Tanpa sepengetahuan Zetta, diam-diam Arion mengirimkan beberapa foto Alzarin ke dalam ponselnya. Dan sekarang Arion sedang menatap foto-foto yang didalamnya ada sosok bernama Alzarin.
Meski memiliki nama yang sama, Arion tetap akan menyelidiki lebih dulu kebenaran tentang Alzarin. Apakah gadis yang sama dengan yang dikenalnya atau berbeda.
Malam semakin larut, dan Arion masih terjaga. Ia menghubungi Anand untuk menanyakan tentang tugas yang dirinya berikan untuk asistennya itu.
"Halo, Tuan!"
Meski raganya masih mengantuk, sebisa mungkin Anand membuka mata. Karena selama sehari penuh, Anand harus siap untuk bekerja pada Arion.
"Anand, apa kamu sudah temukan gadis yang kucari?"
"Maaf, Tuan. Belum! Panti asuhan tempatnya tinggal ada di Kota A, dan jika dia keluar dari Kota A ada beberapa kemungkinan yang terjadi."
"Oh ya? Apa saja kemungkinannya?" Arion sengaja mengetes Anand karena tahu pria itu kini hanya sedang mengarang cerita.
"Jika dia tidak pergi ke kota B, maka bisa saja dia ada di kota C atau setelahnya. Mungkin saja dia..."
"Anand!" Suara Arion mulai meninggi. Dan itu membuat Anand melek seketika.
"Maafkan saya, Tuan. Saya akan bekerja lebih keras lagi untuk mencari gadis itu."
"Begini saja, tolong selidiki tentang menantu keluarga Pratama. Istri Dennis Pratama. Namanya Alzarin."
"Alzarin? Namanya sama dengan yang Tuan cari." Anand langsung membulatkan mata.
"Benar. Namanya sama. Tapi, bukan berati dia adalah orang yang sama dengan yang aku cari. Kamu cari tahu asal usul gadis itu. Secepatnya! Aku tidak ingin kamu menundanya terus! Mengerti?"
"Baik, Tuan."
Tanpa mengucap kata penutup atau pun terima kasih, Arion langsung mematikan panggilan.
Anand hanya bisa menggeleng pelan. "Huft! Nasib jadi bawahan begini lah!"
Anand hendak kembali memejamkan mata. Lalu tiba-tiba teringat lagi dengan perintah Arion tadi.
"Jika istri Dennis Pratama adalah orang yang sama dengan yang Tuan Arion cari, maka... Akan ada pertumpahan darah disini. Tuan Arion akan melakukan segala cara untuk merebut apa yang ia inginkan." Anand bergidik ngeri.
"Sebaiknya aku tidur lagi. Masalah itu aku pikirkan nanti saja!"
#
#
#
Pagi hari di kediaman keluarga Nusantara. Arnis menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga.
Arnis tersenyum begitu melihat putrinya menuruni anak tangga dan menuju ke meja makan.
"Falia, dimana kakakmu? Kenapa dia tidak ikut pulang?"
Falia memutar bola mata malas. "Mama tahu sendiri kerjaan Arion. Kekasih centilnya itu menyusul kami di bandara dan mereka pergi ke apartemen Arion." Falia mendaratkan bokongnya di kursi.
"Biarkan saja lah! Arion kan sudah besar. Dia tahu mana yang terbaik untuk dirinya." Sultan ikut menyahut.
"Tapi aku tidak suka jika gadis itu mengganggu fokus Arion dalam bekerja!" Suara berat seorang pria tua membuat semua orang terdiam.
"Papa sendiri tahu kan jika Arion sangat meniru Papa," Timpal Sultan.
Johan tersenyum penuh seringai. "Tentu saja! Dia sudah mendapatkan banyak hal dari keluarga ini, tentu saja dia harus membalas budi!"
Tidak ada perbincangan lagi setelah Johan menutup dengan kata balas budi. Dua kata yang selalu mengganjal dalam diri Falia.
"Sampai kapan aku dan Arion harus membalas budi? Apa karena kami dipungut dari panti asuhan lalu kami bisa diperlakukan seenaknya?" Batin Falia menjerit tapi tak bisa berbuat apapun.
Di tempat berbeda, keluarga Pratama juga sedang menyantap sarapan paginya.
"Pa, Ma, aku dan Alza memutuskan untuk pindah dari rumah ini. Kami akan menjalani kehidupan pernikahan kami sendiri." Dennis mengutarakan rencananya yang sudah ia susun bersama Alza.
"Hmm, jadi rumah kita akan sepi karena kakak dan abang mau pindah." Zetta mendadak sedih.
"Jangan sedih, Dek. Aku dan Mas Dennis akan sering berkunjung nanti. Kamu juga boleh main ke rumah kami." Alza menyahuti dengan bijak.
"Papa sih setuju saja dengan keinginan Dennis dan Alza. Toh mereka kan sudah menikah. Mereka ingin membina rumah tangga mereka sendiri."
Mama Lia nampak terdiam. Alza tahu jika ibu mertuanya ini tidak pernah berjauhan dengan putra putrinya. Dan kini karena Dennis dan dirinya, mama Lia harus merasakan kesedihan.
"Mama jangan sedih ya! Alza akan sering datang kemari bersama Mas Dennis." Alza menggenggam tangan Lia.
"Iya, Nak. Terima kasih. Mama harap kalian akan selalu bahagia."
"Nah, ngomongin soal kepindahan Bang Dennis dan Kak Alza kan sudah. Sekarang giliranku!" Celetuk Zetta.
Sontak saja semua orang menatap Zetta.
"Kamu mau ngomong apa sih? Sepertinya serius sekali," Balas Lia.
"Begini, Ma, Pa. Kak Arion ingin melamarku..." Ujar Zetta dengan malu-malu.
"Hah?! Serius kamu?" Tanya Dennis. Pasalnya Dennis tahu siapa itu Arion.
"Iyalah, Bang. Besok pagi aku mau berkenalan dengan keluarga kak Arion."
Juno menatap putrinya yang kini mulai tumbuh dewasa.
"Pikirkan dulu sebelum bertindak, Dek. Kamu ini kan masih kuliah. Lagi pula jalan hidupmu masih panjang. Belum tentu juga kamu berjodoh dengan dia."
"Papa! Kok ngomong begitu? Aku dan kak Arion saling mencintai. Apa salahnya kalau kami bertunangan lebih dulu?" Zetta menatap Lia untuk mencari dukungan.
"Ajaklah Arion datang kemari dan bicara dengan papa dan mama. Begitu baru benar, sayang..." Lia memberikan pengertian tanpa menyakiti hati Zetta.
Zetta akhirnya terdiam. Apa yang dikatakan mamanya memang benar. Ia akan menghubungi Arion dan mengatur jadwal untuk menemui keluarganya.
"Baiklah. Aku akan bicara dengan kak Arion nanti."
#
#
#
Dennis dan Alza sudah menempati rumah baru mereka. Karena hanya ditempati berdua, Alza merasa belum membutuhkan bantuan dari ART. Alza akan merawat rumahnya sendiri.
Dennis melihat Alza begitu bersemangat mengatur semua barang-barang di rumah mereka. Ada rasa bersalah di dalam hati Dennis karena tidak bisa memberitahukan yang sebenarnya pada Alza tentang kondisinya.
"Mas Dennis!" Panggilan Alza mengejutkan Dennis.
"Hah? Ada apa, sayang?"
"Ini barang-barang Mas Dennis mau taruh dimana saja?"
Dennis tersenyum. "Terserah kamu saja. Aku percayakan semuanya sama kamu. Kamu kan istriku!"
Jawaban Dennis membuat Alza senang. Ia memeluk tubuh suaminya.
"Terima kasih, Mas."
"Aku yang harusnya berterimakasih padamu, Alza. Aku terlalu takut kehilangan kamu. Aku sangat mencintaimu, Alza..." Kalimat itu hanya bisa Dennis ucapkan dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Hafiz Daffa
semakin kesini semakin membuat deg-degan😅😅
2023-06-05
4
Hafiz Daffa
aku baru ingat kalo falia juga anak angkat 🙏🙏
tapi falia keren sih
2023-06-05
3