Alzarin tak percaya jika Dennis akan berkata begitu tentang kehamilannya.
"Apa maksud kamu, Mas? Anak ini anak kita!"
Dennis memejamkan mata. Ia mengatur napas untuk mengatakan kebenaran tentang dirinya.
"Sekarang ikut aku!" Dennis menarik tangan Alza kasar dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Dennis membuka lemari dan mencari berkas hasil pemeriksaan dirinya.
"Ini! Baca ini!" Dennis menyerahkan amplop berisi catatan medis dirinya.
Dengan hati yang bergemuruh Alza membuka isi amplop tersebut. Alza membaca satu demi satu poin yang tertulis disana.
"Apa maksudnya ini, Mas?" Tanya Alza dengan bibir gemetar.
"Kamu bisa baca kan? Disitu tertulis kalau aku gak bisa memiliki seorang anak! Aku memang bisa melaksanakan kewajibanku sebagai suami. Tapi aku... Aku gak bisa memberimu anak, Alza. Jadi... Jelas jika anak yang kamu kandung, bukanlah anakku!"
Kata-kata Dennis membuat tubuh Alzarin beringsut ke lantai. Air mata tak bisa lagi ia bendung. Alza memeluk kaki Dennis.
"Demi Tuhan aku gak pernah melakukannya dengan siapapun, Mas. Aku hanya melakukannya denganmu." Alza terisak. Hatinya amat sakit karena Dennis tak mau mengakui anaknya.
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan, Alza. Anak itu bukanlah anakku. Dan kamu... Sudah mengkhianati pernikahan kita."
Alza menggeleng kuat. "Gak, Mas! Aku gak melakukannya dengan orang lain. Hanya denganmu, Mas! Kenapa kamu gak percaya sama aku?"
Dennis menghempas tangan Alza yang masih memeluk kakinya.
"Keluarlah! Untuk sementara kita jangan sekamar dulu! Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini."
Alza kembali menggeleng. "Aku gak mau! Aku mau kamu percaya padaku, Mas. Bisa saja diagnosa dokter itu salah. Dokter kan juga manusia. Mereka gak bisa melawan kehendak Tuhan, Mas."
"Keluar, Alza! Atau aku akan menyeretmu!"
Rasanya percuma bicara dengan orang yang sedang dikuasai emosi. Alza memilih keluar dari kamar. Pintu di banting dengan keras oleh Dennis setelah Alza keluar.
Alza menuju ke kamar tamu dan menangis disana. Sungguh ia tidak mengira jika kehamilannya adalah awal petaka dari masalah di hidupnya.
"Sabar ya, Nak. Meski ayah kamu belum mau mengakui kamu. Tapi bunda yakin jika suatu saat ayah pasti akan menyayangi kita." Alza mengelus perutnya yang masih rata itu.
Setelah puas menangis, Alza akhirnya tertidur pulas. Alza bermimpi memiliki keluarga yang utuh dan bahagia. Alza ingin memberikan itu pada anaknya kelak.
#
#
#
Entah sudah berapa lama Alza tertidur. Namun nyatanya hari sudah kembali terang ketika Alza membuka mata.
"Sudah pagi? Mas Dennis?"
Alza segera bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar Dennis. Dan ternyata tidak ia temukan sosok Dennis disana.
"Apa Mas Dennis udah berangkat kerja?" Gumam Alza.
Alza duduk di tepi ranjang. "Ya Tuhan, karena kejadian kemarin aku jadi gak masuk kantor. Ini udah telat banget." Alzarin menghela napas.
Alza keluar dari kamar dan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. "Kayaknya Mas Dennis gak sarapan."
Alza mendesah pelan. "Kenapa semua jadi begini? Apa benar anak ini bukan anak Mas Dennis? Trus anak ini anak siapa?"
Alza tidak bersemangat lagi untuk menyantap sarapan apapun. Pikirannya dipenuhi dengan diagnosa dokter tentang suaminya yang infertil.
"Apa lebih baik aku pastikan saja ke rumah sakit?"
Alza memutuskan untuk menemui dokter yang memeriksa suaminya. Alza masih ingat di rumah sakit mana suaminya memeriksakan diri.
Alza tiba di rumah sakit dan menanyakan pada resepsionis tentang dokter Antologi yang bekerja disana.
"Dokter Wildan sedang ada pasien. Jika Nona mau menunggu silakan mendaftar dulu," Ucap resepsionis.
"Daftarkan atas nama Dennis Pratama."
"Baik, Nona."
Setelah menunggu beberapa saat, nama Dennis akhirnya dipanggil juga oleh perawat. Si perawat nampak bingung karena yang datang adalah seorang wanita.
"Saya mewakili suami saya, Suster." Alza menjawab kebingungan si perawat.
"Oh iya, mari silakan masuk!"
Alza masuk ke dalam ruang periksa dan menemui dokter Wildan.
"Selamat siang, Dokter," Sapa Alza ramah.
"Iya, siang. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Wildan ramah.
"Saya mewakili suami saya, Dennis Pratama. Apa dokter mengenalnya?" Suara Alza terdengar lugas.
"Eh? Maksud Anda... Anda adalah istrinya Dennis?"
Alza mengangguk. "Tolong lakukan pengecekan kembali pada kondisi suami saya. Saya gak percaya kalau suami saya infertil!"
Wildan membelalakkan mata. Wildan bingung harus berkata apa. Semua tes sudah dijalani oleh Dennis. Dan semuanya sesuai dengan prosedur.
"Maaf, Nyonya. Kenapa Nyonya ingin mengulangi tes pada Tuan Dennis? Setahu saya Tuan Dennis sudah melakukan semua tes sesuai prosedur."
