Bab 3. Mas rindu, Ra.

Malam berganti pagi dengan cepat. Nara sudah bangun sejak tadi pagi. Seluruh badannya terasa remuk karena hampir semalaman tidak tidur. Seharusnya, Nara tidak perlu memikirkan sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Seperti membayangkan jika malam tadi suaminya baru saja memadu kekasih dengan istrinya yang lain. Itu justru akan semakin menyakiti perasaan Nara. Namun yang namanya seorang istri, mana mau dimadu dan harus berbagi suami. Nara melakukan semua itu hanya karena terpaksa.

Mungkin, dirinya memang tak bisa menjadi seorang wanita yang sempurna.

Nara menghela napas untuk melonggarkan sesak yang menghimpit dada. Dia memilih keluar dari kamar untuk sarapan. Suasana rumah masih sangat sepi karena ibu mertua dan ipar-iparnya masih berada di hotel.

"Masak apa, Teh?" tanya Nara pada Teh Arum yang kini sedang sibuk mengupas udang.

"Mau masak udang, Non. Ibu minta Teteh untuk masak banyak hari ini," jawab Teh Arum, sang Asisten rumah tangga.

Nara mengangguk paham. Siang nanti suami dan keluarganya akan pulang. Tentu saja bersama Nadya, sang Istri kedua.

"Aku bisa bantu apa, Teh? Daripada nganggur ini," tanya Nara dengan mata yang fokus melihat bagaimana Teh Arum mengupas udang dengan lihai.

Teh Arum meringis. "Tidak usah, Non. Saya bisa sendiri. Kasihan Non Nara kalau kelelahan." Tatap Teh Arum tampak kasihan melihat kondisi Nara yang jauh dari kata baik.

Mendengar hal tersebut, Nara tertawa hambar. "Apa kelihatan sekali, Teh?" tanya Nara terdengar parau.

Teh Arum tersenyum. Tangannya terangkat untuk mengelus bahu Nara. "Saya tidak bisa membantu apa-apa, Non. Tetapi, saya selalu berdoa semoga Non Nara dibesarkan hatinya, dilapangkan dadanya, agar kuat menjalani hidup yang kejam ini," ucap Teh Arum terisak kecil. Matanya sudah mengeluarkan setetes air mata.

Beliau tentu mengetahui semua yang dilalui Nara ketika Arjuna sedang bekerja. Beliau tahu bagaimana sikap Bu Azni, Beta, dan Antika ketika Nara ditinggal ke luar kota.

Nara balas tersenyum. "Terimakasih atas doa baiknya. Aku tidak apa-apa kok, Teh. Mungkin, hanya belum terbiasa," jawab Nara berusaha bersikap tenang. Namun, air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata, tidak bisa membohongi keadaan Nara saat ini.

"Kok aku jadi cengeng gini sih, Teh," ucap Nara tertawa hambar sambil tangannya menyeka air mata yang sudah terlanjur jatuh.

"Tidak apa-apa, Non. Menangis itu baik untuk kesehatan mental, Non." Teh Arum terus mengelus bahu Nara hingga semakin membuat Nara tersedu-sedu. Dia merasa nyaman dan terharu ketika ada orang lain yang peduli dengannya.

"Boleh aku peluk Teteh?" izin Nara pilu. Tentu saja Teh Arum mengangguk cepat. Tanpa menunggu lama, Teh Arum langsung mendekap tubuh Nara.

Nara bisa merasakan punggungnya mendapat elusan naik turun yang pelan. Hal itu semakin membuat Nara tak kuasa menahan air mata. Selama ini, tidak ada bahu tempat Nara bersandar selain suaminya. Dan tidak semua masalah tentang keluarga sang Suami harus diceritakan.

Nara tidak ingin menjadi menantu durhaka terhadap orang tua dengan menceritakan kejelekannya. Tidak juga dengan adik dan kakak suaminya. Apa yang sudah mereka perbuat, hanya bisa Nara pendam sendirian.

"Teteh ... Nara tidak sanggup ...." Nara meracau dalam pelukan Teh Arum.

