Pagi itu Zetta tergesa untuk keluar dari rumah. Bahkan Zetta tak menggubris panggilan Lia yang terus memanggil namanya.
"Ada apa, Ma? Kenapa berteriak?" Tanya Juno.
"Itu, Pa. Zetta kelihatan aneh pagi ini. Tumben dia pergi sepagi ini. Mama kok punya firasat gak bagus ya soal ini." Lia mengelus dadanya.
"Sudah, Ma. Mungkin Zetta ada acara pagi ini. Kita harus berpikiran positif."
"Tapi, Pa. Mengingat soal semalam... Mama khawatir kalau Zetta akan berbuat nekat, Pa."
"Semoga saja tidak, Ma."
Dan apa yang di khawatirkan Lia memang benar adanya. Zetta mendatangi rumah Dennis dan Alza. Zetta sengaja datang pagi agar bisa bertemu dengan Alza dan Dennis.
Zetta membawa sebuah ember yang berisi kotoran selokan yang akan ia siramkan ke arah Alza.
"Zetta, apa yang kamu lakukan?"
Dennis segera berdiri di depan Alza agar Zetta tidak bisa menyakitinya.
"Apa yang aku lakukan? Harusnya aku yang tanya sama Abang! Abang masih belain dia setelah apa yang dia lakukan terhadap kita? Dia pantas mendapatkannya, Bang! Bahkan harusnya lebih dari ini!" Tunjuk Zetta dengan kemarahan yang nyata di matanya.
"Dia itu parasit untuk hidup kita, Bang! Dia tega menyakiti papa dan mama yang sudah memungutnya dari panti asuhan. Harusnya dia ngaca jika selama ini dia bisa hidup enak karena siapa? Karena keluarga kita, Bang. Memang benar! Orang rendahan seperti dia akan tetap menjadi murahan meski sudah dipoles dengan berlian sekalipun!" Pekik Zetta.
"Cukup, Zetta. Jangan membuat keributan di rumahku atau aku akan panggil security!" Tegas Dennis.
"Ayo pergi!" Dennis memegangi lengan Zetta dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Abang akan menyelesaikan ini dengan baik, tolong jangan berbuat yang aneh-aneh."
Zetta memilih untuk tidak menjawab. Hatinya sudah kesal dan diliputi kekecewaan. Ia memilih langsung tancap gas dari rumah Dennis.
Dari kejauhan, ada sepasang mata yang menatap kearah Alza dengan tatapan sendunya. Tangannya terkepal sempurna saat melihat Zetta menyiram Alzarin dengan air kotoran. Dialah Arion.
Sejak tadi Arion memarkir mobilnya di depan rumah Dennis. Sebenarnya ia ingin masuk dan menemui Alza. Namun ia urungkan ketika melihat mobil Zetta memasuki rumah Dennis.
"Alza... Maaf karena sudah membuatmu dalam posisi yang sulit. Aku janji akan membawamu pergi secepat mungkin dari rumah terkutuk itu. Aku akan menjagamu, tenang saja!"
#
#
#
Dennis berbalik badan dan tak melihat Alza ada di sana.
"Apa dia sudah masuk ke dalam?"
Dennis memutuskan untuk menemui Alza. Ia ingin memeriksa kondisi Alza.
"Alza, kamu di dalam?" Dennis mengetuk pintu kamarnya. Dennis tahu pasti Alza sedang membersihkan dirinya.
Tak lama Alzarin keluar kamar dengan kondisi rapi dan sudah mengganti bajunya.
"Alza, maafkan atas sikap Zetta ya!"
Alza tersenyum. "Gak apa-apa, Mas. Aku tahu Zetta pasti kecewa dan sedih. Aku maklum kok. Akulah yang salah karena sudah membuatnya bersedih." Alza menundukkan wajahnya.
"Sebaiknya kamu istirahat saja ya! Aku harus pergi ke kantor. Kunci pintu rumah juga. Dan jangan bukakan pintu jika Zetta datang lagi."
Alzarin tersenyum. "Iya, Mas. Makasih atas perhatiannya."
"Aku pergi dulu!"
Sebenarnya Dennis ingin mengecup kening Alza sebelum berangkat. Namun karena situasinya sedang tidak enak, maka Dennis urungkan niatnya itu.
"Tunggu, Mas!" Alza menghentikan langkah Dennis.
"Bisakah Mas percaya padaku? Sekali ini saja. Sebelum ada bukti mengenai siapa ayah anak ini, aku ingin Mas bersikap sebagai ayah dari anak ini. Aku mohon!"
Mata Alza berkaca-kaca. Membuat Dennis tidak tega untuk menolak. Dennis akhirnya mengangguk.
