"Saya Yanneta Rainhart sudah sejak lama mengagumi Duke. Karena rasa suka yang buta ini saya mencari informasi tentang anda sebanyak yang saya bisa." Jelas Yanneta dengan lancar.
Dia menautkan dua tangannya sendiri. Sambil menunduk dan terbata-bata, Yanneta mulai akting penuh emosional. Untuk mendukung suasana, sesekali dia mencuri pandang pada Lionel. Bersikap malu-malu. Totalitas tanpa batas.
"Tentu ini perasaan sepihak saya. Jadi saya harap Duke tidak terbebani. Satu hal yang pasti saya sangat menyukai Yang Mulia hingga bertindak tidak masuk akal seperti ini. Maafkan saya Yang Mulia." Saking menjiwainya, Yanneta tersadar jika dia punya bakat berakting.
"Jika anda terganggu saya janji tidak akan muncul lagi di depan anda." Penutup yang sempurna dari Yanneta.
"Tunggu! Tunggu sebentar!" Teriak Lionel secara mengejutkan.
"Saya baru ingat jika ada hal yang harus saya selesaikan segera. Lady kita bahas lagi nanti, sekarang anda beristirahat saja."
"Begitukah?" Yanneta menggoda Lionel dengan kepala dimiringkan sedikit.
"Ya, saya akan segera kembali."
"Hati-hati di jalan Yang Mulia."
Lionel keluar dengan tergesa-gesa. Begitu pintu di tutup, tawa Yanneta meledak.
"Pfffttt.. Hahahahaha. Lihatlah wajahnya yang memerah itu. Menyenangkan sekali menggodanya."
"Huwah. Hampir saja aku ketahuan. Level pemeran utama memang beda. Bagaimana dia bisa sejeli itu. Gila! Setelah ini bagaimana coba?" Ucap Yanneta pada dirinya sendiri.
Entah ini keputusan yang baik atau tidak. Menyatakan perasaannya pada Lionel secara spontan. Tapi hanya alasan ini yang masuk akal. Lionel saja sampai curiga padanya sedetail itu, jika tidak segera bereaksi dia pasti akan dianggap mata-mata. Artinya nyawanya bisa melayang kapan saja.
Tapi setelah ini bagaimana, Yanneta bingung. Ada sedikit kelegaan sebenarnya. Orang yang nantinya akan Lionel sukai dam cintai adalah Rose. Sampai matipun dia tidak akan meliriknya. Yanneta akan menggunakan kesempatan ini untuk menghindar dari Lionel.
Berarti cintanya akan bertepuk sebelah tangan.
"Syukurlah.."
Lionel akan menolaknya. Yanneta yakin. Duke Soveil selama ini tidak pernah mendekati wanita. Apalagi wanita sembarangan seperti Yanneta Rainhart. Dia bukan level Lionel. Setelah Lionel menolaknya dia akan menggunakannya sebagai alasan menghindarinya.
Lalu Yanneta akan menjadi pengagum rahasianya. Cinta dalam diam juga tidal buruk. Yanneta terkikik sendiri memikirkan ide gilanya.
Ah. Tiba-tiba rasa khawatir membanjirinya. Mimpi yang dilihat, cerita Red Rose Tragedy berubah. Dari Rose menjadi dirinya.
Dia segera menepis pikiran-pikira buruknya. Nama Yanneta Rainhart tidak pernah muncul dalam cerita jadi tidak mungkin dia tiba-tiba menjadi pemeran utama wanita.
"Adakah orang di luar?" Yanneta menarik tarik bel.
"Ya nona."
"Masuklah."
Marta membuka pintu dan masuk sendirian.
"Marta." Mata Yanneta berbinar bahagia.
"Saya nona. Bagaimana keadaan anda?" Marta mengamati sekilas kondisi Yanneta.
"Aku baik-baik saja. Pasti kamu sangat terkejut bukan?"
Marta mengangguk.
"Sudah berapa lama kita disini? Sepertinya kita harus segera pulang."
"Tapi kondisi anda.." Marta ragu-ragu.
"Aku sudah baik-baik saja. Ini bisa sembuh beberapa hari lagi." Yanneta menunjuk bebepa bekas kebiruan di lehernya.
"Anda yakin nona?"
"Ya." Jawab Yanneta tegas.
Tidak ada alasan dia harus tetap tinggal. Dia siapa di mansion Soveil. Pulang adalah pilihan terbaik.
*
Hatinya berdebar-debar. Seperti ada yang merayapi seluruh tubuh Lionel. Wajahpun memanas. Rasanya ada yang akan meledek.
"Saya menyukai Yang Mulia."
Kata itu terus terngiang. Entah kenapa bibir tersenyum tanpa bisa dia kendalikan.
Gila. Dia sudah gila.
Mendengar pernyataan suka yang tidak dia sangka-sangka. Jauh di dalam lubuk hatinya, Lionel juga suka. Debaran ini, meskipun tidak nyaman dia ingin terus merasakannya.
"Yang Mulia." Sebuah suara menginterupsinya.
"Jangan ganggu aku." Jawab Lionel ketus.
"Lady Rainhart sepertinya akan segera kembali. Saya mendengar dari pelayan jika dia sedang berganti pakaian." Jelas Fabian.
Pintu yang tertutup akhirnya terbuka.
"Apa yang kamu katakan?"
"Lady Rainhart akan kembali ke mansionnya."
"Sedang apa dia sekarang?"
"Bersiap untuk kembali. Sepertinya hampir selesai berganti pakaian."
"Kenapa baru bilang sekarang!"
Lionel melebarkan langkahnya menuju kamar tidurnya. Jaraknya tidak jauh dari kantornya.
Terlihat beberapa pelayan berbaris di depan pintu. Tepat saat dia sampai pintu terbuka. Yanneta yang sudah rapi terlihat.
"Salam kepada Yang Mulia."
Lionel mengangguk sekilas.
"Saya izin untuk kembali ke mansion Rainhart Yang Mulia. Terima kasih atas semua yang anda berikan kepada saya. Saya akan menutup mata dan mulut saya atas kejadian kemarin. Anda bisa mempercayai saya."
Maksud Yanneta adalah dia akan merahasiakan kejadian kemarin. Dia berjanji untuk menyimpannya hingga dia mati.
Lionel tampak gusar. Dia mengusak rambutnya yang tertata rapi. Meski berantakan dia tetap tampan.
Hampir saja Yanneta berteriak. Batinnya tersiksa atas ketampanan Lionel.
"Kalau begitu saya izin pamit." Yanneta mengakhirinya dengan tenang.
Tidak ada yang tahu gejolak di dalam hatinya. Dia kikuk. Baru beberapa menit lalu dia menyatakan perasaannya pada Lionel, namun sepertinya dia sudah di tolak. Ada rasa kecewa memang, tapi tidak mungkin juga dia akan diterima. Hello, dia siapa ya kan.
Lebih baik mengakhirinya seperti ini. Kedepannya Lionel tidak akan lagi penasaran dengannya. Tidak pula mengganggunya karena rasa penasaran itu. Biarlah dia dikenal Lionel sebagai salah satu wanita yang suka padanya. Tidak buruk.
"Lady."
Langkah Yanneta ditahan oleh Lionel.
"Ya Yang Mulia."
"Sebelum pergi maukah anda minum teh dengan saya? Cuaca hari ini cukup cerah. Cocok sekali untuk minum teh."
"Hah?" Otak Yanneta macet. Saking macetnya, dia tidak mampu berkata-kata.
"Fabian siapkan teh untuk kami."
"Baik Yang Mulia."
"Silahkan ikuti saya Lady." Titah Lionel.
Otak Yanneta yang baru saja bekerja mencoba menolak. Tapi sudah terlambat. Saat dia melihat taman dengan aula terbuka kecil di tengahnya, Yanneta sadar jika dia sudah tidak bisa melarikan diri.
Dia mengutuk kakinya yang lebih berpihak pada Lionel.
"Teh apa yang Lady suka?" Lionel memulai percakapan.
"Apapun. Saya suka apapun." Jawab Yanneta singkat.
Canggung. Sangat canggung. Dia malu berhadapan langsung dengan Lionel. Yanneta tiba-tiba ingat pernyataan cintanya.
Untungnya Fabian segera datang dengan nampan berisi teh dan camilan di tangannya.
"Saya memilih earl grey untuk tehnya. Saya tidak tahu selera Lady seperti apa. Jadi saya memilih teh yang umum diminum oleh para bangsawan."
"Terima kasih atas perhatian anda Yang Mulia, saya tidak memiliki kesukaan khusus pada teh."
Dibandingkan teh, Yanneta lebih suka kopi. Sayang di kehidupan ini tidak ada americano yang paling dia suka. Para bangsawan disini lebih suka menikmati teh dibanding kopi.
Asap mengepul dari cangkir yang dibawa Fabian. Yanneta mengangkatnya kemudian menghirup aromanya. Aroma teh membuatnya tenang sejanak. Tubuhnya yang tegang sedikit rileks. Obrolannya dengan Lionel terasa sangat kikuk dan kering. Dia ingin segera mengakhiri rasa tidak nyaman ini.
Dia segera menyesap tehnya kemudian kembali ke posisi yang anggun.
"Yang Mulia. Mohon lupakan apa yang anda dengar tadi."
Lionel terkejut. Nampak jelas dari raut wajahnya.
"Kenapa?" Pikir Yanneta.
"Ini adalah rasa suka sepihak dari saya. Saya tidak pernah berharap lebih. Jadi saya mohon untuk bersikap seperti biasa pada saya. Saya tidak ingin anda terbebani." Ucap Yanneta seraya mengamati respon Lionel.
"Mohon ampun atas keserakahan saya ini Yang Mulia. Saya akan menyimpan Yang Mulia di dalam hati saya. Jadi bebaskan perasaan tidak nyaman anda Yang Mulia. Mulai hari ini saya akan berusaha untuk tidak muncul di depan anda dan membuat anda kesulitan. Saya mohon."
Bagus. Kata-kata Yanneta jelas dan tersampaikan dengan baik. Setidaknya itu yang dia pikirkan. Sayang, dia tidak bisa membaca pikiran orang lain. Lionel pintar mengendalikan emosinya sejak dia masih muda karena didikan keras untuk menjadi pewaris. Jadi dia tidak sadar akan perubahan halus Lionel.
Yanneta salah besar. Perasaan Lionel tidak seperti apa yang dia pikirkan.
"Siapa yang bilang kalau saya tidak menyukai Lady?"
"Ya?"
Wajah tenang Yanneta pecah.
"Saya menyukai anda."
Jantung Yanneta berdetak tak karuan. Dia tidak salah dengar kan. Apa, apa yang terjadi sekarang.
"Kenapa anda harus diam-diam menyukai saya? Saya akan mengizinkan anda menyukai saya secara terang-terangan."
Wajah Lionel yang tak berubah saat mengucapkannya membuat Yanneta bergidik.
"Anda juga boleh lebih serakah pada saya."
"Gila!" Teriak Yanneta dalam hati.
"Maksud anda?" Suara Yanneta bergetar.
"Saya juga menyukai anda Lady Yanneta Rainhart." Lionel menegaskan kembali. Masih dengan wajah yang tidak berubah.
"Sungguh? Mati aku!" Yanneta ingin mati saja.
"Tapi Yang Mulia.."
"Yanneta." Lionel bangkit dari kursinya kemudian mendekati Yanneta.
Tubuhnya yang tinggi tampak kecil di hadapan Yanneta. Lionel melipat kakinya kemudian memegang kedua tangannya.
"Tolong jangan berkata seperti itu. Saya ingin terus melihat Yanneta. Maaf jika saya menyebut nama anda langsung. Saya ingin lebih dekat dengan Yanneta." Mata Lionel bergetar. Mata biru gelap seperti laut dalam saat malam itu seperti melahap Yanneta.
"Yang Mulia tolong jangan seperti ini."
Melihat Lionel yang bersimpuh di kakinya membuatnya kaget.
"Saya mohon pada Yanneta. Saya juga menyukai Yanneta. Yanneta juga menyukai saya bukan? Mari terus bertemu."
"Yang Mulia apa maksud anda?"
Otak Yanneta kacau. Kacau sekacau-kacaunya. Serangan Lionel bertubu-tubi dan dia tidak bisa mengantisipasinya.
"Saya ingin menjadi kekasih Yanneta."
"Sumpah gila! Ini namanya senjata makan tuan." Jika di tidak sedang duduk sekarang, tubuhnya sudah pasti runtuh ke lantai. Suara hati Yanneta berteriak keras.
Bersambung...
FYI
Earl grey merupakan salah satu varian teh hitam yang paling populer di dunia. Earl grey dibuat dari campuran teh hitam dengan lemon dan bergamot sehingga aromanya sangat harum dan segar. Sementara untuk cita rasanya merupakan perpaduan rasa manis, asam, dan sedikit pahit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Retno Isma
🤣🤣🤣🤣
2024-11-27
0
Era Simatupang
hahaha
2024-05-03
1
Dian Isnu
nah loohhh trus mau gimana nih 🤣🤣🤣
2023-06-18
3