Bab 16

Sejak awal kedatangan Alza ke panti, Astuti sudah mengira pasti ada yang tidak beres dengan Alzarin. Kini terbukti dengan kehadiran Arion yang menambah runyam masalah Alza.

Astuti sudah mengira jika terjadi sesuatu diantara Alza, Dennis dan Arya. Cinta segitiga mungkin? Hanya itu kemungkinan yang bisa Astuti pikirkan.

Alza, Dennis dan Arion sama-sama tinggal di kota B. Tentu ada kemungkinan mereka bisa bertemu meski sudah hidup dengan keluarga masing-masing.

Kedatangan Alza yang menutupi sesuatu darinya membuat Astuti berpikir jika rumah tangga Alza dan Dennis sedang tidak baik-baik saja. Padahal baru beberapa bulan lalu Astuti datang ke pernikahan mereka. Dan melihat mereka sangat bahagia berdiri di pelaminan.

Semua kebahagiaan yang dibayangkan Astuti seketika runtuh ketika Arya tiba-tiba datang mencari Alza.

"Ada apa ini sebenarnya? Semoga saja firasatku salah."

Astuti menatap Alza dan Arion bergantian. Keduanya sama-sama diam dan tak membalas pernyataan dirinya tadi.

"Aku lelah, Bu. Aku mau istirahat dulu!" Alza memilih pergi ke kamarnya.

Kini tinggal Astuti dan Arion saja disana.

"Apa kamu bisa cerita sama Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?"

Arion menggeleng. "Maaf, Bu. Aku juga gak bisa cerita. Biar Alza saja yang jelaskan." Arion juga memilih pergi.

Hingga membuat Astuti bingung dengan sikap yang harus ia ambil. "Keduanya sama-sama anakku. Ya Tuhan, semoga saja mereka tidak menyembunyikan sesuatu dariku."

...***...

Malam ini, kedua kelopak mata Alza tak mampu terpejam. Memikirkan apa yang akan terjadi nanti membuatnya bimbang.

Alza mengusap pelan perutnya. "Sebenarnya takdir apa yang Tuhan tulis untukku? Apa memang aku harus menjalani hal ini?"

Alza keluar dari kamar lalu menuju ke taman belakang panti. Saat kecil, Alza sering menyendiri disana bersama Arya. Alza tersenyum getir mengingat semua kenangan itu.

Kini semua kenangan itu telah terhapus dan terganti dengan kebencian di hati Alzarin.

"Ini! Minumlah!"

Alza terkejut karena disodori secangkir susu hangat dari tangan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Arion.

Tanpa mengucap terima kasih, Alza menerima gelas berisi susu ibu hamil itu.

"Kenapa belum tidur?" tanya Arion.

"Belum ngantuk."

"Aku temenin ya! Kamu ingat gak, dulu kalau kita gak bisa tidur. Kita duduk disini lalu menghitung bintang. Kamu akhirnya mengantuk dan tidur di bahuku. Lalu aku harus menggendongmu masuk ke kamar. Aku gak pernah lupa kenangan kita, Za."

Alza tersenyum getir. "Aku bahkan masih belum bisa percaya kalau kamu adalah Arya. Arya yang kukenal tidak akan tega me-rudapaksa sahabatnya sendiri yang telah bersuami."

Air mata yang sudah mengering kini kembali menganak sungai. Arion tak menyangka jika kebencian Alza terhadapnya sungguhlah besar.

"Alza, aku..."

"Cukup! Aku tidak mau dengar pembelaan apapun darimu! Jika saja kamu tidak melakukan itu padaku, hidupku akan baik-baik saja dengan Mas Dennis. Sejak kapan Arya yang kukenal berubah jadi orang yang mementingkan egonya sendiri? Sejak kapan Arya jadi orang yang penuh obsesi dan menghalalkan segala cara untuk menggapai keinginannya? Aku rasa aku sudah tidak mengenal siapa Arya. Yang aku lihat sekarang hanyalah sosok Arion Nusantara yang penuh dengan kesombongan."

Alza meneguk habis susu di gelasnya dan meletakkannya di bangku. "Terima kasih susunya." Alza melangkah pergi dari taman.

Gemuruh di hati Alza tak separah gemuruh di hati Astuti yang menyaksikan perdebatan dua sahabat itu. Astuti memegangi dadanya yang terasa sesak.

"Ya Tuhan, apalagi ini? Jadi, anak yang dikandung Alza bukanlah anak Dennis, tapi anak Arya?"

...***...

Keesokan harinya, Astuti meminta Arion untuk datang ke ruangannya. Apa yang ia dengar semalam, harus mendapatkan dukungan bukti dari Arion atau Alza.

Astuti tahu Alza tidak akan mengatakan apapun mengenai masalah rumah tangganya dengan Dennis. Maka dari itu, Astuti meminta penjelasan dari Arion.

Arion hanya menundukkan kepala karena rasa bersalahnya terhadap Astuti dan Alza. Tanpa mendengar jawaban Arion, Astuti tahu jika apa yang didengarnya semalam adalah sebuah fakta yang sedang disembunyikan oleh Alza dan Arion.

"Ibu tidak pernah mengajarkanmu menjadi orang yang tidak bertanggung jawab."

"Ibu..." Arion bersimpuh sambil memeluk Astuti.

"Bu... Tolong bujuk Alza agar mau ikut pulang denganku. Aku akan bertanggung jawab atas Alza dan bayinya. Aku janji, Bu!"

Astuti menghela napas. "Jika kamu sudah bicara begitu, Ibu bisa apa? Kamu sendirilah yang harus meyakinkan Alza agar mau ikut denganmu. Kalian sudah sama-sama dewasa. Jadi, selesaikan masalah ini dengan baik-baik."

Arion mengangguk patuh. "Terima kasih karena ibu mau percaya padaku. Aku janji akan..."

"Jangan mengumbar janji, Arya. kamu sendiri yang harus buktikan pada Alza kalau kamu serius dengan perasaanmu."

Arion tersenyum. "Iya, Bu. Terima kasih atas dukungan Ibu!" Arion mencium punggung tangan Astuti.

Setelahnya ia pamit undur diri dari ruangan Astuti. Namun saat membuka pintu, Arion tertegun melihat Alza berdiri disana.

"Alza?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!