Suara Alzarin yang cukup keras membuat Astuti dan Arion menoleh. Raut wajah tak suka diperlihatkan Alza ketika menatap sosok pria yang ada di depannya.
"Alza? Kenapa kamu bicara begitu, Nak? Ini Arya. Kamu masih ingat dengannya kan? Kalian dulu sangat dekat." Astuti mengusap lengan Alza yang sedang menahan amarahnya.
"Apa ibu yang memberitahu dia kalau aku ada disini?" tuduh Alza.
"Tidak, Nak. Ibu tidak memberitahu Arya. Kamu ini kenapa sih? Apa kalian ada masalah?" Astuti menatap Alza dan Arion bergantian.
Arion mengulas senyumnya. "Tidak ada apa-apa kok, Bu."
"Jika kalian punya masalah, sebaiknya segera selesaikan. Tidak baik memendam masalah berlarut-larut."
"Iya, Bu. Aku akan ajak Alza bicara."
Arion menarik tangan Alza lembut. Tak ada penolakan dari Alza. Alza tak ingin membuat keributan di panti. Apalagi jika sampai Astuti tahu tentang masalah mereka. Akan rumit jadinya.
Arion membawa Alza ke taman belakang dimana mereka dulu sering bermain bersama.
"Duduklah!" Arion meminta Alza duduk. Sedangkan dirinya masih berdiri sambil menatap Alza.
"Bagaimana bisa kamu menemukan aku?"
Pertanyaan Alza membuat Arion tertawa kecil.
"Alza! Alza! Kalau mau kabur setidaknya kamu carilah tempat yang tidak bisa ditemukan olehku. Kamu hanya pergi ke rumah lamamu, apa susahnya bagiku menemukanmu?"
Alza memalingkan wajah. Ia jadi salah tingkah karena terus di tatap Arion.
"Aku pergi menemui Dennis. Dia bilang kamu sudah pergi. Entah kenapa aku langsung menuju kemari begitu tahu kamu pergi. Dan..."
Arion merogoh saku jasnya. "Ini titipan dari Dennis."
Alza menatap tangan Arion yang menyodorkan sebuah kertas. Alza menerimanya.
Hatinya hancur berkeping ketika membaca isi lembar surat yang dibawa Arion.
"Surat perceraian?" gumam Alza dengan bibir bergetar. Matanya menghangat melihat jika Dennis sudah menandatangani surat perpisahan mereka.
"Dennis minta kamu tanda tangan disitu."
Air mata kesedihan kembali luruh di pipi Alza. Ia tak menyangka jika hubungannya dengan Dennis akan berakhir secepat ini.
Arion yang tak tega melihat Alza menangis akhirnya duduk disamping Alza. Tangannya terulur mengusap punggung Alza.
Sapuan lembut di punggungnya membuat Alza terbuai dan lupa dengan siapa yang ada disampingnya. Alza menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Arion.
Kali ini Alza butuh sebuah sandaran. Hatinya sudah luruh. Alza sudah lelah. Alza ingin bisa merasakan kedamaian seperti dulu.
Arion tersenyum sambil terus memeluk Alza dan mengusap punggungnya.
"Perlahan saja, Arion. Sedikit lagi kamu pasti bisa mendapatkan hati Alzarin."
...***...
Pagi hari itu Astuti terbangun karena mendengar suara berisik dari arah kamar mandi. Astuti langsung menuju kesana dan melihat Alzarin sedang memuntahkan isi perutnya di wastafel.
"Astaga, Alza! Kamu kenapa, Nak? Apa kamu sakit?"
Astuti memijat lembut tengkuk Alzarin.
"Aku gak apa-apa kok, Bu." Alza keluar dari kamar mandi diikuti Astuti.
"Jangan anggap sepele meski hanya masuk angin. Apa perlu Ibu ambilkan obat?"
Alza menggeleng. "Gak perlu, Bu. Beneran aku gak apa-apa."
"Kamu sakit, Za. Kamu harus ke dokter." Tiba-tiba saja Arion datang dan bergabung bersama Alza dan Astuti.
Tentu saja ucapan Arion membuat Alza mendelik padanya.
"Yang dibilang Arya itu benar. Kalau kamu sakit sebaiknya kamu ke dokter. Wajah kamu juga pucat," timpal Astuti.
"Bu, aku gak..."
"Aku akan antar kamu ke dokter!" cegat Arion cepat.
"Nah, benar itu kata Arya. Kamu ke dokter saja, Za. Ibu khawatir sama kamu."
Karena mendapat desakan dari dua orang, akhirnya Alza menurut.
"Iya, aku akan ke dokter. Aku ke kamar dulu mau ganti baju." Alza melangkah pergi menuju kamarnya.
