Bunyi decit rem mobil yang beradu dengan aspal jalanan menggema indah di siang hari yang terik itu. Satu orang penumpang di dalam mobil terkesiap ketika tiba-tiba sang sopir menghentikan laju mobilnya.
"Ada apa, Pak? Kenapa berhenti mendadak?"
"Tuan, ada yang pingsan!"
Sontak pria muda yang ada di dalam mobil ikut penasaran dengan apa yang terjadi di luar mobilnya.
"Biar saya saja Tuan yang turun." Pak sopir yang bernama Sobri itu membuka pintu dan keluar dari mobil.
Sobri terkejut melihat seorang wanita tergeletak di depan mobilnya.
"Waduh, bagaimana ini? Bisa-bisa saya dituduh menabrak wanita ini." Sobri mulai panik. Jalanan yang terik untungnya sedang sepi pengguna.
"Bagaimana Pak?" Sang majikan akhirnya turun dari dalam mobil karena melihat kepanikan Sobri.
"Sepertinya wanita ini pingsan, Tuan."
Si pria muda melirik jam tangannya. Sudah tak ada waktu lagi, pikirnya.
"Kita bawa saja dia ke rumah. Gak ada waktu lagi. Oma pasti udah nunggu."
Sobri dengan sigap akan membopong tubuh Alzarin. Namun tiba-tiba dihentikan oleh si tuan majikan.
"Biar saya aja, Pak." Si tuan majikan mengambil alih posisi Sobri dan mengangkat tubuh Alzarin lalu merebahkannya di dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, si pria muda terus menatap lekat wajah pucat Alzarin.
"Apa yang terjadi denganmu, Nona? Kenapa kamu tiba-tiba pingsan di depan mobilku?"
Tiba di sebuah rumah mewah yang luas, si pria muda turun sambil membopong tubuh Alzarin.
"Bi, tolong siapkan kamar tamu dan panggilkan dokter kemari," titah si pria muda pada asisten rumah tangga yang menyambut kedatangannya.
"Eh? Baik, Den." Si bibi langsung menuju ke ruang tamu dan menekan nomor telepon dokter pribadi keluarga itu.
"Argan! Ada apa ini? Siapa gadis itu? Kamu tidak sedang melakukan kejahatan kan?"
Pertanyaan beruntun dari wanita tua bernama Ratna ini membuat si pria muda menatap jengah.
"Oma, tolong bertanya perlahan saja! Aku bingung harus menjawab yang mana dulu!" Pria muda bernama Argantara ini memeluk bahu sang nenek dan mengajaknya keluar dari kamar tamu.
"Kamu datang-datang bikin Oma jantungan! Siapa dia? Kenapa dia tidak sadarkan diri?"
Argan mengajak neneknya duduk di sofa. "Oma, aku gak tahu dia siapa. Tiba-tiba aja dia pingsan di depan mobil aku. Karena takut telat pulang, makanya aku bawa dia sekalian ke rumah. Aku juga udah minta Bik Simah untuk telepon dokter."
Sang oma mengusap dadanya pelan. "Oma pikir kamu yang sudah bikin dia pingsan."
"Ck, Oma nih! Ya udah sekarang kita makan siang dulu ya! Aku pulang ke rumah karena mau makan siang sama Oma."
Setelah makan siang, dokter datang dan memeriksa kondisi Alzarin.
"Nona ini sedang hamil, Tuan. Sepertinya dia terlalu stres dan banyak pikiran. Tolong jika Nona ini bangun, jangan lupa ingatkan agar jangan stres dan banyak pikiran. Karena jika ibu hamil stres, bisa berpengaruh pada janin yang dikandungnya."
"Baik, terima kasih banyak, Dok."
Argan dan Oma Ratna saling pandang.
"Malang sekali nasib gadis ini," ucap Oma Ratna. "Apa tidak ada petunjuk tentang identitasnya?"
"Gak ada, Oma. Dia gak bawa apapun. Bahkan ponsel juga gak ada."
Oma Ratna mengusap lembut surai panjang Alzarin.
"Wajahnya teduh dan seperti wajah ibumu."
"Oma..."
Argan memeluk sang Oma dan memintanya keluar dari kamar tamu.
"Oma, aku harus pergi ke kantor lagi. Kalau ada apa-apa segera telepon aku ya!"
"Iya, Nak. Kamu hati-hati ya!"
...***...
Alzarin mulai membuka matanya. Dilihatnya ruangan sejuk itu yang bernuansa putih tulang.
"Dimana aku?" Alza memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu sudah bangun?" Oma Ratna datang ke kamar bersama Bik Simah yang membawa nampan dengan isi makanan dan minuman.
"Kamu tadi pingsan di jalan, dan cucu Oma yang membawa kamu kemari. Sekarang makanlah dulu! Kamu ini sedang hamil, harus jaga kondisi badan kamu."
Alza tertunduk sedih.
"Hamil?"
Satu kenyataan yang selalu ingin disangkal oleh Alza.
"Ayo, makanlah!" Oma Ratna mengusap bahu Alza.
Tanpa menolak, Alza melahap makanan yang sudah tersedia.
"Istirahat dulu saja disini. Setelah kamu baikan, kamu boleh pulang."
Alza hanya diam dan tak menjawab. Ia melanjutkan menyantap makan siangnya yang terlambat.
Semburat jingga mulai nampak di langit. Hari mulai berganti malam. Alzarin yang tak enak hati akhirnya memilih keluar dari kamar itu.
Alza ingin berterimakasih pada Oma Ratna dan juga cucunya. Namun saat ia keluar kamar, ia tak menemukan siapapun.
"Lebih baik aku pergi sekarang. Aku takut Mas Dennis pulang ke rumah dan aku gak ada."
Alza mengendap-endap keluar dari rumah besar itu. Meski sudah dijaga ketat oleh pak satpam, nyatanya keluarnya Alza tanpa diketahui oleh siapapun yang tinggal disana.
"Semoga Tuhan membalas kebaikan hati kalian. Maaf aku gak bisa berterimakasih secara langsung. Aku gak mau kalian ikut terlibat dalam hidupku yang rumit ini. Sekali lagi terima kasih karena sudah menolongku."
Alza berjalan keluar dari komplek perumahan mewah itu. Alza menyetop taksi dan meminta supir taksi mengantarnya ke alamat rumah Dennis.
...***...
Lia dan Juno kembali ke rumah ketika malam tiba. Mereka mengurus pekerjaan lebih dulu dan tentu saja mereka masih syok dengan apa yang menimpa putra sulungnya.
"Nyonya, Tuan! Sejak pagi Nona Zetta tidak keluar dari kamarnya. Nona juga tidak memakan apapun sejak pagi."
Laporan dari kepala ART-nya membuat Lia dan Juno saling pandang. Mereka bergegas menuju ke kamar Zetta.
"Zetta! Nak! Buka pintunya!" Lia menggedor pintu kamar Zetta.
Tak ada jawaban maupun suara dari dalam kamar.
"Zetta! Buka pintunya atau papa akan dobrak!" ancam Juno.
Nyatanya ancaman Juno tak juga mempan bagi Zetta. Hati Zetta sedang tidak baik-baik saja. Saat ini ia hanya butuh sendiri.
"Zetta! Tolong jangan begini, Nak!" Amalia mulai terisak. Sungguh ia tak bisa membayangkan kedua buah hatinya sedang bermasalah dengan yang namanya perasaan dan hati.
"Sudahlah, Ma. Biarkan saja dulu! Besok juga dia pasti bakal keluar kamar. Sebaiknya kita istirahat saja!" Juno menarik lembut tangan istrinya menuju kamar.
Di tempat berbeda, Dennis baru tiba di rumah. Dilihatnya rumahnya yang tampak gelap gulita dan sunyi.
"Kemana Alza? Kenapa rumah gelap dan sepi begini?"
Dennis masuk ke dalam rumah dan menyalakan lampu.
"Alza!" panggil Dennis. Tak ada sahutan yang menggema.
"Kemana sih dia?"
Baru saja Dennis akan membuka pintu kamar, suara deru mobil membuat perhatiannya teralihkan. Dennis segera berjalan menuju depan rumahnya.
"Dari mana aja kamu?"
Pertanyaan Dennis membuat Alza terkejut.
"Mas Dennis? Mas udah pulang?" Alza meremat kedua tangannya karena gugup. Ia takut jika Dennis berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.
"Aku tanya, kamu dari mana?"
"Umm, aku... Aku cuma jalan-jalan aja, Mas."
Dennis tak ingin bersikap dingin pada Alza. Namun kenyataan pahit yang bertubi menyergapnya membuat Dennis tak bisa bersikap manis lagi pada Alza.
"Aku sudah melakukan pemeriksaan ulang."
"Eh?" Kening Alza mengerut bingung. Menata setiap kalimat yang Dennis ucapkan ke dalam otaknya yang dangkal ini.
"Aku tetap infertil, Alza. Aku mandul!" Dennis menegaskan kalimat yang tidak dipahami oleh Alza.
"A-apa?!" Alza hanya bisa melongo mendengar pernyataan Dennis.
"Jadi udah jelas kan? Jika anak yang ada di rahim kamu itu, bukanlah anakku! Melainkan anak Arion!"
Alza menggeleng kuat. Air matanya kembali lolos membasahi wajah pucatnya.
"Aku ingin kita berpisah, Alza. Aku akan menceraikanmu! Bagiku, sebuah pengkhianatan tidak akan bisa dimaafkan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments