#9 Sabtu Emas (Sebuah Paksaan)

Jarak mansion Rainhart dan mansion Soveil tidak terlalu jauh. Hanya memakan kurang lebih 30 menit. Mansion Rainhart tepat berada di ibu kota dan dekat jalan utama. Sedangkan mansion Soveil sedikit ke selatan dari ibu kota Kekaisaran Zagc, Nachtion.

Kereta melaju pelan saat gerbang utama terlihat.

Yanneta mendesah. Disampingnya ada Marta yang memperhatikannya dalam diam.

"Nona. Anda seperti orang tua karena terus mendesah."

"Aku tidak ingin pergi Marta." Rengek Yanneta.

"Itu akan dianggap melawan Duke Soveil nona. Anda tidak mungkin membiarkan Rainhart terkena masalah bukan?"

Yanneta mengangguk.

Marta benar. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Jadi dia pasrah.

Yanneta memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya lagi. Dia hanya ingin hidup tenang dan menikmati kehidupan ini. Kenapa sulit sekali.

"Kita sudah sampai."

Saat suara kusir terdengar Yanneta tersentak.

"Apakah sudah sampai? Secepat ini. Tunggu aku belum siap." Jerit Yanneta.

Pintu ketera terbuka.

Yanneta menghela nafas dalam-dalam kemudian meraih tangan Marta yang membantunya turun dari kereta.

Di luar perkiraan. Mansion tampak sepi. Ekspektasi Yanneta pada Sabtu Emas adalah sebuah pesta. Yah umumnya pesta bangsawan yang penuh hiruk pikuk. Suasana mansion sangat senang.

"Anda sudah datang Lady."

Fabian yang entah datang dari mana menyapa Yanneta.

"Kita bertemu lagi."

Fabian menunduk sedikit.

"Yang Mulia sudah menunggu anda di dalam."

"Ah tunggu. Benarkah hari ini ada acara Sabtu Emas? Maksudku mansion terlihat cukup tenang."

"Benar Lady. Hari ini adalah Sabtu Emas Soveil. Yang Mulia Duke mengubah sedikit acaranya."

Yanneta khidmat mendengarkan.

"Acara ini biasanya dilakukan di malam hari, tapi khusus kali ini diadakan di siang hari. Alih-alih pesta Yang Mulia menginginkan acara ini dibuat senderhana, jadi hari ini hanyalah makan siang biasa."

"Hmm.." Yanneta mengangguk paham. Saat dia hendak bertanya mengapa, Fabian lebih dulu menjelaskan.

"Yang Mulia hanya ingin menegaskan tujuan awal dari Sabtu Emas."

"Pasti Sabtu Emas selama ini merepotkan bukan?" Tanya Yanneta secara kasar.

Jika sebuah acara diubah secara tiba-tiba bukankah acara yang biasanya dilakukan sangat memberatkan, itulah kesimpulan Yanneta.

Fabian tersenyum tipis.

"Untuk itu anda bisa menanyakan langsung pada Duke. Mari saya antar ke dalam."

Yanneta mengangguk kecil kemudian mengikuti Fabian.

Mereka sampai di sebuh pintu besar dengan ukiran yang indah. Yanneta mendecakkan lidahnya pelan. Apapun tentang Soveil itu anothel level.

Keluarga dengan sejarah yang panjang. Pemilik kekayaan terbesar di Zagc. Latar belakang kstaria yang tidak diragukan lagi. Kepala keluarganya adalah komandan kstaria Zagc sekaligus swordmaster. Itulah Soveil.

Tiga keluarga lain nyatanya tunduk dengan Soveil. Mereka tunduk pada Zagc karena Soveil tunduk pada Zagc. Awal pembentukan kekaisaran, Soveil yang diajukan menjadi pemimpin namun Soveil menolak.

Jika dia yang menjadi pemimpin, kekasiaran nantinya tidak akan netral. Karena semua keputusan pada akhirnya berdasarkan Soveil. Oleh karena itu Soveil menunjuk Zagc yang dinilai netral.

Tapi siapa yang tahu jika Zagc mengklaim bahwa Soveil terlalu dominan. Maka mereka melempar tali kekang pada Soveil yaitu kutukan Hell.

Licik sekalin bukan. Tiga keluarga lain tidak ada yang tahu. Kenapa? Karena Duke Soveil yang pertama berpikir jika mereka tahu, itu akan jadi kelemahan Soveil. Duke tidak ingin menghancurkan harapan tiga keluarga lain bahwa Soveil adalah panutan mereka.

Oleh karenanya, Soveil menerima kutukan itu tanpa protes.

"Lady Yanneta Rainhart memasuki ruangan."

Nama Yanneta diumumkan tepat saat pintu dibuka. Suasana di dalam cukup tenang.

Sabtu Emas biasa dilakukan di aula utama mansion Soveil. Di tengah ruangan diletakkan meja panjang lengkap dengan kursinya. Banyak bunga menghiasi meja. Selain itu ada lilin dan perlengkapan makan yang senada.

Warna peach dipilih dengan mempertimbangkan cuaca hangat musim semi di Zacg.

Yanneta tidak bisa mengalihkan pandangannya dari banyaknya perhatian Soveil pada acara ini.

"Anda sudah datang Lady."

Saking asyik pada dunia sendiri, Yanneta tidak sadar jika Lionel berdiri tepat di depannya.

"Ah." Begitu dia sadar, Lionel telah meraih tangannya kemudian menciumnya.

Dia tertegun. Otaknya lambat dalam memproses semua ini.

"Saya memberi salam pada Yang Mulia Duke Soveil. Terima kasih atas undangannya."

Tanggapan Yanneta sederhana. Tanpa melihat sekeliling dia memberikan senyum sebagai tanda kehormatan. Menurutnya ini adalah hal yang cukup sederhana.

Namun tidak bagi tamu yang lain. Mendengar nama keluarga yang asing cukup membuat orang penasaran. Selama mereka diundang dalam Sabtu Emas tidak pernah terdengar keluarga Rainhart dalam keikutsertaan. Bangsawan yang diundang adalah para pengikut Soveil.

Bisik-bisik segera terdengar. Tidak sampai gaduh tapi itu sampai ke telinga Yanneta. Dia segera mengedarkan pandangannya ke setiap sudut aula.

Sekitar 50 orang sedang fokus menatapnya.

Dia refleks menarik tangannya kemudian menunduk. Nyali Yanneta langsung surut. Dia tidak memperhatikan resiko ini. Tatapan itu sangat membebani.

"Semuanya, silahkan duduk di tempat yang sudah disediakan."

Suara Lionel menginterupsi kebisingan di aula.

"Jangan tegang, Lady adalah tamu undangan khusus hari ini."

Lionel menuntun Yanneta ke sebuah kursi. Tentu saja gerak-gerak mereka mengundang perhatian.

"Ya terima kasih Yang Mulia." Ucap Yanneta kemudian duduk. Menundukkan kepalanya. Dia bisa merasakan panasnya tatapan orang lain.

"Terima kasih atas kesediaan waktu kalian semua untuk datang ke acara rutin Sabtu Emas Soveil."

Begitu pidato Lionel mulai, semua orang fokus kepadanya. Suasana menjadi tenang.

Diam-diam Yanneta mengamati orang-orang.

Meja di tengah aula berbahan kayu dengan bentuk oval. Para tamu duduk saling berhadapan. Kursi yang paling ujung adalah milik penyelenggara acara. Yang lebih mengejutkan, Yanneta duduk di kursi yang dekat dengan Lionel.

Karena sibuk melarikan diri dari tatapan orang lain Yanneta sampai tidar sadar pada lingkungannya.

"Ya Tuhan bisa gila aku."

Yanneta seperti memasang bendera kematian sendiri. Secara sadar datang ke tempat ini. Setelah ini dia tidak mungkin bisa menampakkan wajahnya di pesta atau kegiatan sosial. Bukankah setelah ini akan ada rumor yang dibesar-besarkan.

Apapun menyangkut Duke Soveil adalah best seller.

"Bukankah begitu Lady Rainhart?"

Sebuah suara memecah kerumitan isi kepala Yanneta. Dia sontak menoleh ke arah sumber suara. Dan orang itu tersenyum sangat manis, dia adalah Lionel Soveil.

"Ah iya." Jawab Yanneta asal.

Matanya menyapu sekitar dan mendapati orang-orang terdiam menatapnya.

"Apa, apa yang terjadi?"

Dia sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak fokus mendengarkan. Saat dia mencoba bertanya pada Lionel dengan kode gerakan bibir, Lionel hanya tersenyum

"Sial!" Pekiknya dalam hati.

"Silahkan menikmati hidangan sederhana ini."

Saat Lionel mengambil sendoknya, secara taktis orang-orang mengikuti.

Hidangan mewah tersaji di atas meja. Mulai dari daging, ikan hingga buah-buahan. Lezatnya hidangan itu tidak sampai ke mata Yanneta. Perutnya terasa penuh dan sesak. Dia kehilangan nafsu makannya.

Yanneta meraih gelas berisi air putih kemudian menenggaknya sekaligus. Tidak nyaman. Itulah perasaannya saat ini. Seperti berada di tempat yang tidak seharusnya. Berpura-pura. Melelahkan.

Dia melirik Lionel yang tak jauh darinya kemudian berbisik.

"Jadi kapan kita bisa menyelesaikan urusan kita Yang Mulia."

Lionel meletakkan garpunya.

"Lady adalah orang yang tidak sabaran."

Yanneta melemparkan tatapan menusuk pada Lionel. Tapi orang yang ditatap tidak gentar sama sekali. Malah senyumnya semakin lebar.

"Jika Yang Mulia tidak percaya pada saya, saya bisa menulis surat perjanjian."

Apakah itu yang Lionel inginkan? Tidak. Dia tidak peduli pada hal-hal seperti itu. Dia hanya tidak suka ditolak. Rasanya menyenangkan mendapatkan hal yang sebelumnya sudah ditolak berkali-kali.

Melihat Yanneta hari ini adalah tujuannya. Dia suka dengan kehadiran wanita itu. Saling berhadapan dan mengobrol. Lionel ingin sebanyak mungkin mendapatkan berbagai emosi darinya.

"Mengundang anda kesini adalah tujuan saya."

"Saya hanya cukup bertahan sampai acara selesai bukan?"

Lionel tak menjawab.

"Bahkan saya sudah berjanji, tapi kenapa anda masih terus mengawasi saya?"

"Saya percaya pada Lady."

"Lalu?"

"Saya hanya ingin menunjukkan bukti bahwa saya bisa dekat dengan anda."

"Ah!" Yanneta tiba-tiba ingat sesuatu.

"Saya dan Yang Mulia bukanlah teman dekat bukan?"

"Jangan bilang apa yang saya katakan kemarin?"

Lionel mengangguk.

Itulah poinnya. Karena Yanneta mengatakan mereka tidak dekat maka Lionel ingin menunjukkan kedekatan mereka dengan mengundangnya ke Sabtu Emas.

Memang mereka tidak dekat. Lalu kenapa dia memaksakan kehendaknya pada Yanneta?

Yanneta geram. Orang ini bersikap sesuka hatinya.

Melihat wajah Yanneta yang merah karena marah, Lionel tertawa terbahak-bahak. Sontak semua orang mengalihkan pandangannya ke arah ujung meja.

Merasa tatapan orang-orang tertuju padanya, Yanneta memalingkan wajahnya. Dia menunduk untuk menyembunyikan kekesalannya.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

TongTji Tea

TongTji Tea

aduuh jadi penasaran gimana kalo yaneta udah balik ke dunia asal dia menjadi hana yaa

2023-05-16

3

yuviˡᵒᵛᵉ

yuviˡᵒᵛᵉ

semangat kaka author, menarik ceritanya

2023-05-15

1

sowon

sowon

Pepet terus Lionel..🥰

2023-05-15

1

lihat semua
Episodes
1 #1 Dunia Novel (Masuk ke Dunia Lain)
2 #2 Pesta Bangsawan (Pesta Putra Mahkota)
3 #3 Duke Soveil (Serangan Kutukan)
4 #4 Belati Hell (Rahasia Duke Soveil)
5 #5 Kutukan (Tentang Hell)
6 #6 Lady Rainhart (Wanita Misterius)
7 #7 Sebuah Undangan (Surat yang Ditolak)
8 #8 Ceroboh (Lidah yang Tergelincir)
9 #9 Sabtu Emas (Sebuah Paksaan)
10 #10 Zagc (Tamu Tak Diundang)
11 #11 Mantra Hell (Siapa yang Mengucapnya?)
12 #12 Apa yang Terjadi? (Setelah Serangan Kutukan)
13 #13 Menyatakan Perasaan (Pernyataan Balasan)
14 #14 Ibu Kota Nachtion (Kencan Pertama)
15 #15 Gwinia (Princess of Zagc)
16 #16 Pesta (Teman Tak Terduga)
17 #17 Serangan Lagi? (Love Potion)
18 #18 Sihir Hitam (Fakta Mengejutkan)
19 #19 Peninjauan Wilayah (Undangan Gwinia)
20 #20 Tea Party (Her Trap)
21 #21 Dimana? (Help Me!)
22 Pengumuman
23 #22 Perasaan (Tak Mampu Melepaskan)
24 #23 Merasa Dicintai (Kesalahan Manis)
25 #24 Menguak Misteri (Penyihir Hitam Gwinia)
26 #25 Ceritanya Mulai Salah (Verdian Zagc)
27 #26 Mencari Kebenaran (Dunia Paralel)
28 #27 Melihat Masa Depan (Tentang Verdian)
29 #28 Illusion (Berharap Selamanya)
30 #29 Badai (Count Rainhart)
31 #30 Bday Party (Pertemuan Tokoh Utama)
32 #31 Kekacauan (Tragedi Sihir Hitam)
33 #32 Memulai Kembali (Setelah Tragedi)
34 #33 Mencarimu (Yanneta Rainhart)
35 #34 Tiba di Ibu Kota (Mengunjungi Nachtion)
36 #35 Apakah Itu Kamu? (Tertampar Kenyataan)
37 #36 Finally (Menemukanmu)
38 #37 Jangan Pergi Lagi (Isi Hati Lionel)
39 #38 Mengakhiri Kesalahpahaman (END)
40 #1 Masa Depan Zagc (Extra Story)
41 #2 Balada Menara Zonix (Extra Story)
42 #3 The Greatest Soveil (Extra Story) (Fin)
43 EPILOG
Episodes

Updated 43 Episodes

1
#1 Dunia Novel (Masuk ke Dunia Lain)
2
#2 Pesta Bangsawan (Pesta Putra Mahkota)
3
#3 Duke Soveil (Serangan Kutukan)
4
#4 Belati Hell (Rahasia Duke Soveil)
5
#5 Kutukan (Tentang Hell)
6
#6 Lady Rainhart (Wanita Misterius)
7
#7 Sebuah Undangan (Surat yang Ditolak)
8
#8 Ceroboh (Lidah yang Tergelincir)
9
#9 Sabtu Emas (Sebuah Paksaan)
10
#10 Zagc (Tamu Tak Diundang)
11
#11 Mantra Hell (Siapa yang Mengucapnya?)
12
#12 Apa yang Terjadi? (Setelah Serangan Kutukan)
13
#13 Menyatakan Perasaan (Pernyataan Balasan)
14
#14 Ibu Kota Nachtion (Kencan Pertama)
15
#15 Gwinia (Princess of Zagc)
16
#16 Pesta (Teman Tak Terduga)
17
#17 Serangan Lagi? (Love Potion)
18
#18 Sihir Hitam (Fakta Mengejutkan)
19
#19 Peninjauan Wilayah (Undangan Gwinia)
20
#20 Tea Party (Her Trap)
21
#21 Dimana? (Help Me!)
22
Pengumuman
23
#22 Perasaan (Tak Mampu Melepaskan)
24
#23 Merasa Dicintai (Kesalahan Manis)
25
#24 Menguak Misteri (Penyihir Hitam Gwinia)
26
#25 Ceritanya Mulai Salah (Verdian Zagc)
27
#26 Mencari Kebenaran (Dunia Paralel)
28
#27 Melihat Masa Depan (Tentang Verdian)
29
#28 Illusion (Berharap Selamanya)
30
#29 Badai (Count Rainhart)
31
#30 Bday Party (Pertemuan Tokoh Utama)
32
#31 Kekacauan (Tragedi Sihir Hitam)
33
#32 Memulai Kembali (Setelah Tragedi)
34
#33 Mencarimu (Yanneta Rainhart)
35
#34 Tiba di Ibu Kota (Mengunjungi Nachtion)
36
#35 Apakah Itu Kamu? (Tertampar Kenyataan)
37
#36 Finally (Menemukanmu)
38
#37 Jangan Pergi Lagi (Isi Hati Lionel)
39
#38 Mengakhiri Kesalahpahaman (END)
40
#1 Masa Depan Zagc (Extra Story)
41
#2 Balada Menara Zonix (Extra Story)
42
#3 The Greatest Soveil (Extra Story) (Fin)
43
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!