Bab 11. Tiba waktunya bersama

Sesampainya di kamar, Arjuna melepas belitan tangan Nadya yang melingkar di lengannya. Arjuna ke kamar mandi hanya untuk mencuci tangan. Sehingga, dia mendengar pembicaraan antara Nara dan Nadya.

Sambil berkacak pinggang, Arjuna menatap Nadya kesal. "Tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu kepada Nara. Bukankah sudah aku katakan jangan memusuhi dia sebagai mana keluargaku melakukannya?"

Mata Nadya terbelalak lebar. Bagaimana Arjuna bisa tahu? "Mas menguping?" tanya Nadya bagai sudah tertangkap basah.

Helaan napas kasar pun terdengar dari Arjuna. "Aku tidak menguping. Hanya kebetulan saja mendengar."

"Mbak Nara yang memulai lebih dulu, Mas. Aku hanya membalas apa yang Mbak Nara lakukan," jawab Nadya mencoba mencari pembelaan diri.

Arjuna menatap Nadya penuh intimidasi. "Yakin? Jika Nara yang memulai lebih dulu? Kamu mau jujur atau bagaimana? Aku mendengar semuanya loh," desaknya ingin Nadya bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah dilakukan.

Nadya terdiam dengan kepala yang menunduk. Nadya akui jika dia yang memulai lebih dulu dengan mencekal lengan Nara. Jika dirinya tidak melakukan hal tersebut, pertengkaran mungkin tidak akan terjadi.

"Duduk dulu," titah Arjuna lalu menggandeng lengan Nara untuk duduk di sisi ranjang.

Sebagai seorang suami, Arjuna berkewajiban mendidik istri dan anak-anaknya kelak. Dia tidak ingin Nara maupun Nadya terjerumus dalam rasa dendam yang hanya berujung menyesatkan.

"Aku hanya cemburu, Mas." Pada akhirnya Nadya mengakui kesalahannya.

"Kamu tahu kan, jika aku sudah mencintai Mas sejak kecil. Tetapi, cinta itu tidak pernah terbalas. Kini, ketika Mas sudah menjadi suamiku, bukankah aku berhak menjaga apa yang seharusnya menjadi hakku?" Nadya mencurahkan apa yang kini mengganjal di hatinya.

"Aku tahu. Tapi tolong, hargai perasaan Nara. Dia sedang dalam masa dipaksa menerima keadaan. Jangan pernah berkata buruk tentang dia dan melukai perasaannya. Sejatinya, dia tidak pernah menjelekkan namamu ketika sedang bersamaku. Dia tidak ingin terlihat baik dengan cara menjelekkan orang lain. Nara tidak seperti itu." Arjuna memohon pengertian kepada Nadya.

Kepala Nadya semakin tertunduk dalam. "Maafkan aku, Mas. Aku salah karena sudah melukai perasaan Mbak Nara," sesal Nadya pada akhirnya.

Arjuna menghembuskan napasnya pelan. "Minta maaflah kepada Nara. Bukan padaku karena Nara lah yang hatinya telah kamu sakiti."

Nadya mengangguk patuh. "Besok aku akan meminta maaf kepada Mbak Nara Mas. Terima kasih karena Mas bersedia menasehati aku," ucap Nadya merasa bahagia karena Arjuna masih peduli terhadap dirinya.

"Sudah kewajiban aku mendidik kamu dan Nara. Tolong, bantu aku untuk menjadi suami yang adil," ucap Arjuna lagi sambil menyentuh jemari Nadya.

Baru diperlakukan seperti itu saja membuat pipi Nadya merona. Harusnya, Nadya tidak perlu meragukan keadilan seorang Arjuna Bagaskara.

"Aku akan membersihkan diri dulu ke kamar mandi ya, Mas," pamit Nadya yang sudah tidak tahan merasakan panas di pipinya. Dia terlalu salah tingkah hanya karena disentuh jemarinya.

Sepeninggalan Nadya, Arjuna mengeluarkan ponsel yang berada di saku celana. Dia mengetikkan sebuah kalimat untuk dikirim pada Nara. Istri cantiknya itu pasti sedang salah paham dan mulai berpikir yang macam-macam.

mengingat hal tersebut, Arjuna menghela napas lelah.

