"Yang Mulia bisa saya jelaskan."
"Baiklah. Setidaknya penjelasanmu perlu didengarkan."
Yanneta menelan salivanya. Ini sulit.
"Saya menemukan benda ini saat tidak sengaja melewati taman."
Bohong. Yanneta terlalu takut untuk jujur. Keberanian yang dipupuk dalam perjalanan kesini hilang diterpa angin. Di bawah tatapan intimidasi Lionel, keteguhannya koyak.
"Ada lambang Duke Soveil di gagang belati ini, jadi saya menyimpulkan jika ini milik anda Yang Mulia."
"Hah.." Desah Yanneta dalam hati.
"Lady.." Suaranya serak dan dalam.
Sontak Yanneta menegakkan punggungnya.
"Tidak perlu berbohong." Ucap Lionel singkat dengan senyum misterius.
Jleb.
Yanneta seperti ditusuk oleh pisau yang tepat sasaran. Orang ini tahu siapa dirinya.
"Jadi Yang Mulia mengingatnya?" Tanya Yanneta sekilas.
Lionel mengangguk.
"Oh astaga! Sia-sia saya mengarang cerita."
Mata Lionel membulat sempurna. Reaksi Yanneta tidak seperti yang dia bayangkan. Biasanya orang-orang akan menciut dan takut saat berhadapan langsung dengannya. Umumnya para wanita. Meskipun mereka selalu ramai di sekitarnya, mereka tidak berani untuk bertatapan langsung dengannya.
"Baik Yang Mulia, malam itu benar saya orang yang menemukan anda kesakitan. Jadi cerita saya tadi adalah karangan. Benda ini saya temukan di saku pakaian yang anda kenakan. Ternyata ada obat di dalamnya. Malam itu anda langsung di bawa pergi oleh para ksatria jadi benda ini tertinggal pada saya."
Lionel tetap diam.
"Saya tidak mencurinya. Jadi tolong jangan salah paham."
"Darimana kamu tahu?"
"Ya?"
"Belati ini ada di sakuku."
"Tunggu Yang Mulia, bisakah anda sopan pada saya? Kita tidak saling kenal jadi tolong gunakan sopan santun."
Tidak takut. Menarik. Padahal Yanneta tadi meringkuk ketakutan saat pertama bertemu. Begitu dia menemukan ketenangannya, Lionel terlihat seperti laki-laki pada umumnya.
Lionel tersentak. Baru kali ini ada yang menuntut sopan santun padanya. Dia hampir saja tersedak.
"Jadi Yang Mulia saya berniat baik untuk mengembalikan benda ini."
"Sejauh mana anda tahu?"
Yanneta tersenyum. Mudah ternyata menanganinya. Mungkin dia takut kelemahannya ketahuan.
"Sejauh mana anda menginginkannya?"
Lionel mengerutkan dahinya kemudian menjawab.
"Sebanyak yang kamu tahu."
"Saya tidak tahu sebanyak itu."
Bohong. Dia tahu banyak. Adegan di novel Red Rose Tragedy masih sangat jelas di kepala Yanneta. Meskipun ada beberapa bagian yang dia lupakan. Selama cerita itu ada Lionel, Yanneta membaca berulang kali. Karena Lionel Soveil adalah favoritnya.
"Saya tahu anda sedang sakit saat itu. Tapi saya tidak tahu anda sakit apa. Saya hanya berusaha menolong."
Jeda sejanak.
"Anda berusaha untuk meraih saku di dalam pakaian yang anda kenakan, jadi saya mencoba menolong anda. Saat saya merogohnya, ada benda ini." Yanneta menunjuk belati Hell dengan mudanya, seperti tidak ada rahasia di dalamnya.
"Saat saya mengambilnya, benda ini jatuh dan sesuatu keluar dari bagian sini." Yanneta kembali menunjuk belati Hell. Lebih tepatnya bagian ujung gagangnya.
"Itulah yang saya tahu Yang Mulia."
Yanneta mengakhirinya dengan senyum tulis seraya bergumam, percayalah padaku.
"Bagaimana jika saya tidak percaya?"
"Saya tidak peduli anda percaya atau tidak."
"Lady anda sangat percaya diri."
"Yang Mulia, tidakkah anda berterima kasih pada saya karena saya menolong anda? Malam itu anda sangat kesakitan, jika bukan karena saya anda bisa saja mati."
"Selain itu Lady juga sangat berani."
Mata Yanneta berkedip. Dia hanya tidak ingin Lionel mencurigainya. Bukan dianggap percaya diri dan sangat berani. Dia datang kesini untuk mengembalikan belati Hell agar tidak disalahpahami. Dia tidak mungkin menceritakan semuanya bukan, misalnya saya datang dari dunia lain dan saya tahu tentang kutukan anda. Bisa-bisa dia dianggap gila.
Diam-diam Yanneta mengumpat, tolong terima saja kebohongan ini dan akhiri pertemuan kita. Lagipula kita tidak akan bertemu lagi.
"Yang Mulia, saya rasa sudah cukup apa yang ingin saya sampaikan. Saya akan pamit undur diri." Yanneta hendak berdiri tapi didahului Lionel.
"Anda mencoba untuk melarikan diri?" Seloroh Lionel.
"Ya? Apa maksud anda?"
"Anda harus bertanggung jawab."
"Tanggung jawab?"
"Ya." Jawab Lionel singkat.
Mata Yanneta membulat sempurna.
"Anda jadi tahu apa yang tidak seharusnya diketahui oleh orang lain."
"Tentu aku tahu. Aku hanya pura-pura tidak tahu. Apa maksudmu dengan tanggung jawab?"
Kutukan Hell sangat rahasia. Jika bocor sedikit saja orang itu akan dieksekusi mati di tempat. Bagaimana Yanneta bisa lupa aturan dalam novel yang membuatnya ngeri. Maka dia disini berpura-pura tidak tahu apa-apa. Yanneta masih ingin hidup.
"Tentang sakit anda?" Tanya Yanneta polos.
Di luar bisa saja dia baik-baik saja. Tapi di dalam hatinya sudah lama runtuh. Bagaimana bisa tenang berhadapan dengan pemimpin pasukan kekaisaran yang gila darah.
"Jika itu yang anda khawatirkan, saya berjanji akan menutup mulut saya. Saya adalah orang yang menepati janji Yang Mulia, atas nama Rainhart dan harga diri saya. Saya juga tidak suka bergosip ataupun dunia sosial. Jadi saya anggap malam itu saya tidak melihat apapun." Suara Yanneta bergetar di akhir.
"Saya janji!" Yanneta mengangkat tangan kanannya sebagai bentuk sumpahnya.
Lionel terkikik.
Yanneta tidak salah lihat, orang itu tertawa kecil. Yanneta terdiam menatap perubahan halus pada Lionel. Seingatnya, hal itu hanya Lionel tunjukkan pada Rose Attlier.
"Jadi Yang Mulia..."
"Lady.." Lagi-lagi Lionel mendahului.
"Biasanya orang yang tahu penyakit saya mereka tidak akan kembali dalam keadaan hidup."
Ah. Yanneta tersadar, baru saja itulah Lionel Soveil yang asli. Dingin, keras dan tanpa ampun. Melemparkan ancaman pembunuhan lebih cocok dibanding tersenyum kecil tadi. Yanneta terkecoh sejanak. Mungkin dia sedang menertawakannya bukan tersenyum dalam arti sesungguhnya.
Keluarga Duke Soveil biasanya menyebutnya penyakit dibanding kutukan. Hanya dalam keadaan mendesak saja. Jika terpaksa kutukan itu bocor ke publik.
"Jadi maksud anda saya harus mati karena tahu penyakit anda?"
Lionel mengangguk dengan wajah tanpa ekspresi. Meskipun terlihat sadis kenyataannya dia super tampan. Wajah jahat tidak mengurangi ketampanannya sedikitpun.
Yanneta menjerit dalam hati.
"Jika tahu akan mati hari ini saya menyesal tidak memberitahu semua orang di Kekaisaran Zagc jika Duke Soveil menderita penyakit yang aneh."
Yanneta marah. Dan takut.
Lionel terhenyak, hampir saja sandaran tangannya pada sofa runtuh. Dia tidak pernah mendapatkan perlawanan seperti ini. Maksudnya dia hanya ingin menakuti wanita kecil ini dan mencari tahu apakah dia tahu tengang kutukannya atau tidak.
Tak disangka semakin lama jadi semakin menarik. Seperti burung merak, wanita ini terus menegakkan ekor cantiknya untuk melawannya. Sama sekali tidak kenal takut.
"Anda memang sangat, sangat berani." Akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya saking terkejutnya.
"Ya saya memang berani." Suara Yanneta meninggi.
"Saya bermaksud baik datang kesini untuk mengembalikan milik anda yang tertinggal. Saya takut akan disalahpahami. Tapi apa yang saya dapat? Bukan terima kasih tapi malah ancaman pembunuhan yang saya dapat. Saya rasa hewanpun punya rasa terima kasih, tapi anda sama sekali tidak." Yanneta bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak perlu berterima kasih Yang Mulia, Duke Soveil, saya tidak akan menerima rasa terima kasih anda. Saya harap kita tidak akan bertemu lagi di masa depan. Semoga hidup anda selalu sehat. Permisi."
Tanpa memberi hormat Yanneta berbalik dan segera pergi dari kantor Lionel. Tidak menengok sama sekalipun. Langkahnya tergesa-gesa menuju kereta kuda yang setia menunggunya.
"Anda sudah kembali nona." Marta membantu Yanneta masuk kereta.
"Sebaiknya kita cepat pergi dari tempat ini."
"Baik nona."
*
"Anda memanggil saya Yang Mulia?" Suara Fabian menginterupsi lamunan Lionel.
Di luat jendela langit semakin merah dan matahari hampir tenggelam. Matanya menatap jauh. Sebuah kereta kuda yang berlari kencang seperti ingin menghilang.
Lionel tidak menjawab sampai kereta tersebut tidak terlihat lagi.
"Ada yang harus kamu selidiki." Titah Lionel.
"Silahkan berikan perintah anda Yang Mulia." Fabian maju beberapa langkah.
"Yanneta Rainhart, cari tahu semua tentang dia. Besok pagi aku harap semuanya sudah ada di mejaku."
"Baik Yang Mulia."
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Retno Isma
🌹🌹🌹🌹🌹
2024-11-27
0
TongTji Tea
ayook gunakan kemampuan akting mu hana...
2023-05-13
2