"Iya. Teteh memahami perasaan Non Nara. Yang kuat, yang sabar ya, Non. Teteh percaya, Tuan Arjuna sangat mencintai Non Nara," ujar Teh Arum menenangkan.

Teh Arum membiarkan Nara menghabiskan air matanya agar perasaan sang Nona bisa lebih lega. Teh Arum seakan ikut merasakan kepedihan yang dialami Nara.

Hingga menit demi menit berlalu. Tangis Nara mulai mereda dan bisa di kendalikan. Nara melepas pelukan dan mengusap wajahnya kasar. "Terimakasih, Teh. Sudah menyediakan bahu untuk Nara," ucap Nara terdengar parau.

Teh Arum tersenyum. "Tidak perlu berterimakasih, Non. Sudah tugas saya untuk menjaga Non Nara ketika Tuan tidak ada. Saya juga sudah menganggap Non seperti anak sendiri," jawab Teh Arum begitu menenangkan.

"Ya sudah. Nara pamit ke kamar dulu ya, Teh. Mau cuci muka." Setelah Teh Arum mengangguk, Nara segera berlalu meninggalkan Teh Arum yang pagi itu pekerjaannya harus tertunda karena dirinya. Namun setelah urusan Nara selesai, dia kembali ke dapur guna membantu Teh Arum.

Dia tidak mau Teh Arum terkena amukan ibu mertuanya karena bekerja tidak tepat waktu. Berada di dekat Teh Arum, membuat Nara teringat pada sosok sang Ibu yang sudah berpulang ke hadapan Tuhan.

Tinggal ayahnya yang masih tersisa sebagai salah satu keluarga Nara. Namun, ayahnya kini berada jauh dari jangkauan. Mengingat hal tersebut, Nara semakin rindu pada sang Ayah.

Tepat pukul sebelas siang, acara masak-masak itu pun selesai. Tentunya Nara ikut membantu Teh Arum sebagai ganti karena sudah menyita waktu beliau.

"Alhamdulillah selesai juga ya, Teh," ucap Nara sambil merenggangkan otot-ototnya.

"Alhamdulillah, Non." Teh Arum pun tersenyum lega.

Dua jam berlalu. Deru mobil di lantai bawah membuat Nara tersadar jika sang Suami sudah pulang. Nara yang masih bertahan di atas sajadah panjangnya, enggan beranjak dan menyambut. Dia masih belum sanggup melihat wajah madunya.

"Aku bisa beralasan sedang sholat. Jadi, aku tidak perlu menyambut mereka," gumam Nara lalu kembali berzikir demi ketenangan batinnya.

Baru beberapa menit berlalu, Nara mendengar salam diikuti suara pintu kamarnya yang terbuka. Tidak ingin langsung menoleh karena sadar siapa pelakunya, Nara memilih menengadahkan telapak tangan untuk berdoa.

Setelah selesai, baru Nara menoleh dan menjawab salam dari sang Suami. "Waalaikumsalam, Mas. Sudah pulang? Maaf tidak menyambut karena sedang sholat," ucap Nara tersenyum manis.

Arjuna hanya mengangguk dengan sorot mata tak lepas menatap Nara. Tatapan yang lekat dan menelisik dalamnya luka yang sedang Nara tanggung.

Helaan napas pelan pun terdengar. Arjuna tentu tahu jika seharian ini Nara pasti menangis. Selain informasi dari Teh Arum, mata sembab sang Istri tidak bisa membohongi.

"Apa Mas melukai perasaan kamu?" tanya Arjuna sambil mendekati Nara. Namun, secepat kilat Nara menghindar. Dia tidak ingin disentuh Arjuna untuk saat ini, mengingat jika semalam suaminya baru berbagi keringat dengan wanita lain.

Nara tersenyum tipis. "Kenapa bertanya seperti itu? Itu tidak penting lagi, Mas," jawab Nara pura-pura sibuk melipat mukenah.

Arjuna kembali mendekat dan kali ini Nara tidak bisa menghindar lagi. Suaminya itu menghimpit Nara pada tembok dengan jarak wajah yang sangat dekat.

"Mas rindu, Ra," lirih Arjuna lalu ingin mencuri kecupan di bibir Nara. Namun, Nara segera melengos dan ciuman suaminya itu mendarat di pipi. Nara tersenyum manis.

"Aku juga, Mas," jawab Nara lalu membingkai wajah Arjuna.

Melihat Arjuna yang lengah, Nara segera melepaskan diri. "Aku harus menyimpan Al Quran terlebih dahulu, Mas."

Hal itu tidak berlangsung lama karena Arjuna kembali mendekat dan memeluknya dari belakang. "Kamu kenapa sih, Mas? Bukannya semalam kamu baru mendapat kesenangan?" tanya Nara kesal tetapi tetap menjaga nada bicaranya agar tetap lembut.

"Nara!" protes Arjuna tidak ingin Nara menyinggung nya.

Nara tertawa. "Kenapa, Mas? Aku berkata benar kan?"

"Nara! Mas terpaksa melakukannya. Tolong, jangan berucap seperti itu lagi," jawab Arjuna lalu menumpukan dagu pada bahu Nara.

Menurut. Nara pasrah dalam pelukan sang Suami Dia pun merindukan pelukan yang hanya baru kemarin dia rasakan. Aneh. Bukannya membenci karena telah di madu, Nara justru semakin cinta pada suaminya itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...mampir juga ke sini yuk 👇👇...

Terpopuler

Comments

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

terpaksa, mn ada melakukan hal secara sadar trpaksa apalagi smpe pelepasan tentunya

2025-01-23

0

Annie Soe..

Annie Soe..

Nara kamu musti tahan jangan gampang terlena rayuan si junjun ya..