Sedang Arion tersenyum puas karena berhasil membujuk Alza.
...***...
Arion membukakan pintu mobil untuk Alza. Dengan enggan Alza masuk dan duduk manis di samping kursi pengemudi. Arion masuk dan mulai melajukan mobilnya.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Alza tak sedikitpun mengeluarkan suaranya. Begitu juga dengan Arion.
Biarlah suasana sunyi ini membawa mereka ke khayalan mereka masing-masing. Arion melirik sekilas ke arah Alza.
"Sekarang kamu memang merasa terpaksa. Tapi suatu saat, kamu pasti akan dengan senang hati pergi bersamaku, Alza..."
Tiba di rumah sakit, Arion segera mendaftar ke meja administrasi. Alza yang mengekor di belakang Arion, sontak terkejut karena Arion mendaftarkan dirinya di poli dokter kandungan.
"Arion!" Alza menarik tangan Arion menjauh.
"Kenapa mendaftarkan aku ke poli kandungan?" kesal Alza.
"Lho? Memangnya kenapa? Kan kamu emang lagi hamil, Za. Kamu harus periksakan kandungan kamu! Kapan terakhir kali kamu periksa kandungan, ha?"
Rentetan kalimat Arion membungkam bibir Alza. Sudah cukup lama Alza tidak memeriksakan kandungannya. Sejak masalah bersama Dennis makin rumit. Ditambah dengan Arion. Alza tak punya waktu untuk pergi ke dokter. Bahkan meminum vitamin dan susu hamil pun tidak.
Arion kembali ke meja pendaftaran karena Alza tak kunjung merespon. Setelah mendaftar, Arion meminta Alza untuk duduk di kursi tunggu hingga namanya dipanggil.
"Nyonya Alzarin Nusantara!" panggil seorang perawat.
Alza mendelik karena nama belakang namanya berubah menjadi Nusantara.
"Kenapa lagi? Sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Arion Nusantara. Masih mau protes?" balas Arion.
"Terserah!" Alza bangkit dari duduknya dan menuju ke ruangan dokter kandungan.
"Kenapa ikut masuk?" tanya Alza.
"Aku ingin melihat calon anakku, apa tidak boleh?" kesal Arion.
Alza tak mau berdebat dengan Arion. Apalagi ini di tempat umum. Si dokter dan perawat hanya tersenyum melihat pasangan muda itu.
"Silakan berbaring ya, Bu," ucap dokter perempuan itu.
Si perawat membantu membuka baju atasan Alza.
"Maaf ya, saya buka dulu!" ucapnya.
"Kamu jangan lihat!" ketus Alza mendelik pada Arion.
"Astaga! Maafkan istri saya ya, Dok. Sejak hamil hormonnya suka berubah-ubah. Kenapa juga saya harus tutup mata, padahal saya sudah melihat semuanya. Iya kan, Dok?"
Si dokter dan perawat hanya senyum-senyum malu. Sedangkan Alza, sungguh sangat malu karena setiap ucapannya seakan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Selama pemeriksaan, Arion sangat antusias mendengarkan penjelasan dokter. Arion sudah sangat siap untuk menjadi seorang ayah dan suami bagi Alzarin.
Usai dari rumah sakit, Alza dan Arion kembali ke panti asuhan. Sebenarnya Arion menawarkan pada Alza untuk mampir ke beberapa tempat, tapi Alza menolak dan hanya menjawab ingin segera pulang ke panti.
Tiba di panti, Astuti menyambut kedatangan Alza dan Arion.
"Sayang, bagaimana? Apa kata dokter? Kamu sakit apa?"
Alza hanya menunduk diam dan berusaha menghindar. Ia pikir belum saatnya Astuti tahu tentang masalah kehamilannya.
Namun ternyata Arion dengan semangat membara malah memberitahu Astuti.
"Alza baik-baik aja, Bu. Dia hanya sedang hamil." Arion bercerita dengan penuh gembira.
"Ha-hamil? Kamu hamil, Nak?" Astuti menatap Alza.
Sungguh Alza kesal pada Arion yang tak bisa jaga rahasia.
"Apa dia gak mikir apa dampaknya kalau Ibu Astuti tahu masalah ini?"
"Kalau kamu hamil, itu artinya kamu harus segera memberitahu Dennis, Nak. Dennis harus tahu soal ini! Kalian harus kembali bersama demi anak ini!" Astuti memegangi kedua bahu Alza.
"Heh?!" Arion malah mematung setelah mendengar pernyataan Astuti. Arion tak sadar jika apa yang dikatakannya malah membuat situasi makin rumit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments