apa kok. Lagi pula, sebentar lagi kami akan pindah ke rumah baru," ucap Nara keceplosan yang langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Teh Arum tak mampu menyembunyikan binar bahagia yang terpancar jelas di matanya. Ketika mulut Teh Arum akan terbuka, Nara lebih dulu menaruh jari telunjuk di depan bibir agar Teh Arum mau menutup mulutnya.

"Jangan katakan pada siapapun dulu ya, Teh. Mama belum tahu soal ini. Nanti, Teteh lihat saja sampai waktu itu tiba," ucap Nara meminta Teh Arum menjaga rahasia.

Pada akhirnya, Teh Arum mengangguk dan ikut menaruh jari telunjuk di depan bibir. "Baiklah. Saya akan tutup mulut dan menunggu hari itu tiba."

"Hati-hati ya, Non. Semoga selamat sampai tujuan."

Setelah salam perpisahan dari Teh Arum, Nara segera menaiki taksi yang dipesan lewat online. Mobil itu pun melaju membelah jalanan.

...----------------...

Nara sampai di depan pagar rumah ayahnya tepat pukul sembilan malam. Lampu di ruang tamu masih menyala, menandakan jika sang pemilik rumah masih terjaga. Ditatap nya rumah yang dulu menjadi tempat masa kecilnya tumbuh.

Tidak ada yang berubah. Mungkin hanya warna dinding yang sudah dicat ulang dengan warna hijau bolu pandan. Terakhir kali Nara mengunjungi sang Ayah, dinding itu masih berwarna kuning.

Tidak ingin berlama-lama karena sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan ayahnya, Nara berjalan menapaki bebatuan andesit yang disusun sepanjang pagar masuk sampai teras.

Tanaman yang tumbuh di halaman rumah menjadikan suasana malam itu begitu menenangkan hati Nara. "Assalamu'alaikum," ucap Nara langsung membuka pintu yang beruntungnya belum terkunci.

Nara terbiasa langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Ayahnya selalu berkata jika rumah itu merupakan rumahnya juga. "Ayah? Ayah di rumah kan?" ucap Nara lagi ketika tak menemukan sang Ayah di ruang tamu maupun di ruang tengah.

Karena rumah itu hanya ada satu lantai, kemungkinan besar ayahnya sudah ada di kamar. Namun, ketika langkah Nara hampir dekat dengan kamar, pintunya terbuka sehingga Nara bisa melihat dengan jelas isi di kamar ayahnya.

"Dimana Ayah? Kok tidak ada. Ayah?" panggil Nara lagi.

"Apa di taman belakang ya?" tebak Nara lalu segera memutar langkah. Benar saja, ayahnya sedang duduk termenung di kursi rotan. Di depannya terdapat meja bundar yang di atasnya digunakan untuk meletakkan gelas kesukaan sang Ayah. Bahkan, asap dari minuman hangat itu masih mengepul.

Mata Nara berkaca-kaca menyaksikan sang Ayah yang sedang termenung sendirian. Bukan Nara tidak ingin ayahnya mencari pendamping hidup lagi. Hanya saja, ayahnya itu selalu menolak jika Nara meminta sang Ayah menikah lagi.

Beliau selalu berkata. "Ayah tidak ingin menikah lagi. Hidup Ayah tidak pernah sepi karena selalu bertemu orang-orang di perkebunan. Kamu tidak perlu khawatir."

Dan kini, Nara menyaksikannya sendiri sang Ayah yang tampak kesepian. Nara memahami jika sang Ayah sangatlah mencintai sang Ibu yang sudah berpulang lebih dulu.

"Assalamu'alaikum, Ayah," ucap Nara lembut tidak ingin mengagetkan sang Ayah karena kedatangannya yang tiba-tiba.

Benar saja. Ayahnya itu langsung menoleh cepat. Raut wajahnya tampak terkejut yang kemudian berganti dengan senyum simpul hingga membuat lipatan di bawah mata akibat sudah termakan usia.

Lipatan itu semakin bertambah hingga membuat Nara tak kuasa menahan tangis. Ayahnya itu menjalani hari-harinya dengan kesendirian.

"Waalaikumsalam. Loh, kok nangis. Kenapa, Ra? Datang-datang malah langsung nangis," ucap Pak Baharudin heran.

Nara langsung memeluk sang Ayah yang sudah hampir dua bulan tak pernah dia kunjungi. "Nara rindu Ayah. Itu sebabnya Nara menangis ketika sudah bisa bertemu. Nara bahagia," jawab Nara tidak sepenuhnya berbohong.

Pak Bahar terkekeh lalu mengusap-usap kepala sang Putri yang tertutup jilbab pashmina. "Kamu datang sendirian? Malam-malam begini?" tanya beliau cemas.

Nara mengangguk. "Tidak masalah, Ayah. Nara berani kok. Mas Arjuna kan sedang ke Bali," jawab Nara tidak ingin menutupi apapun.

Ayahnya memang sudah mengetahui jika dirinya telah dimadu. Arjuna yang meminta izin langsung untuk menikah lagi pada Pak Bahar. Beliau sebagai orang tua, tidak bisa berucap banyak. Beliau hanya berucap, "Jika Nara ridho, Ayah tidak bisa berbuat apapun." Walau dalam hati, beliau sangat kecewa dengan keputusan menantunya.

Hal itulah yang membuat Pak Bahar memilih untuk tidak datang di acara pernikahan kedua menantunya. Selain ingin menghargai perasaan sang Putri, beliau juga masih kecewa.

Pak Bahar mengangguk paham. "Ke Bali juga kan? Arjuna tetap adil padamu kan?" Pertanyaan itu membuat Nara mengangguk. Membenarkan jika suaminya itu telah bersikap adil.

Helaan napas lelah pun terdengar. "Kamu... Ikhlas?" tanya sang Ayah lagi dengan raut wajah yang begitu prihatin.

Tidak ingin membuat sang Ayah khawatir, Nara mengangguk. "Nara harus ikhlas agar Nara bisa bahagia, Yah. Mas Arjuna masih sama seperti dulu. Belum ada yang berubah sedikitpun," jawab Nara berkata jujur. Tidak ingin Melebih-lebihkan. Bahkan Nara juga tidak ingin menjelekkan nama sang Suami.

"Ayah sehat?" tanya Nara mencoba mengalihkan pembicaraan. Pelukannya telah terlepas dan Nara mencium punggung tangan sang Ayah.

"Alhamdulillah sehat. Bagaimana madumu, Nak? Apakah dia—"

"Tidak, Yah. Semua baik-baik saja. Nadya baik kok," kejar Nara sebelum pertanyaan sang Ayah melebar dan merembet kemana-mana.

"Jangan bahas lagi, Yah. Hari ini aku mau bercerita banyak dengan Ayah. Tapi, Nara lapar, Yah. Kita makan dulu ya," ucap Nara yang membuat Pak Bahar akhirnya tergelak.

"Baiklah. Ayah juga belum makan malam. Kita makan bersama kalau begitu." Mendengar jawaban sang Ayah, mata Nara langsung melotot tajam.

"Ayah!" seru Nara tidak suka karena sang Ayah tidak menjaga pola makan dengan benar.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...mampir juga ke sini yuk 👇👇...

...

...

Terpopuler

Comments

Dian Rahmi

Dian Rahmi

mungkin outher hidupnya dimadu makanya bikin cerita seperti ini

2023-06-16

0

Aas Azah

Aas Azah

aku kasih vote untuk semangat mu thor 😊

2023-05-23

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pernikahan kedua
2 Bab 2. Dzolim?
3 Bab 3. Mas rindu, Ra.
4 Bab 4. Nara!
5 Bab 5. Overthinking
6 Bab 6. Masih cinta
7 Bab 7. Ibadah terlama
8 Bab 8. Perdebatan
9 Bab 9. Antara adil dan tidak
10 Bab 10. Rencana Arjuna
11 Bab 11. Tiba waktunya bersama
12 Bab 12. Saling menginginkan
13 Bab 13. Terjadi lagi
14 Bab 14. Membeli rumah baru
15 Bab 15. Pengusiran
16 Bab 16. Ayah!
17 Bab 17. Keyakinan Nara
18 Bab 18. Tak tergapai
19 Bab 19. Mengulang kenangan
20 Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21 Bab 21. Upnormal
22 Bab 22. Interview
23 Bab 23. Bidadari tak bersayap
24 Bab 24. Perempuan?
25 Bab 25. Pulang?
26 Bab 26. Perkara Dissa
27 Bab 27. Bertukar cerita
28 Bab 28. Beta?
29 Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30 Bab 30. Trouble maker
31 Bab 31. Apa salahku?
32 Bab 32. Khawatir?
33 Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34 Bab 34. Akhirnya terjadi
35 Bab 35. Kemarahan Nara
36 Bab 36. Episode terbaik
37 Bab 37. Membara
38 Bab 38. Balasan
39 Bab 39. Banyak hal baik
40 Bab 40. MAS PRAS
41 Bab 41. Tersentil
42 Bab 42. Lamaran Pras
43 43. Pov Pras-Beta
44 Bab 44. Tersenyum-senyum
45 Bab 45. Kemarahan Nara
46 Bab 46. Pilihan untuk pergi
47 Bab 47. Saran Dissa
48 Bab 48. Perceraian
49 Bab 49. Hantu?
50 Bab 50. Sudah berakhir
51 Bab 51. Jatuhnya talak
52 Bab 52.Mulai terlihat
53 Bab 53. Membahas kasus
54 Bab 54. Bertemu
55 Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56 Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57 Bab 57. Sidang mediasi
58 Bab 58. Terapi lagu
59 Bab 59. Melahirkan?
60 Bab 60. Operasi caesar
61 Bab 61. Sama-sama kehilangan
62 Bab 62. Tiga tahun kemudian
63 Bab 63. Atok!
64 Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65 Bab 65. Dipertemukan kembali
66 Bab 66. Anak Mas cantik
67 Bab 67. Dugaan Arjuna
68 Bab 68. Gerak cepat
69 Bab 69. Kenapa?
70 Bab 70. Saling sayang
71 Bab 71. Mengunjungi Nadya
72 Bab 72. Mungkin lupa
73 Bab 73. NADYA!
74 Bab 74. Turut berduka cita
75 Bab 75. The wedding
76 Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77 Bab 77. Boleh sekarang
78 Bab 78. Suasana pengantin baru
79 Bab 79. Main lagi yuk!
80 Bab 80. Membesarkan Raden
81 Bab 81. Tebakan Beta
82 Bab 82. Positif
83 Bab 83. Bukan sebuah akhir
84 Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85 Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Pernikahan kedua
2
Bab 2. Dzolim?
3
Bab 3. Mas rindu, Ra.
4
Bab 4. Nara!
5
Bab 5. Overthinking
6
Bab 6. Masih cinta
7
Bab 7. Ibadah terlama
8
Bab 8. Perdebatan
9
Bab 9. Antara adil dan tidak
10
Bab 10. Rencana Arjuna
11
Bab 11. Tiba waktunya bersama
12
Bab 12. Saling menginginkan
13
Bab 13. Terjadi lagi
14
Bab 14. Membeli rumah baru
15
Bab 15. Pengusiran
16
Bab 16. Ayah!
17
Bab 17. Keyakinan Nara
18
Bab 18. Tak tergapai
19
Bab 19. Mengulang kenangan
20
Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21
Bab 21. Upnormal
22
Bab 22. Interview
23
Bab 23. Bidadari tak bersayap
24
Bab 24. Perempuan?
25
Bab 25. Pulang?
26
Bab 26. Perkara Dissa
27
Bab 27. Bertukar cerita
28
Bab 28. Beta?
29
Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30
Bab 30. Trouble maker
31
Bab 31. Apa salahku?
32
Bab 32. Khawatir?
33
Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34
Bab 34. Akhirnya terjadi
35
Bab 35. Kemarahan Nara
36
Bab 36. Episode terbaik
37
Bab 37. Membara
38
Bab 38. Balasan
39
Bab 39. Banyak hal baik
40
Bab 40. MAS PRAS
41
Bab 41. Tersentil
42
Bab 42. Lamaran Pras
43
43. Pov Pras-Beta
44
Bab 44. Tersenyum-senyum
45
Bab 45. Kemarahan Nara
46
Bab 46. Pilihan untuk pergi
47
Bab 47. Saran Dissa
48
Bab 48. Perceraian
49
Bab 49. Hantu?
50
Bab 50. Sudah berakhir
51
Bab 51. Jatuhnya talak
52
Bab 52.Mulai terlihat
53
Bab 53. Membahas kasus
54
Bab 54. Bertemu
55
Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56
Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57
Bab 57. Sidang mediasi
58
Bab 58. Terapi lagu
59
Bab 59. Melahirkan?
60
Bab 60. Operasi caesar
61
Bab 61. Sama-sama kehilangan
62
Bab 62. Tiga tahun kemudian
63
Bab 63. Atok!
64
Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65
Bab 65. Dipertemukan kembali
66
Bab 66. Anak Mas cantik
67
Bab 67. Dugaan Arjuna
68
Bab 68. Gerak cepat
69
Bab 69. Kenapa?
70
Bab 70. Saling sayang
71
Bab 71. Mengunjungi Nadya
72
Bab 72. Mungkin lupa
73
Bab 73. NADYA!
74
Bab 74. Turut berduka cita
75
Bab 75. The wedding
76
Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77
Bab 77. Boleh sekarang
78
Bab 78. Suasana pengantin baru
79
Bab 79. Main lagi yuk!
80
Bab 80. Membesarkan Raden
81
Bab 81. Tebakan Beta
82
Bab 82. Positif
83
Bab 83. Bukan sebuah akhir
84
Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85
Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!