Di tengah acara sebuah pengumuman mengejutkan semua orang.
"Yang Mulia Putra Mahkota Verdian Zagc, dan Putri Gwinia Zagc memasuki ruangan."
Semua orang membeku dan saling pandang. Tak terkecuali Lionel. Matanya bergetar. Kebigungan jelas terlihat disana. Yanneta sibuk mengamati situasi sambil memusatkan perhatian ke pintu.
Akhirnya dia akan bertemu dengan ogFL dalam Red Rose Tragedy. Jika Verdian, dia sudah pernah melihatnya di pesta ulang tahunnya.
Gwinia Abraha Zagc, putri kaisar yang paling disayang. Meskipun bukan anak laki-laki Putri Gwinia diangungkan oleh ayahnya, Kaisar Zagc. Karena hal ini dia menjadi anak manja dan selalu mendapatkan apa yang dia mau.
Tidak terkecuali orang. Contohnya adalah Lionel Soveil. Sudah menjadi rahasia umum jika Putri Gwinia menyukai Duke Lionel Soveil.
Meskipun tidak sampai agresif, Putri Gwinia secara terbuka menunjukkan ketertarikannya pada Lionel. Sayangnya, Lionel mengacuhkannya. Keluarga kekaisaran sejak awal adalah musuh Soveil. Jadi mereka tidak lebih dari serangga menjijikkan dan harus dihindari.
"Bagaimana mereka bisa ada disini?" Tanya Lionel pada Fabian yang berdiri di belakangnya.
"Kami tidak mengundang keluarga kaisar Yang Mulia. Jadi saya tidak bisa menjelaskan."
"Mereka semakin berani akhir-akhir ini." Suara Lionel meninggi.
Begitu dua orang yang sangat diantisipasi muncul, semua orang berdiri dan menunduk.
"Salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota Verdian dan Putri Gwinia."
Basa-basi yang terlalu terang-terangan. Mereka menyapa sekedarnya kemudian menegakkan kembali penggungnya.
Lionel yang berdiri paling ujung mendekati dua orang anak Kaisar Zagc.
"Sepertinya ada kesalahan dalam mengirim undangan. Kiranya Yang Mulia memaklumi kesalahan bawahan saya." Provokasi yang terang-terangan.
Siapapun tahu mereka tidak akur. Antara Zagc dan Soveil. Jadi kata-kata sarkas tidak asing ditelinga mereka.
"Tidak Duke, kami ada urusan di dekat sini jadi tidak ada salahnya mampir. Kami bahkan baru tahu saat tiba di gerbang jika hari ini adalah Sabtu Emas." Tanggapan Verdian sangat tenang. Senyumpun tidak lepas dari bibirnya.
Tidak salah jika Yanneta memberi label greenflag pada Verdian Zagc. Artinya dia seperti kakak baik hati.
Lihatlah pihak Lionel. Wajahnya sangat dingin seperti siap menyemburkan api dingin ke arah dua orang di depannya. Dialah redflag menurut Yanneta, sayangnya Lionel tetap favoritnya. Pria kategori badboy itu memang ada manis-manisnya.
"Ah! Apakah anda butuh waktu tempat untuk istirahat? Saya akan segera menyiapkannya."
Dengan kata lain Lionel mengatakan "Segeralah enyah dari sini!"
Mata Yanneta terpaku pada Gwinia Zagc, dia tidak banyak bicara namun emosinya berlebihan. Bibirnya bisanya saja tersenyum tapi matanya seolah bisa menembus Lionel.
Mencurigakan.
"Apakah kami mengganggu Duke?" Suaranya lembut dan anggun. Cocok sebagai peran putri kaisar.
"Tentu saja." Jawaban Lionel sangat jujur.
Yanneta hampir tersedak mendengar jawaban Lionel. Ini bukan lagi permusuhan tapi perang nonfisik secara terbuka.
Banyak mata yang mengamati perselisihan sengit ini.
"Sepertinya kita tidak diharapkan disini, kita pergi saja." Timpal Gwinia.
Nah ini. Inilah yang Yanneta takutkan. Siapa yang berani menolak kehadiran keluarga kekaisaran. Ini bisa dianggap mengkhianatan. Nafas Yanneta tercakat dia khawatir.
"Fabian." Panggil Lionel.
"Ya Yang Mulia."
"Persiapkam tempat untuk Putra Mahkota dan Putri." Titahnya.
Fabian mengangguk kemudian mengantar mereka ke kursi terdekat. Susunan tempat duduk berubah kecuali tempat Lionel dan Yanneta.
Kebanyakan tamu yang hadir adalah pasangan. Tidak banyak yang muda. Mungkin bisa dihitung dengan jari. Mereka rata-rata berpasangan. Tamu yang datang sendiri tidak banyak. Tamu laki-laki lebih mendominasi.
Kehadiran Yanneta terlihat mencolok karena dia adalah wanita muda tanpa pasangan. Keberadaannya mudah terlihat.
Tatapan Gwinia bertemu langsung dengan Yanneta. Seperti sedang mengunci target. Entah kenapa menurut Yanneta tatapannya tidak biasa. Dia seperti dibenci dari jarak jauh.
Pikir Yanneta, Putri Gwinia pasti salahpaham padanya. Seperti yang lain. Tapi Yanenta tidak berniat menjelaskan. Dia sudah terlalu lelah. Dia hanya ingin segera pulang.
Acara berjalan lancar meskipun ada dua tamu tak diundang datang. Lionel sendiri tidak bisa berbuat banyak karena posisi mereka.
Lionel memperlakukan mereka seperti tidak terlihat sepanjang acara. Lionel bisa sana acuh tapi Yanneta tidak.
Sepanjang acara Gwinia memperhatikan gerak-gerik Yanneta. Bisa-biaa dahinya berlubang ditatap Gwinia. Dia berusaha untuk fokus tapi susah. Ya kita tahu bagaimana rasanya diawasi oleh seseorang bukan. Tidak nyaman.
Untungnya wajah Lionel sedikit mengobati ketidak nyamanan Yanneta. Tidak bosan rasanya melihat wajah tampan itu. Mengenakan pakaian resmi dengan simbol Soveil di dada, fitur Lionel tidak terdefinisikan. Kata indah, tampan, sempurna, luar biasa tidak cukup. Dia bukan manusia tapi malaikat.
"Sepertinya hari ini sudah cukup. Terima kasih atas kehadiran kalian." Pidato Lionel diakhiri dengan baik.
Tanpa aba-aba semua orang berdiri dan mendekati Lionel. Mereka bergantian membungkuk dan satu persatu meninggalkan ruangan.
Pasangan adik kakak Zagc tertinggal paling belakang.
"Senang bisa mengikuti acara sebagus ini Duke." Verdian menjabat tangan Lionel.
"Terima kasih atas pujian selangit anda Yang Mulia. Ini hanya acara diskusi biasa. Kehadiran anda mungkin bisa membebani mereka." Lionel mengarahkan pandangannya ke pintu. Maksudnya adalah para tamu yang datang.
Yannet setuju dengan pendapat Verdian. Acara ini bukan diskusi biasa tapi pertemuan yang sangat bermanfaat. Mereka membahas tentang masalah rakyat. Kemiskinan, kelaparan hingga anak-anak terlatar tak luput dari perhatian mereka.
Dana yang terkumpul dari Sabtu Emas sangat diperhatikan penggunaanya. Apakah sudah tepat sasaran atau belum. Apakah ada kendala atau tidak.
Orang lain yang hadir pasti setuju dengan pujian Verdian. Mereka pasti akan kagum sekaligus bangga dengan Soveil.
Konsep inilah yang tidak dimiliki wilayah lain. Terutama Zagc sendiri. Mereka pernah meniru konsep Sabtu Emas Soveil, tapi tak berapa lama acaranya dibubarkan karena keegoisan anggotanya. Berbeda dengan Soveil yang solid.
"Kami juga ingin seperti Soveil yang luar biasa Duke." Timpal Gwinia tiba-tiba. Suaranya halus dan manja.
Yanneta yang diam-diam mengawasi dari samping dan tertawa dalam hati. Gwinia tampak seperti si paling pick me girl. Cara menggodanya lucu.
"Bagaimana Soveil bisa dibanding dengan Zagc Putri, anda sangat berlebihan."
Di luat eskpektasi, bukannya menanggapi dengan malu-malu karena dilempari wink-wink dari Gwinia, Lionel malah memasang wajah datar.
Wajah Gwinia langsung bermuka masam.
Tawa Yanneta hampir meledak. Dia memalingkan wajahnya saking tidak tahannya. Kalau dia jadi Gwinia dia pasti sudah mencari lubang untuk bersembunyi. Wajah datar Lionel juga tidak kalah lucu. Bagaimana bisa dia sebagai pria normal tidak tergerak sama sekali dengan serangan maut Gwinia.
Putri Gwinia juga cantik menurut Yanneta. Sayang dipertemuan pertama dia mendapat banyak nilai minus darinya. Meskipun wajahnya cantik dan senyumnya juga manis, Gwinia tampak seperti rubah. Cantik namun licik.
"Kalau begitu kami undur diri Duke." Verdian kembali menjabat tangan Lionel kemudian pergi dan diikuti oleh Gwinia yang memasang wajah kecewa.
Aula menjadi sepi. Tersisa Yanneta seorang yang belum meninggalkan tempat sebagai tamu. Di segera mengatur posisinya kemudian berjalan mendekati Lionel.
"Yang Mulia saya juga pamit undur diri."
"Tunggu dulu Lady."
"Apakah ada yang ingin anda sampaikan lagi Yang Mulia? Saya sudah cukup menghadiri acara ini. Tolong jangan ganggu saya lagi."
Dahi Lionel berkerut.
"Maukah anda meluangkan waktu anda untuk minum teh sebentar dengan saya?" Lionel menarik tangan Yanneta kemudian menciumnya.
"Ya?" Jawaban Yanneta spontan.
"Saya mengundang anda untuk minum teh dan makan camilan enak. Soveil punya koleksi teh terbaik di Zagc, apakah anda tidak ingin mencobanya?"
Tawaran yang sungguh menggiurkan. Apalagi orang yang menawarkan tak kalah menggiurkan. Senyumnya sangat menyihir. Hampir saja Yanneta mengangguk sebelum dirinya tersadar sepenuhnya.
"Tidak terima kasih atas kebaikan selangit anda Yang Mulia." Yanneta menarik tangannya kembali.
Sarung tangan berenda menjadi kusut karena cengkeraman tangannya sendiri. Yanenta tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan tokoh dalam Red Rose Tragedy.
Dia buru melarikan diri dari Lionel, namun tatapannya sekilas melihat ada mata yang mengawasinya. Saat Yanneta mencari siapa itu dia tidak menemukannya. Aula itu hanya menyisakan dirinya dan Lionel.
Yanneta mempercapat langkahnya menuju pintu. Saat hendak meraih gagang pintu tangannya ditarik oleh kekuatan yang besar.
Tubuh Yanneta terbalik dan punggungnya segera menatap pintu.
"Lady tunggu sebentar. Hah.. Hah.." Suara Lionel berat.
"Yang Mulia lepaskan saya." Yanneta berusaha melepaskan diri dari Lionel namun tidak bisa. Tangannya dikunci oleh Lionel.
"Hah.. Hah.." Nafas Lionel terdengar tidak teratur.
Yanneta yang sadar akan situasi melepaskan paksa tangannya dan tubuh Lionel segara ambruk ke pelukannya.
Rasanya panas. Tubuh Lionel seperti terbakar dan basah oleh keringat.
Satu detik yang lalu orang ini baik-baik saja. Apa yang terjadi. Bagaimana bisa seperti ini. Yanneta panik. Ingatan malam itu segera terlintas di kepalanya.
Lionel mendapatkan serangan kutukan.
"Yang Mulia apakah anda baik-baik saja?"
Dia berusaha mengguncang tubuh Lionel. Karena kekuatan yang tidak seimbang keduanya jatuh ke lantai.
"Apakah ada orang di luar? Tolong!" Teriak Yanneta sekuat tenaga.
Bersambung...
FYI
Pick me girl itu seperti gadis yang mengatakan "pilih aku pilih aku!".
Ngewing atau wink-wink artinya berkedip. Bisa juga bermakna menggoda dengan kedipan mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Dian Isnu
🤭🤭🤭 lucu nya
2023-06-18
2
sowon
ayo up lagi Thor 💪
2023-05-16
1
yuviˡᵒᵛᵉ
biar semangat begadangnya🤭🤭
aku kasih kopi
2023-05-16
1