Pagi kembali menjelang. Nara susah terbangun pukul empat untuk ber siap-siap melakukan sholat subuh. Semalam, Nara tidak bisa tidur akibat memikirkan ucapan Nadya serta ditinggal begitu saja oleh Arjuna.

Sakit hati masih Nara rasakan untuk dua orang tersebut.

Sambil menunggu azan berkumandang, Nara berminat untuk mengecek ponsel yang sejak semalam tergeletak bagai tak berguna. Hingga layarnya menyala, Nara langsung melihat pop up pesan yang di kirim oleh suaminya.

Mas Arjunaku:

Jangan salah paham. Mas sudah mendengar pembicaraan di antara kalian. Mas hanya ingin menyelamatkan kamu dari bicara yang hanya akan menyakiti perasaan orang lain.

Jangan kunci pintunya besok pagi. Mas akan sholat subuh berjamaah bersama kamu:-*

Hanya membaca pesan yang dikirim oleh Arjuna, nyatanya mampu membuat kedua sudut bibir Nara tertarik saling berlawanan. Perasaan Nara langsung menghangat.

Masih tenggelam dalam euforia, pintu kamarnya terbuka. Untuk pertama kalinya Nara mensyukuri telah lupa mengunci pintu kamar. Jadi, dia tidak perlu beranjak untuk membuka pintu.

Arjuna muncul dengan muka bantalnya. Mungkin, suaminya itu baru bangun. "Sudah bangun? Mas wudhu dulu ya," pamit Arjuna yang segera mendapat anggukan dari Nara.

Yang membuat Nara bingung, apakah suaminya itu tidak mandi? Apakah semalam Nadya dan suaminya tidak...

Nara segera menggeleng ketika pikiran yang tidak-tidak hinggap di kepala. Suaminya itu tentu tahu tentang syarat sah sholat. Salah satunya adalah suci dari hadas dan najis. Tidak berapa lama, Arjuna muncul dengan wajah yang lebih segar.

"Kita mulai sekarang saja ya? Mumpung azan baru selesai dikumandangkan," ucap Arjuna yang sudah menggelar sajadah tepat satu shaft di depan Nara.

"Iya, Mas. Jangan menunda terlalu lama."

Setelah itu, Nara dan Arjuna kembali menjalankan sholat berjamaah setelah satu minggu tidak melakukannya. Nara bahagia. Sampai tidak terasa ketika sholatnya selesai, pipinya terasa basah karena air mata.

Arjuna yang melihat itu, jelas terkejut. "Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya khawatir yang segera mendapat gelengan kepala dari Nara.

"Aku rindu sholat berjamaah seperti ini. Rasanya sudah lama kita tidak melakukannya. Padahal, baru seminggu saja," racau Nara yang semakin terisak.

Arjuna terkekeh lalu memeluk sang Istri tercinta. "Maafkan Mas, Sayang. Maaf karena tidak bisa selalu bersama kamu."

Arjuna pun melabuhkan kecupan di kening Nara bertubi-tubi. Dia juga sama rindunya dengan Nara. "Mas juga merindukan kamu. Mas ingin satu minggu ini kita lalui bersama-sama dari pagi, siang, sore, hingga malam tiba," ucap Arjuna tergambar jelas kegembiraan di matanya.

Nara mendongak menatap mata suaminya. Tatapan Arjuna masih sama. Menyejukkan dan penuh cinta. "Benar. Aku ingin satu minggu ini dilalui dengan indah," jawab Nara sama antusiasnya.

Waktu berjalan. Sarapan bersama harus kembali terulang. Karena pagi itu Arjuna sudah bersama Nara, maka kali ini Nara dan Arjuna yang akan mendatangi kamar Nadya.

"Nadya! Ayo sarapan bersama," ucap Arjuna setelah membuka pintu kamar milik Nadya.

Tanpa diduga, Nadya baru saja bangun tidur. Rambutnya masih acak-acakan lengkap dengan muka bantalnya. "Jam berapa ini, Mas? Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Nadya yang belum membuka mata sepenuhnya.

"Nadya! Bangun, Nad. Kamu tidak sholat subuh?" tanya Nara yang berhasil membuat mata Nadya terbuka sempurna. Nadya tampak terkejut melihat Nara ada di depan kamarnya.

"Kenapa Mbak Nara ada di sini?" tanyanya heran.

"Bangun, Nad. Sholat subuh dulu walau terlambat," pinta Arjuna yang sudah melenggang masuk demi menarik selimut yang masih menutupi tubuh istri keduanya.

Entah mengapa, Nara tidak lagi marah dengan Nadya, terlepas dari apa yang sudah dilakukan perempuan itu. Nara harus terbiasa menganggap angin lalu setiap kalimat yang hanya akan membuat kondisi mentalnya buruk.

Kita tidak bisa mengontrol seseorang untuk tidak berucap hal yang menyakitkan. Tetapi, kita bisa mengontrol pikiran dan hati kita untuk tidak terpengaruh dengan ucapan yang tidak penting.

"Baik. Aku akan menyusul sebentar lagi," jawab Nadya sambil berusaha menghindari tatapan Nara.

Nara pun menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Nadya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Mampir juga kesini yuk 👇👇...

Terpopuler

Comments

Normila Saza

Normila Saza

aku takut di fase ini😭,,
sampai sekarang aku belum bisa kasih gelar seorang ayah untuk suamiku😭

2025-02-14

0

Syifa Nur Pujaain

Syifa Nur Pujaain

gue pling benci namanya polygami

2023-06-19

1

Dian Rahmi

Dian Rahmi

yang jelas Nara oon mau aja dimadu

2023-06-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pernikahan kedua
2 Bab 2. Dzolim?
3 Bab 3. Mas rindu, Ra.
4 Bab 4. Nara!
5 Bab 5. Overthinking
6 Bab 6. Masih cinta
7 Bab 7. Ibadah terlama
8 Bab 8. Perdebatan
9 Bab 9. Antara adil dan tidak
10 Bab 10. Rencana Arjuna
11 Bab 11. Tiba waktunya bersama
12 Bab 12. Saling menginginkan
13 Bab 13. Terjadi lagi
14 Bab 14. Membeli rumah baru
15 Bab 15. Pengusiran
16 Bab 16. Ayah!
17 Bab 17. Keyakinan Nara
18 Bab 18. Tak tergapai
19 Bab 19. Mengulang kenangan
20 Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21 Bab 21. Upnormal
22 Bab 22. Interview
23 Bab 23. Bidadari tak bersayap
24 Bab 24. Perempuan?
25 Bab 25. Pulang?
26 Bab 26. Perkara Dissa
27 Bab 27. Bertukar cerita
28 Bab 28. Beta?
29 Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30 Bab 30. Trouble maker
31 Bab 31. Apa salahku?
32 Bab 32. Khawatir?
33 Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34 Bab 34. Akhirnya terjadi
35 Bab 35. Kemarahan Nara
36 Bab 36. Episode terbaik
37 Bab 37. Membara
38 Bab 38. Balasan
39 Bab 39. Banyak hal baik
40 Bab 40. MAS PRAS
41 Bab 41. Tersentil
42 Bab 42. Lamaran Pras
43 43. Pov Pras-Beta
44 Bab 44. Tersenyum-senyum
45 Bab 45. Kemarahan Nara
46 Bab 46. Pilihan untuk pergi
47 Bab 47. Saran Dissa
48 Bab 48. Perceraian
49 Bab 49. Hantu?
50 Bab 50. Sudah berakhir
51 Bab 51. Jatuhnya talak
52 Bab 52.Mulai terlihat
53 Bab 53. Membahas kasus
54 Bab 54. Bertemu
55 Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56 Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57 Bab 57. Sidang mediasi
58 Bab 58. Terapi lagu
59 Bab 59. Melahirkan?
60 Bab 60. Operasi caesar
61 Bab 61. Sama-sama kehilangan
62 Bab 62. Tiga tahun kemudian
63 Bab 63. Atok!
64 Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65 Bab 65. Dipertemukan kembali
66 Bab 66. Anak Mas cantik
67 Bab 67. Dugaan Arjuna
68 Bab 68. Gerak cepat
69 Bab 69. Kenapa?
70 Bab 70. Saling sayang
71 Bab 71. Mengunjungi Nadya
72 Bab 72. Mungkin lupa
73 Bab 73. NADYA!
74 Bab 74. Turut berduka cita
75 Bab 75. The wedding
76 Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77 Bab 77. Boleh sekarang
78 Bab 78. Suasana pengantin baru
79 Bab 79. Main lagi yuk!
80 Bab 80. Membesarkan Raden
81 Bab 81. Tebakan Beta
82 Bab 82. Positif
83 Bab 83. Bukan sebuah akhir
84 Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85 Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Pernikahan kedua
2
Bab 2. Dzolim?
3
Bab 3. Mas rindu, Ra.
4
Bab 4. Nara!
5
Bab 5. Overthinking
6
Bab 6. Masih cinta
7
Bab 7. Ibadah terlama
8
Bab 8. Perdebatan
9
Bab 9. Antara adil dan tidak
10
Bab 10. Rencana Arjuna
11
Bab 11. Tiba waktunya bersama
12
Bab 12. Saling menginginkan
13
Bab 13. Terjadi lagi
14
Bab 14. Membeli rumah baru
15
Bab 15. Pengusiran
16
Bab 16. Ayah!
17
Bab 17. Keyakinan Nara
18
Bab 18. Tak tergapai
19
Bab 19. Mengulang kenangan
20
Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21
Bab 21. Upnormal
22
Bab 22. Interview
23
Bab 23. Bidadari tak bersayap
24
Bab 24. Perempuan?
25
Bab 25. Pulang?
26
Bab 26. Perkara Dissa
27
Bab 27. Bertukar cerita
28
Bab 28. Beta?
29
Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30
Bab 30. Trouble maker
31
Bab 31. Apa salahku?
32
Bab 32. Khawatir?
33
Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34
Bab 34. Akhirnya terjadi
35
Bab 35. Kemarahan Nara
36
Bab 36. Episode terbaik
37
Bab 37. Membara
38
Bab 38. Balasan
39
Bab 39. Banyak hal baik
40
Bab 40. MAS PRAS
41
Bab 41. Tersentil
42
Bab 42. Lamaran Pras
43
43. Pov Pras-Beta
44
Bab 44. Tersenyum-senyum
45
Bab 45. Kemarahan Nara
46
Bab 46. Pilihan untuk pergi
47
Bab 47. Saran Dissa
48
Bab 48. Perceraian
49
Bab 49. Hantu?
50
Bab 50. Sudah berakhir
51
Bab 51. Jatuhnya talak
52
Bab 52.Mulai terlihat
53
Bab 53. Membahas kasus
54
Bab 54. Bertemu
55
Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56
Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57
Bab 57. Sidang mediasi
58
Bab 58. Terapi lagu
59
Bab 59. Melahirkan?
60
Bab 60. Operasi caesar
61
Bab 61. Sama-sama kehilangan
62
Bab 62. Tiga tahun kemudian
63
Bab 63. Atok!
64
Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65
Bab 65. Dipertemukan kembali
66
Bab 66. Anak Mas cantik
67
Bab 67. Dugaan Arjuna
68
Bab 68. Gerak cepat
69
Bab 69. Kenapa?
70
Bab 70. Saling sayang
71
Bab 71. Mengunjungi Nadya
72
Bab 72. Mungkin lupa
73
Bab 73. NADYA!
74
Bab 74. Turut berduka cita
75
Bab 75. The wedding
76
Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77
Bab 77. Boleh sekarang
78
Bab 78. Suasana pengantin baru
79
Bab 79. Main lagi yuk!
80
Bab 80. Membesarkan Raden
81
Bab 81. Tebakan Beta
82
Bab 82. Positif
83
Bab 83. Bukan sebuah akhir
84
Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85
Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!