Bab 17. Keyakinan Nara

Sesaat setelah membaca pesan yang dikirim Nara, jantung Arjuna bagai berdetak tak karuan. Entah mengapa tiba-tiba begitu. Atau mungkin karena Nadya sedang ada di ruangan yang sama bersamanya.

Pesan itu dikirim dua jam yang lalu dan sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul delapan waktu setempat. Baru sehari takkan berjumpa, Arjuna sudah sangat merindukan Nara.

Namun, yang menjadi buah pikiran di kepalanya adalah, telepon sang Mama yang berakhir baru saja. Beliau mengatakan jika Nara pergi dari rumah tanpa berpamitan pada Mama. Benarkah? Rasanya, Arjuna tidak bisa percaya begitu saja dengan ibunya. Arjuna kenal Nara dengan baik dan istrinya itu tidak akan melakukan hal tersebut.

Arjuna:

Waalaikumsalam, Ra. Iya. Semoga hari-hari di sana menyenangkan ya. Mas sudah tidak sabar ingin menemui kamu.

Pada akhirnya, ungkapan rindu itu keluar. Entah Nara akan percaya atau tidak karena saat ini Arjuna sedang bersama istri yang lainnya. Namun, Arjuna tidak peduli sekalipun Nara menganggap ungkapan rindunya hanya bualan semata.

"Mas? Kenapa sejak tadi melamun sih?" tanya Nadya yang sudah beranjak setelah semula duduk di kursi rias untuk mempercantik diri. Ketika Arjuna melihat ke arahnya, istrinya itu sudah mengenakan pakaian dinas yang minim bahan.

Tidak ada yang salah dari hal tersebut. Tetapi, rasanya sangat canggung dan Arjuna belum terbiasa melihat Nadya seperti itu. Jika Nara yang melakukannya, mungkin akan dengan senang hati Arjuna menggauli.

Astaghfirullah! Arjuna menyebut dalam hati ketika yang ada dalam pikirannya justru Nara. Padahal, Nadya lah yang kini sedang berada di hadapan.

"Tidak. Aku hanya masih merasa lelah," jawab Arjuna berbohong.

"Kamu... Kenapa pakai pakaian seperti itu? Kita belum sholat isya loh," ucap Arjuna berusaha tidak menyinggung perasaan Nadya.

Nadya pun menunduk menatap tubuhnya sendiri kemudian mendongak lagi. "Mas tidak suka ya?" tanya Nadya dengan wajah murungnya.

Arjuna menggeleng. "Suka. Hanya saja, ini kan kita belum sholat. Sebaiknya kita sholat dulu baru bisa melakukannya," jawab Arjuna lagi lalu menghela napasnya pelan.

Beruntung, raut kecewa yang ditunjukkan Nadya tidak berlangsung lama. Dia segera melapisi pakaian kurang bahan itu dengan celana panjang training dan kaos. "Aku wudhu dulu ya, Mas," pamit Nadya yang segera menghilang di balik pintu.

Ya. Selama menjadi istrinya, Arjuna selalu memaksa Nadya untuk melakukan sholat. Walau saat ini dia belum bisa membuat istrinya itu berhijab, setidaknya Nadya sudah melaksanakan sholat lima waktunya.

Tidak berapa lama, Nadya kembali dengan wajah yang basah. "Pakai mukenah kamu," titah Arjuna yang segera dilakukan oleh Nadya. Karena Arjuna masih memiliki wudhu, sholat pun segera didirikan secara berjamaah.

...----------------...

Sang Surya kembali menampakkan diri. Membangunkan para penduduk bumi untuk segera meraih mimpi.

Nara menghembuskan napasnya lega setelah menyelesaikan acara memasaknya. Dia tersenyum menatap deretan makanan yang telah tertata di atas meja.

Melihat ayahnya yang masih sibuk mengobrol bersama salah satu orang kepercayaan ayahnya, Nara berniat mengajak orang tersebut untuk sekalian ikut sarapan.

Ya. Ayahnya memiliki usaha perkebunan teh yang jaraknya tidak jauh dari rumah tempat tinggal. Mungkin sekitar dua puluh hektare lahan yang dimiliki ayahnya. Oleh karena itu, beliau tak bisa mengurusnya sendirian.

"Yah? Sarapannya sudah jadi," ucap Nara memberitahu dengan masih berdiri di ambang pintu.

Dua pria yang kini sedang terlibat pembicaraan serius, serempak menoleh ke arahnya. Nara sempat terkejut ketika melihat jika sosok pria yang saat ini bersama ayahnya adalah pria sama yang pernah melamarnya.

"Assalamu'alaikum, Nara. Kamu sedang berada di sini? Datang kapan?" tanya Mas Pras terkejut. Namun, binar bahagia di matanya tak mampu berbohong.

"Waalaikumsalam, Mas. Iya, aku datang kemarin," jawab Nara seperlunya dengan mata yang enggan menatap lawan bicaranya. Tidak seharusnya Nara menatap dengan bebas seseorang yang bukan mahramnya.

"Ayo! Kamu ikut sarapan bersama kami saja," ajak Pak Bahar yang kini telah beranjak dari kursi rotan yang semula menjadi tempat duduknya.

"Loh, tidak apa-apa jika saya ikut sarapan, Pak?" tanya Pras heran.

"Tidak apa-apa. Kebetulan juga Nara masak banyak pagi ini. Ayo masuk," pinta Pak Bahar dan Nara memberikan jalan agar dua pria beda generasi itu masuk lebih dulu.

Setelah masuk, Nara tidak menutup pintu rumah dan justru Membukanya lebar-lebar. Dia hanya takut orang-orang akan membuat asumsinya sendiri hingga menimbulkan fitnah.

"Yah? Nara sarapan sebentar lagi ya? Ada yang harus Nara kerjakan dulu," izin Nara yang sebenarnya hanya alasan. Dia tidak nyaman bila dalam meja makan ada seorang pria yang bukan mahram. Apalagi, Nara mengetahui jika dulu Mas Pras pernah ingin meminangnya. Nara hanya ingin menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Seakan paham dengan isi kepala sang Putri, Pak Bahar mengangguk menyetujui. "Iya. Kerjakanlah dulu," ucap beliau mempersilahkan.

Nara pun berlalu dari sana. Pras yang berada di meja makan, hanya bisa memandangi punggung Nara yang berjalan menjauhinya. Dia cukup merasa jika Nara sedang menghindari dirinya.

Namun, Pras sudah tidak lagi heran. Memang sejak dulu Nara selalu menjaga jarak pada lawan jenis. Itulah mengapa dulu Pras pernah menaruh rasa dan bermimpi jika Nara menjadi isterinya.

Ehem.

Deheman itu membuat Pras terlonjak karena kedapatan sedang menatap Nara. "Jaga pandangan dengan baik. Nara sudah bersuami dan tidak seharusnya kamu menatap Nara dengan pandangan seperti itu." Pak Bahar memperingati tingkah laku Pras.

Pras menundukkan kepala dalam. "Maafkan saya, Pak. Saya memang salah," sesal Pras lalu menghela napas pelan.

Sedangkan Nara yang kini berada dalam kamar, memilih untuk melaksanakan sholat dhuha. Jam tujuh sudah masuk waktu dhuha dan Nara tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut.

Nara beribadah siang malam bukan karena agar masuk surga. Melainkan untuk mengetuk hidayah Tuhan agar dia dimatikan dalam keadaan khusnul khatimah juga dalam keadaan beriman.

Karena sebenarnya, Nara merasa gagal hidup di dunia setelah apa yang menimpa dirinya. Yaitu, tak kunjung memiliki anak hingga di poligami.

