Tubuh Alza menegang ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan Kakek Johan. Kejadiannya sudah lama berlalu. Namun Alza tidak bisa lupa dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.
Hari itu... Hari dimana Johan datang ke panti asuhan dan membawa Arya pergi dari hidup Alza. Tangis pilu Alza nyatanya tak bisa meluluhkan hati Johan.
"Kenapa Kakek membawa Arya pergi? Kenapa aku tidak dibawa juga?" Isak tangis disertai seruan protes dilayangkan oleh Alza kecil.
Johan hanya tersenyum dan menjawab, "Dengar! Aku tidak butuh cucu perempuan yang lemah dan bisanya hanya menangis saja. Yang kubutuhkan adalah cucu laki-laki yang bisa memimpin perusahaanku suatu saat nanti. Apa kamu mengerti? Sekarang relakan temanmu itu agar bisa mengubah hidupnya."
Teriakan Alza tidak menyurutkan langkah Johan membawa Arya pergi dari sana.
"Jangan bawa Arya! Kumohon Kakek! Jangan bawa Arya!"
Alza memejamkan matanya mengingat kenangan yang kembali menyeruak di benaknya.
"Alza!"
Usapan lembut di tangan Alza membawanya kembali ke masa sekarang. Alza kini duduk di tepi ranjang kamar yang sudah disiapkan oleh Arion.
"Kamu pasti lelah. Sekarang istirahatlah!" Suara Arion terdengar sangat lembut.
"Mungkin karena ini hari pertamamu, jadi kamu merasa tidak nyaman berada disini. Tapi jangan takut, ada aku yang akan selalu menjagamu. Jika ada yang menyakitimu, langsung beritahu aku. Oke?"
Tatapan mata Alza mulai berubah hangat. Cairan bening berkumpul dikelopak matanya yang indah.
"Arya..."
Apa yang dikatakan Arion mampu menyentuh hati Alza. Kalimat itu yang selalu Arya ucapkan di waktu dulu ketika melihat Alza bersedih dan murung, seperti saat ini. Alza merasa 'Arya' nya telah kembali.
"Arya..." Alza memeluk Arion yang sedang bersimpuh di depannya.
Ada keterkejutan yang dialami Arion ketika Alza memeluknya secara spontan. Arion membalas pelukan Alza.
Perlahan tapi pasti, Arion ingin mendapatkan kepercayaan Alza kembali seperti dulu.
...***...
Kediaman keluarga Pratama
Dennis kembali menapaki kakinya di rumah milik orang tuanya ini. Dengan membawa beberapa barang miliknya, Dennis mantap melangkah memasuki rumah.
"Dennis?" Amalia kaget dan senang bersamaan.
"Mama!" Dennis memeluk Lia.
Dennis duduk di sofa ruang keluarga. Disampingya ada Lia yang menuntut sebuah penjelasan darinya.
"Ada apa, Nak? Kamu bawa barang-barangmu lagi?"
"Ma, aku ingin kembali tinggal di rumah ini. Boleh kan?"
Amalia tersenyum meski dalam hatinya bersedih. "Tentu saja boleh. Rumah ini akan selalu terbuka untukmu."
Tak lama setelahnya, Juno dan Zetta ikut bergabung bersama Dennis dan Lia.
"Papa!" Dennis mencium punggung tangan Juno.
"Kamu datang sendiri?" Pertanyaan Juno mendapat delikan tajam dari Lia.
Dennis menundukkan kepalanya. Rasanya siap tak siap Dennis harus menghadapi hari ini.
"Aku ingin minta maaf sama papa dan mama. Aku juga minta maaf sama kamu, Dek." Dennis menatap Zetta.
"Sebenarnya ada apa, Bang? Dimana wanita itu? Kenapa abang datang sendiri?" Cecaran pertanyaan dari Zetta membuat Dennis mengatur napasnya lebih dulu.
"Sebelumnya aku minta maaf, karena aku gak bicara dulu dengan kalian soal ini. Aku dan Alza... Kami... Sudah bercerai."
"APA?!"
Pekikan dari Zetta adalah yang terkeras diantara ketiganya.
"Trus dimana perempuan murahan itu sekarang?" Zetta meradang.
Dennis menggeleng pelan. "Aku tidak tahu kemana Alza pergi. Mungkin saja sekarang dia tinggal bersama Arion."
"Abang!" Zetta mengepalkan tangannya. "Kenapa abang melepaskan dia begitu saja? Harusnya abang tuntut dia ke pengadilan dengan pasal perzinahan kek, apa kek! Yang jelas jangan melepasnya begitu saja!"
"Zetta! Jaga bicaramu!" Lia menengahi.
"Apa! Apa mama akan tetap membela dia setelah apa yang dia lakukan pada keluarga kita? Kalian gak mikirin perasaan aku saat membela dia? Dia udah merebut kak Arion dari aku dan sekarang dia ninggalin Bang Dennis begitu aja! Keterlaluan sekali kalian!" Zetta memilih pergi dari sana setelah meluapkan semua rasa marahnya.
"Zetta! Bukan begitu, Nak! Zetta!" Lia memanggil Zetta tapi gadis itu sama sekali tak peduli dan tetap pergi menuju kamarnya.
"Sudah, Ma. Biar nanti aku aja yang bicara sama Zetta. Untuk saat ini biarkan dia sendiri dulu." Dennis menenangkan Lia sambil menggenggam tangan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.
Juno sendiri tak bisa berkata apapun. Rasanya terlalu sesak untuk menerima semua keputusan putranya. Tapi apa mau dikata. Dennis sudah memutuskan jalan hidupnya sendiri.
...***...
Di dalam kamarnya, Zetta sama sekali sudah tak bisa mengeluarkan air matanya. Sudah cukup semua kebodohan yang dia lakukan dengan menangisi Arion.
Zetta harus melanjutkan hidupnya. Gadis itu tahu apa yang akan ia lakukan untuk memperbaiki semuanya. Meski begitu, ia tak rela jika Alza dan Arion hidup bebas dan bahagia sementara dirinya dan sang kakak harus menelan pahit kekecewaan yang mendalam.
Tok tok tok
"Dek, abang boleh masuk?"
Zetta yang akan bersiap menuju ke alam mimpi dikejutkan dengan ketukan di pintu kamarnya.
"Masuk aja, Bang. Gak dikunci kok!"
Dennis masuk dan langsung menghampiri sang adik yang sedang duduk di depan meja rias. Zetta sedang melakukan ritual malam dengan krim-krim yang ada ditangannya.
"Kenapa Bang? Apa Abang mau ngajak aku debat lagi?"
Dennis tersenyum dan menggeleng. "Abang cuma mau minta maaf sama kamu."
Zetta mendelik. "Kenapa harus abang yang minta maaf sih? Harusnya kedua orang brengsek itu yang minta maaf!"
"Dek! Abang tahu kamu masih kesal, tapi gak ada gunanya kita menyimpan dendam. Atau bahkan membalasnya. Apa yang akan kita dapat dari membalas dendam?"
Zetta berbalik badan dan menatap Dennis. "Terbuat dari apa hati Abang ini? Abang udah disakitin tapi masih aja mau maafin."
"Jangan bicara begitu. Abang juga manusia biasa. Abang juga sedih dan kecewa. Tapi mau sampai kapan Abang meratapi nasib? Hidup harus terus berjalan, Dek. Dan Abang yakin kamu bisa melakukannya."
Zetta bangkit dari duduknya. Ia mengambil secarik kertas yang ada di atas meja belajarnya.
"Ini! Kuharap kalian setuju dengan keputusanku ini."
Dennis membaca bait demi bait tulisan yang ada di kertas itu.
"Beasiswa ke luar negeri?"
Zetta mengangguk. "Iya, Bang. Kemarin aku mendaftarkan diri untuk kuliah disana. Dan ternyata aku diterima."
"Selamat ya, Adikku! Abang doakan kamu bisa menggapai cita-cita kamu dan menemukan jodoh yang lebih baik nantinya."
"Iya, Bang. Makasih!"
Zetta menghambur memeluk kakaknya. Kedua orang yang dilanda patah hati kini berusaha bangkit untuk menata kembali hidupnya.
...***...
Keesokan harinya, Zetta menceritaka rencananya untuk melanjutkan kuliah di kuar negeri. Tentu saja hal positif itu disambut baik oleh Juno dan Lia.
"Mama akan dukung apapun keinginan kamu. Maaf ya semalam mama..."
"Sudahlah, Ma. Aku udah lupain kok! Sekarang aku gak mau melihat ke belakang lagi. Aku mau menapaki masa depanku. Kalau mereka saja sudah move-on, kenapa kita enggak? Iya kan, Bang?"
Dennis mengacak pelan rambut Zetta. Tawa canda kembali menggema di ruang makan keluarga Pratama. Meski sekarang tanpa kehadiran Alzarin.
Sementara itu, di keluarga Nusantara, suasana sarapan terasa horor bagi Alza. Pasalnya ini adalah kali pertama Alza duduk diantara keluarga Nusantara yang terkenal berkuasa di kota ini.
Dentingan suara pesan masuk di ponsel Arion membuat pria itu langsung membukanya. Arion takut jika itu adalah tentang pekerjaan dan bisnisnya.
"Alza, ini dari laborat rumah sakit." Arion memberitahu Alza.
Mata Arion berbinar bahagia setelah membaca pesan itu.
"Firasatku benar kan, Alza. Anak yang sedang kamu kandung adalah benar anakku."
Sontak pernyataan Arion membuat semua orang menatap Alzarin.
"Arion! Apa yang kamu katakan? Kamu bilang anak?" Arnis memastikan jika apa yang didengarnya tidaklah salah.
Selama ini Arion selalu bercerita tentang Alza dan bayinya, tapi masih belum ada yang percaya jika Alza mengandung anak Arion.
"Iya, Ma. Mama sebentar lagi akan jadi Oma, dan papa akan jadi Opa. Lalu kakek..."
BRAK!
Johan menggebrak meja makan dengan cukup keras hingga membuat Alza tersentak.
"Kalian berdua! Ikut ke ruang kerjaku sekarang!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Radya Arynda
semogah alza tidak di apa2 kan sama kakenya arya
2023-06-08
5