"Nara ...." Arjuna menggeram kesal setelah mendapat pertanyaan dari sang Istri.
Nara hanya tersenyum getir lalu melenggang meninggalkan Arjuna yang masih bertahan di ambang pintu. Dia memilih untuk mencuci muka lebih dulu. Setelah urusan di kamar mandi selesai, Nara keluar dan mengira jika suaminya sudah pergi.
Namun kenyataannya, Arjuna justru tengah duduk di sisi ranjang dengan kondisi pintu yang sudah tertutup rapat. Nara menghela napas kasar. "Tidak seharusnya kamu berada di sini, Mas. Malam ini adalah malam yang indah untukmu. Kembalilah ke hotel," pinta Nara lembut. Dia berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidurnya.
Saat akan berbalik, tiba-tiba ada yang memeluk Nara dari belakang. Ketika menoleh, Nara bisa melihat wajah suaminya berada dalam jarak yang sangat dekat. "Aku ingin tidur denganmu saja. Boleh kan?" tanya Arjuna merengek.
Nara tertawa. Seakan ucapan Arjuna barusan sangatlah lucu. "Mana bisa, Mas. Kamu itu pengantin baru. Gauli lah kedua istrimu dengan adil. Ini sudah malam. Nadya pasti khawatir dan mencari kamu," jawab Nara sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan sang Suami, dan itu berhasil.
"Apa kamu tidak lagi mencariku?" tanya Arjuna yang membuat langkah Nara terhenti, lalu terpaku.
'Aku selalu mencarimu, Mas. Tetapi, untuk hari-hari berikutnya aku tidak bisa berharap banyak jika kamu akan datang,' gumam Nara dalam hati.
"Mas! Jangan begitu dong. Kamu harus adil sesuai syariat. Satu minggu ini kamu harus bersama Nadya." Nara mencoba bersikap tenang ketika mengucapkannya. Walau yang sebenarnya, jantung Nara bagai diremas-remas oleh tangan yang tak kasat mata. Sakit. Sesak. Seperti ada batu besar yang mengganjal.
"Tapi aku ingin bersama kamu, Sayang," kekeh Arjuna yang memaksa Nara kembali berbalik.
"Iya, tetapi satu minggu lagi," jawab Nara dengan tersenyum manis.
Helaan napas kasar pun terdengar dari bibir Arjuna. "Nara? Maafkan Mas yang mungkin sudah melukai perasaan kamu. Mas tidak memiliki pilihan lain, dan apa yang dikatakan Mama ada benarnya. Bagaswara Group harus memiliki penerus. Mas mohon, jangan ada yang berubah di antara kita. Karena rasa yang Mas miliki, selalu hanya untukmu," ucap Arjuna terdengar tulus.
Seandainya kalimat panjang itu terucap sebelum suaminya menikah lagi, mungkin pipi Nara akan bersemu. Namun, keadaan telah berubah. Mampukah Nara mempertahankan rumah tangga yang ada selir di dalamnya?
"Iya, Mas. Aku akan berusaha. Sekarang, Mas pergilah. Kasihan Nadya," pinta Nara lagi berusaha mengulas senyum agar Arjuna tidak berat hati.
Arjuna mendekat dan menatap wajah Nara lekat. "Kenapa Mas seperti melihat luka di mata kamu? Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya yang membuat mata Nara berkaca-kaca. Bohong jika Nara merasa baik-baik saja setelah apa yang menimpa dirinya.
"Aku akan baik-baik saja, Mas. Mungkin, aku hanya belum terbiasa," jawab Nara berusaha bersikap se netral mungkin.
"Baiklah. Malam ini, Mas ingin meminta izin kamu untuk menggauli Nadya. Mas tidak punya pilihan lain karena dia sudah resmi menjadi istri Mas. Jika Mas mengabaikan kamu, Mas akan dzolim. Tetapi, bila Mas mengabaikan Nadya, Mas juga akan dzolim. Tolong, bimbing Mas agar menjadi imam yang adil," ucap Arjuna seraya terisak dan menekan kedua sudut matanya dengan jari.
Nara tersentuh dengan sikap sang Suami. Arjuna nya masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah walau status Nara sudah menjadi istri tua.
"Iya. Kamu boleh pergi. Jangan menangis karena hari ini merupakan hari bahagiamu, Mas," jawab Nara tersenyum dengan tatapan mata teduh.
Hal itulah yang membuat Arjuna mampu jatuh cinta berkali-kali pada sosok Nara. Istrinya itu begitu penyabar dan menyejukkan. "Terima kasih, Sayang. Maafkan Mas. Mungkin, secara fisik, Mas sudah terbagi. Namun sepotong daging di dalam tubuh Mas, hanya milik kamu seorang."
...----------------...
Arjuna kembali ke hotel dengan perasaan yang lebih lega. Nara telah mengizinkan dirinya untuk menyentuh Nadya. Namun, bukan berarti Arjuna senang. Dia hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang suami kepada istri.
Memang. Hal tersebut terdengar kejam. Namun, rasa cintanya seakan sudah habis hanya untuk Nara. Selebihnya, Arjuna hanya menjalani hidup yang tengah Tuhan suguhkan untuknya.
Ketika membuka pintu kamar, Arjuna langsung disambut oleh Nadya yang ternyata susah berganti pakaian. Arjuna menatap dari kaki hingga kepala Nadya. Jiwa laki-lakinya seperti tertantang. Namun, ketika melihat wajah teduh dan menyejukkan Nara, rasa itu lenyap seketika.
"Assalam'alaikum," sapa Arjuna lalu menutup pintu hotel pelan.
"Waalaikumsalam, Mas," jawab Nadya lalu menyalami tangan Arjuna untuk dikecup punggung tangannya.
"Bagaimana, Mas? Apakah Mbak Nara mengizinkan?" cecar Nadya langsung pada intinya. Arjuna memang berpamitan ketika akan menemui Nara. Bagaimanapun, dia tidak bisa meninggalkan istri yang baru beberapa jam halal untuknya.
Arjuna mengangguk. "Sudah aku katakan jika Nara adalah perempuan luar biasa. Dia cantik dari segala sisi. Jadi aku mohon, jangan pernah membencinya. Jadilah sahabatnya dan jangan memusuhinya," jawabnya yang justru mengeluarkan sebuah nasehat.
Nadya mengangguk dengan sebuah senyuman. "Iya, Mas. Aku akan berusaha untuk menjadi adik sekaligus sahabat Mbak Nara."
"Jadi, apakah hari ini kita akan mengarungi malam yang indah?" tanya Nadya dengan penuh binar di matanya.
Arjuna menatap Nadya sebentar, lalu mengangguk mengiyakan. Sepertinya janjinya di awal, prinsipnya harus adil.
Sedangkan di tempat lain, Nara terduduk di lantai kamar yang terasa lebih dingin dari biasanya. Di tangannya, terdapat sebuah figura berisi foto pernikahan Nara dan Arjuna.
"Se-lamat Ma-ma Az-ni. Mama sudah berhasil meng-hancurkan pernikahan ku dengan Mas Arjuna. Ma-ma ber-hasil," gumam Nara sesenggukan bila mengingat bagaimana ibu mertuanya itu secara terang-terangan mengatakan tidak suka kepada Nara.
"Apa yang Ma-ma i-ngin-kan te-lah terwu-jud."
Air mata Nara sudah tak terbendung layaknya air bah yang sudah lama tertampung. Sakit dan sesak seakan sudah tak berbentuk lagi. Di sini, Nara sedang menangis terluka. Di sana, suaminya sedang merajut rasa bersama istri keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa dukungannya ya. ...
...mampir juga ke karya temanku di bawah ini yuk 👇👇...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Karmin
saya sebagai lelaki juga ikut meneteskan air mata menyimak cerita Inara yg begitu kuat menghadapi ujian dan tekanan yg luar biasa 😭😭😭
2025-01-29
0
Silvi Vicka Carolina
emng serba salah ya ....serba salah ...jadi akh juga mangkel
2025-01-31
0
Maria Magdalena Indarti
kl saya lb baik berpisah. tak sanggup berbagi
2025-02-19
0