Bab 20

Dua puluh dua tahun yang lalu di rumah sakit Pusat Kota B. Terdengar suara tangisan bayi yang baru lahir menggema di ruang bersalin itu. Bahkan suara tangis bayi merah itu terdengar hingga ke luar ruangan.

Seorang pria yang menunggu di depan ruang bersalin langsung bertanya pada dokter yang menangani menantunya yang baru saja melahirkan.

"Bagaimana Dokter? Apakah cucuku seorang laki-laki?"

Sayangnya sang dokter menjawab dengan gelengan kepala. "Maaf, Tuan Johan. Nyonya Arnis melahirkan bayi perempuan. Apa Tuan ingin melihatnya?"

Pria yang tak lain dan tak bukan adalah Johan mengepalkan tangannya usai mendengar jawaban dokter.

"Apa kau ingin membohongiku? Kau bilang cucuku itu laki-laki! Kenapa jadi perempuan?"

Johan yang tak bisa menahan amarahnya langsung menarik pakaian si dokter.

"Ma-maafkan saya, Tuan. Sungguh ini di luar kuasa kami." Dokter itu membela diri.

"Diluar kuasa kalian? Lalu apa sebelumnya kau membohongiku? Dulu kau bilang jika anak Sultan dan Arnis berjenis kelamin laki-laki. Tapi kenapa setelah lahir berubah jadi perempuan? Jawab, Dokter! Kau jangan membohongiku atau aku..."

"Baik, Tuan. Saya akan katakan yang sebenarnya."

"Katakan! Sebelum kesabaranku habis!" tekan Johan.

"Sebenarnya... Yang meminta saya untuk berbohong mengenai jenis kelamin bayi Nyonya Arnis adalah... Tuan Sultan. Dia tidak ingin Tuan Johan kecewa karena tidak mendapat cucu laki-laki, makanya... Tuan Sultan memulai rencana ini."

Tubuh Johan terasa lemas dan mencari tumpuan. Selama ini ia sangat percaya pada anak dan menantunya itu. Tapi kenapa mereka justru membohongi dirinya? Itulah yang jadi pertanyaan Johan saat ini.

Entah mendapat bisikan dari mana, Johan tiba-tiba menyeringai dan menatap dokter pria itu.

"Dokter! Dimana bayinya?"

"Sedang ditangani oleh para perawat. Tuan tenang saja!"

Johan mendekat dan membisikkan sesuatu pada si dokter.

"Katakan pada Arnis jika bayi yang baru saja dilahirkannya sudah meninggal."

DUARRR!

Bagaikan mendengar suara ledakan bom, dokter itu hanya diam dan tak mampu menjawab. Ia malah menatap bingung ke arah Johan.

"Dokter, aku akan bawa pergi bayinya. Dan kau urus sisanya!"

Dokter itu menggeleng. "Bagaimana bisa saya mengatakan itu pada menantu Anda, Tuan. Ditambah lagi saat ini Tuan Sultan sedang ada di luar kota. Saya tidak bisa melakukannya, Tuan."

Johan kini murka. Tak ada lagi negosiasi bagi orang yang menolak perintahnya.

"Lakukan atau kau akan tahu akibatnya, Dokter! Kau tahu kan siapa aku? Aku bisa membuat rumah sakit ini rata dengan tanah dalam sekejap."

Setelah menimang-nimang, akhirnya dokter pria bernama Pras itu segera melaksanakan perintah Johan. Dokter Pras kembali ke ruang bersalin dan mengambil bayi yang baru saja dilahirkan Arnis.

Jerit tangis pilu Arnis terdengar oleh Johan. Tapi Johan sama sekali fidak peduli dengan kesedihan Sultan dan Arnis. Baginya, Sultan sendiri yang memulai semua ini. Maka Johan pun akan membalas perbuatan anak dan menantunya.

...***...

Johan menemui Beni, orang kepercayaan yang bekerja padanya. Johan menyerahkan bayi perempuan tak berdosa itu pada Beni.

"Bawa pergi bayi ini dari sini. Jangan pernah tampakkan dia di depan keluargaku lagi."

Beni menimang bayi mungil itu yang terlihat masih terlelap.

"Tapi, Tuan... Kemana saya harus membawa cucu Tuan ini?"

"Dia bukan cucuku! Terserah kau mau bawa dia kemana! Ini bayaran untukmu!" Johan menyelipkan segepok uang di dalam amplop coklat.

Setelahnya Johan pergi dan kembali menemui Arnis yang masih menangis karena kehilangan bayinya. Johan tak mau peduli dengan kesedihan menantunya. Johan tidak menerima kebohongan meski itu dilakukan oleh anaknya sendiri.

Keesokan harinya, Beni pergi ke Kota A dan menemui adik perempuannya. Beni adalah seorang duda tanpa anak. Istrinya meninggal saat melahirkan sang buah hati yang juga ikut tak selamat. Beni tidak menikah lagi dan memilih mengabdi pada Johan dan keluarga Nusantara.

Namun langkahnya kali ini terasa berat ketika memasuki rumah sang adik.

"Bayi siapa itu, Bang?" Pertanyaan Warni, sang adik membuat Beni tersentak dari lamunan.

"Ini..."

"Abang tidak menghamili perempuan dan itu adalah anak haram Abang kan?"

Beni mendelik menatap Warni. "Tentu saja bukan! Ini adalah..." Beni sudah berjanji tidak akan mengatakan apapun soal asal usul bayi perempuan itu.

"Ah, sudahlah. Abang ingin titipkan dia disini! Dan ini biaya hidup bayi ini!"

Warni mendelik. Ia menatap segepok uang yang dibawa Beni, tapi ia juga ragu untuk menerima bayi itu.

"Uang segitu mana cukup untuk membiayai bayi ini sampai dewasa, Bang. Kau pikir bayi ini nanti tidak tumbuh besar? Dia juga harus sekolah, dan juga banyak kebutuhan lainnya. Tidak! Aku tidak bisa menerimanya!"

"Tolonglah, War. Nanti aku akan kirimkan uang tiap bulan padamu!"

"Tidak, Bang! Kau tidak lihat aku ini punya tiga anak. Bang Rojak bisa marah kalau tiba-tiba ada bayi disini. Sebaiknya kau bawa lagi saja bayi ini!"

Warni menyerahkan bayi perempuan tanpa nama itu kembali ke dekapan Beni.

"Bang, dari pada Abang ribet, mendingan Abang titipkan saja bayi itu di panti asuhan yang ada di seberang jalan sana. Disana pasti menerima bayi tanpa asal usul seperti dia. Dan nanti kalau dia beruntung, dia akan diadopsi oleh keluarga kaya."

Usulan Warni menjadi pertimbangan sendiri untuk Beni. Dari pada menambah keributan dengan sang adik, Beni memilih untuk pergi dari rumah Warni.

Kaki Beni kini berdiri di depan sebuah bangunan yang bertuliskan Panti Asuhan Kasih Bunda. Beni menatap mata bening bayi mungil itu sejenak, lalu menatap bangunan panti.

"Ya Tuhan... Apa aku harus melakukan ini?" Beni ragu.

"Tapi... Jika aku merawatnya sendiri... Pasti Tuan Johan akan segera tahu. Dia bisa saja membunuhku jika tahu bayi ini masih bersamaku."

Gelegar suara petir menandakan jika malam ini akan turun hujan. Beni tidak bisa lebih lama lagi disana.

"Baiklah, maaf aku harus melakukan ini Nona Kecil. Semoga hidupmu akan lebih baik meski kau tinggal di panti asuhan."

Beni meletakkan bayi itu di depan gerbang panti beserta uang yang diberikan Johan. Ia tidak akan tega memakan uang itu untuk dirinya sendiri.

"Maafkan aku, Nona..."

Beni hendak melangkah pergi. Namun langkahnya kembali terhenti ketika ingat jika bayi itu belum diberikan nama. Beni meraih secarik kertas dari dalam jaketnya. Ia menuliskan sebuah nama. Nama yang akan ia berikan untuk putrinya yang meninggal saat dilahirkan.

"Namamu adalah Alzarin... Semoga kelak namamu memberikan keberuntungan untukmu..."

...***...

Arion berdiri dari posisi duduknya. Ia bersiap untuk menghadapi cecaran sang kakek. Ia meraih tangan Alza dan menggenggamnya lembut.

"Ayo kita temui kakek!" Ajakan Arion tentu saja ditanggapi Alza dengan ragu.

Alza sangat takut. Sungguh ia takut untuk menghadapi kakek Arion itu.

"Jangan takut! Ada aku bersamamu. Ayo!" Arion menarik lembut tangan Alza.

Mereka berdua berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Tiga orang yang masih duduk di kursi hanya menatap kepergian mereka.

"Pa, apa tidak sebaiknya kita bantu Arion?" Arnis memberikan usul.

"Tidak, Ma. Aku yakin Arion bisa mengatasi masalahnya sendiri. Lagipula, mereka yang berbuat, mereka juga yang harus menanggung akibatnya."

Jawaban Sultan membuat Arnis terdiam. Memang benar, semua masalah ini terjadi karena kesalahan Arion. Tapi, Arnis tak tega melihat Alzarin. Entahlah... Perasaan seorang ibu memang tidak bisa dibohongi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!