"Nona apa yang terjadi?" Fabian masuk tergesa-gesa.
"Yang Mulia.." Yanneta tak mampu menyelesaikan ucapannya.
Tubuh Lionel kejang. Matanya tertutup rapat. Tangannya memeganh dada dengan erat. Seperti hendak mengoyaknya.
Yanneta segera menarik tangan Lionel namun tidak bisa. Tangannya dingin dan sangat kuat. Jujur dia takut. Dia baik-baik saja semenit yang lalu.
Melihat tampilan Lionel yang kacau membuatnya miris. Pria berani yang tak akan goyah meskipun langit runtuh tampak berantakan. Hati Yanneta sakit.
"Yang Mulia tenang. Tarik nafas dalam-dalam. Anda bisa mendengar saya?" Bisik Yanneta di telinga Lionel seraya menggenggam tangannya yang dingin.
Suara riuh terdengar dari arah belakang. Beberapa orang yang berpakaian kstarian berlari mengikuti satu orang, yaitu Byos Tatiha. Dia adalah dokter Duke.
Wajahnya tampak pucat dan rambutnya berantakan. Dia dihubungi mendadak dan harus segera datang tampa persiapan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Byos kemudian memegang tangan Lionel untuk mengecek denyut nadinya.
"Yang Mulia baik-baik saja tadi, sepertinya ini serangan." Fabian menjelaskan.
Dahi Byos berkerut. Bibir bergumam lirih.
"Dua kali dalam satu minggu."
Yanneta memperhatikannya.
Benar. Pertama di acara pesta Verdian dan yang kedua saat ini. Jaraknya terlalu berdekatan.
Sepanjang dia membaca Red Rose Tragedy, Lionel jarang sekali mendepatkan serangan. Jikapun iya, tidak sampai parah gejalanya.
Tangan Yanneta bergetar. Dia tidak bisa mengungkapkan pikirannya tentang kutukan Hell.
"Pindahkan Yang Mulia terlebih dahulu."
Kamar terdekat dipilih untuk memindahkan Lionel. Fabian dengan sikap membuka pakian Lionel yang tampak menyesakkan. Yanneta ikut mengawasi dari jauh dengan tubuh gemetar.
Nafas Lionel masih berat dan tubuhnya basah oleh keringat. Seberapa sakitnya itu. Jika bukan Lionel yang tubuhnya sudah terlatih, mungkin tidak ada yang mampu menahannya. Orang biasa akan mati.
Byos terlihat sibuk memeriksa Lionel. Dia seperti mencari sesuatu dan akhirnya menemukannya. Belati Hell keluar dari saku pakaian yang dikenakan Lionel. Tempat saya sama persis dengan yang ditemukan Yanneta.
Sebuah ingatan tiba-tiba terlintas. Kutukan Hell punya aturan khusus. Obat penawar memang bisa meredakan gejalanya, tapi jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak hal itu akan memperparah gejalanya.
Ketika gagang paling ujung dibuka obat penawar yang tidak lebih besar dari kelereng menggelinding. Yanneta bergidik. Membayangkan efek samping yang mungkin saja terjadi. Dia memejamkan matanya mencoba mengingat dan mencari. Bagaimana Rose Attlier bisa menenangkan Lionel ketika mengalami serangan.
"Aku mohon.. Ingatan datanglah! Datanglah!"
"Tunggu!" Teriak Yanneta.
Terlambat. Obat itu telah tertelan sempurna.
Semua orang menoleh dengan tatapan bertanya. Saat fokus mereka teralihkan padanya, kejang Lionel semakin meningkat. Bahkan berubah menjadi gelisah. Tubuhnya menggelepar seperti ikan kehabisan air. Giginya menggeretak kasar dan nafasnya berubah kasar.
Menakutkan. Lionel menjadi seperti monster. Kulit pucatnya semerah tomat.
"Apa yang terjadi padanya?" Fabian bertanya dengan wajah yang pucat.
Byos sendiri tak bisa menjawab. Ini pertama kalinya kondisi Lionel separah ini.
"Tubuh Yang Mulia sangat panas."
Intensitas kejang semkain meningkat. Semua orang panik.
"Ambi air dingin!" Teriak Byos.
Beberapa orang berlari tergesa-gesa.
"Tolong pegang Yang Mulia." Fabian memberi perintah.
Kamar yang awalnya rapi dan tenang menjadi berantakan. Terkena badai musim panas Soveil.
Empat orang segera naik ke atas kasur kemudian masing-masing memegang tangan dan kaki Lionel. Fabian segera membuka pakaian yang dikenakan Lionel.
Yanneta menangis. Apa yang dia khawatirkan terjadi. Lionel yang paling dia sukai menderita tepat di depan matanya. Melihat langsung dan membaca melalui beberapa baris berbeda sekali, bagai bumi dan langit.
Kesakitan yang diderita Lionel dalam novel tidak sebanding dengan keadaannya sekarang. Yanneta ingin berteriak. Ingin menuntut penulis yang membuat cerita seperti ini. Keterlaluan. Ini bukan hanya sakit tapi sangat sakit.
"Arrgggh!" Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar.
Tubuh Lionel yang ditahan oleh empat orang ksatria berontak. Mendadak menjadi liar. Matanya yang sejak tadi tertutup kini terbuka. Sorotnya kabur dan ganas.
Yanneta bergidik. Monster. Lionel berubah menjadi monster. Rahasia Hell yang muncul di side story Red Rose Tragedy, jika serangan tidak tertangani dengan baik penderita kutukan akan berubah menjadi monster.
"Ya Tuhan!" Yanneta menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Tidak. Jangan. Lionel favoritnya tidak boleh menjadi monster. Tinggal menunggu waktu hingga Lionel semakin hilang kendali. Satu-satunya orang yang bisa menyembuhkannya adalah si pembuat kutukan.
Siapa? Ya Kaisar Zagc. Namun sangat beresiko. Soveil akan dituduh mencurigai kaisar. Jikapun iya, sampai akhir kaisar tidak akan mengakuinya. Jika tidak, Soveil akan menanggung akibat fatal.
Diam-diam Yanneta mengutuk dalam hati. Hal ini tak bisa dibiarkan. Lionel harus diselamatkan dulu. Ingatan tentang cerita dalam novel samar-samar muncul. Dia ingin mencoba menggunakan cara yang dilakukan Rose Attlier. Dengan sisa kekuatannya Yanneta menyeret kakinya ke arah kekacauan.
"Lepaskan." Ucap Yanneta.
"Duke akan semakin memberontak jika ditahan." Imbuhnya.
Semua orang terpaku. Mereka pasti bingung.
"Saya akan mencoba menenangkan Yang Mulia. Ingat serangan di malam pesta ulang tahun Putra Mahkota? Yang Mulia baik-baik saja bukan?"
Beberapa dari mereka mengangguk. Mencoba percaya pada Yanneta. Tubuh Lionel akhirnya dibebaskan. Bukan berarti dia menjadi tenang. Lionel berusaha untuk bangun.
Yannenta menyentuh telapak tangannya.
"Yang Mulia tenanglah. Apa yang anda rasakan? Apakah sangat sakit?" Suaranya sangat lembut.
Orang-orang yang mengerubungi Lionel mundur beberapa langkah. Hanya Byos dan Fabian yang tetap diposisinya.
"Argghh! Hah! Hah! Sakit." Lionel bergumam lirih.
"Ya?" Saking lirihnya Yanneta mencoba mendekatkan telinganya ke bibir Lionel.
"Sakit."
"Apakah sakit?" Tangannya menepuk dadanya Lionel.
"Apakah disini?" Yanneta berusaha untuk berkomunikasi dengan Lionel seperti yang dilakukan Rose.
Kembali Yanneta menepuk dada Lionel. Memperlakukannya dengan lembut seperti bayi. Lionel tampaknya mengenali suaranya.
"Jangan sakit lagi. Ada saya disini."
Kejang Lionel mereda. Hanya nafasnya yang belum teratur. Matanya kembali terpejam dan panas tubuhnya menurun drastis.
"Tolong jangan sakit lagi." Yanneta tak bisa menahan air matanya.
Akhirnya tumpah juga. Rasa sesak yang dia tahan menguar begitu saja. Dia meniru cara Rose, berbicara dari hati ke hati dengan Lionel. Namun jika Lionel tidak bisa mengenali suaranya, dia akan segera kembali seperti sebelumnya yaitu menjadi seperti monster yang kehilangan kesadarannta.
"Arggghhh!"
Lionel tiba-tiba berteriak dan bangkit. Yanneta terkejut kemudian refleks memeluknya.
Dia gagal. Lionel tidak bisa mendengarnya.
"Lady.." Suara khawatir terdengar dari Fabian.
"Argh!" Yanneta tersentak kaget saat Lionel menggigit lehernya.
Gejalanya semakin parah. Lionel sepenuhnya hilang kendali.
"Apakah anda baik-baik saja?" Byos mencoba mendekati.
"Mundur. Jangan dekati kami." Suara Yanneta bergetar.
Dia masih berusaha menenangkan Lionel dengan mengelus pundaknya seperti terakhir kali.
"Lionel. Leo sayang.. Sadarlah. Kami semua menunggumu. Jangan sakit lagi."
Fabian memberi isyarat agar semua orang meninggalkan ruangan. Ini bukan tontonan jadi dia berpikir agar para ksatria dan pelayan berjaga di luar ruangan saja.
"Hah! Hah!" Lionel mulai mengendus leher Yanneta.
Leher seperti porselen itu ternoda oleh sebuah gigitan. Tidak sampai disitu Lionel berusaha mengakses area leher dengan leluasa. Matanya berkobar liar.
Byos dan Fabian tersentak. Lionel seperti binatang buas yang menemukan mangsanya.
"Lady sepertinya Yang Mulia bisa menyakiti anda. Sebaiknya anda menyingkir." Fabian berusaha membantu Yanneta.
"Bisakah kalian tinggalkan kami berdua?" Ucap Yanneta seraya menoleh sedikit.
"Ya?"
"Yang Mulia tidak akan sadar jika kita membiarkannya saja." Jelas Yanneta.
"Saya akan mencoba membantunya." Tambahnya.
"Dengan cara apa? Anda tidak melihat sorot mata Yang Mulia? Anda akan terluka." Byos tak mau kalah.
"Ya saya tahu. Itu adalah mata binatang yang kelaparan."
Lionel masih mengendus-endus leher Yanneta. Menggigit, mencium hingga menjilat leher putihnya. Seperti leher itu adalah makanan yang enak.
Tidak puas dengan sempitnya area itu, tangan Lionel merobek gaun bagian atas Yanneta. Pundak putih Yanneta terungkap.
"Yang Mulia!" Spontan Yanneta menjerit.
"Lady menjauhlah." Fabian ikut berteriak.
Saat Fabian dan Byos mendekat, Lionel mengerang. Tatapannya mengarah ke mereka berdua. Seperti memberi peringatan pada mereka untuk tidak mendekat.
Setelah itu Lionel sibuk menghirup aroma tubuh Yanneta. Tubuh kecil itu sepenuhnga di penjara dalam pelukan Lionel.
"Tolong tinggalkan kami." Pinta Yanneta lirih.
Dia malu jika adegan ini disaksikan oleh orang lain. Tidak ada jalan untuk melarikan diri. Jadi Yanneta ingin membantu Lionel hingga akhir.
Hanya dia yang bisa.
Byos dan Fabian keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Saat pintu tertutup Yanneta mengelus kepala Lionel yang sibuk mencium leher hingga pundaknya.
"Inikah yang disebut bicara dari hati ke hati? Karena hanya tertulis aku tidak bisa membayangkannya. Ternyata Rose melakukannya seperti ini."
Kepala dengan rambut hitam itu terus bergerak seperti kesurupan.
"Lakukan sesuka hatimu. Hari ini aku akan membantumu seperti sebelumnya. Jadi cepatlah sadar." Bisiknya.
Yanneta pasrah. Dia seutuhnya dikuasai oleh Lionel.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
sylvia
lanjutkan thor
2023-05-16
3
TongTji Tea
waduuuh ...jangan2 nti yg jadi rose si yanneta
2023-05-16
3
chrysan the mom
duke soveil pasti terjangkit virus edward cullen yg menggigit bella swan
2023-05-16
3