Alza harus memutar otaknya. Apalagi ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya sedang hamil.
Wildan seakan tahu apa yang menjadi kegundahan hati Alzarin. Memiliki suami yang infertil pastilah cukup membuatnya cemas. Pandangan orang-orang hanya mengarah pada si wanita pada pernikahan yang belum dikaruniai keturunan.
"Nyonya... Saya tahu kekhawatiran Anda. Tapi... Jika ingin melakukan tes ulang, maka... Harus Tuan Dennis sendiri yang datang dan memintanya."
Alza menatap Wildan dengan mata berkaca-kaca. "Benarkah tidak ada kesempatan bagi suami saya untuk memiliki keturunan, Dok?"
Alza berharap ada secercah harapan untuknya dan Dennis.
Wildan menggeleng. "Saya benar-benar minta maaf, Nyonya."
Akhirnya Alza pergi dari rumah sakit dengan membawa segenggam kekecewaan.
"Jika benar anak ini bukan anak Mas Dennis ... Lantas anak ini anak siapa? Apa ada yang sedang mempermainkan kami? Apa ada orang yang ingin memisahkan kami?" Batin Alza berperang dengan kepingan puzzle yang masih belum terpecahkan.
#
#
#
Alza kembali ke rumah dan melihat Amalia yang duduk di teras rumahnya.
"Mama?" Alza cukup kaget dengan kedatangan Amalia ke rumahnya.
"Eh, Alza? Kamu sudah pulang?"
Alza mengangguk. "Mari masuk, Ma!"
Meski hatinya masih bergemuruh, sebisa mungkin Alza bersikap tenang di depan ibu mertuanya.
"Mama kok gak bilang dulu kalau mau datang?"
Amalia segera menarik tangan Alza dan duduk di sofa ruang tamu.
"Kalian baik-baik saja kan? Kemarin mama lihat, Dennis bawa kamu pergi dengan wajah yang masam. Mama takut terjadi sesuatu denganmu."
Alza mengulas senyum terbaiknya. "Kami baik-baik aja kok. Memangnya kenapa, Ma?"
Amalia tetap tenang setelah mendengar jawaban Alza.
"Baiklah, mama percaya sama kamu. Besok datanglah ke rumah bersama Dennis ya!"
Amalia bersyukur karena ternyata tidak terjadi apapun dengan menantunya itu. Fisiknya tidak kurang satu apapun.
Malam harinya, Alza menyambut kepulangan Dennis. Ia sudah menyiapkan makan malam untuk suaminya itu.
"Maaf ya, Mas. Hari ini gak masuk kantor. Aku udah bilang mbak Mirna buat gantiin kerjaan aku."
Dennis hanya mengangguk. Ia menuju ke kamar dan membersihkan diri. Sikap dinginnya masih ia tunjukkan pada Alza.
Melihat suaminya bersikap dingin, Alza hanya bisa mengelus dada. Ia akan melakukan yang terbaik untuk kembali merebut hati Dennis.
Usai membersihkan diri, Dennis menuju ke meja makan. Alza menyambutnya dengan senyum manisnya. Begitulah Alza. Selalu tersenyum meski Dennis sudah menyakitinya.
Mereka berdua makan dalam diam. Alza juga tak berani menatap sang suami. Alza begitu patuh pada Dennis karena tahu bakti kepada suami itu sangatlah penting.
"Apa tadi sore mama datang kemari?"
Akhirnya Dennis membuka suaranya juga.
"Iya, Mas. Mama datang kemari. Mama bilang besok kita disuruh ke rumah. Besok kan akhir pekan."
Dennis mengangguk. "Iya, baik. Aku gak ada kerjaan juga soalnya."
Keesokan harinya, Alza dan Dennis mendatangi rumah keluarga Pratama. Amalia menyambut hangat anak dan menantunya itu.
"Ayo ayo, mama udah masak yang spesial buat kamu, Za. Kamu kan lagi hamil, jadi mama ingin kamu makan makanan yang bergizi."
Mendengar kata hamil, membuat Dennis mengepalkan tangan. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Alzarin hamil? Sementara ia divonis infertil. Dennis masih tak bisa menemukan jawaban pertanyaannya itu.
Ketika para wanita memilih untuk berbincang di sofa ruang keluarga, Dennis memilih untuk menghindar. Dennis tidak ingin terlibat dengan pembicaraan soal kehamilan Alza.
Namun ternyata, Amalia malah memanggil Dennis agar ikut bergabung dalam obrolan.
"Bang, kira-kira acara pesta penyambutan anak kalian itu diadakan pas 4 bulan atau 7 bulan ya?"
Pertanyaan Amalia membuat Dennis gelap mata.
"Anakku?"
"Iya, anak kalian! Memang anak siapa lagi?" Amalia bingung dengan sikap putranya yang seakan tak senang dengan kehamilan Alzarin.
"Itu anaknya, Ma! Bukan anakku!" Dennis menunjuk Alza dengan tajam.
Alzarin menggeleng kuat. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.
"Abang! Kok ngomongnya gitu sih?" Zetta ikut protes.
"Sejak kemarin mama perhatikan kamu terlihat gak senang dengar Alza hamil. Apa kamu gak ingin punya anak?"
Dennis mengusap wajahnya. "Karena itu memang bukan anakku, Ma! Aku gak tahu anak siapa yang ada di kandungan Alza!"
"Dennis!" Juno ikut masuk dalam perdebatan. Semua orang terdiam setelah Juno mengeluarkan suara nada tingginya.
"Anak itu adalah anakku! Dan aku akan bertanggung jawab!"
Sontak saja semua orang menoleh ke sumber suara yang mengaku anak Alzarin adalah anaknya.
"Kak Arion?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments