Malam ini, menjadi malam kelabu bagi beberapa orang. Sejak kepergian Arion dari rumahnya, Zetta langsung menuju kamar dan mengurung diri disana.
Tangisannya tak terbendung lagi merasakan kesedihan dan kekecewaan yang melebur menjadi satu.
"Bagaimana bisa Kak Arion melakukan ini padaku?"
Zetta menangis sambil memukuli bonek beruang kesayangannya yang diberikan oleh Arion. Mata Zetta tertuju pada beberapa foto yang terpasang di kamarnya.
Foto-foto kebersamaan dirinya bersama Alza dan Dennis.
"Perempuan murahan! Dia pasti menggoda Kak Arion sampai hamil! Perempuan yang dipungut dari panti asuhan akan tetap menjadi benalu meski ia hidup sebagai tuan putri di rumah ini."
Tatapan kebencian dilayangkan Zetta pada sosok Alzarin.
Di tempat berbeeda, Dennis hanya diam setelah mendengar kata-kata Alzarin tadi. Memang benar jika Alza tidak pernah mengenal pria lain selain dirinya. Bahkan untuk mendekat pun, para pria akan berpikir ulang karena Dennis selalu ada di sekitar Alza.
"Jika Alza hanya melakukannya denganku, lalu bagaimana bisa ia hamil anak Arion? Dan aku? Aku tidak mungkin bisa menghamili Alza karena aku infertil."
Memikirkan tentang semua itu membuat kepala Dennis serasa ingin pecah.
"Apa aku harus melakukan tes ulang? Ya! Siapa tahu pemeriksaan terakhir dulu kurang akurat. Bisa saja kan jika anak yang dikandung Alza adalah benar anakku! Benar, aku akan melakukan tes ulang."
Di kamar yang berbeda, Alzarin masih menangis sesenggukan meratapi nasibnya yang malah bertambah buruk setelah menikah. Ia pikir ia akan bahagia setelah menikah dengan Dennis, laki-laki yang selalu mencintai dan menjaganya.
Namun nyatanya, Dennis kini membencinya. Mungkin itulah kenapa orang-orang menyebut jika beda antara benci dan cinta itu tipis.
Terlalu mencinta bisa membuatmu akhirnya membenci. Terlalu membenci juga bisa membuatmu akhirnya mencinta.
"Ibu... Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Alza menatap foto ibu panti yang ada di ponselnya. Selama ini, jika Alza merindukan ibu panti, ia selalu menelpon Astuti. Alza senang berkeluh kesah pada Astuti yang sudah seperti ibu baginya, meski pun Lia juga seperti ibu baginya. Kedua wanita itu sangat Alzarin sayangi.
"Ibu..."
Alza hanya bisa menangis hingga dirinya merasa lelah dan terbawa ke alam mimpi.
#
#
#
-Kediaman keluarga Nusantara-
Arion pulang ke rumah dengan senyum merekah mengiringi langkahnya. Setidaknya semua usaha licik yang dilakukannya kini hampir berhasil.
"Sepertinya kamu sedang senang, Kak?" Suara Falia membuat Arion urung memasuki kamarnya.
"Kamu belum tidur?"
"Belum. Aku menunggu kakakku pulang. Aku ingin mendengar cerita darinya. Jadi, kamu benar-benar menemukan gadis masa kecilmu itu?" Falia bukan orang yang suka berbasa basi.
"Ya, aku menemukannya. Dan sebentar lagi dia akan jadi milikku!"
Falia menggeleng. "Kamu banyak berubah, Arion. Sejak pertama datang, kamu terlihat tidak memiliki ambisi apapun."
Arion tertawa kecil. "Setiap orang bisa berubah, Fal. Aku tidak sepertimu. Sejak dulu kamu tidak berubah. Selalu dingin dan tidak tersentuh. Carilah pria baik dan menikah. Aku akan membantumu."
"Gak perlu. Jangan membebani dirimu, Ar. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Dan... Aku ucapkan selamat karena sebentar lagi impianmu akan segera tercapai."
Falia berbalik badan dan akan masuk ke dalam kamarnya. Namun ia berbalik kembali.
"Semoga kamu gak menyesali apa yang sudah kamu lakukan. Selamat malam." Falia melambaikan tangan lalu masuk ke dalam kamarnya.
Arion hanya tersenyum getir mendengar kalimat terakhir Falia.
"Menyesal? Tidak ada kata menyesal dalam hidup Arion Nusantara. Aku yakin lambat laun Alza akan menerimaku dan mencintaiku."
Keesokan harinya, seperti biasa Johan bersama anggota keluarga lainnya sedang menyantap sarapan pagi mereka. Arion yang datang terlambat segera menghampiri dan menyapa mereka semua.
"Selamat pagi semuanya!" Sapa Arion lalu duduk di kursi miliknya yang berdampingan dengan Falia.
"Pagi, Nak. Mama gak tahu kalau kamu pulang." Arnis mengambil piring dan menyendokkan nasi goreng untuk Arion.
"Aku pulang agak larut, makanya aku gak sempat menyapa mama. Terima kasih." Arion menerima piring dari tangan Arnis.
"Ehem!" Johan berdeham. "Kudengar kamu ingin menyampaikan sesuatu. Apa itu?"
Arion mengernyit bingung. "Menyampaikan apa maksud kakek?"
"Falia bilang ada yang ingin kamu sampaikan pada kakek dan orang tuamu."
Arion langsung melirik Falia yang duduk di sampingnya. Tatapan matanya menusuk hingga membuat siapapun merasa takut. Tapi tidak dengan Falia.
Falia tetap santai menyantap sarapannya. Ia tak peduli dengan tatapan Arion. Begitulah Falia. Ia tidak takut dengan apapun, kecuali jatuh cinta.
Falia takut jatuh cinta karena ia melihat Arion yang seumur hidupnya hanya mengejar satu wanita dan seakan diperbudak oleh cinta. Bahkan ketika mengetahui gadis yang dicarinya sudah menikahi orang lain, Arion masih tergila-gila untuk memilikinya. Meski dengan cara yang kotor sekalipun.
"Arion! Kakekmu bertanya. Apa yang ingin kamu sampaikan pada kami?" Sultan menegur Arion yang masih diam.
"Bukan apa-apa kok, Pah. Jika waktunya sudah tiba, aku pasti akan katakan pada kalian semua." Arion memilih pilihan bijak untuk saat ini. Terlalu beresiko jika ia mengatakan dirinya menghamili istri orang.
"Baiklah. Kakek harap kamu tidak melakukan hal bodoh, Arion. Ingat! Kamu adalah bagian dari keluarga Nusantara. Jangan pernah mencoreng nama keluarga ini jika kamu masih ingin tinggal disini!" Ancaman Johan membuat Arion sedikit bergidik ngeri. Tapi bukan Arion namanya jika ia tidak memiliki rencana cadangan setelah menghamili Alzarin.
#
#
#
Pagi hari di rumah Alzarin dan Dennis terasa dingin dan sunyi. Alza memang tetap melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai istri Dennis. Tapi Dennis masih menatap Alza dengan enggan.
"Mas, hari ini aku izin gak masuk kantor ya! Badanku rasanya gak enak."
Wajah Alza memang terlihat pucat. Mungkin karena sejak terbangun tadi ia mengalami 'morning sickness' yang biasa dialami oleh ibu hamil pada umumnya.
"Kamu boleh langsung mengundurkan diri saja! Aku akan katakan pada bagian HRD."
Sontak saja mata Alza membulat mendengar pernyataan Dennis.
"Kenapa aku harus resign, Mas? Aku masih bisa bekerja kok. Hanya hari ini saja aku izin."
Dennis menatap Alza. Ada rasa tak tega melihat wanita berwajah pucat di depannya ini. Wanita yang sudah mengisi penuh relung hatinya. Namun kini hati Dennis terasa hampa karena sebuah kejadian yang tak pernah ia kira.
"Cepat atau lambat orang-orang akan tahu masalah kehamilanmu. Apalagi melihat sikap Arion yang bersungguh-sungguh. Aku yakin dia akan mengambil haknya sebagai ayah dari bayimu itu!" Dennis bicara sinis pada Alza, tapi hatinya merasa hancur harus menyakiti Alza.
Alzarin menggeleng. "Anak ini anakku, Mas. Siapapun gak berhak mengaturku!"
Dennis akhirnya bungkam. Ia tak ingin berdebat dengan Alza sebelum ia melakukan tes ulang terhadap kesehatannya.
Bunyi bel yang menggema membuat Alza harus bangkit dari ruang makan menuju ke pintu depan. Tanpa melihat siapa yang datang, Alza langsung membuka pintu itu.
BYUUR!
Satu ember air kotoran selokan tersiram rata ke tubuh Alzarin. Dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Perempuan murahan! Kamu pantas menerima ini bahkan lebih! Dasar menjijikkan!"
Teriakan seorang wanita yang dikenali Dennis, segera membawanya menuju ke pintu depan.
"Zetta! Apa yang kamu lakukan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments