Bab 10. Rencana Arjuna

Nara melirik sekilas ke arah pintu ketika benda itu terbuka tanpa diketuk lebih dulu. Nara tentu tahu siapa pelakunya. Suaminya muncul dari sana dengan wajah yang tertekuk lesu. Setelah pintu kembali ditutup, Nara baru mengalihkan seluruh perhatian kepada suaminya.

"Mas kenapa?" tanya Nara yang ingin beranjak dari sofa tetapi segera dicegah oleh Arjuna.

"Tetap duduk disitu, Sayang. Mas sedang butuh menenangkan diri," lirih Arjuna lalu merebahkan kepala di pangkuan Nara.

Nara hanya pasrah ketika kepala Arjuna telah merebah pada pahanya. Di tatapnya wajah Arjuna yang matanya kini sedang terpejam. Raut wajahnya tidak bisa berbohong tentang beratnya hidup yang kini sedang dilaluinya.

"Tidur, Mas?" tanya Nara memastikan ketika Arjuna masih bertahan memejamkan mata. Gelengan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Nara.

"Mas lelah, Ra," jawab Arjuna lalu merubah posisi telentang menjadi miring menghadap perut Nara.

Pada akhirnya, jemari Nara tidak tahan untuk membelai rambut sang Suami. Nara mengelus dan menyisirnya dengan penuh kelembutan hingga membuat Arjuna merasa nyaman.

"Apa yang sedang Mas rasakan? Bagilah padaku," ucap Nara lembut.

Arjuna tersenyum. Matanya terbuka lalu mendongak demi bertemu tatap dengan istri tercintanya. "Mas hanya lelah harus menuruti semua keinginan Mama. Setelah melihat kesakitan di matamu, Mas sadar jika Mas sudah terlalu menurut hingga mengabaikan perasaan kamu. Maafkan Mas, Ra," sesal Arjuna yang membuat hati Nara terenyuh mendengarnya.

"Mas sudah memikirkan untuk ke depannya. Mas tidak mungkin membiarkan kamu dan Nadya tinggal lebih lama lagi di sini," sambung Arjuna lagi hingga membuat Nara paham kemana arah pembicaraan sang Suami.

"Maksud Mas?" tanya Nara hanya memastikan.

"Mas berencana membeli rumah baru. Tidak apa-apa kan jika kamu harus satu rumah dengan Nadya? Mas harap, kamu bisa menjadi temannya juga," pinta Arjuna memohon dengan sangat.

Nara terdiam untuk mencerna ucapan sang Suami. Dia mulai membayangkan seandainya benar Arjuna akan membeli rumah baru. Sudah pasti Nara tidak akan makan hati setiap hari karena ibu mertuanya yang selalu mengunggulkan Nadya. Tetapi, kedatangan ibu mertua ke rumahnya nanti tidak mungkin bisa dicegah.

Nara menghela napas kasar. Mau memiliki rumah sendiri atau bersama mertua, rasanya akan tetap sama dan bagai di neraka. "Aku ikut saja, Mas. Terserah Mas saja," jawab Nara dengan berat hati.

Setelah mengucapkan hal tersebut, Nara bisa merasakan tatapan mata Arjuna yang dalam. Seperti sedang mencari kesungguhan dalam ucapan Nara barusan.

"Kamu tidak setuju," ucap Arjuna menebak.

Nara membuang pandangan asal. "Rasanya akan tetap sama, Mas. Seandainya Mas mengatakan hal tersebut sejak dulu, mungkin aku akan bahagia. Tetapi, sekarang keadaannya sudah berbeda."

Arjuna pun memeluk pinggang Nara untuk menenangkannya. "Maafkan Mas karena sudah membuatmu ada di posisi ini. Sungguh, Mas tidak berniat melakukannya," sesal Arjuna lagi yang sayangnya sudah terlambat.

"Tidak apa-apa, Mas. Semua hanya tinggal menunggu waktu. Waktu dimana kamu mulai jatuh cinta pada Nadya, memiliki anak bersamanya, lalu aku akan menua sendirian karena tidak bisa memiliki anak," ucap Nara tragis.

"Mana bisa seperti itu. Kita akan menua bersama. Jangan katakan hal yang buruk lagi karena itu hanya akan membuat Mas semakin takut," peringat Arjuna terdengar frustasi.

Tawa Nara meledak begitu saja. Seakan ucapan suaminya terdengar bagai sebuah lelucon. "Itu kenyataannya, Mas. Tidak lama lagi, aku pasti akan tersingkir dari hidup—"

Belum sempat Nara menyelesaikan kalimatnya, Arjuna sudah menegakkan tubuh lalu mengikis jarak hingga membuat Nara gugup dibuatnya.

Wajah keduanya kini bagai tak berjarak. Sangat dekat hingga hidung keduanya saling menempel. Nara menelan saliva ketika melihat mata Arjuna menatap bibirnya.

"Mas ...." Nara mencoba menyadarkan suaminya agar tidak melewati batas. Hari ini masih jatah Nadya dan Nara tidak ingin mencurinya.

Nara tersentak ketika tangan Arjuna menarik pinggangnya hingga tubuh keduanya saling berdekatan. "Coba katakan sekali lagi," pinta Arjuna dengan mata yang tak lepas menatap Nara.

"Y-yang m-m-mana?" tanya Nara gugup.

Arjuna tersenyum. "Yang tadi."

Nara menelan saliva. Apalagi kini Arjuna sedang berusaha membuka kerudung yang dikenakannya. Ketika mulut Nara akan terbuka untuk memprotes aksi sang Suami, suara ketukan di pintu pada akhirnya menyelematkan hidup Nara.

Tok tok tok.

Nara menghela napas lega sedangkan Arjuna menggeram kesal. "Siapa sih?" tanyanya kesal.

Nara tertawa dan segera melepaskan diri dari rengkuhan sang Suami. Dia bagai seorang tahanan yang sudah bertahun-tahun mendekam kemudian dibebaskan. Lega rasanya.

"Sebentar!" teriak Nara sambil mengenakan kerudungnya kembali.

Ketika pintu sudah terbuka, ternyata sang Pelaku adalah Nadya. "Ya? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Nara bingung sendiri ketika melihat Nadya hanya diam.

"Mas Arjuna di sini kan, Mbak?" tanya Nadya yang langsung mendapat anggukan dari Nara.

"Mas!" pekik Nara memanggil suaminya agar segera keluar.

Namun, ketika Nara menoleh pada sofa, suaminya itu sudah tidak ada di tempat. "Loh! Kemana Mas Arjuna? Apa di toilet?" tanya Nara bingung sendiri.

"Sebentar, akan aku panggilkan," sambung Nara yang langsung dicegah oleh Nadya dengan mencekal pergelangan tangannya.

"Mbak tidak perlu berpura-pura baik padaku. Harusnya, Mbak tidak boleh menghabiskan waktu bersama Mas Arjuna di saat jatah waktuku tiba. Itu sama saja mencuri jatah orang lain. Aku pikir, Mbak Nara paham agama dan tahu cara bersikap. Ternyata, apa yang dikatakan Mama benar jika Mbak tidak sebaik kelihatannya," ucap Nadya panjang lebar hingga membuat bibir Nara menganga lebar dengan mata yang membelalak.

"Kamu bicara apa sih? Tidak ada niatku untuk mencuri waktu kebersamaan kamu dengan Mas Arjuna. Tidak ada. Justru, Mas Arjuna yang datang sendiri tetapi aku selalu mencoba mengusirnya," jelas Nara tidak ingin Nadya salah paham.

"Mbak pikir aku percaya setelah apa yang baru saja aku dengar?" jawab Nadya menatap Nara nyalang.

"Kamu menguping? Lagi pula, tidak ada yang aku lakukan dengan Mas Arjuna selain duduk bersama. Kalau kamu merasa jadi manusia paling cemburu, itu salah. Di sini harusnya aku yang cemburu karena harus berbagi suami dengan kamu." Nara mencoba menyadarkan Nadya yang datang sebagai istri kedua tetapi merasa menjadi pihak yang tersakiti.

Namun, rasanya percuma menjelaskan sesuatu kepada seseorang yang sudah terlanjur tidak suka kepada kita. Mereka tidak akan pernah percaya.

Hingga ucapan Nadya setelahnya membuat jantung Nara bagai dihujam ribuan belati. Dia ingin menjawab tetapi tidak memiliki kalimat yang pas. Keadaan dirinya memang seburuk itu.

Sambil melipat tangan di depan dada, Nadya pun berkata. "Salah sendiri jadi wanita tidak sempurna dan belum memiliki anak. Wajar lah kalau Mas Arjuna memilih untuk menikah lagi."

Dada Nara bagai ditekan dengan erat hingga terasa sangat sesak. Dia sampai kesulitan untuk bernapas. Bersamaan dengan itu, suara Arjuna terdengar hingga Nara tidak memiliki kesempatan untuk melawan.

"Kenapa menyusulku? Apa marahnya sudah selesai?" tanya Arjuna dan membuat Nadya tersenyum manis. Nara ingin menangis saat itu juga.

Dia tidak rela membagi Arjuna-nya dengan Nadya. Rasanya sakit sekali melihat Arjuna berlalu bersama Nadya meninggalkan dirinya yang masih termangu di tempat.

Apalagi ketika Nadya menoleh dan tersenyum penuh kemenangan. Wanita itu bergelanyut manja di lengan kekar Arjuna. Nara menyentuh letak jantungnya lalu memukul-mukulnya pelan agar sesak yang dirasa cukup mereda.

Nyatanya, hal itu tidak ada gunanya. "Kenapa sakit sekali," racau Nara yang suaranya sudah terdengar parau.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...mampir juga kesini yuk 👇👇...

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

sama saja itu apa bedanya toh tetap satu atap 3 hati,

2025-02-04

0

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

pindah rumah sm madu sama sakitnya Inara

2025-02-19

0

Dian Rahmi

Dian Rahmi

Nara bodoh masih mau bertahan klu tau sakit....jadi sebel sama nara

2023-06-11

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pernikahan kedua
2 Bab 2. Dzolim?
3 Bab 3. Mas rindu, Ra.
4 Bab 4. Nara!
5 Bab 5. Overthinking
6 Bab 6. Masih cinta
7 Bab 7. Ibadah terlama
8 Bab 8. Perdebatan
9 Bab 9. Antara adil dan tidak
10 Bab 10. Rencana Arjuna
11 Bab 11. Tiba waktunya bersama
12 Bab 12. Saling menginginkan
13 Bab 13. Terjadi lagi
14 Bab 14. Membeli rumah baru
15 Bab 15. Pengusiran
16 Bab 16. Ayah!
17 Bab 17. Keyakinan Nara
18 Bab 18. Tak tergapai
19 Bab 19. Mengulang kenangan
20 Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21 Bab 21. Upnormal
22 Bab 22. Interview
23 Bab 23. Bidadari tak bersayap
24 Bab 24. Perempuan?
25 Bab 25. Pulang?
26 Bab 26. Perkara Dissa
27 Bab 27. Bertukar cerita
28 Bab 28. Beta?
29 Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30 Bab 30. Trouble maker
31 Bab 31. Apa salahku?
32 Bab 32. Khawatir?
33 Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34 Bab 34. Akhirnya terjadi
35 Bab 35. Kemarahan Nara
36 Bab 36. Episode terbaik
37 Bab 37. Membara
38 Bab 38. Balasan
39 Bab 39. Banyak hal baik
40 Bab 40. MAS PRAS
41 Bab 41. Tersentil
42 Bab 42. Lamaran Pras
43 43. Pov Pras-Beta
44 Bab 44. Tersenyum-senyum
45 Bab 45. Kemarahan Nara
46 Bab 46. Pilihan untuk pergi
47 Bab 47. Saran Dissa
48 Bab 48. Perceraian
49 Bab 49. Hantu?
50 Bab 50. Sudah berakhir
51 Bab 51. Jatuhnya talak
52 Bab 52.Mulai terlihat
53 Bab 53. Membahas kasus
54 Bab 54. Bertemu
55 Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56 Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57 Bab 57. Sidang mediasi
58 Bab 58. Terapi lagu
59 Bab 59. Melahirkan?
60 Bab 60. Operasi caesar
61 Bab 61. Sama-sama kehilangan
62 Bab 62. Tiga tahun kemudian
63 Bab 63. Atok!
64 Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65 Bab 65. Dipertemukan kembali
66 Bab 66. Anak Mas cantik
67 Bab 67. Dugaan Arjuna
68 Bab 68. Gerak cepat
69 Bab 69. Kenapa?
70 Bab 70. Saling sayang
71 Bab 71. Mengunjungi Nadya
72 Bab 72. Mungkin lupa
73 Bab 73. NADYA!
74 Bab 74. Turut berduka cita
75 Bab 75. The wedding
76 Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77 Bab 77. Boleh sekarang
78 Bab 78. Suasana pengantin baru
79 Bab 79. Main lagi yuk!
80 Bab 80. Membesarkan Raden
81 Bab 81. Tebakan Beta
82 Bab 82. Positif
83 Bab 83. Bukan sebuah akhir
84 Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85 Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Pernikahan kedua
2
Bab 2. Dzolim?
3
Bab 3. Mas rindu, Ra.
4
Bab 4. Nara!
5
Bab 5. Overthinking
6
Bab 6. Masih cinta
7
Bab 7. Ibadah terlama
8
Bab 8. Perdebatan
9
Bab 9. Antara adil dan tidak
10
Bab 10. Rencana Arjuna
11
Bab 11. Tiba waktunya bersama
12
Bab 12. Saling menginginkan
13
Bab 13. Terjadi lagi
14
Bab 14. Membeli rumah baru
15
Bab 15. Pengusiran
16
Bab 16. Ayah!
17
Bab 17. Keyakinan Nara
18
Bab 18. Tak tergapai
19
Bab 19. Mengulang kenangan
20
Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21
Bab 21. Upnormal
22
Bab 22. Interview
23
Bab 23. Bidadari tak bersayap
24
Bab 24. Perempuan?
25
Bab 25. Pulang?
26
Bab 26. Perkara Dissa
27
Bab 27. Bertukar cerita
28
Bab 28. Beta?
29
Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30
Bab 30. Trouble maker
31
Bab 31. Apa salahku?
32
Bab 32. Khawatir?
33
Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34
Bab 34. Akhirnya terjadi
35
Bab 35. Kemarahan Nara
36
Bab 36. Episode terbaik
37
Bab 37. Membara
38
Bab 38. Balasan
39
Bab 39. Banyak hal baik
40
Bab 40. MAS PRAS
41
Bab 41. Tersentil
42
Bab 42. Lamaran Pras
43
43. Pov Pras-Beta
44
Bab 44. Tersenyum-senyum
45
Bab 45. Kemarahan Nara
46
Bab 46. Pilihan untuk pergi
47
Bab 47. Saran Dissa
48
Bab 48. Perceraian
49
Bab 49. Hantu?
50
Bab 50. Sudah berakhir
51
Bab 51. Jatuhnya talak
52
Bab 52.Mulai terlihat
53
Bab 53. Membahas kasus
54
Bab 54. Bertemu
55
Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56
Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57
Bab 57. Sidang mediasi
58
Bab 58. Terapi lagu
59
Bab 59. Melahirkan?
60
Bab 60. Operasi caesar
61
Bab 61. Sama-sama kehilangan
62
Bab 62. Tiga tahun kemudian
63
Bab 63. Atok!
64
Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65
Bab 65. Dipertemukan kembali
66
Bab 66. Anak Mas cantik
67
Bab 67. Dugaan Arjuna
68
Bab 68. Gerak cepat
69
Bab 69. Kenapa?
70
Bab 70. Saling sayang
71
Bab 71. Mengunjungi Nadya
72
Bab 72. Mungkin lupa
73
Bab 73. NADYA!
74
Bab 74. Turut berduka cita
75
Bab 75. The wedding
76
Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77
Bab 77. Boleh sekarang
78
Bab 78. Suasana pengantin baru
79
Bab 79. Main lagi yuk!
80
Bab 80. Membesarkan Raden
81
Bab 81. Tebakan Beta
82
Bab 82. Positif
83
Bab 83. Bukan sebuah akhir
84
Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85
Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!