"Kita masuk dulu ya? Ada sesuatu yang harus Mas luruskan pada Mama dan Nadya," pinta Arjuna setelah merenggangkan pelukan.
Menurut. Nara mengangguk dan mengikuti langkah suaminya memasuki ruang makan. Beruntung, Bu Azni, Nadya, dan Antika belum beranjak dari sana.
Seperti biasa, Antika sedang melakukan dramanya, yaitu membesarkan masalah tentang ucapan Arjuna yang mengatakan jika Antika hanya hidup menumpang.
"Mama sudah dengar kan? Berarti, Antika akan pulang saja hari ini," ucap Antika sambil terisak.
"Sudah, sudah. Jangan diambil hati setiap ucapan adikmu itu. Kamu sih, sembarangan bicara," jawab Bu Azni yang bisa Nara dengar dengan jelas.
Arjuna yang berada di samping Nara, hanya menghela napas kasar. "Benar jika Kakak berniat untuk pulang. Lebih baik mengurusi suami kakak daripada mengurusi istriku," sahut Arjuna yang berhasil menarik perhatian semuanya.
"Tega kamu, Jun! Aku di sini karena keberadaan ku tidak dianggap di sana!" jawab Antika marah.
"Berarti, Kakak sedang menuai apa yang Kakak tanam. Itu merupakan hasil dari perbuatan Kakak di masa lalu," jawab Arjuna tak mau kalah.
"Arjuna! Cukup! Jangan menyudutkan Antika terus-menerus. Coba kamu didik istri kamu dengan baik. Pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi." Bu Azni seakan tidak menyerah untuk menjadikan Nara sebagai pihak yang bersalah.
"Kenapa selalu menyalahkan Nara sih, Ma? Selama ini Nara kurang apa? Dia tetap menghormati Mama terlepas dari apa yang Mama dan Antika lakukan," kesal Arjuna mencoba membela sang Istri.
"Oh, dia baru ngadu lagi," tebak Antika sambil menatap Nara tajam.
Apa ini? Kenapa Nara lagi yang disalahkan? Nara memutar bola matanya jengah. Ibu mertua dan kakak iparnya merupakan playing victim.
"Tidak. Justru aku yang mencari tahu sendiri. Nara tidak pernah mengatakan apapun padaku. Jadi, jangan pernah menyalahkan dia," putus Arjuna pada akhirnya.
Antika yang merasa sudah kalah, berdiri lalu berlari menuju kamarnya dengan menghentakkan kaki. Bu Azni yang melihat itu, sampai harus memijat pelipisnya karena pening.
"Ma? Aku mau bicara dengan Mama dan Nadya di sini, saat ada Nara. Ini tentang bulan maduku dan Nadya."
Setelah mendengar ucapan sang Putra, Bu Azni menggiring Arjuna beserta istri-istrinya untuk duduk di ruang tengah.
"Ma? Aku siap pergi berbulan madu dengan Nadya ke Jepang," ucap Arjuna yang seketika membuat mata Nara membelalak tak percaya. Bukankah tadi suaminya itu tidak bersedia pergi karena merasa kurang adil? Nara hanya tersenyum sinis menanggapi.
Sedangkan Bu Azni dan Nadya sudah tampak berbinar mendengar penuturan Arjuna. "Tetapi, harus bersama Nara," lanjut Arjuna yang membuat senyum di bibir Bu Azni luntur seketika.
"Bagaimana bisa? Kamu jangan aneh-aneh deh, Jun. Ini bulan madu kamu dengan Nadya. Dia yang sudah lama, tidak perlu ikut," kesal Bu Azni merasa di bodohi. Mengira jika Arjuna akan dengan mudah menerima tawarannya.
"Aku tidak akan pergi jika tidak bersama Nara. Tetapi jika Mama merubahnya ke Bali, baru aku akan berangkat hanya bersama Nadya." Arjuna berucap sambil menatap Nara dengan wajah sendunya.
Bu Azni menggeram kesal. "Terserah kamu lah! Mama pusing!" pekik beliau frustasi.
Nara hanya bisa menghembuskan napasnya pelan. Sedikit lega dengan keputusan sang Suami yang memegang teguh keadilan.
Sedangkan Nadya, dia kini menatap Nara dengan pandangan tak suka. Menganggap jika bulan madu ke Jepang nya gagal karena Nara.
"Mas? Kamu anggap aku apa sih? Kenapa kamu tidak meminta pendapat dariku?" tanya Nadya menatap Arjuna penuh luka.
Nara yang tidak ingin terjebak di antara pertengkaran sang Suami dengan istri mudanya, memilih pamit undur diri. "Aku pergi dulu, Mas. Aku yakin Mas bisa selesaikan ini sendiri."
Setelah mendapat anggukan dari Arjuna, baru Nara pergi dari sana.
Sepeninggalan Nara, Arjuna kembali bersuara. "Ini adil untuk Nara. Tidak mungkin kita ke Jepang sedangkan dulu Nara hanya ke Bali."
"Hanya adil untuk Mbak Nara kan? Lalu aku bagaimana? Jangan lupa, Mas. Istrimu bukan hanya Mbak Nara," kesal Nadya lalu pergi meninggalkan Arjuna sendirian.
Arjuna menghembuskan napasnya kasar. Memiliki dua istri ternyata serumit ini. Menyatukan dua kepala saja masih sulit. Ini, Arjuna harus menyatukan banyak isi kepala.
Jika sudah seperti ini, Arjuna benar-benar butuh Nara untuk menenangkan pergolakan batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...mampir juga kesini yuk 👇👇...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Juan Sastra
jika terlalu sakit dan sulit bertahan nara,, menyerah adalah pilihan terbaik,
2025-02-04
1
Maria Magdalena Indarti
nah loe rasanya poligami
2025-02-19
0
Andi Fitri
begitu lh klw rmh tangga ada mertua yg sllu mengatur rmh tangga..dan suami pimplan nurut aja apa kata orang tua...
2023-06-30
1