"Meski pun jika nanti anak ini terbukti bukan anak Mas, maka anak ini akan menjadi anakku saja. Bukan anak orang lain!"
#
#
#
Arion datang ke kantor sedikit terlambat karena baru saja mengintai Alzarin. Hal itu di pergoki oleh Falia.
"Kamu terlambat, Arion."
"Hmm, ada hal yang harus aku urus." Arion menjawab dengan santai.
"Apa ini tentang perempuan itu?"
Arion berbalik badan. "Benar! Secepatnya aku akan membawa Alza keluar dari rumah itu."
Falia menuju ke atap gedung untuk melepas rasa kesalnya. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Tapi yang jelas ia tak suka dengan sikap Arion yang seakan terobsesi untuk memiliki Alzarin.
"Nona, Anda disini? Dan Anda merokok?"
Tiba-tiba saja Anand datang ke atap gedung. Harusnya Falia yang terkejut. Namun yang terjadi malah sebaliknya.
"Kenapa? Kamu mau juga?" Tawar Falia.
"Ti-tidak, Nona. Tadi Tuan Arion mencari Anda. Makanya saya mencari Nona. Tadi kata OB, ada yang melihat Nona naik kemari."
"Sebentar lagi aku turun! Kamu pergilah dulu!" Falia kembali menghisap rokoknya.
"Sejak kapan Nona merokok?"
"Sejak semuanya menjadi rumit. Pergilah!"
Anand enggan untuk pergi. Ia kasihan melihat Falia yang terlihat tertekan.
"Apa Nona sedang ada masalah?"
Falia melirik Anand sinis. "Pergilah!"
Kali ini Falia serius mengusir Anand. Ia tak suka ada yang ikut campur masalahnya. Akhirnya Anand mengalah dan pergi meninggalkan Falia sendiri.
#
#
#
Siang harinya, Zetta baru kembali ke rumah dan disambut oleh Amalia.
"Zetta, kamu dari mana saja, Nak?"
Zetta melengos dan memilih pergi.
"Zetta! Jawab mama, Nak!" Lia mencekal lengan Zetta.
"Mama ingin tahu aku dari mana? Aku baru saja menemui perempuan yang sudah menghancurkan keluarga kita!"
Amalia menatap Zetta sendu. "Sayang..."
"Apa mama masih akan membelanya? Dia adalah orang yang sudah menghancurkan semua impianku! Sejak dulu dia selalu merebut semuanya dariku!"
Zetta menepis tangan Lia dan berjalan masuk ke kamarnya. Lia yang merasa iba dengan Alzarin akhirnya memutuskan untuk menemui wanita itu.
"Mama?" Alza terkejut melihat kedatangan Lia.
"Sayang, apa Zetta menemuimu? Apa dia menyakitimu?"
Alzarin meminta Lia untuk duduk lebih dulu.
"Aku baik-baik aja kok, Ma. Mama lihat sendiri kan?"
Lia memeriksa kondisi Alza.
"Aku maklum dengan sikap Zetta, Ma. Jadi, aku akan menerimanya. Oh ya, ngomong-ngomong ada apa mama datang kemari?"
Lia sampai lupa maksud kedatangannya ke rumah Dennis karena ingin memberikan sesuatu pada Alza.
"Ini mama buatkan makanan kesukaan kamu. Siapa tahu aja dedek bayi ingin makan ini!"
Alza terharu dengan sikap Lia padanya.
"Ma, tolong jangan lakukan ini! Aku... Aku tidak pantas menerima semua ini."
Lia menggeleng. "Kamu adalah anak mama. Sampai kapanpun akan tetap begitu."
"Terima kasih, Ma..." Alza memeluk Lia. Di saat seperti ini, Alza butuh pelukan seorang ibu. Dan ternyata Lia bersedia menjadi tempat bersandar baginya.
"Ma... Gimana kalau... Anak ini memang anak pria itu?"
Alzarin mulai bertanya jika saja ketakutannya selama ini adalah nyata. Lia nampak terdiam. Sungguh ia ingin jika bayi yang dikandung Alza adalah anak Alza dan Dennis.
"Jangan pikirkan soal itu. Anak ini tetaplah anakmu. Kamu harus menjaganya dengan baik. Ini titipan Tuhan, Nak. Tidak semua orang bisa mendapat anugerah seperti kamu. Siapapun ayah dari bayimu, bayi ini berhak untuk hidup. Jangan berpikir untuk menggugurkannya. Ya?"
"Mama..." Alzarin menumpahkan segala kesedihannya dalam dekapan Lia.
"Mama?!"
Suara seseorang mengejutkan Alza dan Lia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments