#12 Apa yang Terjadi? (Setelah Serangan Kutukan)

Kesadaran Lionel perlahan kembali. Tubuhnya yang kejang kini telah tenang dan nafasnya mulai teratur.

Yanneta masih memeluk Lionel. Jika dia ambruk, mereka berdua akan ambruk.

Dia tampak berantakan. Rambutnya yang telah ditata rapi oleh Marta hancur berantakan. Hiasan-hiasan berkilau di rambutnya berhamburan entah kemana. Malam masih panjang. Gelapnya langit bisa dilihat dari jendela. Tirai yang tidak sempat diturunkan menjadi tanda kacaunya hari ini.

Saat nafas lemah berubah menjadi dengkuran halus, diam-diam Yanneta menghela nafas. Serangan kutukan telah hilang.

Yanneta membaringkan Lionel dengan penuh kehati-hatian. Rambut hitam yang biasa ditata rapi menjadi basah oleh keringat. Yanneta merapikan anak rambut yang berantakan.

Wajah pucat Lionel kembali normal. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa, dia tidur sangat nyenyak.

"Leo." Yanneta mengusap pipi Lionel.

Nama panggilan Lionel adalah Leo. Itu adalah tanda sayang kedua orang tuanya. Rose yang dekat dengan Lionel diberi hak untuk memanggilnya begitu. Saat mendapat serangan, Rose selalu membisikkan kata sayang padanya. Seperti "Leo sayang" "Leoku" atau "Aku sayang Leo".

"Lupakan sakit hari ini. Tidurlah dengan nyenyak." Yanneta menarik selimut untuk menutupi tubuh Lionel.

"Apakah ada orang di luar?" Yanneta menarik tali bel untuk memanggil pelayan.

"Ya nona, ada yang bisa saya bantu?" Suara Marta terdengar.

Dia lupa sejenak akan Marta. Dia datang ke Soveil bersama Marta.

"Marta?"

"Ya nona."

"Masuklah."

Marta masuk diikuti oleh beberapa orang pelayan lain dari Soveil. Semuanya adalah wanita jadi Yanneta sedikit tenang. Dia sekilas melihat leher dan pundaknya yang ternoda merah dimanapun. Lionel menggigit setiap sudut kulitnya yang terbuka.

Dress yang dia kenakan terkoyak, menyisakan kamisol dan pakaian dalam yang tipis. Sekilas dia bisa merasakan tatapan kaget dari Marta dan para pelayan. Saat perhatian mereka teralih kenapa Lionel yang nyenyak, ada kelegaan di mata mereka.

"Tolong bantu aku." Yanneta mencoba turun dari tempat tidur dengan sisa kekuatannya.

"Apakah anda bisa berdiri?" Marta mendekat.

Bruk.

Tubuh Yanneta limbung dan jatuh ke lantai. Kepalanya berputar dan menusuk. Kakinya kesemutan. Tidak bisa digerakkan sama sekali.

Suara para pelayan yang menjerit adalah hal terakhir yang dia dengar sebelum semuanya menjadi gelap. Yanneta kehilangan kesadaran.

Saat membuka matanya Yanneta melihat dirinya yang dulu. Tidur dengan posisi yang tidak nyaman di atas meja. Tangannya memegang ponsel yang masih menyala.

Red Rose Tragedy, judulnya tertulis jelas. Yanneta masih mengingat malam dia membaca novel secara maraton. Matanya menyipit saat melihat gambar di cover. Seingatnya ada tiga tokoh. Rose di tengah dengan membawa belati Hell, Lionel disebelah kanan melingkarkan tangannya di pinggang Rose, kemudian Verdian disebelah kiri memegang pundak Rose.

Tapi covernya berubah. Hanya ada dua orang yang ada. Gambar Yanneta mengenakan gaun yang indah mengelus kepala Lionel yang nyaman dipangkuannya.

"Hah?"

Yanneta mengucek matanya. Apakah benar apa yang dia lihat. Yanneta bingung. Kenapa bisa seperti ini, apa yang terjadi. Kenapa berubah. Seribu pertanyaan beputar di kepalanya.

Dia harus bertanya pada siapa?

"Hei, bangunlah." Sebuah suara menginterupsi rumitnya isi kepala Yanneta.

Dalam sekejap dunia yang baru saja dia lihat sepenuhnya memutih. Gambaran kehidupannya dulu berganti dengan atap kelambu berwarna emas. Matanya berkedip beberapa kali, berusaha untuk menyesuaikan pandangannya.

Sekujur tubuhnya sakit parah. Rasa nyeri masih sedikit terasa.

"Hei putri tidur, bangunlah." Suara itu lagi.

Yanneta menoleh dan mendapati sumbee suara. Wajah Lionel yang tampan terlihat.

Tangan Lionel mengelus pipinya dengan sengum super indah. Dengan membelakangi sinar matahari yang menorobos melalui jendela, fitur Lionel terang benderang. Seperti malaikat yang turun ke bumi.

"Apakah masih ada yang sakit?"

Tenggorokan Yanneta kering saat dia hendak menjawab. Dia sangat ingin menjawab namun tenggorokannya tidak mau bekerja sama.

"Minumlah."

Air dingin segera membasahi tenggorokan Yanneta yang kering kerontang. Dia meneguk dengan rakusnya.

Setelah satu gelas air tandas, Lionel mengangkat tubuh Yanneta kemudian menyandarkannya di kepala tempat tidur.

"Kamar yang berbeda dengan sebelumnya." Pikir Yanneta saat mengedarkan pandangannya.

Kamar sebelumnya tidak sebesar ini. Perobatan yang ada juga tidak sebanyak dan semewah ini. Sepertinya dia punya dendam dengan kekayaan, karena saat melihat semua yang berwarna emas dan berkilau, Yanneta langsung menghitung di kepalanya. Dimulai dari lukisan, pajangan dinding, hingga barang paling kecil semuanya tak luput dari perhitungannya.

"Apa yang Lady lihat dengan serius begitu?"

Lionel merampas kesenangan Yanneta dengan entengnya. Suaranya itu tentu tidak bisa Yanneta tolak. Jadi dia segera mengalihkan pandanganya dari barang-barang mewah ke wajah yang menjadi sumber kemewahan di dunia ini.

"Dimana ini?" Tanya Yanneta lirih

"Kamar saya."

Mata Yanneta hampir lepas.

"Ya?"

"Saya memindahkan Lady dari kamar sebelumnya. Saya hanya ingin memastikan jika Lady mendapatkan perawatan terbaik."

Bohong.

Satelah bangun Lionel marah besar saat mendapati kondisi Yanneta. Dia memaki Byos dan Fabian yang memberi Yanneta kamar tamu. Dia sendiri yang memindahkan Yanneta ke kamarnya.

Selain memastikan perawatan yang terbaik, Lionel juga ingin Yanneta dekat dengannya. Dia tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama.

Melihat kondisinya ditambah dengan penjelasan dari Byos dan Fabian, mata Lionel berkobar. Dia kecewa bahwa dua orang tadi, Byos dan Fabian tidak menjauhkan Yanneta darinya saat dia mengalami serangan.

Dia marah pada dirinya sendiri karena membahayakan keselamatan Yanneta. Selain itu dia juga malu, dia harus menunjukkan dirinya yang menjadi gila untuk kedua kalinya pada Yanneta. Yang lebih parah lagi, dia juga bingung, kenapa Yanneta sampai mengorbankan diri untuknya.

Dan inilah pertanyaan besar yang ingin dia dapatkan dari Yanneta setelah dia bangun.

"Terima kasih." Ucap Yanneta.

"Saya baik-baik saja." Senyum Yanneta terbit. Tidak sampai sakit yang membahayakan. Kalau hanya segini dia bisa menahannya.

Hanya saja bercak kebiruan di leher dan pundaknya butuh waktu untuk hilang. Sontak Yanneta melihat pakaian yang dia pakai. Dia sudah berganti baju. Dia mengenakan piyama dress dengan outer menutup bagian tubuh atasnya. Yanneta lega.

"Apakah mulut anda diatur untuk berkata baik-baik saja?"

"Ya?"

"Anda tidak bangun satu hari penuh."

"Ah, saya memang tidur lebih lama dari biasanya."

"Jangan lakukan lagi." Suara Lionel meninggi.

"Maksud anda?"

"Mendekat saat saya sedang mendapat serangan."

"Bagaimana saya tidak mendekat saat anda sedang sakit. Saya tentu harus membantu. Saya juga punya jiwa kemanusiaan." Yanneta tak ingin kalah.

"Tapi anda bisa dalam bahaya Lady."

"Saya baik-baik saja sekarang. Itu berarti tidak bahaya."

"Lady.." Lionel merendahkan suaranya.

"Baiklah. Saya akan menutup mata meskipun anda meminta tolong pada saya nantinya. Anggap tidak terjadi apa-apa Yang Mulia."

"Bukan seperti itu maksud saya Lady." Lionel memijat pelipisnya yang mulai sakit.

"Anda cukup berterima kasih, bukan malah marah seperti ini."

"Saya tidak marah."

"Anda jelas marah."

"Kenapa anda menghakimi saya?"

"Tidak. Saya hanya berpendapat."

"Saya hanya bingung."

"Jika bingung anda tinggal bertanya."

"Ya saya akan bertanya."

"Ya silahkan, tanyakan apapun yang membuat anda bingung."

"Kenapa Lady menolong saya?"

Mata Yanneta bergetar. Pertanyaan yang tidak terduga namun sudah dia pikirkan. Akan aneh jika Lionel tidak bertanya-tanya. Tiba-tiba ada seorang wanita misterius yang entah muncul dari mana dan membantunya dua kali.

"Karena anda sakit, jadi sebagai sesama manusia saya menolong anda."

Jawaban yang paling aman.

"Tapi Lady sampai mengorbankan diri."

"Aduh.. Jawab apa ini." Yanneta mulai terpojok.

"Jika ingin menolong ya menolong saja. Apakah harus ada alasannya?"

"Bagi saya iya." Jelas padat dan tepat sasaran.

Sejenak Yanneta lupa, jika Lionel pintar memutar kata-kata. Dia menang dalam semua hal, termasuk berdebat.

"Tidak ada alasan khusus Yang Mulia."

"Entah kenapa saat saya sakit anda pasti ada."

"Saya bukan orang yang membuat anda sakit."

"Ya saya tahu. Tapi saya sangat ingin tahu alasannya."

"Sudah saya bilang tidak ada alasan khusus. Jika ingin menolong ya menolong saja."

"Tapi Lady tahu banyak tentang saya."

"Saya tidak."

"Bohong."

Lagi-lagi tepat sasaran. Jika ucapan Lionel adalah pisau, Yanneta sudah pasti beradarah dibanyak tempat.

Terpojok. Lionel memblokir setiap pelarian diri Yanneta.

"Jelaskan kepada saya. Saya butuh penjelasan."

"Tidak ada yang ingin saya jelaskan. Saya sudah menyampaikan semua apa yang ingin saya sampaikan."

"Siapa anda sebenarnya?"

Tatapan mereka bertemu. Mata Lionel mengunci target. Seperti berteriak jika anda tidak jujur anda akan menanggung akibatnya.

"Leo. Saya masih ingat anda memanggil saya Leo."

Yanneta tersentak. Pria ini mengingat semuanya. Meskipun menjadi gila karena serangan kutukan Hell, Lionel mendengar semuanya. Tubuh Yanneta menyusut. Dia terpojok.

"Bahkan anda juga tidak bertanya apa penyakit yang saya derita, anda sepertinya tahu banyak tentang saya. Lady, siapa anda?" Suara dingin Lionel menusuk hingga ke sumsum.

Yanneta membasahi bibirnya yang kering.

"Hanya orang-orang tertentu yang tahu tentang panggilan Leo dan penyakit saya. Anda terlalu mencurigakan Lady Rainhart. Jadi jelaskan semuanya sekarang."

Hening. Yanneta tak mampu mengucapkan satu katapun. Tekanan yang diberikan Lionel membuatnya tak bisa bergerak. Inilah aura swordmaster.

"Lady, saya tidak suka mengancam orang sebenarnya. Tapi jika anda tidak segera menjawab, saya bisa bertindak di luar dugaan anda."

Kali ini Yanneta tidak bisa melawan. Jika dia pernah lolos satu kali dengan pura-pura menggertak, kali ini tidak mungkin. Tatapan membunuh Lionel menguar tak terkendali. Yanneta bisa mencium aroma kematian dari Lionel.

Yanneta memejamkan matanya sambil membaca doa sebelum membuka bibirnya.

"Apakah akhirnya saya ketahuan sekarang?" Suara Yanneta bergetar di akhir.

Dia membuka matanya kemudian melempar senyum paling cantik ke arah Lionel.

"Saya menyukai Yang Mulia."

Mata Lionel membulat sempurna. Wajah dinginnya retak berkeping-keping.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Retno Isma

Retno Isma

🤣🤣🤣 cari aman aja ya Han....

2024-11-27

0

Dian Isnu

Dian Isnu

nah langsung di tembak kan

2023-06-18

3

Narimah Ahmad

Narimah Ahmad

lah 🤭🤭🤭

2023-06-18

1

lihat semua
Episodes
1 #1 Dunia Novel (Masuk ke Dunia Lain)
2 #2 Pesta Bangsawan (Pesta Putra Mahkota)
3 #3 Duke Soveil (Serangan Kutukan)
4 #4 Belati Hell (Rahasia Duke Soveil)
5 #5 Kutukan (Tentang Hell)
6 #6 Lady Rainhart (Wanita Misterius)
7 #7 Sebuah Undangan (Surat yang Ditolak)
8 #8 Ceroboh (Lidah yang Tergelincir)
9 #9 Sabtu Emas (Sebuah Paksaan)
10 #10 Zagc (Tamu Tak Diundang)
11 #11 Mantra Hell (Siapa yang Mengucapnya?)
12 #12 Apa yang Terjadi? (Setelah Serangan Kutukan)
13 #13 Menyatakan Perasaan (Pernyataan Balasan)
14 #14 Ibu Kota Nachtion (Kencan Pertama)
15 #15 Gwinia (Princess of Zagc)
16 #16 Pesta (Teman Tak Terduga)
17 #17 Serangan Lagi? (Love Potion)
18 #18 Sihir Hitam (Fakta Mengejutkan)
19 #19 Peninjauan Wilayah (Undangan Gwinia)
20 #20 Tea Party (Her Trap)
21 #21 Dimana? (Help Me!)
22 Pengumuman
23 #22 Perasaan (Tak Mampu Melepaskan)
24 #23 Merasa Dicintai (Kesalahan Manis)
25 #24 Menguak Misteri (Penyihir Hitam Gwinia)
26 #25 Ceritanya Mulai Salah (Verdian Zagc)
27 #26 Mencari Kebenaran (Dunia Paralel)
28 #27 Melihat Masa Depan (Tentang Verdian)
29 #28 Illusion (Berharap Selamanya)
30 #29 Badai (Count Rainhart)
31 #30 Bday Party (Pertemuan Tokoh Utama)
32 #31 Kekacauan (Tragedi Sihir Hitam)
33 #32 Memulai Kembali (Setelah Tragedi)
34 #33 Mencarimu (Yanneta Rainhart)
35 #34 Tiba di Ibu Kota (Mengunjungi Nachtion)
36 #35 Apakah Itu Kamu? (Tertampar Kenyataan)
37 #36 Finally (Menemukanmu)
38 #37 Jangan Pergi Lagi (Isi Hati Lionel)
39 #38 Mengakhiri Kesalahpahaman (END)
40 #1 Masa Depan Zagc (Extra Story)
41 #2 Balada Menara Zonix (Extra Story)
42 #3 The Greatest Soveil (Extra Story) (Fin)
43 EPILOG
Episodes

Updated 43 Episodes

1
#1 Dunia Novel (Masuk ke Dunia Lain)
2
#2 Pesta Bangsawan (Pesta Putra Mahkota)
3
#3 Duke Soveil (Serangan Kutukan)
4
#4 Belati Hell (Rahasia Duke Soveil)
5
#5 Kutukan (Tentang Hell)
6
#6 Lady Rainhart (Wanita Misterius)
7
#7 Sebuah Undangan (Surat yang Ditolak)
8
#8 Ceroboh (Lidah yang Tergelincir)
9
#9 Sabtu Emas (Sebuah Paksaan)
10
#10 Zagc (Tamu Tak Diundang)
11
#11 Mantra Hell (Siapa yang Mengucapnya?)
12
#12 Apa yang Terjadi? (Setelah Serangan Kutukan)
13
#13 Menyatakan Perasaan (Pernyataan Balasan)
14
#14 Ibu Kota Nachtion (Kencan Pertama)
15
#15 Gwinia (Princess of Zagc)
16
#16 Pesta (Teman Tak Terduga)
17
#17 Serangan Lagi? (Love Potion)
18
#18 Sihir Hitam (Fakta Mengejutkan)
19
#19 Peninjauan Wilayah (Undangan Gwinia)
20
#20 Tea Party (Her Trap)
21
#21 Dimana? (Help Me!)
22
Pengumuman
23
#22 Perasaan (Tak Mampu Melepaskan)
24
#23 Merasa Dicintai (Kesalahan Manis)
25
#24 Menguak Misteri (Penyihir Hitam Gwinia)
26
#25 Ceritanya Mulai Salah (Verdian Zagc)
27
#26 Mencari Kebenaran (Dunia Paralel)
28
#27 Melihat Masa Depan (Tentang Verdian)
29
#28 Illusion (Berharap Selamanya)
30
#29 Badai (Count Rainhart)
31
#30 Bday Party (Pertemuan Tokoh Utama)
32
#31 Kekacauan (Tragedi Sihir Hitam)
33
#32 Memulai Kembali (Setelah Tragedi)
34
#33 Mencarimu (Yanneta Rainhart)
35
#34 Tiba di Ibu Kota (Mengunjungi Nachtion)
36
#35 Apakah Itu Kamu? (Tertampar Kenyataan)
37
#36 Finally (Menemukanmu)
38
#37 Jangan Pergi Lagi (Isi Hati Lionel)
39
#38 Mengakhiri Kesalahpahaman (END)
40
#1 Masa Depan Zagc (Extra Story)
41
#2 Balada Menara Zonix (Extra Story)
42
#3 The Greatest Soveil (Extra Story) (Fin)
43
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!