Setidaknya ketika Nara mati, dia akan mendapat tempat yang layak di akhirat kelak. Jangan sampai Nara gagal di dunia juga di akhirat. Sungguh, Nara akan menjadi manusia yang rugi.

"Ya Allah. Aku percaya jika saat di dunia aku tak memiliki anak, semoga di surga-Mu kelak, aku bisa menimang sosok malaikat kecil itu." Nara berucap ketika sholatnya telah selesai. Dia tidak akan berhenti berdoa dan memasrahkan hidup kepada Sang Pemilik alam semesta.

Selagi Nara masih hidup, dia akan terus berusaha.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...mampir juga kesini yuk 👇👇👇...

Terpopuler

Comments

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

kapan ada suami yg lbh percaya pd istri n mencari kebenaran, sakit rasanya berhadapan dg mertua yg pandai bersilat lidah. sk menyakiti tp berkating seolah dialah korban nya dan lbh myktkan ktka suami yg berbakti lbh percaya dg bualan ibunya

2025-01-23

0

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

maaf husnul khotimah

2025-01-23

0

Anonymous

Anonymous

Cerita ini bikin inget ama tetangga tempat kerja, istrinya belum dikasih kepercayaan buat hamil sampe akhirnya sisuami nikah lagi ama temen kantornya.
Berjalannya waktu sisuami lebih sering ama istri keduanya, kasian istri pertamanya sendirian dirumah apalagi usianya udh ga muda lagi.

2023-07-10

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pernikahan kedua
2 Bab 2. Dzolim?
3 Bab 3. Mas rindu, Ra.
4 Bab 4. Nara!
5 Bab 5. Overthinking
6 Bab 6. Masih cinta
7 Bab 7. Ibadah terlama
8 Bab 8. Perdebatan
9 Bab 9. Antara adil dan tidak
10 Bab 10. Rencana Arjuna
11 Bab 11. Tiba waktunya bersama
12 Bab 12. Saling menginginkan
13 Bab 13. Terjadi lagi
14 Bab 14. Membeli rumah baru
15 Bab 15. Pengusiran
16 Bab 16. Ayah!
17 Bab 17. Keyakinan Nara
18 Bab 18. Tak tergapai
19 Bab 19. Mengulang kenangan
20 Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21 Bab 21. Upnormal
22 Bab 22. Interview
23 Bab 23. Bidadari tak bersayap
24 Bab 24. Perempuan?
25 Bab 25. Pulang?
26 Bab 26. Perkara Dissa
27 Bab 27. Bertukar cerita
28 Bab 28. Beta?
29 Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30 Bab 30. Trouble maker
31 Bab 31. Apa salahku?
32 Bab 32. Khawatir?
33 Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34 Bab 34. Akhirnya terjadi
35 Bab 35. Kemarahan Nara
36 Bab 36. Episode terbaik
37 Bab 37. Membara
38 Bab 38. Balasan
39 Bab 39. Banyak hal baik
40 Bab 40. MAS PRAS
41 Bab 41. Tersentil
42 Bab 42. Lamaran Pras
43 43. Pov Pras-Beta
44 Bab 44. Tersenyum-senyum
45 Bab 45. Kemarahan Nara
46 Bab 46. Pilihan untuk pergi
47 Bab 47. Saran Dissa
48 Bab 48. Perceraian
49 Bab 49. Hantu?
50 Bab 50. Sudah berakhir
51 Bab 51. Jatuhnya talak
52 Bab 52.Mulai terlihat
53 Bab 53. Membahas kasus
54 Bab 54. Bertemu
55 Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56 Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57 Bab 57. Sidang mediasi
58 Bab 58. Terapi lagu
59 Bab 59. Melahirkan?
60 Bab 60. Operasi caesar
61 Bab 61. Sama-sama kehilangan
62 Bab 62. Tiga tahun kemudian
63 Bab 63. Atok!
64 Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65 Bab 65. Dipertemukan kembali
66 Bab 66. Anak Mas cantik
67 Bab 67. Dugaan Arjuna
68 Bab 68. Gerak cepat
69 Bab 69. Kenapa?
70 Bab 70. Saling sayang
71 Bab 71. Mengunjungi Nadya
72 Bab 72. Mungkin lupa
73 Bab 73. NADYA!
74 Bab 74. Turut berduka cita
75 Bab 75. The wedding
76 Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77 Bab 77. Boleh sekarang
78 Bab 78. Suasana pengantin baru
79 Bab 79. Main lagi yuk!
80 Bab 80. Membesarkan Raden
81 Bab 81. Tebakan Beta
82 Bab 82. Positif
83 Bab 83. Bukan sebuah akhir
84 Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85 Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Pernikahan kedua
2
Bab 2. Dzolim?
3
Bab 3. Mas rindu, Ra.
4
Bab 4. Nara!
5
Bab 5. Overthinking
6
Bab 6. Masih cinta
7
Bab 7. Ibadah terlama
8
Bab 8. Perdebatan
9
Bab 9. Antara adil dan tidak
10
Bab 10. Rencana Arjuna
11
Bab 11. Tiba waktunya bersama
12
Bab 12. Saling menginginkan
13
Bab 13. Terjadi lagi
14
Bab 14. Membeli rumah baru
15
Bab 15. Pengusiran
16
Bab 16. Ayah!
17
Bab 17. Keyakinan Nara
18
Bab 18. Tak tergapai
19
Bab 19. Mengulang kenangan
20
Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21
Bab 21. Upnormal
22
Bab 22. Interview
23
Bab 23. Bidadari tak bersayap
24
Bab 24. Perempuan?
25
Bab 25. Pulang?
26
Bab 26. Perkara Dissa
27
Bab 27. Bertukar cerita
28
Bab 28. Beta?
29
Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30
Bab 30. Trouble maker
31
Bab 31. Apa salahku?
32
Bab 32. Khawatir?
33
Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34
Bab 34. Akhirnya terjadi
35
Bab 35. Kemarahan Nara
36
Bab 36. Episode terbaik
37
Bab 37. Membara
38
Bab 38. Balasan
39
Bab 39. Banyak hal baik
40
Bab 40. MAS PRAS
41
Bab 41. Tersentil
42
Bab 42. Lamaran Pras
43
43. Pov Pras-Beta
44
Bab 44. Tersenyum-senyum
45
Bab 45. Kemarahan Nara
46
Bab 46. Pilihan untuk pergi
47
Bab 47. Saran Dissa
48
Bab 48. Perceraian
49
Bab 49. Hantu?
50
Bab 50. Sudah berakhir
51
Bab 51. Jatuhnya talak
52
Bab 52.Mulai terlihat
53
Bab 53. Membahas kasus
54
Bab 54. Bertemu
55
Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56
Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57
Bab 57. Sidang mediasi
58
Bab 58. Terapi lagu
59
Bab 59. Melahirkan?
60
Bab 60. Operasi caesar
61
Bab 61. Sama-sama kehilangan
62
Bab 62. Tiga tahun kemudian
63
Bab 63. Atok!
64
Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65
Bab 65. Dipertemukan kembali
66
Bab 66. Anak Mas cantik
67
Bab 67. Dugaan Arjuna
68
Bab 68. Gerak cepat
69
Bab 69. Kenapa?
70
Bab 70. Saling sayang
71
Bab 71. Mengunjungi Nadya
72
Bab 72. Mungkin lupa
73
Bab 73. NADYA!
74
Bab 74. Turut berduka cita
75
Bab 75. The wedding
76
Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77
Bab 77. Boleh sekarang
78
Bab 78. Suasana pengantin baru
79
Bab 79. Main lagi yuk!
80
Bab 80. Membesarkan Raden
81
Bab 81. Tebakan Beta
82
Bab 82. Positif
83
Bab 83. Bukan sebuah akhir
84
Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85
Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!