#3 Duke Soveil (Serangan Kutukan)

Tubuh Yanneta seperti tertimpa oleh puluhan ton berat. Kurangnya cahaya menjadikannya tidak bisa melihat apa yang ada di depannya.

Dia ditabrak oleh seseorang. Tubuh mereka berdua jatuh ke tanah.

"Apakah anda baik-baik saja?"

Tidak ada jawaban. Suara nafas terdengar kasar.

Sekuat tenaga dia berusaha untuk bangun. Dengan kaki berdenyut sakit.

"Hah. Hah. Hah."

Suara nafas itu mengkhawatirkan.

"Apa anda baik-baik saja? Tunggu sebentar saya akan mencari bantuan."

Yanneta berusaha bangun namun usahanya dicegah. Tangan besar dan kuat menahannya. Tubuhnya kembali jatuh ke tanah.

"Jangan panggil siapapun."

Yanneta diam. Bagaimana bisa dia tidak melakukan apapun melihat seseorang sakit seperti ini.

"Apakah ada yang bisa saya bantu." Yanneta mendekati orang itu.

Tidak ada jawaban.

Meskipun begitu Yanneta tetap mendekat. Seseorang sakit maka dia harus menolongnya. Dia bukan orang yang baik namun dia masih memiliki rasa kemanusiaan.

"Apakah anda sakit?" Suaranya melembut.

Saat matanya mencapai sosok yang semakin dekat. Tubuh Yanneta menegang. Orang itu adalah Duke Soveil.

"Astaga. Yang Mulia." Sontak Yanneta memeriksa kondisinya.

"Apa yang terjadi padanya hingga begini? Orang paling kuat di kekaisaran yang bahkan kebal pada racun ini. Ah iya, dia memiliki kutukan di dalam cerita. Apa itu namanya.. Hell, ah iya kutukan itu. Pasti tubuhnya terasa sakit sekali."

Disebut Hell karena artinya neraka. Orang yang terkena kutukan ini akan merasakan rasa sakit amat sangat. Tubuh terasa ditusuk ribuan jarum. Kepala berdering dan sesak nafas. Hanya keluarga Duke Soveil dan Kekaisaran Zagc yang tahu. Obat penawar ada di tangan kaisar.

Jika dia seperti ini, dia pasti mengalami serangan kutukan itu. Itulah asumsi Yanneta. Tanpa menderita langsung Yanneta tahu rasa sakitnya. Kutukan Hell diceritakan saat spesifik hingga membuatnya merinding waktu membacanya.

"Tarik nafas anda Yang Mulia." Yanneta menepuk punggung Lionel dengan lembut.

"Pelan-pelan dan jangan terburu-buru."

Yanneta lebih mendekatkan tubuhnya kemudian memeluk Lionel.

Puk. Puk.

Tangannya tidak berhenti untuk menepuk pundaknya.

"Apakah sangat sakit? Anak baik, tarik nafas pelan-pelan." Tangannya mengusap rambut hitam Lionel.

Rasanya menyenangkan. Seperti sedang menenangkan anak kecil yang menangis. Tubuhnya sangat besar hingga kedua tangan Yanneta tidak bisa merengkuh seluruh tubuh kesakitan itu.

Nafasnya masih kasar namun sudah teratur.

Sebuah ingatan terlintas dibenak Yanneta.

Lionel selalu membawa obat penawar cadangan kemanapun dia pergi. Melihat sekeliling yang sepi dan dia tidak mau Yanneta memanggil bantuan, mau tidak mau dialah yang harus membantu Lionel.

Pertemuan yang unik dan aneh.

Di dalam novel tidak pernah diceritakan Lionel bertemu dengan seorang wanita bernama Yanneta Rainhart di sebuah pesta.

Cerita langsung diawali dengan pertemuan ketiga tokoh yang terlibat cinta segita.

Yanneta segera menghilangkan pikiran-pikiran aneh di kepalanya. Dia mulai meraba tempat-tempat yang kemungkinan digunakan untuk menyembunyikan sebuah obat.

Ketemu. Ada di saku paling dalam sebelah kanan.

"Maafkan aku Yang Mulia Duke. Bukannya aku tidak sopan tapi aku tidak punya cara lain." Teriak Yanneta dalam hati.

Sebuah pisau kecil yang ketika dibuka ujung gagangnya ada obat penawar yang berbentuk bulat sebesar mutiara. Pisau itu digunakan untuk menyembunyikan obatnya.

Tak menunggu lama, Yanneta segera memberikan obat itu pada Lionel.

Beberapa saat kemudian, nafas Lionel menjadi teratur dan gemetarnya mereda.

Tubuhnya basah oleh keringat. Masih dalam keadaan memeluk Lionel, Yanneta terus mengelus punggung Lionel agar tenang.

Tangan kuat Lionel juga masih melingkari tubuh Yanneta. Mereka berbagi kehangatan.

Suara nafas teratur itu kini berubah menjadi dengkuran halus. Sepertinya krisis telah berlalu.

Tapi bagaimana caranya membawa Lionel kembali. Tidak mungkin dia menggendongnya, tidak mungkin juga menyeretnya.

Yanneta berpikir keras.

Tubuh Lionel yang tegang menjadi lemas begitu dia tertidur. Yanneta melapas pelukannya kemudian membaringkan kepala Lionel di pangkuannya.

Menyisir rambut hitam Lionel. Mengelus pipinya. Menepuk pundaknya. Yanneta merasa dia seperti sepasang kekasih.

Jika tempat dia berada sekarang adalah aula pesta, sudah pasti semua perhatian akan tertuju padanya. Untungnya tidak ada satupun orang yang lewat dan suasananya gelap.

"Tinggalkan tidak. Tinggalkan tidak."

Di tengah kekalutan itu suara riuh langkah kaki mendekat. Sebuah cahaya terang menyilaukan mata Yanneta.

"Yang Mulia."

Beberapa orang yang membawa lilin terlihat berlari ke arah mereka.

"Apa yang terjadi? Yang Mulia."

Ada sekitar empat orang. Mereka terkejut melihat Lionel yang terbaring di tanah dengan seorang wanita. Pakaian mereka kotor tak terkira.

Kekhawatiran mereka menetas. Dua dari mereka melihat kondisi Lionel. Satu diantara lari. Kemungkinan memanggil kereta atau dokter. Satu lagi yang lain membungkuk dan membawa tubuh Lionel ke atas punggungnya. Merema bertiga dengan Lionel yang tidak sadarkan diri berlari secepat kilat.

Yanneta ditinggalkan tanpa sepatah katapun. Dia masih duduk bersila melihat keributan itu.

"Untung saja aku tidak perlu memanggil bantuan." 

Yanneta berdiri kemudian memeriksa gaunya.

Itu rusak. Rusak total.

"Semoga mimpi indah Lionel. Tetaplah sehat sampai bertemu dengan Rose nanti. Semoga kamu melupakan hari ini seperti tidak pernah terjadi apa-apa."

Itulah keinginan Yanneta. Dia tidak ingin Lionel sakit lagi.

"Astaga nona. Apa yang terjadi hingga gaun anda rusak?"

Marta terbelalak saat melihat Yanneta kembali dengan tampilan yang berantakan.

Tidak hanya rusak tapi gaun itu juga kotor.

"Maafkan aku Marta. Aku tidak sengaja terjatuh saat mencari udara segar di taman."

"Apakah anda baik-baik saja?"

Marta memindai tubuh Yanneta sekilas.

"Sebaiknya anda masuk ke kereta dan kita segera pulang nona. Mungkin ada luka di tempat yang tidak terlihat."

Yanneta mengangguk.

"Terima kasih Marta dan maaf aku berbohong."

*

"Apa yang terjadi?"

Begitu membuka mata Lionel sudah berada di kamarnya.

Ingatannya samar-samar.

"Semalam anda terkena serangan Yang Mulia." Byos si dokter keluarga menjawab.

"Ah iya!" Lionel memegang kepalanya yang masih berat.

"Apakah anda merasa sakita dimana Yang Mulia saya akan memeriksanya." Tanya Byos.

"Tidak aku baik-baik saja."

"Anda meminum obat penawar yang anda bawa tepat waktu. Jika terlambat sedikit saja mungkin nyawa anda tidak akan tertolong."

"Aku tidak meminumnya sendiri. Sepertinya ada yang membantuku malam itu." Sebuah sosok gelap segera terlintas di kepala Lionel. Karena berusaha mengingat kepala terasa berputar.

"Mungkin kita bisa bertanya pada para pengawal yang membawa anda kembali semalam."

Lionel mengangguk pasrah.

"Wanita?"

Empat orang menangguk bersama.

"Karena kami semua panik kami tidak sempat menanyakan siapa dia."

"Apakah kalian mengingat wajahnya?"

Mereka ragu-ragu.

"Saat itu gelap jadi tidak begitu jelas."

"Mungkin mereka salah satu anggota keluarga kaisar?"

Semua menggeleng kompak.

"Wajahnya tidak familiar Yang Mulia. Kami tentu tahu wajah putri kaisar."

Lionel memijat pelipisnya.

Bukan masalah menemukan siapa wanita itu, tapi belati Hell yang dia simpan di sakunya menghilang.

Berarti wanita itu tahu rahasianya.

Tiba-tiba sebuah suara terlintas.

"Tarik nafas anda Yang Mulia."

"Pelan-pelan dan jangan terburu-buru."

"Apakah sangat sakit? Anak baik, tarik nafas pelan-pelan." 

"Wanita itu sepertinya tahu siapa diriku." Ucap Lionel.

"Berikan perintah anda Yang Mulia."

"Utus orang untuk ke kaisaran mencari informasi tentang tamu undangan. Pastikan tidak ada yang mengetahui kejadian malam itu."

"Baik Yang Mulia."

"Dimana Fabian?" Tanya Lionel.

Fabian adalah pelayan pribadi Lionel.

"Sedang menyiapkan makan siang untuk anda Yang Mulia. Begitu mendengar anda bangun Fabian langsung sibuk di dapur." Jawab Byos.

Lionel mendesah pelan.

"Temukan belati Hell lebih dulu. Sepertinya wanita itu membawanya. Andai saja aku mengingat wajahnya." Lionel tak berdaya.

"Perlu saya panggilkan Dyos Yang Mulia?"

"Dimana dia sekarang?"

"Mungkin disuatu tempat yang penuh dengan barang eksperimen sihir." Jawab Byos.

"Panggil dia kemari. Mungkin hanya dia yang bisa menemukan belati Hell secepatnya." Titah Lionel.

"Baik Yang Mulia."

Kamar kembali menjadi sunyi. Lionel menghempaskan tubuhnya ke kasur dan mencoba terpejam.

Namun gagal.

Pelukan hangat, tepukan tulus di punggung dan suara lembut yang menenangkan masih terngiang. Begitu membuka matanya semua teras dejavu. Seperti mimpi dalam kenyataan.

"Siapa kamu?" Gumamnya pelan.

Bersambung...

FYI

Byos dan Dyos adalah saudara kembar. Byos Tatiha adalah seorang dokter dan Dyos Tatiha adalah penyihir resmi Soveil.

Mereka mengabdikan dirinya untuk Soveil sebagai balas budi karena telah diselamatkan oleh Lionel saat mereka hampir mati kelaparan di jalanan.

Fabian Soppra, pelayan pribadi Lionel yang sangat berdedikasi tinggi.

Terpopuler

Comments

ɪɢ : kimacha_cha

ɪɢ : kimacha_cha

wehh aku ngakak bacanya... /Joyful/

2024-08-31

1

bubi

bubi

❤❤❤

2023-06-30

1

FJ56

FJ56

seru..sempat tertunda baca ceritanya kerna ada kesibukan..dan sekarang lanjut baca lagi.

2023-05-26

1

lihat semua
Episodes
1 #1 Dunia Novel (Masuk ke Dunia Lain)
2 #2 Pesta Bangsawan (Pesta Putra Mahkota)
3 #3 Duke Soveil (Serangan Kutukan)
4 #4 Belati Hell (Rahasia Duke Soveil)
5 #5 Kutukan (Tentang Hell)
6 #6 Lady Rainhart (Wanita Misterius)
7 #7 Sebuah Undangan (Surat yang Ditolak)
8 #8 Ceroboh (Lidah yang Tergelincir)
9 #9 Sabtu Emas (Sebuah Paksaan)
10 #10 Zagc (Tamu Tak Diundang)
11 #11 Mantra Hell (Siapa yang Mengucapnya?)
12 #12 Apa yang Terjadi? (Setelah Serangan Kutukan)
13 #13 Menyatakan Perasaan (Pernyataan Balasan)
14 #14 Ibu Kota Nachtion (Kencan Pertama)
15 #15 Gwinia (Princess of Zagc)
16 #16 Pesta (Teman Tak Terduga)
17 #17 Serangan Lagi? (Love Potion)
18 #18 Sihir Hitam (Fakta Mengejutkan)
19 #19 Peninjauan Wilayah (Undangan Gwinia)
20 #20 Tea Party (Her Trap)
21 #21 Dimana? (Help Me!)
22 Pengumuman
23 #22 Perasaan (Tak Mampu Melepaskan)
24 #23 Merasa Dicintai (Kesalahan Manis)
25 #24 Menguak Misteri (Penyihir Hitam Gwinia)
26 #25 Ceritanya Mulai Salah (Verdian Zagc)
27 #26 Mencari Kebenaran (Dunia Paralel)
28 #27 Melihat Masa Depan (Tentang Verdian)
29 #28 Illusion (Berharap Selamanya)
30 #29 Badai (Count Rainhart)
31 #30 Bday Party (Pertemuan Tokoh Utama)
32 #31 Kekacauan (Tragedi Sihir Hitam)
33 #32 Memulai Kembali (Setelah Tragedi)
34 #33 Mencarimu (Yanneta Rainhart)
35 #34 Tiba di Ibu Kota (Mengunjungi Nachtion)
36 #35 Apakah Itu Kamu? (Tertampar Kenyataan)
37 #36 Finally (Menemukanmu)
38 #37 Jangan Pergi Lagi (Isi Hati Lionel)
39 #38 Mengakhiri Kesalahpahaman (END)
40 #1 Masa Depan Zagc (Extra Story)
41 #2 Balada Menara Zonix (Extra Story)
42 #3 The Greatest Soveil (Extra Story) (Fin)
43 EPILOG
Episodes

Updated 43 Episodes

1
#1 Dunia Novel (Masuk ke Dunia Lain)
2
#2 Pesta Bangsawan (Pesta Putra Mahkota)
3
#3 Duke Soveil (Serangan Kutukan)
4
#4 Belati Hell (Rahasia Duke Soveil)
5
#5 Kutukan (Tentang Hell)
6
#6 Lady Rainhart (Wanita Misterius)
7
#7 Sebuah Undangan (Surat yang Ditolak)
8
#8 Ceroboh (Lidah yang Tergelincir)
9
#9 Sabtu Emas (Sebuah Paksaan)
10
#10 Zagc (Tamu Tak Diundang)
11
#11 Mantra Hell (Siapa yang Mengucapnya?)
12
#12 Apa yang Terjadi? (Setelah Serangan Kutukan)
13
#13 Menyatakan Perasaan (Pernyataan Balasan)
14
#14 Ibu Kota Nachtion (Kencan Pertama)
15
#15 Gwinia (Princess of Zagc)
16
#16 Pesta (Teman Tak Terduga)
17
#17 Serangan Lagi? (Love Potion)
18
#18 Sihir Hitam (Fakta Mengejutkan)
19
#19 Peninjauan Wilayah (Undangan Gwinia)
20
#20 Tea Party (Her Trap)
21
#21 Dimana? (Help Me!)
22
Pengumuman
23
#22 Perasaan (Tak Mampu Melepaskan)
24
#23 Merasa Dicintai (Kesalahan Manis)
25
#24 Menguak Misteri (Penyihir Hitam Gwinia)
26
#25 Ceritanya Mulai Salah (Verdian Zagc)
27
#26 Mencari Kebenaran (Dunia Paralel)
28
#27 Melihat Masa Depan (Tentang Verdian)
29
#28 Illusion (Berharap Selamanya)
30
#29 Badai (Count Rainhart)
31
#30 Bday Party (Pertemuan Tokoh Utama)
32
#31 Kekacauan (Tragedi Sihir Hitam)
33
#32 Memulai Kembali (Setelah Tragedi)
34
#33 Mencarimu (Yanneta Rainhart)
35
#34 Tiba di Ibu Kota (Mengunjungi Nachtion)
36
#35 Apakah Itu Kamu? (Tertampar Kenyataan)
37
#36 Finally (Menemukanmu)
38
#37 Jangan Pergi Lagi (Isi Hati Lionel)
39
#38 Mengakhiri Kesalahpahaman (END)
40
#1 Masa Depan Zagc (Extra Story)
41
#2 Balada Menara Zonix (Extra Story)
42
#3 The Greatest Soveil (Extra Story) (Fin)
43
EPILOG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!