Bab 18. Tak tergapai

...Hai......

...aku mau infokan jika bab ini ketukar sama bab di atas dan sedang dalam proses penghapusan. ...

...jika menemukan kesamaan Bab di atas dengan bab setelah ini, mohon maaf atas ketidaknyamanannya ya🙏🥲...

Siang harinya, Nara ikut ayahnya melihat perkebunan. Sudah lama juga Nara tidak menikmati udara di sekitar tanaman teh. Ketika tiba di pusat pengumpulan daun teh yang telah dipetik, Nara tersenyum setiap berjumpa dengan ibu-ibu yang sedang setor.

"Eh, ada Dik Nara. Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Teh Anggi, orang kepercayaan ayah yang ditugaskan di lokasi. Beliau yang bertugas mencatat barang setelah ditimbang. Sedangkan Pras ditugaskan di lahan teh untuk mengecek kelayakan tanaman.

"Assalamu'alaikum, Teh. Alhamdulillah Nara baik. Teteh sendiri?" jawab Nara ramah sambil menyalami tangan Teh Anggi.

"Waalaikumsalam. Baik juga, Ra. Datang kapan ke sini?" tanya Teh Anggi lagi.

"Datang semalam, Teh."

"Aku tinggal dulu ya, Teh. Mau ikut Ayah," sambung Nara sambil melambaikan tangan karena kini sudah berjalan mengikuti langkah sang Ayah.

Setibanya di ruangan yang bisa disebut kantor, Nara harus kembali bertemu dengan Pras. Pria itu beranjak dari kursi untuk menyambut kedatangan ayahnya. "Siang, Pak. Kondisi tanaman yang sudah tidak layak sedang dalam proses pencabutan," lapor Pras sambil membungkuk sopan.

Pak Bahar mengangguk. "Bagus. Kamu harus sering cek agar panen tetap maksimal. Karena semakin tua tanaman, kualitas produksinya semakin berkurang."

"Untuk yang bagian di obras, apakah sudah semua?" tanya ayahnya lagi hingga membuat Nara bosan.

Dia menarik lengan kemeja yang dikenakan sang Ayah lalu berkata. "Yah? Nara lihat-lihat ke samping dulu ya?" pamitnya sopan.

Setelah mendapat anggukan dari Pak Bahar, Nara memutar langkah keluar dari ruangan tersebut. Dia berjalan menyusuri jalan di antara tanaman teh. Hamparan daun hijau di depannya begitu memanjakan mata. Membuat gemuruh yang sempat hadir di kalbu, menghilang bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa kerudung dan wajahnya.

Nara menarik dan menghembus napas, merasakan udara sekitar yang begitu segar. Namun, suara berat di belakangnya membuat ketenangan Nara terganggu. "Sudah rindu dengan suasana di sini ya, Ra?" Nara menoleh dan mendapati Pras yang berdiri tidak jauh darinya.

Nara menoleh ke segala penjuru dan tidak mendapati siapapun di sana kecuali dirinya dan Pras. "Mas sedang apa di sini?" tanya Nara menundukkan kepala.

"Mau cek di area sana. Kebetulan lihat kamu, jadi ingin berbincang sebentar," jawab Pras apa adanya sambil menunjuk petakan tanaman teh yang baru ditanam.

"Sebaiknya aku pergi dari sini. Takut akan menimbulkan fitnah, Mas. Mari, Mas," pamit Nara lalu melewati Pras begitu saja.

Pras yang mendapat penolakan secara halus itu, hanya bisa pasrah. Nara memang selalu menjaga jarak bukan hanya kepadanya. Melainkan kepada semua lawan jenis yang bukan mahramnya.

Lagi-lagi Pras hanya bisa menatap punggung Nara yang berjalan menjauh. Sejak dulu, Nara memang sangat sulit untuk dimiliki. Padahal desas-desus yang Pras dengar, Nara baru saja di poligami. Alasannya tentu Pras tahu karena Nara tak kunjung memiliki seorang anak.

Seandainya Nara menjadi miliknya, Pras tidak akan membagi cintanya pada siapapun. Terlepas ada anak atau tidak di dalamnya.

Baru saja Nara tiba di depan kantor, ponsel di tasnya bergetar. Setelah ponsel berada di genggaman, dia menatap layar yang menyala tersebut tanpa minat. Namun, Nara tidak memiliki alasan yang logis untuk menolaknya.

"Assalamu'alaikum, Mas," jawab Nara ketika panggilan telepon telah terhubung.

"Waalaikumsalam. Lagi dimana? Kenapa tidak membalas pesanku?" tanya Arjuna di seberang sana. Ya. Arjuna lah yang menelepon Nara.

"Lagi di perkebunan, Mas. Aku tidak pegang ponsel."

"Dengan siapa?" tanya Arjuna lagi yang membuat Nara memutar bola matanya malas.

"Dengan Ayah, Mas. Sudah dulu ya. Sinyalnya sedikit buruk. Wassalamu'alaikum," pamit Nara lalu segera menutup panggilan.

Harusnya Nara tak perlu bersikap demikian. Namun entah mengapa, hati kecilnya sangat lelah menjalani kenyataan. Jika perlu, Nara ingin pergi saja dari masalah yang menghampiri dirinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...mampir juga kesini yuk 👇👇...

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

nah kan capek ,,capek hati capek mikir capek badan capek capek semua,,mending menyendiri dulu nara kaya uztadzah oki,,

2025-02-04

0

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

pdhl g ngapa2in cm dperhatikan cowo yg jelas2 naksir aja mrsa g enak hati sm suami, y bgtlah istri

2025-01-23

0

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

dp capek lb baik sendiri Nara

2025-02-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pernikahan kedua
2 Bab 2. Dzolim?
3 Bab 3. Mas rindu, Ra.
4 Bab 4. Nara!
5 Bab 5. Overthinking
6 Bab 6. Masih cinta
7 Bab 7. Ibadah terlama
8 Bab 8. Perdebatan
9 Bab 9. Antara adil dan tidak
10 Bab 10. Rencana Arjuna
11 Bab 11. Tiba waktunya bersama
12 Bab 12. Saling menginginkan
13 Bab 13. Terjadi lagi
14 Bab 14. Membeli rumah baru
15 Bab 15. Pengusiran
16 Bab 16. Ayah!
17 Bab 17. Keyakinan Nara
18 Bab 18. Tak tergapai
19 Bab 19. Mengulang kenangan
20 Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21 Bab 21. Upnormal
22 Bab 22. Interview
23 Bab 23. Bidadari tak bersayap
24 Bab 24. Perempuan?
25 Bab 25. Pulang?
26 Bab 26. Perkara Dissa
27 Bab 27. Bertukar cerita
28 Bab 28. Beta?
29 Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30 Bab 30. Trouble maker
31 Bab 31. Apa salahku?
32 Bab 32. Khawatir?
33 Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34 Bab 34. Akhirnya terjadi
35 Bab 35. Kemarahan Nara
36 Bab 36. Episode terbaik
37 Bab 37. Membara
38 Bab 38. Balasan
39 Bab 39. Banyak hal baik
40 Bab 40. MAS PRAS
41 Bab 41. Tersentil
42 Bab 42. Lamaran Pras
43 43. Pov Pras-Beta
44 Bab 44. Tersenyum-senyum
45 Bab 45. Kemarahan Nara
46 Bab 46. Pilihan untuk pergi
47 Bab 47. Saran Dissa
48 Bab 48. Perceraian
49 Bab 49. Hantu?
50 Bab 50. Sudah berakhir
51 Bab 51. Jatuhnya talak
52 Bab 52.Mulai terlihat
53 Bab 53. Membahas kasus
54 Bab 54. Bertemu
55 Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56 Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57 Bab 57. Sidang mediasi
58 Bab 58. Terapi lagu
59 Bab 59. Melahirkan?
60 Bab 60. Operasi caesar
61 Bab 61. Sama-sama kehilangan
62 Bab 62. Tiga tahun kemudian
63 Bab 63. Atok!
64 Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65 Bab 65. Dipertemukan kembali
66 Bab 66. Anak Mas cantik
67 Bab 67. Dugaan Arjuna
68 Bab 68. Gerak cepat
69 Bab 69. Kenapa?
70 Bab 70. Saling sayang
71 Bab 71. Mengunjungi Nadya
72 Bab 72. Mungkin lupa
73 Bab 73. NADYA!
74 Bab 74. Turut berduka cita
75 Bab 75. The wedding
76 Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77 Bab 77. Boleh sekarang
78 Bab 78. Suasana pengantin baru
79 Bab 79. Main lagi yuk!
80 Bab 80. Membesarkan Raden
81 Bab 81. Tebakan Beta
82 Bab 82. Positif
83 Bab 83. Bukan sebuah akhir
84 Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85 Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Pernikahan kedua
2
Bab 2. Dzolim?
3
Bab 3. Mas rindu, Ra.
4
Bab 4. Nara!
5
Bab 5. Overthinking
6
Bab 6. Masih cinta
7
Bab 7. Ibadah terlama
8
Bab 8. Perdebatan
9
Bab 9. Antara adil dan tidak
10
Bab 10. Rencana Arjuna
11
Bab 11. Tiba waktunya bersama
12
Bab 12. Saling menginginkan
13
Bab 13. Terjadi lagi
14
Bab 14. Membeli rumah baru
15
Bab 15. Pengusiran
16
Bab 16. Ayah!
17
Bab 17. Keyakinan Nara
18
Bab 18. Tak tergapai
19
Bab 19. Mengulang kenangan
20
Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21
Bab 21. Upnormal
22
Bab 22. Interview
23
Bab 23. Bidadari tak bersayap
24
Bab 24. Perempuan?
25
Bab 25. Pulang?
26
Bab 26. Perkara Dissa
27
Bab 27. Bertukar cerita
28
Bab 28. Beta?
29
Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30
Bab 30. Trouble maker
31
Bab 31. Apa salahku?
32
Bab 32. Khawatir?
33
Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34
Bab 34. Akhirnya terjadi
35
Bab 35. Kemarahan Nara
36
Bab 36. Episode terbaik
37
Bab 37. Membara
38
Bab 38. Balasan
39
Bab 39. Banyak hal baik
40
Bab 40. MAS PRAS
41
Bab 41. Tersentil
42
Bab 42. Lamaran Pras
43
43. Pov Pras-Beta
44
Bab 44. Tersenyum-senyum
45
Bab 45. Kemarahan Nara
46
Bab 46. Pilihan untuk pergi
47
Bab 47. Saran Dissa
48
Bab 48. Perceraian
49
Bab 49. Hantu?
50
Bab 50. Sudah berakhir
51
Bab 51. Jatuhnya talak
52
Bab 52.Mulai terlihat
53
Bab 53. Membahas kasus
54
Bab 54. Bertemu
55
Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56
Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57
Bab 57. Sidang mediasi
58
Bab 58. Terapi lagu
59
Bab 59. Melahirkan?
60
Bab 60. Operasi caesar
61
Bab 61. Sama-sama kehilangan
62
Bab 62. Tiga tahun kemudian
63
Bab 63. Atok!
64
Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65
Bab 65. Dipertemukan kembali
66
Bab 66. Anak Mas cantik
67
Bab 67. Dugaan Arjuna
68
Bab 68. Gerak cepat
69
Bab 69. Kenapa?
70
Bab 70. Saling sayang
71
Bab 71. Mengunjungi Nadya
72
Bab 72. Mungkin lupa
73
Bab 73. NADYA!
74
Bab 74. Turut berduka cita
75
Bab 75. The wedding
76
Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77
Bab 77. Boleh sekarang
78
Bab 78. Suasana pengantin baru
79
Bab 79. Main lagi yuk!
80
Bab 80. Membesarkan Raden
81
Bab 81. Tebakan Beta
82
Bab 82. Positif
83
Bab 83. Bukan sebuah akhir
84
Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85
Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!