2024-03-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pernikahan kedua
2 Bab 2. Dzolim?
3 Bab 3. Mas rindu, Ra.
4 Bab 4. Nara!
5 Bab 5. Overthinking
6 Bab 6. Masih cinta
7 Bab 7. Ibadah terlama
8 Bab 8. Perdebatan
9 Bab 9. Antara adil dan tidak
10 Bab 10. Rencana Arjuna
11 Bab 11. Tiba waktunya bersama
12 Bab 12. Saling menginginkan
13 Bab 13. Terjadi lagi
14 Bab 14. Membeli rumah baru
15 Bab 15. Pengusiran
16 Bab 16. Ayah!
17 Bab 17. Keyakinan Nara
18 Bab 18. Tak tergapai
19 Bab 19. Mengulang kenangan
20 Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21 Bab 21. Upnormal
22 Bab 22. Interview
23 Bab 23. Bidadari tak bersayap
24 Bab 24. Perempuan?
25 Bab 25. Pulang?
26 Bab 26. Perkara Dissa
27 Bab 27. Bertukar cerita
28 Bab 28. Beta?
29 Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30 Bab 30. Trouble maker
31 Bab 31. Apa salahku?
32 Bab 32. Khawatir?
33 Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34 Bab 34. Akhirnya terjadi
35 Bab 35. Kemarahan Nara
36 Bab 36. Episode terbaik
37 Bab 37. Membara
38 Bab 38. Balasan
39 Bab 39. Banyak hal baik
40 Bab 40. MAS PRAS
41 Bab 41. Tersentil
42 Bab 42. Lamaran Pras
43 43. Pov Pras-Beta
44 Bab 44. Tersenyum-senyum
45 Bab 45. Kemarahan Nara
46 Bab 46. Pilihan untuk pergi
47 Bab 47. Saran Dissa
48 Bab 48. Perceraian
49 Bab 49. Hantu?
50 Bab 50. Sudah berakhir
51 Bab 51. Jatuhnya talak
52 Bab 52.Mulai terlihat
53 Bab 53. Membahas kasus
54 Bab 54. Bertemu
55 Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56 Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57 Bab 57. Sidang mediasi
58 Bab 58. Terapi lagu
59 Bab 59. Melahirkan?
60 Bab 60. Operasi caesar
61 Bab 61. Sama-sama kehilangan
62 Bab 62. Tiga tahun kemudian
63 Bab 63. Atok!
64 Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65 Bab 65. Dipertemukan kembali
66 Bab 66. Anak Mas cantik
67 Bab 67. Dugaan Arjuna
68 Bab 68. Gerak cepat
69 Bab 69. Kenapa?
70 Bab 70. Saling sayang
71 Bab 71. Mengunjungi Nadya
72 Bab 72. Mungkin lupa
73 Bab 73. NADYA!
74 Bab 74. Turut berduka cita
75 Bab 75. The wedding
76 Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77 Bab 77. Boleh sekarang
78 Bab 78. Suasana pengantin baru
79 Bab 79. Main lagi yuk!
80 Bab 80. Membesarkan Raden
81 Bab 81. Tebakan Beta
82 Bab 82. Positif
83 Bab 83. Bukan sebuah akhir
84 Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85 Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1. Pernikahan kedua
2
Bab 2. Dzolim?
3
Bab 3. Mas rindu, Ra.
4
Bab 4. Nara!
5
Bab 5. Overthinking
6
Bab 6. Masih cinta
7
Bab 7. Ibadah terlama
8
Bab 8. Perdebatan
9
Bab 9. Antara adil dan tidak
10
Bab 10. Rencana Arjuna
11
Bab 11. Tiba waktunya bersama
12
Bab 12. Saling menginginkan
13
Bab 13. Terjadi lagi
14
Bab 14. Membeli rumah baru
15
Bab 15. Pengusiran
16
Bab 16. Ayah!
17
Bab 17. Keyakinan Nara
18
Bab 18. Tak tergapai
19
Bab 19. Mengulang kenangan
20
Bab 20. Apakah Mas mencintaiku?
21
Bab 21. Upnormal
22
Bab 22. Interview
23
Bab 23. Bidadari tak bersayap
24
Bab 24. Perempuan?
25
Bab 25. Pulang?
26
Bab 26. Perkara Dissa
27
Bab 27. Bertukar cerita
28
Bab 28. Beta?
29
Bab 29. Menuju jalan kebenaran
30
Bab 30. Trouble maker
31
Bab 31. Apa salahku?
32
Bab 32. Khawatir?
33
Bab 33. Nadya bertingkah lagi
34
Bab 34. Akhirnya terjadi
35
Bab 35. Kemarahan Nara
36
Bab 36. Episode terbaik
37
Bab 37. Membara
38
Bab 38. Balasan
39
Bab 39. Banyak hal baik
40
Bab 40. MAS PRAS
41
Bab 41. Tersentil
42
Bab 42. Lamaran Pras
43
43. Pov Pras-Beta
44
Bab 44. Tersenyum-senyum
45
Bab 45. Kemarahan Nara
46
Bab 46. Pilihan untuk pergi
47
Bab 47. Saran Dissa
48
Bab 48. Perceraian
49
Bab 49. Hantu?
50
Bab 50. Sudah berakhir
51
Bab 51. Jatuhnya talak
52
Bab 52.Mulai terlihat
53
Bab 53. Membahas kasus
54
Bab 54. Bertemu
55
Bab 55. Penyesalan Bu Azni
56
Bab 56. Arjuna dengan cintanya
57
Bab 57. Sidang mediasi
58
Bab 58. Terapi lagu
59
Bab 59. Melahirkan?
60
Bab 60. Operasi caesar
61
Bab 61. Sama-sama kehilangan
62
Bab 62. Tiga tahun kemudian
63
Bab 63. Atok!
64
Bab 64. Tidak ada masa tenggang
65
Bab 65. Dipertemukan kembali
66
Bab 66. Anak Mas cantik
67
Bab 67. Dugaan Arjuna
68
Bab 68. Gerak cepat
69
Bab 69. Kenapa?
70
Bab 70. Saling sayang
71
Bab 71. Mengunjungi Nadya
72
Bab 72. Mungkin lupa
73
Bab 73. NADYA!
74
Bab 74. Turut berduka cita
75
Bab 75. The wedding
76
Bab 76. Hadiah dari Arjuna
77
Bab 77. Boleh sekarang
78
Bab 78. Suasana pengantin baru
79
Bab 79. Main lagi yuk!
80
Bab 80. Membesarkan Raden
81
Bab 81. Tebakan Beta
82
Bab 82. Positif
83
Bab 83. Bukan sebuah akhir
84
Sayap Cinta Yang Patah by ika oktafiana
85
Novel horror Ummu Sibyan by Ika Oktafiana
86
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!